Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Hendrawan

Prestasi Butuh Pengorbanan

Edisi 328 | 25 Jun 2002 | Cetak Artikel Ini

Ditengah-tengah hingar-bingar penyelenggaraan Piala Dunia 2002 kita tentu tidak mungkin melupakan kemenangan manis Indonesia di final Piala Thomas yang baru berakhir kemarin. Lambang supremasi bulu tangkis dunia itu berhasil kita raih untuk kelima kali berturut-turut. Tidak ada satu negara pun yang mampu menyamai prestasi itu saat ini. Kalau kita berbicara mengenai piala Thomas, kita tidak mungkin tidak berbicara mengenai Hendrawan, pahlawan kemenangan Indonesia pada saat itu. Hendrawan mampu mengatasi semua problem yang ada dalam dirinya untuk menghasilkan prestasi yang membanggakan kita semua. Tentu apa yang dicapai oleh Hendrawan merupakan upaya yang lahir dari proses yang panjang. Mulai dari latihan keras, motivasi sampai pada kerja keras, termasuk kerja kerasnya untuk melupakan berbagai kendala non-teknis yang cukup mengganggu, seperti misalnya betapa sulitnya dia untuk memperoleh status kewarganegaraan Indonesia. Kasus ini mungkin masih terus berlanjut jika tidak ada campur tangan dari Presiden. Dan karena campur tangan itu, urusan yang semula rumit dan berbelit-belit, bisa selesai hanya dengan hitungan jam. Ini potret betapa bobroknya birokrasi dan pelayanan masyarakat kita yang korup pada level operasional, sehingga mengabaikan sebuah niat baik dari seseorang yang sudah jelas-jelas memberikan sesuatu kepada Indonesia. Untuk itu kita akan rugi bila tidak mendatangi Hendrawan, sebagai salah satu contoh positif dari hasil kerja keras dan mencetak prestasi gemilang. Perspektif Baru kali ini dipandu oleh Ruddy Gobel.

Tolong diceritakan bagaimana sulitnya untuk memperoleh status kewarganegaraan?

Pada intinya saya tidak mau kasus ini menjadi kasus politik. Niat baik saya, dulu-dulu saya niat mengurus tetapi saya pikir saya tidak membutuhkan (surat kewarganegaraan red) karena saya mempunyai paspor dan KTP. Saya juga ikut orangtua (yang juga sudah WNI red). Tetapi dengan kelahiran putri saya, ada kasus ketika saya minta pengajuan akte kelahiran. Ketika itu saya ditanyakan status warganegara. Saya bilang tidak bisa saya karena ikut orang tua. Kemudian saya disarankan untuk mengurus hal itu segera karena akan berdampak kepada anak cucu saya nantinya.

Tadi disebutkan Hendrawan punya paspor dan KTP berarti sebetulnya secara legal harusnya Hendrawan adalah warganegara Indonesia tetapi mengapa masih dipersoalkan?

Saya juga tidak tahu bagaimana birokrasi di Indonesia. Padahal selama ini saya tidak ada masalah dan sudah berbuat yang terbaik. Tetapi masalah SBKRI (Surat Bukti Kewarganegaraan Indonesia- red) itu masalah yang vital, karena saya belajar dari beberapa pemain dulu seperti Alan Budikusuma. Mereka juga membutuhkan itu untuk anak-anak nantinya. Kalau anak saya sekolah nanti, hal itu akan ditanyakan kepada anak saya tentang kewarganegaraannya.

Bagaimana ceritanya kok tadinya berbelit-belit kemudian akhirnya tiba-tiba dapat pengurusan yang begitu cepat?

Masalah ini mungkin saya ungkapkan kepada pers dengan niat bersih. Sebenarnya saat Thomas Cup saya ingin ungkapkan, tetapi mungkin Ibu Mega sendiri membaca berita mengenai hal itu pagi hari. Setelah itu Ibu Mega langsung telepon kantor Kementrian Kehakiman dan HAM. Saya sendiri tidak tahu bagaimana prosesnya. Tiba-tiba pukul 11 siang saya sudah ditelepon seseorang yang mengatakan bahwa SBKRI saya sudah selesai. Padahal sebelumnya, saat mengurus saya diinformasikan bahwa urusan ini tidak jelas kapan selesainya. Bisa menunggu enam bulan, satu tahun, dua tahun, atau lima tahun. Kasus kakak saya yang mengurus SBKRI selama 20 tahun saja belum keluar hingga sekarang.

Jadi kalau tidak ada campur tangan dari Ibu Mega, barangkali problemnya akan berlarut-larut. Tapi dalam piala Thomas atau pun kejuaraan-kejuaraan bulutangkis dunia lainnya Anda selalu mewakili Indonesia. Apakah dalam pertandingan-pertandingan itu selalu dipertanyakan mengenai status itu?

Itu tidak pernah ditanyakan karena memang selama ini orang luar negeri juga tahu bahwa saya warga negara Indonesia. Itu pun terjadi juga waktu kemarin di Thomas cup. Waktu saya pertama kali datang ke Cina dan mendarat di bandara sampai ke hotel biasanya wartawan olahraga pasti akan menanyakan persiapan saya, kondisi saya bagus atau tidak, sudah siapkah bermain di Thomas cup. Namun ternyata mereka tidak menanyakan hal tersebut. Melainkan mereka tanya bagaimana status kewarganegaraan saya. Sudah selesai atau belum. Saya pikir sampai begitukah mereka menawarkan saya untuk pindah warganegara. Kalau saya mau, saya akan langsung diberikan status kewarganegaraan. Tetapi saya katakan tidak, saya sudah menjadi warga negara Indonesia.

Mungkin tidak semua pembaca tahu, bisa tolong dijelaskan apa sebenarnya SBKRI yang begitu diributkan? Siapa saja yang harus memilikinya? Kalau tidak salah bukankah sudah dicabut keputusan itu?

Setahu saya pada masa Presiden Habibie peraturan itu sudah dicabut, tapi prakteknya tidak. Saya sendiri tidak tahu SBKRI itu seperti apa. Pokoknya itu suatu keharusan bagi warga keturunan Tionghoa. Katanya dulu pemerintah Cina mengakui warga negara mereka yang berada di luar negeri masih tetap warga negara Cina. Kemudian kita keturunan Cina di Indonesia berarti dianggap memiliki dwi kewarganegaraan. Waktu itu kita disuruh memilih, tetap di Indonesia atau kembali ke Cina. Tapi Papa saya memilih untuk tetap di Indonesia sebagai WNI. Mestinya saya yang lahir di Indonesia sudah menjadi warga negara Indonesia. Saya juga tidak tahu nanti bagaimana kedepannya, kalau status ini tidak dicabut. Anak saya setelah berumur 17 tahun, saya harus mencarikan dia SBKRI sendiri. Karena saat ini saya minta diurus sekalian dengan SBKRI saya tapi tidak bisa karena anak saya belum berumur 17 tahun.

Bagaimana keberhasilan kita merebut piala Thomas untuk kelima kali berturut-turut, padahal di atas kertas, kita bisa dikatakan kurang diunggulkan. Apa yang menyebabkan keberhasilan itu?

Soal keberhasilan itu, saya tidak mau disebut pahlawan. Dalam arti kemenangan ini adalah kemenangan tim, bukan saya pribadi. Hal ini selalu saya katakan. Persiapan saya waktu itu memang cukup berat. Dalam sejarah, kita berada di urutan ketiga. Baru sekali ini kita dianggap tidak memiliki kualitas. Memang kenyataannya seperti itu, karena terakhir ini kita tidak pernah menjuarai turnamen dan open dimanapun. Tapi kita memiliki sedikit rasa optimis. Selama ini kita selalu dianggap underdog. Tapi kita berhasil, karena kita memiliki semangat membela negara dan semangat kebersamaan yang luar biasa. Saya pikir itu kunci kemenangan kita. Kalau di turnamen beregu itu bukan dilihat dari unggulan atau tidak, justru yang penting adalah semangat kebersamaan.

Waktu main sebagai tunggal ketiga dan menjadi penentu kemenangan tentu ada beban berat. Bisa gambarkan bagaimana pergolakan emosi yang luar biasa dimana menjadi satu-satunya penentu kemenangan pada waktu itu? Tentu hal ini bukan sesuatu yang mudah, banyak orang secara teknis baik, tapi ketika dihadapkan pada kenyataan seperti itu dengan beban yang ada pada pundaknya justru sering mengalami kegagalan.

Saya akui bahwa Thomas Cup kali ini paling berat buat saya, dalam arti Thomas Cup kali ini menggunakan skor sistem tujuh. Saya akui sistem ini tidak cocok bagi saya. Dalam satu tahun terakhir menggunakan sistem skor ini, sejak saya jadi juara dunia tahun 2001, saya tidak pernah berprestasi. Masuk delapan besar pun tidak pernah. Tapi saya tidak tahu bagaimana kemarin di Thomas Cup bisa bermain seperti itu. Beban saya selama dua hari sebelum Thomas Cup itu, terus terang saya sulit tidur. Saya ingin waktu bisa berjalan cepat, kalau bisa hari ini pun saya siap main. Saya mengalami kegelisahan dalam arti, kalaupun saya turun semua beban sebagai tunggal ketiga akan berbeda sekali karena saya merasakan dua kali Thomas Cup sebagai tunggal pertama dan kedua. Tapi tunggal ketiga kemarin, memang suatu hal yang luar biasa, dan saya merasa kemarin semua teman-teman berharap pada saya. Bangsa Indonesia saya kira juga berharap pada saya. Makan dan tidur saja tidak enak, seperti itulah kondisi saya pada saat itu.

Bagaimana mengatasi kegelisahan itu? Apakah ada teman atau pelatih yang membantu? Paling tidak untuk ikut memberikan ketenangan.

Yang pasti hampir semua orang memberikan perhatian pada saya, terutama tiga orang pelatih saya. Termasuk istri dan keluarga saya. Tentunya pemikiran saya yang paling positif yang membawa pada keberhasilan kemarin adalah pada waktu kemarin di Thomas Cup itu ada sidang IBF yang memutuskan skor bulu tangkis akan kembali ke 15. Jadi Thomas Cup kemarin ini diputuskan menggunakan sistem skor tujuh yang terakhir. Pada waktu itu saya berpikir satu tahun ini saya tidak pernah berprestasi. Saya pikir mungkin sekarang saatnya turnamen terakhir saya ingin membuat sejarah lagi, dan ternyata itu berhasil. Mungkin itu motivasi saya yang paling besar dalam menghadapi ketegangan ini, dan juga saya banyak berdoa. Karena beban yang berat tidak mungkin saya hadapi tanpa doa.

Apa bedanya bermain pada skor tujuh dan bermain pada skor 15? Kenapa tiba-tiba IBF yang tadinya sudah memutuskan skor tujuh, kemudian kembali ke 15 lagi?

Mengapa digunakan skor tujuh, karena IBF melihat bisa mendatangkan fresh money sekaligus membuat bulutangkis kembali menjadi olahraga yang populer. Kedua mungkin soal iklan di televisi, tapi pada kenyataannya itu tidak menarik. Ibaratnya tidak membuat bulutangkis mampu mendatangkan fresh money atau bonus. Begitu juga soal iklan di televisi, ternyata tidak seperti yang diharapkan karena dengan pemberlakuan skor tujuh semuanya menjadi begitu cepat. Pertandingan dalam waktu 15 menit juga sudah selesai. Buat saya sebagai pemain, skor tujuh itu terlalu cepat, mungkin sistem seperti itu bagus bagi pemain dengan tipe permainan menyerang dan keras. Nah, sedangkan skor 15, hanya pemain-pemain yang memiliki kemampuan teknis dan fisik yang bagus, termasuk juga fighting spirit. Makanya dengan sistem skor tujuh, seorang pemain tidak harus memiliki kemampuan teknis, fisik dan fighting spirit yang prima. Makanya kenapa IBF mengembalikan lagi menjadi skor 15.

Kalau dilihat dari tipikal pemain-pemain kita, lebih menguntungkan bermain pada skor tujuh atau 15?

Saya lihat kita lebih menguntungkan pada skor 15 karena pada dasarnya pemain Indonesia mempunyai bakat yang luar biasa. Mempunyai tipe bermacam-macam permainan dan pukulan, seperti yang dimiliki Iis Sumirat dan Icuk Sugiarto yang begitu banyak memiliki karakter bertahan. Kalau menerapkan skor tujuh itu akan menguntungkan pemain-pemain tipe penyerang saja. Mungkin memang menguntungkan buat Cina yang pemainnya mengandalkan speed and power. Indonesia tidak mengandalkan hal itu. Kita mengandalkan sebuah teknik kualitas yang bagus, jadi jelas lebih menguntungkan skor 15.

Untuk menjadi seorang pemain bulutangkis berprestasi internasional itu, faktor apa yang paling penting yang harus dimiliki?

Saya kira kemandirian. Kedua kita bermain dengan niat luar biasa dari diri sendiri. Juga mempunyai semangat juang yang luar biasa dan pantang menyerah. Saya rasa dasarnya sama dengan kegiatan lain. Soal fisik, teknik semua itu bisa dilatih, hanya mungkin faktor fighting spirit dan totalitas di bulutangkis. Hal itu memang harus ditunjang dan mungkin bagi saya lagi yang paling penting adalah keluarga. Untuk jadi seorang pemain bulutangkis, tidak mungkin tanpa dukungan dari orangtua. Selama ini saya lihat beberapa pemain, khususnya saya, faktor keluarga dan dukungan orang tua adalah faktor utama.

Kalau melihat aktivitas Hendrawan dan teman-teman di Pelatnas dari pagi sampai malam menghabiskan hampir sepanjang waktu untuk latihan. Hal ini tentunya mengorbankan banyak hal, seperti waktu dengan keluarga bahkan mungkin juga dengan kesempatan untuk melanjutkan pendidikan. Kalau Hendrawan sendiri mengorbankan apa saja untuk terus bermain bulu tangkis?

Saya bisa menjadi seperti sekarang itu, pengorbanannya besar sekali. Saya anggap sebagai sesuatu hal yang saya sendiri kurang menyetujui. Saya hanya lulus SMA dan kebetulan memang saya lebih mengorbankan waktu masa kecil saya bermain, seperti contoh ketika kelas lima SD saya sudah harus sekolah pagi, pulang sekolah jam 12.00 siang saya sudah harus lari sampai jam 13.30 lalu tidur. Sore saya harus berlatih, malam sudah capek. Kadang saya sudah tidak bisa belajar. Pagi-pagi saya harus bangun 04.30 untuk belajar lagi. Hal-hal seperti itu. Dan begitu pula seperti sekarang ini, hal itu masih tetap saya lakukan. Biasanya di Pelatnas, latihan dari jam 08.00 sampai 11.00 siang, sore jam 16.00 sampai 18.00. Tapi bila menghadapi persiapan-persiapan khusus seperti turnamen besar, saya jam 04.30 pasti bangun untuk berlatih sampai jam 06.00. Saya berangkat dari rumah kadang jam 04.00. Begitu juga malam, kadang kalau saya merasa masih kurang jam 19.00 masih berlatih lagi. Hampir seluruh hidup saya untuk berlatih. Tapi memang dari pengorbanan ini, prestasi yang saya dapat sekarang saya pikir wajar. Dengan pengorbanan yang begitu besar.

Sekarang Hendrawan sudah berkeluarga memiliki seorang putri. Bagaimana mengaturnya? Tentu seorang putri yang baru mulai beranjak menjadi besar membutuhkan perhatian yang banyak. Bagaimana cara mengelola waktu dengan keluarga?

Terus terang, kalau latihannya tidak begitu capek, saya pasti pulang. Tapi kalau latihannya sudah capek dan dalam kondisi yang kurang bagus, saya masih tidur di asrama. Semuanya saya serahkan kepada istri saya, tapi saya tetap bertanggung jawab kepada keluarga, dalam arti sekarang sudah tidak ada waktu lagi buat saya untuk jalan-jalan dan bersenang-senang. Sekarang setiap selesai latihan, saya mesti pulang ke rumah. Ketemu dengan anak itu sekarang menjadi pengobat lelah buat saya. Kalau saya sudah capek, ketemu dengan anak, rasanya senang. Mungkin waktu-waktu seperti itu dan libur saya gunakan untuk keluarga. Dan tentunya tanggung jawab saya dalam masalah keluarga adalah istri saya yang sekarang sedang mengandung. Juga check-up ke dokter itu merupakan tanggung jawab saya. Apapun yang terjadi saya harus mengantarnya. Kemudian soal imunisasi anak, itu juga tanggung jawab saya. hal-hal seperti itu yang bisa saya pertanggung jawabkan kepada keluarga.

Setelah nanti tidak main bulutangkis dan kira-kira kapan, apa rencana ke depan Hendrawan?

Sementara ini pemikiran saya jadi pelatih, tapi saya tidak tahu mau jadi pelatih di Indonesia atau di luar negeri. Tapi yang pasti saya sekarang konsentrasi dulu ke Olimpiade 2004, karena saya masih bermimpi untuk menjadi juara Olimpiade, setelah kemarin di Sidney saya meraih medali perak. Walaupun itu sesuatu hal yang luar biasa tapi bagi saya kalau bisa menjadi yang terbaik, baik saja tidak cukup.