Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Mira Lesmana

Ide Film Harus Datang Dari Hati

Edisi 327 | 18 Jun 2002 | Cetak Artikel Ini

Beberapa waktu yang lalu kalau kita berbicara film nasional berarti kita berbicara tentang masa lampau dengan nama-nama yang sekarang sudah menjadi orang tua. Tapi sejak satu tahun terakhir kita kembali memiliki sesuatu yang layak untuk diperbincangkan tentang film nasional. Adalah Mira Lesmana dan beberapa teman-temannya dari Miles Production yang merupakan salah satu pionir pengembangan film nasional. Film-film yang dikerjakan oleh Mira bukan sekedar sukses secara ideal tapi juga secara komersial. Perspektif baru kali memang akan berbicara mengenai film nasional, mengapa itu penting? Karena film bersama-sama dengan bentuk kesenian lainnya adalah merupakan interprestasi dari semangat kita sebagai bangsa. Dan "Ada Apa Dengan Cinta" film terbaru yang sukses digelar oleh Miles Production mampu menginterprestasi semangat itu, bahwa kita sebagai bangsa masih bisa menghasilkan sebuah karya film yang baik. "Ada Apa Dengan Cinta" sebuah karya yang mengingatkan kita pada kejayaan film-film remaja masa lampau yang didalamnya tidak melulu bicara soal percintaan remaja tapi mengandung unsure edukasi, persahabatan dan tentunya juga idealisme. Tentu "Ada Apa Dengan Cinta" bisa menjadi subtitusi tontonan yang ideal di tengah-tengah demam sinetron yang demi alasan yang komersil sering mengabaikan masalah idealisme dan edukasi tadi. Sukses "Ada Apa Dengan Cinta (AADC)" tentu bukan saja sukses Mira Lesmana dan teman-temannya, tapi juga sukses buat para sineas muda Indonesia karena dengan AADC kita semua bisa berharap bahwa semangat untuk berkarya dan menghasilkan film-film yang baik bisa terus hidup hingga kita bisa menikmati karya-karya film nasional yang dihasilkan oleh anak bangsa sendiri. Untuk membahas persoalan ini Perspektif Baru sudah mengundang siapa lagi kalau bukan Mbak Mira Lesmana dengan Mbak Mira kita akan bicara tentang AADC. Inilah Perspektif Baru dengan pemandu Ruddy Gobel.

Mbak Mira, "Ada Apa Dengan Cinta" atau AADC itu sukses secara komersil. Menurut anda apa faktor utama yang membuat film itu sukses?

Sebenarnya kalau ditanya begini saya sering sekali jadi sulit untuk menjawab karena saya tidak punyai formula yang pasti. Yang bisa saya bagi bahwa kesuksesan film yang kita produksi itu tepatnya karena faktor apa. Tapi mungkin kalau bisa saya jelaskan film-film yang kita coba produksi sebenarnya kalau mundur sedikit mulai dari Kuldesak tahun 1996, kita mulai syuting itu ketika keadaan perfilman sedang kacau-kacaunya dan baru diedarkan tahun 1998, lalu kita lanjut dengan Petulangan Sherina tahun 2000 dan akhirnya kita merilis AADC tahun 2002. Patokan kita sebenarnya itu selalu sama bahwa kita harus mengerjakan satu produksi film yang pertama-tama dulu harus datang dari hati kita. Artinya benar-benar tidak ada unsur-unsur apapun yang menjadi semacam hambatan buat kita atau limitasi buat kita bergerak mencipta. Jadi apapun kita merasa apa yang kita buat pertama kita harus dekat dulu dengan cerita itu, dengan apa yang kita buat sehingga kita bisa benar-benar 100% ketika mengerjakannya. Yang kedua kalau kita sudah mencurahkannya semua itu tadi memulai dari waktu, kreativitas, dedikasi, cinta kita ke dalam cerita tersebut tentu kita juga harus memastikan bahwa apa yang kita kerjakan ini bisa sampai ke masyarakat dan ini harus kita lakukan tentunya dengan publikasi dan promosi yang baik. Karena percuma kita sudah kerja setengah mati kalau orang tidak tahu kita habis bikin apa, atau lagi bikin apa, kenapa dan untuk apa, tentunya kita akan sulit sekali. Apalagi di masyarakat kita yang penonton film itu kebanyakan punya pilihan banyak sekali, untuk mendapatkan entah itu hiburan atau apapun. Kita bisa lihat informasi di televisi, di radio, di majalah, mereka punya pilihan banyak dan kita harus bisa memberikan informasi kepada mereka bahwa ini juga harus ditonton. Saya rasa saya cuma tahu itu dan tentunya kalau saya bilang passion tadi, dalam kita mencipta kita mencurahkan waktu yang sangat besar untuk memastikan bahwa kita buat ini bisa jadi yang bagus dan bisa diterima sebaik mungkin.

Sebelum AADC, Mbak Mira sukses dengan "Petulangan Sherina" boleh dikatakan itu salah satu karya yang fenomenal di tengah jarangnya film-film untuk anak-anak. Tapi tema antara AADC dan Petualangan Sherina itu berbeda. Satu untuk anak-anak, sedangkan satu untuk remaja. Kenapa tiba-tiba terpikir untuk film remaja?

Iya itu tadi sebenarnya begini, kalau kita membicarakan perfilman nasional langsung sejarahlah yang terbesit di kepala kita. Karena kebetulan saya juga sekolah film, saya tahu sejarah itu dan saya mencoba membaca lebih banyak lagi apa sebenarnya yang terjadi di dunia yang ingin saya geluti ini. Saya tidak bisa apa-apa kecuali bikin film. Dan saya lihat di masa lalu itu ada kecenderungan bahwa sukses komersial itu menjebak orang-orang untuk tiba-tiba kreativitas yang tadi saya bilang itu mereka batasi sendiri demi komersialitas. Padahal saya yakin betul seperti kata pengamat film Marselli Sumarno bahwa komersial dalam arti murninya sebenarnya adalah menjaga mutu dan selalu memberikan variasi kepada penonton, selalu memberikan tema yang baru, yang unik, yang mungkin sudah lama tidak mereka lihat. Di masa lalu komersialisme itu cuma dilihat sebagai sesuatu yang pokoknya cepat, yang penting untung, yang penting jadi dan momentum itu bagus. Kelihatannya waktu Petualangan Sherina sukses tentu bebannya sangat berat sekali buat saya karena banyak sekali investor atau orang-orang yang menekan pada saya untuk segera membuat Petualangan Sherina II atau film anak-anak lagi. Tapi agak sulit buat orang seperti saya dan teman-teman itu agak sulit karena kalau kita tidak menggodok cerita itu untuk dibuat sekuel, susah buat kita memaksakan. Hati kita merasa apa bisa sama bagusnya, apa iya bisa sama menyenangkannya buat penonton. Kecuali kita yakin kita punya cerita yang jauh lebih bagus dari yang kemarin. Kebetulan juga memang waktu itu kita sudah ingin saat sudah mulai merilis Sherina, belum tahu sukses atau tidak kita sudah punya keinginan untuk juga membuat film remaja. Sebenarnya di balik ini ada misi juga, anak-anak waktu kita bikin Petualangan Sherina kita pikir anak-anak itu tidak punya background masa lalu dengan perfilman Indonesia. Dia tidak mengerti ada apa, kenapa, kenapa jelek, kenapa bagus, atau kenapa tidak ada. Mereka cuma lihat apa yang mereka tonton. Dan buat saya ini akan menjadi jalinan yang bagus untuk generasi yang paling awal untuk berkenalan kembali dengan perfilman Indonesia. Tentunya buat saya yang berikutnya remaja, remaja juga bagian penting apalagi kalau kita membicarakan regenerasinya nantinya, mau itu regenerasi orang-orang film yang siapa tahu dari sekian banyak remaja ada yang tertarik dengan dunia film maupun itu tadi hubungan baik antara film Indonesia dengan penontonnya yaitu remaja. Sebenarnya awalnya dari itu, mungkin ada obsesi kecil-kecilan sedikit saya tidak sempat SMA waktu itu, soalnya harus pindah sekolah ke luar negeri, tapi sebenarnya intinya itu.

Waktu membuat AADC barangkali Mba Mira sudah memperkirakan impact film ini akan sangat besar terhadap remaja kita, apakah juga dipikirkan antisipasi terhadap hal-hal yang bisa mempengaruhi gerakan emosional mereka atau hal-hal lain dalam proses pendewasaan mereka?

Kalau pengaruhnya bakal besar sekali, kita sebenarnya terus terang tidak menyangka jadi sebesar ini, sebenarnya dua atau tiga kali lebih besar dari yang kita perkirakan. Tapi bahwa film punya dampak yang besar, kami sadar. Jadi dari awal biar penontonnya sedikit pun, ada tanggung jawab untuk selalu punya sensor sendiri. Hal ini bagi saya sangat penting untuk kita menyadari dimana kita berada, bagaimana keadaan sosial, politik, ekonomi dan budaya, tempat kita berada. Semuanya tentunya pasti kita bicarakan, kita pikirkan, baik itu dari sisi tema, adegan atau apapun, itu sudah kita pikirkan matang-matang. Tentunya harapannya mudah-mudahan tidak ada yang negatif karena tujuan kita yang utama adalah tentu memberikan justru dampak yang posif dimana remaja bisa lebih terbuka cara berpikirnya dan orang tua yang menonton pun demikian.

AADC yang sangat sukses membuat Mba Mira dan teman-teman dari Miles Production harus road show keliling Indonesia. Dari sana ada diskusi-diskusi, kemudian ada review film. Barangkali dari sana bisa dipotret pelajaran apa yang kira-kira paling besar bisa diambil oleh penikmat film Indonesia terutama remaja dari AADC?

Sepertinya macam-macam, ada yang mungkin hanya melihatnya di permukaan dalam arti kata ada satu kebahagiaan melihat potret kehidupan mereka di sebuah layar yang lebar, tiba-tiba proses identifikasi itu terjadi dan itu menjadi bagian dari ekspresi mereka juga. Jadi bukan hanya kita pembuatnya tapi itu menjadi bagian yang mereka keluar dari sana merasa bahwa itu saya seperti itulah kita. Tentu tidak semua ada juga yang sangat berbeda dan saya juga senang ternyata kalau kita berjalan dari kampus ke kampus banyak tentunya yang melihatnya agak lebih dalam dan lebih jauh lagi dari sekedar mendapatkan seperti yang tadi saya bilang. Kita dapat bahwa memang sekarang sudah cukup besar mayoritas penonton menginginkan sesuatu yang lebih dari sekedar hiburan dalam sebuah film. Banyak sekali yang memberi catatan kepada kita untuk AADC penekanan terhadap buku, puisi dan sastra menjadi bagian penting dan dampaknya juga bagus. Tentunya ada juga yang masih agak ragu-ragu untuk mengatakan adegan ciuman itu sebenarnya perlu atau tidak misalnya. Tapi feedback yang saya dapatkan setiap kali ada issue itu muncul dalam setiap diskusi, yang terjadi adalah mereka sendiri yang saling ribut dan bertentangan. Kalau ada yang bilang itukan tidak sesuai dengan budaya timur, tapi nanti ada yang berteriak sok tahu, mereka punya jawaban sendiri. Kenyataannya kan seperti itu, kenapa harus disembunyikan. Terhadap hal tersebut mereka saling berinteraksi dan berpikir kembali, ya atau tidak. Mungkin itu pun sesuatu yang karena sudah sekian puluh tahun dianggap tidak boleh, ketika tiba-tiba muncul di depan mata kaget sendiri, ada yang reaksinya negatif ada yang reaksinya sangat positif.

Apa harapan Mba Mira ke depan tentang perkembangan film nasional?

Harapan saya nomor satu adalah kesadaran pemerintah akan pentingnya film nasional dalam konteks saya bukan sineas yang merasa bahwa film itu harus membutuhkan uang besar, subsidi dari pemerintah untuk bikin film, sama sekali tidak. Yang saya inginkan adalah political will mereka untuk membuat policy kebudayaan yang tepat untuk bisa melindungi perfilman nasional, untuk bisa melindungi dominasi film-film dari luar. Karena terbukti di negara-negara lain bisa berjalan lain seperti Perancis, Korea Selatan, Jepang maupun di Afrika Selatan. Dan mengapa itu bisa berjalan walaupun mungkin belum seperti yang diharapkan tapi sudah bergulir, itu nomor satu memang harus ada dukungan pemerintah mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang tepat. Sayangnya kebijakan-kebijakan ini bisa dilakukan kalau mereka paham, kalau mereka pikir aduh buat apa bicara film sementara negara ini masih membutuhkan banyak hal yang harus diperhatikan dan ini justru yang saya khawatirkan. Saya rasa kita harus melobi mereka dalam bentuk seperti itu, penting sekali. Kenapa penting, yang tadi saya ceritakan yaitu soal bahwa ini memang punya kekuatan yang dahsyat untuk pemikiran manusia, film itu. Jadi kalau tidak segera dilakukan sesuatu selalu dibilang belakangan akan semakin kacau ke depan. Lalu kedua, saya mengharapkan semoga tidak ada tangan-tangan kotor yang notabene yang melihat momentum ramainya kembali perfilman ini dari sisi komersialnya saja. Dulu dari sejarah perfilman kita harusnya sudah dapat belajar bahwa kita tidak hanya melihat film seperti itu, ada interaksi antara pembuat film dengan penonton, ada tanggung jawab yang besar yang harus dijalankan. Jadi membuat film bukan hanya sekedar mencetak asal jadi, lalu kita lempar dan laku tapi harus ada proses dimana dalam proses ini semuanya akan tumbuh dengan sendirinya baik itu SDM, profesionalismenya dan sebagainya. Saya takut kalau kita modelnya harus buru-buru maka nanti seperti televisi yang kejar tayang. Sudah dengan bangga menyebut industri televisi tapi masih ada kejar tayang, industri model mana saya tidak tahu. Jadi mungkin itu adalah dua yang utama bahwa proses belajar itu sangat penting.

Berarti tanggung jawab pengembangan film nasional tidak hanya berada di tangan sineas tapi juga di tangan pemerintah dan legislative. Tapi tadi saya tertarik dengan pernyataan Mba Mira bahwa kita butuh satu regulasi yang mantap tentang pengembangan kesenian nasional didalamnya tentang perfilman nasional. Dengan sukses AADC yang begitu gegap gempita apakah pernah kalangan parlemen misalnya, mengundang Mba Mira untuk sekedar hearing untuk berbagi dengan mereka tentang bagaimana sebenarnya memproduksi sebuah film yang dapat memberikan impact yang positif bagi masyarakat?

Kelihatannya sejak Petualangan Sherina bahkan orang kembali mulai melirik termasuk pemerintah tentunya dan terakhir dengan AADC, kami sempat diundang oleh Bapak I Gede Ardika sekarang Menteri Kebudayaan & Pariwisata yang sempat berbicara dengan kita secara langsung dan kami menyampaikan apa yang ada dalam pikiran dan kelihatannya Pak I Gede Ardika ini juga ingin sekali memahami apa yang terjadi. Serangkaian workshop dan diskusi telah dilakukan dan saya belum tahu dampaknya sejauh ini apa tapi kelihatannya perhatiannya sudah ada dan badan tertinggi kita yang harusnya jadi badan tertinggi semenjak hilangnya badan organisasi tertinggi kita yaitu Departemen Penerangan yaitu DP2N. Dan dengan ketuanya Slamet Rahardjo sepertinya sedang dilakukan restrukturisasi terhadap bentuk organisasinya. Dan menurut saya inilah yang bisa menjadi badan formal yaitu tempat menggodok hal-hal apa yang terbaik yang nantinya bisa dilobi ke DPR. Dan juga ada beberapa foundation, yayasan atau kelompok yang mandiri yang juga mencoba membuat positioning papers untuk bisa dilempar juga ke DPR agar perhatian mereka ada dan lebih terhadap film.

Bagaimana komentar Mba Mira tentang kecenderungan hiburan saat ini yang dipenuhi dengan sinetron-sinetron yang sebagian orang menyebutnya tidak realistis karena lebih banyak menjual mimpi ketimbang realitas?

Sebenarnya yang jadi problem itu menurut saya adalah jumlahnya yang terlalu banyak, bentuknya yang terlalu seragam bahkan pemainnya yang hampir semuanya sama. Sampai kita juga tidak tahu ini pasang dari satu televisi ke televisi semuanya sama. Itu yang sebenarnya harus segera dirubah bahwa keragaman itu penting, perbedaan itu penting. Harusnya kita belajar dari dahulu tapi ada saja orang yang berpikir bahwa ini lagi laku, ini lagi bagus, cepat buat yg banyak. Hal seperti itu sama sekali tidak mendukung sebuah industri dan perkembangan yang sehat tidak seperti itu. Seharusnya saluran televisi sudah banyak maka pilihannya juga makin banyak pula, kalau sama juga semuanya buat apa. Soal menjual mimpi itu kalau satu atau dua tidak akan ada yang protes, kita pun dapat melihat dan memperbandingkan dengan yang mungkin tidak menjual mimpi. Yang jadi problem ini yaitu tadi, kesamaan begitu ada satu yang muncul, semuanya muncul dan itu yang saya coba dengan teman-teman, coba injak bumi dan jangan sampai kita terjebak oleh hal-hal ini dan kita juga harus mengeksplorasi keragaman dan tema supaya tidak berhenti begitu saja.

Bagaimana sebenarnya konsep hiburan untuk keluarga yang sehat?

Kalau kita keluarga berarti kita bicara bapak, anak dan ibu yang pasti sulit untuk digabungkan menjadi satu hiburan. Tapi yang penting menurut saya adalah memecah kebutuhan masing-masing dan mencari kebutuhan yang bisa dilakukan sama-sama. Dan hiburan untuk keluarga yang terpenting adalah anak-anak. Tontonan anak buat saya pribadi perlu sekali diperhatikan, karena tontonan mampu mempengaruhi cara berpikir dan perilaku kita. Untuk itu bapak dan ibu harus sekali menjaga apa yang anak-anak saksikan atau setidaknya bila ingin membebaskan mereka untuk menonton sesuatu harus ditemani. Hiburan itu harus selalu dibagi mulai dari bagus secara pendidikannya dan hiburannya dan kita harus terus membuat mereka interesting akan hal tersebut. Karena banyak sekali pilihan yang mungkin jauh lebih menarik. Kapan mereka dapat bersenang-senang untuk kegiatan motorik dan adrenalinnya, dan kapan juga mereka untuk mengasah rasa mereka melalui hiburan yang memiliki nilai kesenian yang tinggi dan itu juga harus diimbangi dengan buku bacaan. Jangan lupa orang tua juga harus memperlihatkan bahwa mereka juga interested dengan hal-hal seperti itu, karena bagaimana anak akan interested bila orangtuanya tidak interested.