Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Firman Lubis

Kesehatan Juga Perlu Mengalami Reformasi

Edisi 242 | 24 Okt 2000 | Cetak Artikel Ini

Walaupun krisis masih berkecamuk di negeri kita ini, tapi kita perlu memikirkan masa depan, memikirkan cara fundamental untuk keluar dari tahun-tahun yang mungkin melahirkan generasi yang hilang dan berpaling pada usaha-usaha untuk membuat masyarakat ini lebih sehat. Kita perlu membicarakan penanganan kesehatan yang betul-betul bisa jalan, dengan biaya yang terjangkau. Tamu kita yaitu Dr Firman Lubis, sudah lama mengembangkan cara agar masyarakat bisa membuka jalan sendiri kearah pengelolaan kesehatan tanpa tergantung, dan kadang-kadang terbatas pada program pemerintah yang boros serta tidak kena sasaran. Dr Firman Lubis adalah seorang dokter lulusan Universitas Indonesia, yang merupakan anggota dewan dari suatu upaya baru yang bernamakan "Koalisi Indonesia Sehat". Koalisi ini adalah kelompok warga dari berbagai kalangan yang atas inisiatif sendiri mengupayakan kondisi-kondisi agar kita dapat mencegah kesehatan sebelum ia muncul. Dr Firman Lubis juga mengajar di Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia di jurusan Kesehatan Masyarakat. Sehari-hari ia memimpin Yayasan Kusuma Buana, suatu LSM yang bergerak dibidang penyadaran dan pelayanan kesehatan masyarakat. Di Indonesia ini kita belum sempat memasuki suatu kondisi dimana kesehatan dapat diatasi secara fundamental. Usaha-usaha yang kuratif, mengatasi penyakit setelah ia muncul, menangani wabah, memang dijalankan pemerintah dengan bantuan internasional. Tapi dasar-dasar yang sebenarnya, penyadaran Indonesia agar dapat sehat sebelum dia sakit, belum pernah dilakukan secara luas. Memang ada program-program dari pemerintah yang bersifat dari atas ke bawah, tapi kesulitannya dengan program tersebut adalah pada akhirnya dia tidak datang dari masyarakat sendiri. Sehingga orang jadi kurang semangat mengikutinya. KoalisiUntuk Indonesia Sehat ini berusaha membentuk semangat baru. Dalam waktu dekat koalisi ini akan mengadakan suatu program untuk menyelamatkan hidup wanita atau " Saving Women’s Lives" selama sepekan, dari 23 - 28 Oktober 2000. Program ini disponsori oleh Departemen Kesehatan dan suatu Universitas dari Luar Negeri John Hopkins University. Fokusnya antara lain pada seminar tentang "penyelamatan hidup perempuan" yaitu masalah seputar kesehatan Ibu, Keluarga Berencana, penemuan dini mulut kanker rahim dan payudara, serta kekerasan terhadap perempuan. Untuk konkritnya, pada tanggal 23-28 Oktober 2000 ada klinik khusus perempuan yang merupakan kegiatan pelayanan kesehatan, bekerjasama dengan rumah sakit dan beberapa lembaga kesehatan. Bahkan disediakan konsultasi gratis. Pelayanan meliputi konsultasi, pemeriksaan, dan petunjuk. Klinik ini dibuka untuk umum dan diadakan di beberapa daerah, ditempat-tempat strategis. Juga akan diadakan seminar tentang "Penyelamatan Hidup Perempuan" pada tanggal 23 Oktober 2000 di Hotel Hilton-Jakarta. Melibatkan masyarakat luas, tokoh-tokoh yang dapat berbicara mengenai tekanan-tekanan yang ada pada perempuan. Misalnya Prof Dr Gulardi, Rita Serena Kalibonso, dan Marissa Haque. Kemudian akan ada lagi acara-acara dalam rangka "saving women’s lives" ini yang berkaitan dengan masalah yang biasanya kurang terpikirkan, tapi secara nyata ini merupakan ancaman pada kesejahteraan hidup kita semua. Semua dalam rangka membentuk kesadaran ke arah Indonesia sehat. Inilah percakapan Dr Firman Lubis dan pemandu Perspektif Baru Wimar Witoelar seputar penyelamatan hidup perempuan.

Kita mengenal dunia perawatan kesehatan itu sebagai dunia yang standard. Ada sekolah kedokteran, perawat, Puskesmas, mantri suntik, dan segala macam perangkat pemeliharaan kesehatan masyarakat. Apa komentar Anda mengenai ini semua dan apa yang bisa dibuat lebih cocok untuk realitas masyarakat berkembang seperti Indonesia?

Memang betul bahwa kita sudah sejak lama mengembangkan standard tenaga-tenaga yang bergerak di bidang kesehatan seperti dokter, perawat, dan sebagainya. Tapi saya kira sejauh ini mungkin pemahaman kita tentang kesehatan itu juga masih terbatas dalam arti yang lebih sempit yaitu medis. Sarana kesehatan itu sebetulnya amat erat berkaitan dengan berbagai faktor seperti politik, ekonomi, budaya, dan sosial. Ini justeru yang sangat besar peranannya dalam kesehatan. Tampaknya ini belum banyak kita sadari. Contohnya mengenai alokasi anggaran untuk kesehatan.

Ini jelas sangat menentukan taraf kesehatan dari suatu masyarakat. Kita tahu alokasi anggaran kita masih sangat kecil dan jauh di bawah standard WHO, yang menganjurkan agar anggaran pemerintah untuk kesehatan itu minimal 5 persen. Sedang kita hanya 2,4 persen. Dilihat dari sini, kesehatan memang belum mendapatkan perhatian yang betul, terutama dari sisi yang lebih luas. Oleh karena itu, masalah kesehatan kita masih belum mendapatkan perhatian besar.

Apakah ada model lain untuk merawat kesehatan di luar rumah sakit atau klinik? Juga bagaimana dari segi pembiayaan, seperti asuransi yang sangat susah jalan di Indonesia seperti HMO (Health Management Organisation)?

Semua orang sekarang sudah menyadari. Banyak hasil penelitian dan penelaahan yang menyatakan amat penting untuk mengajak masyarakat agar ikut merawat kesehatan mereka masing-masing. Sebetulnya kesehatan itu adalah hak dari masyarakat, dan mestinya itu betul-betul dijaga. Oleh sebab itu yang penting untuk kesehatan ini adalah mendorong agar masyarakat menjadi pelaku utama dalam kesehatan. Itu semua nantinya akan banyak bisa mengatasi masalah-masalah seperti pendanaan. Masalah pendanaan pada akhirnya harus menjadi concern masyarakat.

Tidak mungkin kalau semua pendanaan itu ditanggung pemerintah. Maka, masyarakat sendirilah yang harus menjalankan usaha-usaha itu, terutama yang sifatnya lebih preventif untuk menjaga agar mereka tetap sehat. Karena kita tahu bahwa kesehatan itu cukup mahal, atau ada nilai uangnya. Di negara-negara maju, masyarakatnya mendirikan usaha-usaha untuk menjaga kesehatan mereka. Intinya adalah bagaimana masyarakat tahu masalah kesehatan dan mereka sendirilah yang menjaga kesehatannya sendiri.

Ambil contoh di Amerika, di mana dulu bukan dokter yang mendorong pemberian ASI, tapi karena masyarakatnya menuntut. Sedangkan tenaga-tenaga kesehatan mungkin berkolusi dengan pabrik-pabrik obat, susu, dan sebagainya, sehingga mereka ini tidak mendorong progam pemberian ASI tersebut. Setelah ibu-ibu menyadari pentingnya ASI, terutama dalam hubungan ibu dan anak, akhirnya kalangan medis memberikan hak tersebut pada Ibu-ibu. Demikian juga dalam masalah lainnya, seperti masalah cardiovascular di Eropa.Reaksi pertama adalah dengan mendirikan rumah sakit jantung, mendidik tenaga ahli jantung dengan biaya yang mahal sekali. Tapi ternyata hasilnya tidak banyak. Baru kemudian hasil penelitian mengungkapkan bahwa itu ada kaitannya dengan pola makanan, kebiasaan hidup, dan konsumsi yang tidak sehat. Itu mendorong masyarakat mengambil usaha sendiri dan menuntut edukasi daripada mendirikan rumah sakit. Seperti bagaimana makan yang sehat, bagaimana orang bisa berolahraga, sehingga waktu itu di Skandinavia didirikan pusat-pusat kebugaran.

Orang-orang yang berangkat ke kantor bisa mampir dan berolahraga. Itu sangat mengurangi biaya-biaya kesehatan yang diperlukan terutama untuk kuratif. Itu bentuk-bentuk yang saya kira harus digalakkan. Bentuk insurance seperti HMO juga harus dikembangkan. Semuanya akan lebih baik jika masyarakat ikut mengkontrol, sehingga pengetahuan mereka tentang kesehatan menjadi lebih tinggi. Untuk itu harus dilakukan usaha-usaha yang memberikan informasi seluas-luasnya dan sebenar-benarnya tentang kesehatan ini kepada masyarakat. Ini nanti akan mendorong masyarakat untuk ikut mengelola kesehatan ini seefisien dan sebaik mungkin.

Barangkali kita perlu ilustrasi perbandingan biaya antara yang preventif dan kuratif. Banyak orang bilang bahwa merawat kesehatan ada biayanya sedangkan orang itu belum tentu sakit. Jadi untuk menghemat, ya kita percaya pada nasib saja. Bagaimana sebenarnya?

Sebetulnya sejak dulu orang sudah tahu bahwa mencegah itu akan lebih murah dan lebih baik daripada mengobati. Tapi memang budaya untuk melakukan preventif itu memerlukan taraf pendidikan dan keadaran yang cukup tinggi. Sehingga sejauh ini memang usaha untuk betul-betul menjaga kesehatan melalui promosi dan preventif belum berjalan baik. Kalau ditanya mengenai dana, sudah banyak penelitian di mana usaha-usaha preventif itu jauh lebih murah dari usaha-usaha kuratif. Contoh yang paling gampang adalah merokok. Masalah ini banyak diperdebatkan bahwa rokok memberi keuntungan pada cukai, petani tembakau, dan sebagainya.

Tapi dari penelitian di Amerika dan negara lain, dampak merokok itu empat sampai lima kali lebih mahal dari tidak merokok. Pertimbangan ekonomis ini memang harus banyak dikemukakan. Namun, untuk mengetahui keuntungan-keuntungan ekonomis pada usaha preventif memang memerlukan data atau evidence base yang bisa mempengaruhi para pengambil keputusan untuk memberi perhatian agar lebih memberi alokasi untuk usaha-usaha preventif. Dalam hal ini seringkalipenentu kebijaksanaan dan pelaku-pelaku kesehatan yangtergiur dengan industri-industri kesehatan. Mereka akan lebih senang jika membeli barang untuk peralatan rumah sakit.

Walaupun di atas kertas kebijaksanaan sudah ditekankan untuk lebih memberikan alokasi untuk preventif dan promotif, tapi oleh karena desakan-desakan kepentingan kelompok elite yang memerlukan rumah sakit mewah dan kepentingan industri obat dan peralatan, itu akhirnya menggiring penentu kebijaksanaan untuk mengalihkan dana itu ke arah kuratif. Ini semua memerlukan political commitment yang kuat, sehingga kesehatan betul-betul diarahkan untuk kepentingan publik dan efisiensi pendanaan.

Tentunya ini memerlukan pengetahuan cukup pada tingkat policy makers, yang tingkat pemahamannya terhadap kepentingan kesehatan publik masih rendah sekali. Di negara maju seperti Amerika, ini menjadi debat publik nomor satu karena menyangkut anggaran dan kualitas dari pelayanan kesehatan yang diterima oleh masyarakat. Di kita perdebatan ke arah itu perlu terus didorong agar mendapatkan perhatian yang baik, sehingga usaha kesehatan itu akan mempertimbangkan kepentingan publik dan efisiensi dalam alokasi anggarannya.

Di sini isu kesehatan kelihatannya belum masuk ke tingkat elite, tapi di masyarakat banyak kegiatan seperti yang dilancarkan Anda. Bagaimana persisnya "Koalisi Sehat Indonesia" itu?

Memang sejak dulu ada beberapa orang yang concern mendorong bahwa usaha kesehatan ini akan banyak berhasil kalau masyarakat ikut serta secara aktif dan bisa mengetahui masalah-masalah kesehatan yang berpihak pada masyarakat sendiri di mana masyarakat tidak dijadikan objek dari industri kesehatan atau kedokteran. Koalisi kesehatan bermaksud untuk mendorong keterlibatan masyarakat secara lebih aktif di dalam usaha-usaha kesehatan. Sebab dari pengalaman-pengalaman di negara-negara maju, usaha kesehatan akan lebih baik apabila masyarakat ikut menentukan.

Selain itu, koalisi ini ingin mendorong agar masyarakat agar lebih diberdayakan, bukan saja lewat Lembaga Swadaya Masyarakat tapi juga private sectors atau perusahaan-perusahaan yang mengambil keuntungan jika masyarakat lebih sehat. Masyarakat yang lebih sehat ini tentunya akan mendorong suatu produktivitas yang lebih baik, dan juga tentunya akan mendorong ekonomi untuk tumbuh lebih baik.

Private sector menyadari bahwa perkembangan komersil harus diikuti dengan perkembangan sosial, terutama kesehatan. Sehingga bisa saling mendukung dan akan meningkatkan daya beli masyarakat. Jadi koalisi ini adalah usaha untuk mendorong masyarakat agar dapat ikut berperan menentukan masalah-masalah kesehatan, sehingga masalah kesehatan yang dihadapi bisa diatasi bersama-sama dengan memperhitungkan faktor-faktor seperti public policy, anggaran, dan sebagainya. Misalnya masalah kematian Ibu.

Di Indonesia, angka kematian ibu masih sangat tinggi dibandingkan dengan negara tetangga, yaitu empat sampai lima kali lebih tinggi dibandingkan Srilangka, Malaysia, dan Thailand. Itu berarti ada belasan ribu ibu-ibu yang meninggal. Itu sebetulnya tak perlu terjadi jika kita betul-betul menjalankan seperti yang diterapkan di negara-negara tetangga. Kalau negara tetangga bisa, tak ada alasan kita untuk tidak bisa.

Secara konkret, apa titik berat kegiatan Koalisi Indonesia Sehat?

Titik berat kegiatan Koalisi Indonesia Sehat adalah mendorong pemberdayaan masyarakat. Artinya mendorong agar seluruh lapisan masyarakat bisa ikut dalam usaha-usaha menciptakan Indonesia sehat. Indonesia sehat ini akan tercipta kalau memang seluruh masyarakat lebih banyak mengetahui masalah kesehatan dan mau ikut dalam usaha-usaha kesehatan itu. Itu sudah disadari, dan berdasarkan pengalaman negara lain, bahwa intinya untuk meningkatkan taraf kesehatan seluruh lapisan masyarakat harus diajak.

Tentunya usaha-usaha yang kita lakukan lebih pada memberikan pendidikan dan penyuluhan pada masyarakat, serta yang sifatnya promosi dan preventif. Kita tahu bahwa itu lebih baik daripada usaha-usaha kuratif atau pengobatan. Usaha promotif-preventif ini bisa berhasil kalau kita betul-betul meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat akan masalah kesehatan yang ada. Sebab banyak masalah kesehatan hanya bisa diatasi kalau masyarakatnya sadar dan ikut mengatasi masalah-masalah itu. Contohnya penyakit cardiovaskular atau penyakit sroke. Itu hanya akan bisa berhasil kalau seluruh masyarakat ikut mengetahui penyakit ini dan penyebab-penyebabnya.

Sehingga mereka kemudian bisa melakukan usaha-usaha untuk mencegah. Seringkali penyakit seperti ini adalah karena gaya hidup yang berubah, seperti pola makanan, pekerjaan, stress, yang sangat mempengaruhi. Untuk itu masyarakat perlu diajak serta sehingga mereka mengetahui dengan persis apa faktor-faktor penyebab cardiovaskular dan stroke, sehingga mereka bisa mencegah dengan mengubah perilaku gaya hidup mereka sendiri ke arah yang sehat.

Di negara maju, olah raga dan pola hidup yang sehat itu sudah merupakan gaya hidup yang mereka anut, sehingga penyakit yang disebutkan di atas dapat dicegah. Koalisi Indonesia Sehat mencoba mengajak seluruh lapisan masyarakat melalui organisasi kemasyarakatan, Lembaga Swadaya Masyarakat, private sector, commercial, untuk bisa ikut dan menyebarkanpengetahuan, informasi mengenai kesehatan sehingga diharapkan akan lebih banyak masyarakat ikut serta dalam mengatasi masalah-masalah kesehatan di Indonesia ini.

Bisa disebutkan sebagai contoh, organisasi apa atau siapa yang katakanlah mengambil inisiatif dan mengelola supaya kita dapat gambaran seluas apa keikutsertaan orang dalam koalisi ini?

Yang terlibat dalam Koalisi Indonesia Sehat ini adalah berbagai organisasi yang bergerak di bidang kesehatan, seperti organisasi profesi bidan, dokter, perkumpulan keluarga berencana Indonesia dan sebagainya. Lalu juga organisasi-organisasi kemasyarakatan seperti NU, Muhammadiyah, dan organisasi-organisasi yang bergerak di bidang swasta seperti asosiasi perusahaan makanan, dan industri atau perusahaan yang bergerak di bidang komersial.

Mereka juga berkepentingan dengan adanya Indonesia yang sehat. Ini semua akan menumbuhkan kehidupan sosial ekonomi, dan pada akhirnya akan menguntungkan juga kalangan-kalangan komersial itu sendiri. Jadi kita mengajak semua organisasi termasuk kepemudaan dan advertensi, sehingga mereka juga ikut menyebarkan mengenai pengetahuan kesehatan pada masyarakat luas.

Berapa lama kerja Koalisi Indonesia Sehat ini, apakah ada suatu kurun waktu tertentu atau terbuka aja?

Jangka kerja kita tentunya terbuka, sebab masalah kesehatan ini mungkin baru kita capai setelah puluhan tahun atau mungkin juga masa yang cukup lama. Koalisi ini diharapkan akan hidup terus-menerus dan menjadi suatu wadah yang menampung atau mendukung usaha-usaha yang dilakukan masyarakat. Kita mengharapkan usaha ini akan dapat terus berjalan, karena kita tahu sampai kapanpun masalah kesehatan akan terus ada. Dengan perubahan-perubahan kehidupan juga peningkatan sosial ekonomi, akan muncul masalah-masalah kesehatan baru yang merupakan tantangan, dan itu juga perlu diatasi terutama oleh masyarakat.

Seperti di Amerika, mereka mempunyai Healty American 2010 untuk mendorong supaya mereka mengatasi masalah-masalah kesehatan yang terus ada. Misalnya masalah-masalahbaru seperti HIV-AIDS, narkoba, serta penyakit baru yang dulu tidak dikenal karena perubahan-perubahan ekologi dan mutasi gen. Itu semua hanya bisa diatasi dengan baik bila seluruh lapisan masyarakat mau ikut serta untuk menentukan masalah kesehatan ini.

Apa bedanya usaha ini dengan yang sekarang sudah berlangsung, dan bagaimana dia bisa nyambung dengan program-program yang dijalankan oleh pemerintah?

Memang sejauh ini masalah kesehatan banyak ditangani oleh pemerintah. Tapi kita tahu bahwa program pemerintah ini banyak keterbatasannya. Seringkali program pemerintah ini dilakukan top-down, berdasarkan instruksi-instruksi, juga seringkali memobilisasi masyarakat tanpa masyarakat mengerti betul kenapa mereka harus dimobilisasi. Misalnya pekan imunisasi. Itu akhirnya menjadi usaha top-down yang dilakukan pemerintah dengan menggunakan berbagai cara tapi akhirnya masyarakat pergi untuk imunisasi tanpa mereka sadar apa gunanya imunisasi itu. Bahkan secara senda gurau banyak orang bilang pergi imunisasi karena mau ketemu bintang iklan yang mendorong imunisasi itu.

Contoh lain adalah proyek "samijaga", sarana air minum dan jamban keluarga yang dijalankan oleh pemerintah dengan dana pinjaman luar negeri yang cukup banyak. Mereka mendirikan sarana-sarana itu tapi akhirnya tidak dipakai karena masyarakat tidak ikut serta atau tidak tahu. Misalnya, kalau pompa airnya rusak tidak ada yang mengerti bagaimana memperbaikinya sehingga sarana itu mubazir. Demikian pula usaha melawan narkoba atau HIV AIDS, seringkali cuma jadi jargon atau retorika tanpa mendorong masyarakat untuk tahu persis apa sebetulnya masalah-masalah itu?

Kita juga melihat begitu banyak sarana yang dibangun oleh pemerintah seperti puskesmas, tapi banyak juga keluhan dari masyarakat akibat pelayanan yang diberikan karena kurang begitu "kena" dengan keinginan masyarakat. Sebenarnya masyarakat menginginkan adanya pelayanan yang lebih privacy dan lebih baik, tapi tampaknya ada keterbatasan karena birokrasi dan peraturan dari pemerintah. Sehingga apa yang diharapkan oleh masyarakat tidak bisa dipenuhi oleh pemerintah. Mungkin di masa depan, fungsi pemerintah seharusnya sebagai fasilitator atau regulator saja untuk mendorong masyarakat agar bisa meningkatkan pelayanan kesehatannya sendiri.

Biarkanlah masyarakat sendiri yang membentuk kelompok-kelompok untuk mengatasi masalah tertentu. Misalnya di Amerika ada ibu-ibu yang bergabung untuk mengatasi masalah alcoholism, narkoba, dan sebagainya. Itu tampaknya lebih berhasil dan suistanable dari pada usaha-usaha pemerintah yang seringkali menciptakan birokrat-birokrat yang kemudian menjadikan usaha pelayanan itu tidak berjalan sebagaimana mestinya. Jadi dalam kaitannya dengan Koalisi Indonesia Sehat, kita lebih mendorong agar nantinya masyarakat lebih banyak dalam masalah kesehatan. Masyarakatlah yang nanti banyak melakukan usaha pendidikan, penyuluhan, maupun pemberian masukan mengenai pelayanan-pelayanan kesehatan yang seperti apa yang lebih disenangi dan lebih cocok. Jadi bukan sesuatu yang sifatnya top-down, dan masyarakat hanya sebagai obyek saja. Ini yang sering terjadi di dalam program-program kesehatan yang dijalankan pemerintah.