Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Soebronto Laras

Hidup Sehat dan Prestasi Kerja

Edisi 297 | 20 Nov 2001 | Cetak Artikel Ini

Sehat adalah salah satu istilah yang sangat popular, orang mau melakukan apa saja untuk bisa tetap sehat, bahkan dengan uang sekalipun. Sehat memang menjadi sebuah prasyarat bagi komunitas dunia untuk menjadi produktif dan positif. Tapi persoalannya, apakah kita benar-benar paham tentang sehat dalam arti yang sesungguhnya, apakah kita sudah paham substansinya, dan apakah kita sudah menjalankannya sebagai bagian dari hidup kita. Hidup sehat tidak selalu identik dengan sehat dalam konteks fisik, tapi sakitdalam konteks psikis. Menurut tamu kita kali ini, untukmemahami substansi sehat itu sendiri adalah dengan menjalankan gaya hidup sehat. Implementing Healthy Life Style, itulah topik diskusi kita kali ini, dengan seorang eksekutif senior, yang memimpin sebuah perusahaan raksasa otomotif nasional. Beliau adalah Soebronto Laras, Presiden Direktur PT. Indomobil. Soebronto adalah selalu terlihat prima sekalipun usia beliau hampir mencapai 60 tahun, dan saat ini masih terus beraktifitas dengan penuh vitalitas. Dengan beliau kita akan coba diskusikan soal bagaimana menjalankan hidup sehat dan tentu saja bagaimanamenikmatinya. Kita juga akan coba bahas tentang beberapa mitos, apakah betul hidup sehat itu mahal, sehingga hanya monopoli orang-orang berduit atau apakah hidup sehat itu berartimengorbankan gaya hidup normal dengan berpantang makan makanan yang enak danaktivitas lainnya. Ikutilah percakapan menarik antara Bapak Soebronto Laras dengan pemandu Perspektif Baru Ruddy Gobel dibawah ini.

Sebagai aktivis organisasi, Presiden Direktur sebuah perusahaan besar, serta segudang kegiatan bapak yang lainnya, bagaimana mengatur kesibukan bapak sehari-hari?

Saya sendiri memang sibuk sekali. Aktivitas rutin saya, sejak 30 tahun yang lalu memimpin kelompok perusahaan ini bekerja itu jam 8 pagi, sebelum jam 8 saya sudah ditempat. Itu saya tanamkan sejak awal ketika memimpin perusahaan ini. Memang konsistensi seperti itu tidak gampang, walaupundalam posisi puncak itu kadang-kadang bisa menentukan sendiri. Tapi saya coba budayakan di lingkungan perusahaan saya. Jadi saya sudah biasa juga mengundang rapat staf jam 8, dan biasanya saya masih dikantor sampai jam 9-10 malam. Tentunya ini membutuhkan fisik yang prima. Saya memimpin begitu banyak perusahaan, saya aktif dibeberapa organisasi olah raga, juga di KADIN. Masih ada lagi beberapa kegiatan lainnya yang saya harus ikut. Agar kita bisa fit-in dengan segala macam tugas dan kewajiban, kita butuhkan suatu fisik yang prima, dan mempunyai energi yang cukup untuk melakukan hal itu.

Di antara segudang kesibukan itu, bagaimana Bapak bisa membagi waktu untuk berolahraga, atau kegiatan-kegiatan lain yang berkaitan dengan hidup sehat?

Dasarnya saya sendiri memang ditempa menjadi olahragawan. Saya lahir dari keluarga olahraga. Saya dan adik saya, sejak awal memang ingin menjadi pemain tenis nasional. Pada usia 9 tahun dan adik saya 7 tahun, kita sudah ditempa untuk itu. Orang tua saya membina banyak sekali kegiatan olah raga, seperti sepak bola, tenis, yangdikenal dengan perkumpulan Olah raga Indonesia Muda. Sepanjang hidup saya, olah raga menjadi salah satu kegiatan yang harus kita lakukan terus. Saya juga mengembangkan diri tidak hanya di tenis, tapi juga di beberapa cabang olah raga lain, seperti sepak bola saya pernah menjadi kipernya Indonesia Muda, menjadi judoka, pembalap sepeda, dan pembalap motor. Jadi hampir semua cabang olah raga saya geluti. Kebiasaan ini akhirnya membuat saya konsisten, di usia 18 tahun saya berangkat ke Inggris, dan kegiatan olahraga tetap saya lakukan. Itu membuat kita lebih fit di usia seperti sekarang ini. Sebagai aktivitas rutin yang saya lakukan sekarang ini, saya melakukan olah raga yang tidak memakan waktu. Kalau bisa 1-2 jam, cukup. Saya olah raganya balap sepeda setiap minggu 150 KM itu saya lakukan rutin. Selain itu main tenis 3-4 kali seminggu dan semuanya saya lakukan setelah shalat subuh.

Masyarakat kadang hanya paham "sehat" itu misalnya kalau dia tidak pernah sakit. Padahal, tidak sakit juga belum tentu sehat atau paling tidak belum tentu dia menjalankan hidup sehat. Barangkali Bapak bisa menjelaskan makna hidup sehat buat Bapak dan keluarga?

Memang kalau kita bicara hidup sehat, artinya kita bisa memanfaatkan keberadaan kita. Apakah bersama keluarga, untuk kegiatan sehari-hari, semuanya bisa kita lakukan dengan baik dan no resistance at all. Anak-anak kan mereka relatif jauh lebih muda dari kita, secara fisik juga mestinya lebih kuat dari kita. Apakah itu perjalanan wisata, naik haji, atau umroh, rasanya fisik itu menjadi sangat penting. Saya juga menikmati keberadaan fisik yang sehat ini. Apalagi kalau kita dalam perjalanan naik haji, itu membutuhkan fisik yang luar biasa. Banyak teman-teman yang baru menjalankan beberapa kegiatan, dia sudah tidak tahan lagi, langsung tidur di hotel. Kadang saya bisa melihat kelebihan fisik yang sehat ini, kita bisa menikmati lebih dari pada kawan-kawan kita. Saya sendiri aktif membina generasi muda, misalnya menelusuri jejak para pahlawan, bikin napak tilas segala macam. Sudah bertahun-tahun saya memimpin generasi muda kita untuk napak tilas. Kadang-kadang kita jalan marathon, kita bawa generasi muda. Kita mesti buktikan pada mereka bahwa memiliki fisik yang baik itu menjadi sangat penting.

Dari penjelasan Bapak tadi, tampaknya sehat atau paling tidak gaya hidup sehat itu adalah sesuatu yang terencana, bukan sesuatu yang otomatis datang. Barangkali Bapak bisa memberikan sedikit tips bagaimana melakukan perencanaan hidup sehat?

Sebetulnya kalau berbicara bagaimana kita punya fisik yang sehat, kita bisa menikmati hidup yang sehat. Ini mungkin ada nilai historisnya juga, dan memang menjadi problematik di negara kita. Kultur yang sekarang ini menjadi sangat merisaukan kalau saya lihat. Kebetulan saya dibesarkan di Jakarta, di daerah Menteng, dimana saya tinggal sekarang, dulu di sekeliling rumah saya mungkin ada 7-8 lapangan sepak bola.Sekarang ini tidak ada. Jangankan ditengah-tengah Menteng, sekarang dipinggiran kotapun sudah tidak ada. Sekarang itu pemandangan yang menjadi sangat biasa, generasi muda kita bermain bola di jalan, ini pemandangan yang menurut saya tidak baik. Kultur ini yang sudah berubah sama sekali, dan pemerintah tidak pernah memberikan fasilitas, tidak pernah memikirkan apapun juga. Sarana pendidikan kita misalnya, sekolah-sekolah, apakah ada lapangan olah raga? Rasanya tidak. Kebetulan saya memimpin banyak sekali perusahaan, dengan lokasi yang berbeda satu sama lain. Setiap lokasi pasti ada lapangan sepak bola, lapangan gymnastic untuk mereka agar bisa main badminton dan lain sebagainya. Budaya olah raga saya coba ciptakan. Mereka bekerja 8.30, jam 8.20 akan ada senam kebugaran dulu, dimasing-masing tempat bekerja. Paling tidak stretching, mengikuti ritme lagu yang kita keluarkan melalui setiap ruangan. Menurutsaya ini kebiasaan yang memberikan nilai tambah bagi siapapun juga. Kita lihat negara-negara tetangga, negara-negara maju, setiap sekolah ada lapangan olah raga. Apalagi kalau kita lihat di Perguruan Tinggi. Perguruan tinggi disini tidak ada tempat apa-apa. Jadi tidak heran kalau generasi muda kita punya energi yang tidak terbuang. Akhirnya menyebabkan mereka menjadi emosional, tawuran, dan sebagainya. Saya sebagai ketua yayasan Perguruan Cikini, dari Taman Kanak-kanak sampai ke Perguruan Tinggi, saya siapkan lapangan sepak bola, lapangan basket. Saya juga melihat STM yang predikatnya sering terjadi tawuran, ditempat kita tidak terjadi. Walaupun tempatnya ada di Plumpang, Tanjung Priok, tapi tidak pernah anak-anak kami terlibat tawuran. Menurut saya karena energinya tersalurkan. Tidak seperti sekarang, tidak ada sarana olah raga akhirnya mereka ngumpulnya di Mall, akhirnya saling melotot, dan itu yang menjadi permasalahan.

Kalau melihat pola hidup Bapak sehari-hari, mungkin ada saja barangkali orang yang akan mengatakan gampang menjadi seorang Soebronto Laras yang menjalankan gaya hidup sehat ataupun ikut membina karyawan-karyawan atau generasi muda untuk berperilaku sehat atau menerapkan gaya hidup sehat. Tapi bagaimana dengan mereka yang mengalami problem ekonomi. Tentu dalam menciptakan fasilitas-fasilitas olah raga mereka mengalami kesulitan, atau misalnya membeli peralatan olah raga itu mahal. Bagaimana kita mengakali ini, pendapatan rendah tapi mereka tetap bisa menjalani gaya hidup sehat?

Pilih olah raga yang tidak memakan biaya, yang lebih murah, yaitu jogging. Saya membiasakan diri setiap pagi kalau saya pergi kemanapun diseluruh pelosok dunia ini, saya melihat dunia lain itu dengan cara berjalan kaki. Sesudah shalat subuh, apa yang kita lakukan? Apa tidur lagi? Biasanya saya memanfaatkan untuk berolah raga jalan kaki. Jalan kaki 1 jam itu kira-kira 7 KM. Kalau kita biasakan dengan jalan untuk membakar kalori. Kalau saya muter kota di Los Angeles, atau Tokyo, Amsterdam, banyak yang bisa saya lihat. Kalau saya tinggal 10 hari disitu, berarti 70 KM saya jalan setiap pagi. Demikian juga misalnya saya membawa anggota PELTI ke luar negeri, anak-anakpun kalau saya ajak ke luar negeri tidak naik apa-apa. Saya bilang, kita jalan kaki saja. Meskipun pertokoannya cuma 3-4 KM, mereka kadang-kadang ngomel karena kejauhan. Tapi ini kebiasaan yang menurut saya harus kita budayakan. Karena, kita ini hidup di dunia yang sangat tidak sehat. Kenapa? Kita sudah terbiasa hidup itu door to door service. Istilahnya itu kalau kita menuju ke tempat sasaran, itu tidak mau jalan sedikitpun. Iyakan? Waktu becak dihapus, kita marah. Orang Jepang kenapa sehat? Dia biasakan untuk jalan kaki. Jalan yang hanya 500 meter saja tidak mau, dianggap jauh. Ini menurut saya suatu budaya yang dinegara kita sudah terpatri kepada siapapun juga. Semua orang merasa, jalan kalau bisa hanya sampai kedepan pintu, dan this in the problem.

Healthy Life Style yang saya tahu terdiri dari fitness, balance food dan stress management. Fitness atau olah raga sudah banyak dibahas tadi, tapi bagaimana dengan balance food dan stress management itu?

Ini juga menjadi problem. Seorang eksekutif seperti saya, tidak bisa menghindari lobby yang berbentuk makan siang, makan malam, diundang mitra kerja. Ini memang problem besar buat saya. Saya mempunyai dasar keturunan, dimana ayah saya walaupun dia seorang olah ragawan, tapi penderita jantung. Walaupun saya seorang olah ragawan, saya juga akhirnya mengidap penyakit yang sama, tanpa saya sadari. Jantung itu apa sih? Terjadi penyempitan dan lain sebagainya. Tapi saya beruntung, walaupun saya pernah kena serangan jantung, tapi jantung saya kuat, sehingga saya tidak merasakan itu. Dokternya kaget juga, dia bilang "Kalau Pak Bronto tidak punya jantung yang kuat, mungkin anda sudah pingsan". Saya sendiri waktu mendapat serangan jantung merasa something wrong. Saya bilang ke supir "Ayo kita ke rumah sakit". Begitu diperiksa dokter, ternyata mesti langsung ke ICCU. Jadi kita tertolong karena kita punya fisik yang sehat, walaupun kita bisa dilanda yang macam begitu. Banyak kebiasaan yang tidak baik, kalau kita berbicara mengenai apa yang kita makan. Memang kita melihat masyarakat kitadi Indonesia ini, dari berbagai macam tempat dan kebiasaan hidup beda, makanannya juga beda. Ini kenyataan, makanan-makanan yang terus terang this is not a healthy food. Saya mengirim karyawan ke Jepang, 1500 orang untuk 1 tahun. Disana mereka menghadapi banyak masalah yaitu kebiasaan-kebiasaan minum yang namanya teh manis. Saya bilang "Sekang anda di tempat orang, biasakan cara orang Jepang", mereka minum teh minum kopi tidak pakai gula. Kalaupun pakai gula, hanya sedikit. Ini akan memberikan dampak yang sangat positif. Cobalah orang-orang kita ini umur 35-40 tahun sudah kena yang namanya kencing manis dan lain sebagainya, kenapa? Karena ini kebiasaan yang sudah membudaya, padahal this is not good at all.

Soal stress management. Bukankah ini juga terkait dengan katakanlah tingginya jabatan seseorang, aktivitas, atau lingkungan tempat dia bekerja. Kita tahu semua bahwa Pak Soebronto adalah Presiden Direktur sebuah perusahaan besar dengan segudang kesibukan, kemudian lingkungan bekerjanya di Jakarta, kota yang begitu padat dengan traffic yang sangat mencemaskan. Bagaimana bapak mengakali itu semua, sehingga menurunkan resiko untuk mengalami stres?

Kalau menurut saya, kuncinya untuk melawan stres itu olah raga. Karena dengan olah raga kita akan fokus dan rileks. Dan yang kedua, suka main musik. Dirumah saya juga ada ruangan musik. Disinipun, tadi baru diangkatin organ saya. Kalau saya sudah pusing-pusing, saya main organ saja sendiri. Jadi ini juga sedikit banyak membantu kita menghilangkan segala macam pikiran yang lagi kusut, dan terus terang itu efektif. Dan kadang-kadang dengan hobi saya main motor, saya pergi ke gunung bersama teman-teman, touring, pergi ke Lampung, ke Lembang, jalan ke Sawangan naik motor yang jauh-jauh, itu hilang semua. Rasanya kita juga jadi lebih rileks.

Mungkin Bapak bisa memberikan sedikit penjelasan bagaimana puasa itu bisa menjadi bagian dari gaya hidup sehat?

Ini adalah kewajiban bagi umat Islam, dan saya lakukan itu. Saya berpuasa, tapi kebiasaan olah raga saya tidak bisa saya hilangkan. Ini menjadi masalah lain. Kadang-kadang kita mengalami dehidrasi, karena kita olah raga pagi-pagi habis sahur, sudah kehabisan air duluan. Ini mengakibatkan kita tidak sehat. Kenapa? Karena kita kekurangan air, akhirnya darah kita mengental. Problemnya adalah penyempitan di jantung, yang bisa terjadi. Kemarin saya juga baru melaksanakan problem di ginjal. Kenapa? Kekurangan air lagi. Jadi terjadi shorties air di ginjal, akhirnya bermasalah. Problemnya kembali lagi adalah kebiasaan kombinasi antara keberadaan cairan di tubuh dengan olah raga yang kita lakukan. Paling sehat kita butuh 3 liter air setiap hari. Setiap bangun kita minum 1 liter air dulu. Di bulan puasa, saya tidak pernah stop olah raga, apakah itu naik sepeda ataupun main tenis. Kadang-kadang siang terasa tenggorokan yang kering, tapi ini ibadah. Ini suatu tantangan, kalau kita bisa tahan kenapa tidak dilakukan?. Tapi tanpa kita sadari, tubuh kita ini kadang-kadang membutuhkan treatment juga. Ini yang menjadi masalah. Kadang-kadang saya harus entertaint tamu, saya puasa, dianya makan, tidak apa-apa karena ini ibadah.