Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

KRMT Roy Suryo Notodiprojo

Teknologi Informasi Termasuk Kebutuhan Dasar

Edisi 331 | 16 Jul 2002 | Cetak Artikel Ini

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh. Pendengar kita berjumpa lagi dalam program rutin kita Perspektif Baru. Teknologi terutama tekhnologi informasi oleh sebagian besar orang dianggap sebagai sesuatu yang rumit, karena itu justru cenderung dihindari. Selain itu ada anggapan bahwa teknologi itu mahal dan hanya bermanfaat untuk sebagian kalangan saja. Anggapan itu masih dominan di kalangan masyarakat kita. Padahal secara esensial, teknologi diciptakan untuk kepentingan masyarakat banyak, teknologi diciptakan untuk membuat kehidupan masyarakat menjadi lebih mudah, murah dan tentu saja lebih efisien. Di Indonesia apalagi semenjak krisis ekonomi, pengembangan teknologi bagi kepentingan masyarakat sepertinya menjadi terhambat, penggunaan teknologi di kalangan masyarakat awam juga sangat tidak berkembang dengan baik, karena ada paradigma yang memandang teknologi itu milik kelompok eksklusif. Pendapat ini tentu saja sangat tidak benar, karena dengan teknologi sebuah bangsa bisa maju atau pun mundur. Perpektif Baru kali ini, ingin membahas tentang persoalan tersebut, kenapa teknologi terutama teknologi informasi sangat terhambat perkembangannya di Indonesia dan kita sudah memperoleh pembicara yang sangat capable untuk bicara dalam kapasitas sebagai pengamat teknologi informasi. Tamu kita kali ini adalah Bapak Roy M. Suryo, seorang pengamat, dosen, konsultan dan banyak sekali aktivitas yang berhubungan dengan teknologi informasi yang disandang oleh Pak Roy Suryo. Dengan beliau kita akan bahas bagimana teknologi bisa membawa kemaslahatan untuk masyarakat banyak. Saya Ruddy Gobel akan menjadi pemandu anda dalam diskusi kali ini.

Menurut anda bagaimana perkembangan teknologi di Indonesia belakangan ini?

Indonesia relatif bisa dikatakan tidak ketinggalan dalam mengikuti teknologi informasi. Maksudnya Indonesia kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk yang 220 juta jiwa memang baru sampai sekitar 1%-2% masyarakat saja yang sudah bisa menikmati teknologi informasi. Bahkan city telephone di Indonesia itu baru 3%-4%, baik telepon fixed maupun telepon seluler. Saya bisa lihat angka dari telepon fixed itu sekitar 7,2 juta pelanggan, sedangkan seluler 7,5 juta pelanggan dan ini tidak bisa ditambah. Tidak bisa kemudian menjadi 15 juta karena pengguna telepon seluler kebanyakan juga memiliki telepon fixed di rumah sehingga penetrasi angkanya baru 4%. Tapi kenapa tadi saya katakan relatif karena ternyata dari 4% itu atau yang memiliki telepon atau yang bisa manfaatkan telepon, informasi penetrasi internet dan sebagainya yang meskipun cuma 1%-2% ternyata kita relatif tidak ketinggalan dalam mengadopsi teknologi. Artinya beberapa teknologi terbaru yang ada yang diciptakan misalnya kemajuan dalam bidang komputer sampai dengan kemajuan misalkan pentium 4, kemudian juga penggunaan berbagai digital teknologi baik untuk broadcast misalnya juga untuk siaran radio, siaran televisi maupun televisi digital itu kita juga turut memanfaatkan. Jadi ini yang saya sebut relatif bagi sebagian kalangan, ini masih terlalu Jakarta sentris. Tapi kalau dilihat di Jakarta saja memang kita relatif tidak terlalu ketinggalan dengan masyarakat di belahan dunia lain.

Ukuran kemajuan yang dikatakan anda tadi adalah meskipun penetrasi kita sedikit tapi kita mampu untuk melakukan adoposi terhadap perkembangan-perkembangan teknologi. Tapi menurut satu kriteria yang lazim berlaku di seluruh dunia ukuran kemajuan perkembangan teknologi itu dari mana sebetulnya?

Sebenarnya dari tingkat prosentase masyarakat yang bisa mengikuti. Kalau dilihat dari sana kelihatan sekali bahwa kita ketinggalan. Jelas dengan penetrasi hanya 2% yang memanfaatkan informasi teknologi, kita sangat-sangat ketinggalan. Tetapi maksud saya, kita jangan pesimis artinya saya yang selalu berpandangan progresif dan juga optimis bahwa dengan angka yang kecil ini cobalah kita tumbuh. Kapan lagi kita bisa tumbuh kalau kita tidak mencobanya. Kita sudah berusaha dengan berbagai krisis atau situasi politik yang gonjang ganjing selama ini. Kita di kalangan komunitas telematika itu juga tetap eksis, juga tetap hidup, juga selalu menjalankan komunikasi kita. Kita terus mengadakan acara, kita selalu mendidik masyarakat baik dengan masuk ke berbagai komunitas dan artinya kita tidak terhenti gara-gara adanya krisis ekonomi maupun krisis politik.

Karena sebagian besar dari pendengar perspektif baru mungkin adalah mereka yang pemula dalam penggunaan teknologi, barangkali juga masih bingung dengan istilah-istilah seperti apa itu telematika, apa itu teknolgi informasi, kemudian apa itu teknologi. Barangkali bisa menjelaskan sedikit perbedaan dari terminologi-terminologi itu?

Memang menarik kalau kita bicara soal istilah dan sebenarnya saya lebih cenderung waktu itu digunakan infokom saja yaitu information and communications atau informasi dan komunikasi saja dalam Bahasa Indonesia. Jadi tidak usah menciptakan istilah baru karena istilah telematika sendiri pun belum lama memasyarakat dan saya pikir masih belum memasyarakat. Jangan kan memasyarakat, bagi staf pengajar sendiri beberapa waktu yang lalu, lebih kurang setahun yang lalu, salah satu televisi pemerintah ketika itu mengadakan acara wawancara dengan salah seorang dosen yang gelarnya cukup panjang dari Surabaya. Waktu itu dosen menyebut bahwa telematika adalah matematika jarak jauh. Saya melihat ternyata memang penyebaran istilah atau sosialisasi istilah telematika ini benar-benar tidak merakyat karena memang masyarakat jarang yang mengerti bahwa arti sebenarnya dari telematika adalah telekomunikasi media dan informatika.

Tadi kita sempat berbicara berbagai aspek dalam perkembangan teknologi informasi di Indonesia tapi satu aspek yang tidak mungkin kita lupakan adalah peran pemerintah dalam mendorong masyarakat dalam penggunaan atau penerapan teknologi informasi. Saya ingin minta pendapat bagaimana peran pemerintah saat ini?

Kalau kita lihat di berbagai milis atau mailing list di internet banyak sekali di komentar beberapa teman saya yang sangat sinis ataupun skeptis terhadap sikap pemerintah. Tetapi saya tetap berusaha agar bisa kita win win artinya saya terus berupaya untuk mendorong pemerintah. Contoh konkritnya sebelum ada kabinet gotong royong Ibu Mega, kita menperjuangkan agar muncul seperti departemen baru. Waktu itu kita usulkan namanya departemen telematika. Cuma sayangnya memang mungkin dirasa terlalu mengada-ada. Waktu itu bahkan justru dipelintir, jangan-jangan menghidupkan kembali departemen penerangan. Lembaga yang akhirnya muncul adalah kementrian negara, informasi dan komunikasi yang sekarang dijabat oleh Bapak Samsul Mu’arif. Saya selalu berpandangan positif. Meski pada awalnya saya kritik keras kepada Pak Samsul Mu’arif, gara-gara mungkin saya mengganggap seseorang itu memang harus diberikan satu kritik terlebih dahulu sebelum bisa benar-benar berjalan. Sama halnya ketika saya melakukan kritik keras kepada kebijakan Menristek Hikam ketika kabinet Gus Dur beberapa waktu yang lalu. Saya juga melihat bahwa ini ada satu peluang atau ada satu goodwill dari pemerintah yang sudah mulai melihat perkembangan dunia informasi dan komunikasi. Makanya saya selalu support pada setip program yang diselenggarakan oleh kementrian negara informasi dan komunikasi. Meskipun saya kritik keras kalau misalnya mereka meluncurkan satu kegiatan atau satu aktifitas atau satu proyek yang berbau bisinis dan sama sekali tidak gunanya bagi masyarakat. Tetapi saya tidak skeptis. Beberapa kawan justru melihat tidak perlu peraturan pemerintah. Saya tetap melihat bahwa pemerintah harus dibantu dan demikian juga kedekatan saya dengan aparat keamanan saya tetap melihat bahwa aparat keamanan juga harus dibantu sepanjang mereka benar dalam bekerja. Pemerintah sepanjang benar kita bantu tapi kalau salah ya kita hajar keras.

Kemampuan atau efektifitas dari pemerintah dalam mendorong masyarakat untuk menggunakan teknologi informasi dan membuat itu efektif tentu juga tidak mungkin dilepaskan dari seberapa paham pemerintah kita dan kemudian seberapa paham parter pemerintah dalam hal ini di parleman. Kalau menurut anda bagaimana pemahaman mereka sat ini?

Mungkin pendengar bisa melihat ekspresi saya ketawa tadi. Kalaupun siaran ini bisa dilihat saya tadi ketawa mendengar pertanyaan ini. Tetapi di dalam ketawa saya ada satu cita-cita untuk memajukan semuanya. Kita bisa lihat baik itu kalangan eksekutif maupun legeslatif, kita itu masih sangat awam atau mungkin masih sangat rendah pemahamannya terhadap IT. Terbukti ketika beberapa waktu yang lalu saya ikut meluncurkan situs di MPR yaitu Pustaka Parlemen, atau situs mpr.co.id dan dpr.co.id, maupun juga suara.net. Kelihatan sekali kalau pemahamannya masih pada tahap elementer. Tetapi sekali lagi saya sembari mengejek saya terus mengupayakan supaya mereka bisa belajar dan itu penting. Kalau tidak misalnya salah satu contoh kasus adalah Indonesia itu kecanggihan teknologinya meskipun penetrasinya sangat kecil tetapi yang membuat kita ironis atau yang membuat kita miris itu adalah kita ini di seluruh dunia itu menduduki peringkat kelima dalam tingkat kejahatan teknologi informasi. Di Asia kita menduduki peringkat ke tiga, berarti sebenarnya Indonesia meskipun kecil, saya katakan relatif tadi kita di pandang sebagai penjahat dunia maya. Celakannya lagi di Indoneisa itu tidak ada UU atau tidak ada peraturan yang bisa mengcover hal itu. Mengapa tidak ada? Karena UU tumbuhnya dari RUU dan rancangan undang-undang itu tumbuh kalau ada kalangan legislatif kita mengajukan hak inisiatif. Bagaimana bisa mengajukan hak inisiatif kalau mereka sendiri belum aware terhadap ini. Jadi saya tidak hanya pesimis tapi juga mencoba untuk melakukan and pencerahan kepada kawan-kawan di DPR dan juga di MPR supaya mereka tanggap terhadap IT.

Bagaimana kegiatan advokasi yang dilakukan oleh intitusi-intitusi atau LSM yang concern terhadap pengamanan IT di Indonesia, terhadap pemerintah dan parlemen kita?

Sepanjang teman-teman di LSM atau dari kalangan lain termasuk juga swasta yang ikut memberikan satu kontribusi yang sangat besar terhadap IT, sepanjang mereka itu masih benar-benar murni artinya murni itu ya tidak mungkin 100% atau paling tidak murni ilmiah, tetapi ada juga sisi bisnisnya. Namun sepanjang sisi bisnisnya ataupun kepentingan yang lain atau justru kerugian bagi negaranya tidak terlalu besar, saya katakan begini karena kita harus waspada, ada juga kawan-kawan itu yang mungkin berbaju LSM untuk memajukan IT tapi ternyata mereka membuat mega-mega proyek yang lain di Indonesia. Bahkan mereka menguras dana ataupun data yang ada di Indonesia dan direpresentasikan keluar. Hal ini yang merugikan. Nah kalau yang ini terjadi saya juga tidak setuju. Makanya kalau masyarakat, juga mungkin pendengar bisa melihat saya tidak selalu ada dalam setiap kegiatan IT . Saya juga masuk artinya saya juga lihat ada kegiatan IT itu yang berupa seminar-seminar yang full bisnis, tujuannya untuk kalangan bisnis saja dan akhirnya tidak langsung ke masyarakat. Saya mungkin tidak terlibat langsung. Saya terlibat langsung seperti ketika tahun yang lalu ada kegiatan yang kita lakukan dari komunitas yang namanya milleniun internet road show. Jadi kita mencoba bergerak di 20 kota waktu itu untuk menyebarluaskan internet. Mulai dari pesantren, SMP, kemudian SMK dan juga ada beberapa komunitas koran di berbagai kota di seluruh Indonesia. Kita coba masuk itulah wujud nyata dari bagaimana kita mencoba mensosialisasikan ini.

Apa sebetulnya definisi informasi dan teknologi atau teknologi informasi sendiri apa itu?

Kalau bilang informasi itu sebetulnya semenjak kita lahir dari jaman dulu itu manusia sudah memanfaatkan informasi atau sudah saling bertukar informasi. Hanya saja waktu itu bentuk dan teknologi yang digunakan tentu saja sangat berbeda. Kita bisa lihat ketika jaman dahulu kala itu misalnya komunikasi antar manusia masih diselenggarakan secara langsung. Kemudian ketika manusia itu mulai menyebar ke satu tempat ke tempat yang lain. Waktu itu misalnya suku-suku Indian menggunakan isyarat asap kemudian ketika Samuel Morse menemukan morse lalu sampai dengan Alexander Graham Bell menemukan telepon. Itu adalah salah satu wujud daripada penggunaan teknologi yang bisa digunakan untuk dimuati informasi teknologi. Ini terus berkembang sehingga teknologi yang tadinya lambat bergerak menjadi lebih cepat dan semakin cepat sehingga sekarang teknologi yang cepat ini bisa diinvestasikan menjadi perangkat komputer dan dimana perangkat komputer itu memungkinkan untuk mendistribusi informasi yang ada dihadapan kita. Bentuk informasi yang ada dihadapan kita pun bisa sangat beragam mulai dari informasi berbentuk teks biasa atau juga teks dan gambar, atau juga dilengkapi dengan suara atau bahkan dengan video bahkan bisa interaktif sehingga bisa terjadi komunikasi full duplex artinya komunikasi langsung dalam jarak ribuan kilo meter yang memungkinkan dengan teknologi informasi itu sendiri.

Bagaimana konsep pengembangan IT ke depan yang baik menurut Mas Roy?

Pengembangan IT ke depan sebenarnya kalau saya lihat di Indonesia agak rumit karena ini memang sangat hiterogen. Masyarakatnya terdiri dari berbagai kondisi sosial politik dan terutama ekonomi yang tidak sama. Makanya kita harus melihat teknologi itu bisa diterapkan generik dari satu tempat ke tempat yang lain. Tapi harus benar-benar mengikuti kondisi sosial ekonomi masyarakatnya. Demikian juga dengan sistemnya tidak bisa top-down, tetapi tidak mungkin juga bottom-up. Jadi artinya harus ada di tengah-tengah. Sehingga kalau kita lihat ada kawan-kawan di telematika yang bergerak di level bawah jadi mereka melakukan workshop-workshop khusus ke masyarakat langsung. Tapi ada juga yang bermain kebijakan di atas, selain itu ada juga yang di tengah. Saya termasuk orang yang bermain di tengah. Jadi kadang-kadang saya ke bawah langsung mendidik masyarakat di pelosok-pelosok misalnya waktu di komunitas keagamaan ataupun di sekolah-sekolah. Tapi kadang-kadang saya melobi sampai ke level menteri atau bahkan sampai ke Ibu Presiden. Ini semuanya harus berjalan dan konsep itulah kemudian harus disinergikan dengan kita perlu melihat sekali lagi kondisi atau tingkat sosial ekonomi masyarakat. Jadi artinya Jakarta boleh-boleh saja lebih maju dan mungkin paradigma di Jakarta tidak bisa begitu saja langsung dibawa ke daerah dan dipaksa daerah untuk melaksanakan. Apalagi otonomi daerah UU 22 dan 25 membebaskan daerah itu bisa mengatur keuangannya sendiri tapi juga mengatur kebijakannya sendiri termasuk juga dalam bidang teknologi informasi.