Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Drs. Sugiharto, MM

Mutu Pendidikan Tergantung Pada Proses

Edisi 326 | 11 Jun 2002 | Cetak Artikel Ini

Seminggu yang lalu kita melihat anak-anak sekolah berpesta merayakan kelulusan mereka. Padahal sebetulnya memang belum ada pengumuman resmi. Tapi sebuah tradisi panjang tetap saja berlaku, yaitu coret-coretan baju. Anak-anak sekolah sekarang malah lebih explosive dengan rambut yang dicat warna-warni. Sekalipun banyak yang mengatakan bahwa tindakan ini kurang produktif, inilah wujud ekspresi anak muda yang baru lulus sekolah menengah. Fenomena ini hampir terjadi dalam setiap generasi. Tapi yang memprihatinkan adalah pesta lulus-lulusan ini juga ditandai dengan pesta tawuran. Di Jakarta bahkan ada yang sampai meninggal dan luka parah, sebagai akibat dari perkelahian massal antara satu SMU dengan SMU lain, persis setelah hari kelulusan mereka. Inilah problem sesungguhnya yang terjadi di kalangan anak-anak SMU kita. Mereka menjadi mudah terpancing dan rendah dalam kontrol emosi. Yang salah dalam sistem pendidikan kita sehingga melahirkan generasi yang senang tawuran, mungkin bisa diperdebatkan. Tapi sebetulnya problem ini bukan problem umum, tapi problem yang sifatnya kasuistik. Banyak sekolah yang justru memproduksi anak-anak berbakat, berprestasi dan steril dari penggunaan obat-obat terlarang ataupun narkoba serta jarang terlibat dalam tawuran. Salah satu contoh itu adalah SMUN 8 Jakarta. Disamping memiliki anak-anak yang berbakat, yang tentu melahirkan generasi berprestasi, sekolah ini memiliki pengalaman praktis dan manajemen pendidikan yang baik. Karena itu, Perspektif Baru kali ini mengundang Bapak Drs. H. Sugiharto MM. Beliau adalah Kepala Sekolah SMUN 8. Dengan beliau kita akan bahas apa saja yang harus dilakukan untuk mengelola sebuah lembaga pendidikan yang jauh dari kekerasan, dan steril terhadap penggunaan narkoba, serta yang paling penting mampu melahirkan siswa-siswa yang berprestasi.Inilah Perspektif Baru dengan pemandu Ruddy Gobel.

Prestasi apa saja yang sekarang dihasilkan oleh SMUN 8 Jakarta?

Banyak sekali prestasi yang dihasilkan SMU 8. Tapi pada prinsipnya diharapkan bahwa lulusan SMU itu mampu melanjutkan ke perguruan tinggi. Di SMU 8 ada ciri lagi, tidak semata-mata hanya dapat melanjutkan ke perguruan tinggi negeri saja. Di SMU 8 anak-anak itu sangat memilih jurusan di perguruan tinggi yang dianggapnya menggembirakan untuk masa depan, sehingga jurusan-jurusan dan perguruan tinggi tertentu yang mereka harus tempuh. Bahkan kalau dirasakan perguruan tinggi itu tidak bisa menjamin kesinambungan hidup dan memenuhi tuntutan hidup mendatang, mereka lebih memilih swasta yang dianggapnya bisa menjamin. Kali ini prestasi yang cukup ideal, bahwa dengan memilih perguruan tinggi yang demikian tadi, boleh dikatakan 91% anak didik kita diterima di perguruan tinggi negeri. Bahkan kali ini dengan pengalaman tahun lalu, untuk anak-anak yang berprestasi sudah diterima di National Technology University Nanyang. Artinya sebelum ujian, mereka sudah dapat dinyatakan diterima. Kebanyakan anak-anak di sekolah ini dapat masuk di program akselerasi, program percepatan belajar 2 tahun. Di SMU 8 ini, selain program reguler yang belajar 3 tahun, ada program aksel yang belajar 2 tahun. Anak-anak yang diatas rata-rata SMU 8, baik kemampuan akademik atau intelegensi lain, dengan seijin orang tuanya akan mengikuti program akselerasi. Sejalan dengan itu, kami memiliki prinsip tidak hanya mengembangkan kecerdasan linguistik dan matematik sains. Tapi dalam memandang anak, ada pepatah orang tua "anakmu tidak hidup pada jamanmu". Setelah saya renungkan mendalam, ternyata dalam memahami anak tidak hanya melihat seolah-olah pengalaman saya di masa kecil, tapi betul-betul memahami kemampuan individu anak secara berbeda-beda untuk dikembangkan. Oleh karenanya, kalau anak hanya diberikan masalah sains, linguistik dan matematik, nantinya kurang imbang dengan perkembangan emosionalnya. Oleh karena itu, di sekolah ini sangat saya tonjolkan pelayanan dalam pengembangan kemampuan kecerdasan emosional, baik yang bersifat spasial, visualistik, nilai, keindahan, interpersonal, intrapersonal maupun fisik seperti tari dan lain sebagainya. Ini menjadi keterpaduan dalam menyiapkan anak plus ketrampilan yang diharapkan dapat membantu mereka dalam kehidupan mereka di kemudian hari. Keterampilan yang saya kembangkan di sini, selain keterampilan yang tidak ada dalam kurikulum untuk mencapai perguruan tinggi, anak juga kami bekali selain kegiatan ekstra kurikuler yang bersifat sosial kemasyarakatan dan agama, ditambah lagi dengan bahasa asing. Yaitu bahasa Jerman, Jepang, Inggris, Perancis, dan Arab. Silahkan pilih, boleh pilih lebih dari satu. Dikembangkan juga komputer teknik informatika, disamping itu dikembangkan juga komputer akuntansi dan perbankan maupun perusahaan. Di sisi lain kegiatan-kemasyarakatan.

Prestasi itu bisa dihasilkan dengan dua cara, pertama mereka memang bibit yang baik, kedua penggodokan selama di sekolah ini juga baik. Apakah ada mekanisme seleksi khusus pada waktu mereka masuk sekolah ini atau melalui suatu mekanisme yang biasa?

Kalau rekrutmen, kita diatur oleh Dinas Pendidikan tingkat Propinsi. Di DKI ini tahun lalu menggunakan sistem rayonisasi, jadi sudah diatur sedemikian, anak-anak yang bisa masuk sekolah tertentu bertempat tinggal di wilayah yang terdekat, untuk memperhatikan transportasi dan lain-lain. Kali ini Kepala Dinas akan mencoba membuka wawasan baru agar sekolah menerima langsung pendaftaran dengan kriteria tertentu. Kriterianya, di DKI tidak ada patokan. Sementara kalau tahun lalu dasarnya menggunakan NEM, tahun ini dengan istilah NUAM atau Nilai Ujian Akhir Murni. Sementara itu kita jadikan dasar, yang kita perbandingkan dengan daya tampung sekolah dengan jumlah pendaftar untuk diambil passing grade yang terendah sesuai dengan jumlah daya tampung. Contohnya SMU 8 daya tampungnya 9 kelas, rasio 40 kelas, berarti diperlukan murid 360 dikurangi anak tidak naik (kalau ada). Tapi biasanya memang tidak ada. Setelah itu masyarakat diminta mendaftar. Begitu daftar SMU 8 akan saya gunakan langsung diperingkat saat itu. Berapa pendaftar saat itu, daya tampung akan kelihatan sehingga bagi orang yang memperkirakan tidak bisa masuk, maka dia tidak akan menarik berkas. Yang sudah diterima pun tidak berpikir akan diterima, tapi sampai deadline terakhir, yakni tanggal 5 Juli, dia akan diumumkan. Disinilah tidak ada kriteria yang jelas. Tergantung berapa pendaftar, kita peringkat, diambil peringkat 1 sampai 360. berapa NUAM yang terendah saat itu, kita lihat secara terbuka. Karena memang pemerintah maunya demikian, di sekolah saya ambil langkah, setelah anak masuk, kami mengadakan tes potensi akademik, karena kita tidak bisa percaya sekali hasil NEM antara sekolah satu dan lainnya dan juga antar wilayah satu dan yang lainnya. Kenapa tidak bisa? Karena masih ada yang dikoreksi secara manual, tapi ada yang secara komputer. Soalnya berbeda, walaupun dengan kisi-kisi yang berbobot sama. Oleh karena itu, begitu masuk, tanpa mengurangi aturan tersebut, kami adakan tes potensial akademik untuk matrikulasi, sejauh mana kemampuan anak. Dari situ akan saya kelompokan. Ada anak yang kelompok mata pelajaran basic-nya di SMP masih rendah, terpaksa kami harus mundur dulu. Tapi ada yang basic-nya sudah siap, dengan demikian akan kami perlakukan dengan berbeda, sesuai dengan perkembangan dan percepatan irama kemampuan anak.

Ini berarti bahwa SMU 8 harus menciptakan kelas-kelas khusus untuk anak-anak yang katakanlah masih di bawah rata-rata ataupun bagi mereka yang di atas rata-rata. Apakah ini tidak rumit dalam pengelolaannya?

Inilah yang sepaham dengan kalimat saya; "Anakmu tidak hidup pada jamanmu". Saya betul-betul harus memahami potensi yang ada pada anak. Ini diperlukan suatu ekstra pemahaman terhadap anak-anak. Suatu saat, anak-anak yang sudah masuk dalam kategori "menengah" bisa juga ke bawah, dan yang di bawah, setelah pelayanan yang baik akan ke atas. Yang mampu dua tahun selesai silakan. Sehingga anak akan berkembang sesuai dengan irama percepatannya.

Program yang dua tahun ini, apakah tidak ada "problem" yang muncul, misalnya dari kalangan pemerintah yang menetapkan bahwa periode sekolah pada sekolah menengah umum itu tiga tahun. Kemudian bagaimana memadatkan kurikulum yang tadinya dijalankan untuk tiga tahun menjadi hanya dua tahun saja?

Kami justru menindaklanjuti undang-undang sistem pendidikan nasional, dinyatakan diantaranya bahwa peserta anak didik yang mempunyai kemampuan luar biasa, hendaknya diperlakukan khusus. Dari dasar itulah, saya membantu melaksanakan untuk memberikan layanan kepada anak-anak yang memiliki kemampuan di atas rata-rata dengan seijin Dirjen Dikdasmen. Otomatis secara yuridis tidak masalah. Mengenai kurikulum, kami mencoba menganalisa materi pelajaran dari kelas satu sampai kelas tiga. Kita analisa, mana materi yang sama sudah diajarkan di kelas satu, tidak perlu lagi di kelas dua. Artinya kita cari betul-betul materi esensial dengan menggunakan sebuah metode. Setelah itu materi ini kita padatkan, dipakai selama dua tahun. Materi yang bisa dipelajari anak secara mandiri, cukup diberikan tugas dari guru. Sedangkan materi kurikulum biasa semua tetap harus diajarkan. Saya pilah, karena anaknya memiliki kemampuan luar biasa.

Berapa rasio anak-anak yang berhasil lulus dalam program dua tahun ini dibandingkan dengan mereka yang lulus secara normal? Apakah ini tidak membebani orang tua murid? Apakah ada implikasi misalnya mereka harus menyediakan dana pendidikan yang lebih besar?

Pada prinsipnya seperti pada kelas reguler, hanya tingkat pelayanan gurunya yang ditingkatkan, sehingga biaya sampai saat ini tidak menjadi masalah, dan kami perlakukan sama. Sering juga ada pertanyaan, wah anak-anak pintar dikelompokkan, apakah nanti tidak eksekutif, ego dan sebagainya? Justru saya pahami dengan kegiatan-kegiatan kemasyarakatan, sosial, pengembangan emosional mendapat perhatian khusus. Dengan demikian sekarang tidak ada perbedaan antara anak aksel dengan anak reguler. Contohnya selama dua tahun saya di SMU 8, tahun pertama saya mencoba mengadakan kegiatan sosial, pertama menarik mata kuliah di perguruan tinggi, saya coba berikan di sekolah. Yang kedua melatih mereka hidup bermasyarakat, mencari penelitian dengan cara misalnya program yang namanya tesis, tapi bukan seperti karya ilmiah S2. Tesis ini Temu Sosial Ilmiah SMU 8. Kegiatannya tesis ini selama liburan, anak-anak dibawa ke desa yang masih tertinggal, saya buat konsep seperti kasus pertukaran pelajar home stay. Anak-anak kami hidupkan di rumah penduduk. Dia akan hidup bersama dari makan, tidur, dan lain-lain sambil mencari data untuk penelitian dan berbakti sosial. Disini nampak bahwa interaksi sosial antara anak kita dengan masyarakat cukup tinggi dan betul-betul akan merasakan kehidupan disana. Dia pulang dengan data yang lengkap, membuat karya ilmiah, dipresentasikan di forum, bahkan pengujinya kami memberdayakan orang tua. Tahun ini banyak dosen pengujinya, contohnya Dr. Imam Prasodjo, dr. Boyke. Ternyata mereka mengatakan "anak mahasiswa saya tidak begini. Ini lebih baik". Disini kita mencoba membaurkan supaya keseimbangan antara anak yang aksel juga ternyata mampu hidup bersosial, sehingga diharapkan menjadi orang yang pintar dan bermakna bagi masyarakat di kemudian hari.

Tadi kita sangat terkesima dengan yang dilakukan oleh Pak Sugiharto terhadap anak didiknya di SMUN 8. Kemudian kita terkesima oleh betapa banyak prestasi yang dihasilkan oleh anak-anak didiknya. Tapi mungkin ada yang bertanya atau meragukan karena mudah saja menghasilkan anak-anak berprestasi di sini karena sebagian besar mereka berasal dari kalangan menengah atas. Apakah pendapat ini benar?

Itu suatu pertanyaan yang ada di masyarakat, tetapi yang bertanya itu biasanya yang berorientasi seperti perusahaan, input bagus, output bagus. Tapi jangan lupa input di sini bukan barang tetap tetapi inputnya adalah barang yang dinamis. Sehingga sangat ditentukan, dipengaruhi oleh bagaimana proses di dalam proses untuk mengolah input menjadi output bahkan menjadi outcome ini. Kalau kita hanya berpikir seperti pabrik memang iya, anak bagus hasilnya akan bagus. Tapi ingat tadi satu, input di sini adalah input yang sifatnya dinamis sehingga sangat dibutuhkan pengolahan-pengolahan dalam proses. Proses di sini yang sangat menentukan adalah manajemen sekolah, bagaimana kualitas gurunya, bagaimana kurikulumnya, bagaimana manajemen sekolah, bagaimana peran orang tua, pendek kata manajemen sekolah dan performance para guru sangat menentukan. Bolehlah beranggapan input bagus tapi itu anggapan yang menyamakan bahwa proses pendidikan sama saja dengan proses dengan di pabrik, padahal kita tidak demikian.

Tadi bapak bicara tentang manajemen dan keterlibatan guru-guru yang berkualitas. Di SMU 8 sendiri itu bagaimana hubungan antar guru dan struktur pembagian tugas antar guru-guru itu?

Saya cukup menjadi perhatian bahwa menurut anggapan saya bahwa mutu pendidikan sangat tergantung pada proses sedangkan proses sangat tergantung pada guru. Bagaimana guru kita harus berkualitas. Memang sumber belajar lain banyak, internet, buku, CD, VCD dan lain-lain, banyak sekali sebagai bahan. Tapi masih belum bisa menggantikan keberadaan guru sebagai pendidik. Mungkin kalau seorang pelajar bisa digantikan tapi fungsi atau peranan guru sebagai pendidik tidak bisa digantikan. Oleh karena itu bagaimana kita bisa menciptakan hubungan antara anak didik dan pendidik, sekolah dalam arti menjadi lingkungan sekolah yang harmonis untuk mencapai suatu tujuan. Di sini peran dukungan orang tua cukup besar, peran BP3 juga cukup besar, pendek kata semua menjadi suatu sistem SMU 8 dimana masing-masing sub sistem dapat berfungsi dengan baik. Sementara hubungan dengan guru saat ini tidak ada masalah atau "cukup baik" dan saya tanamkan seperti filosofi saya tadi, itu penting saya tanamkan sehingga anak bisa memahami benar tentang perkembangan anak.

Apakah sistem pendidikan yang diterapkan di SMU 8 ini, yang telah terbukti efektif menghasilkan generasi yang berprestasi, bisa berlaku universal dalam arti apakah ini feasibel untuk diimplementasikan di sekolah-sekolah yang lain?

Saya tiap bulan itu menerima tamu itu dari berbagai sekolah, terakhir hari Sabtu kemarin, tanggal 1, terima dari peserta kepala sekolah penataran mengenai program percepatan. Tiap-tiap propinsi ada wakilnya jadi ada 40 tamu. Hari itu banyak sekali terima bahkan besok itu kami terima rombongan dari guru-guru sejarah di Kabupaten Bogor. Ternyata yang kami sampaikan mengenai pola pembinaan guru, pola pembinaan siswa, pola pemberdayaan sarana dan keuangan, mudah-mudahan bermanfaat. Katakanlah kalau hal ini tidak bermanfaat tidak banyak yang datang, kalau orang dagang. Tapi saya tidak berani mengatakan bahwa manajemen SMU 8 yang terbaik, tapi setiap yang berkunjung, studi banding ke SMU 8 akan saya berikan. Pengalaman saya selama menjadi kepala sekolah itu, saya sudah memimpin empat sekolah, semua karbitan. Di SMU 116, SMU 9, SMU 54, dan terakhir SMU 8, semua tidak ada yang lebih, mudah-mudahan di SMU 8 ini tahan lama, tapi dari pengalaman tidak ada yang lebih dari 2 tahun.