Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

John S Karamoy

Mengurangi Ketergantungan pada Minyak Bumi

Edisi 238 | 26 Sep 2000 | Cetak Artikel Ini

Perspektif baru kali ini ingin berbicara mengenai energi, terpancing oleh keadaan sekarang dimana masalah subsidi BBM kembali menjadi topik. Tiap tahun masyarakat dipusingkan dengan pencabutan subsidi, karena ujungnya adalah membuat harga bensin, harga minyak tanah dan bahan bakar lain menjadi lebih mahal dipasaran. Mengapa harus begitu ? Dari tahun 70-an sampai sekarang tiap 3 tahun, tiap 2 tahun, harga BBM naik. Sebetulnya kalau kita mengerti mengapa itu naik barangkali bisa dihayati bahwa itu memang perlu untuk meringankan beban pemerintah (dan ujungnya beban masyarakat juga), apalagi kalau kenaikan itu diimbangi dengan peningkatan jasa-jasa pemerintah bagi publik. Pada dasarnya kita memang perlu bahan bakar untuk segala hal, mulai dari transportasi pengangkutan, mobil, bis, angkutan kereta api, sampai pada bahan bakar untuk energi pembangkit tenaga listrik, untuk masak, Inilah yang membedakan manusia sekarang dengan manusia jaman batu yaitu adanya pemakaian energi. Energi kita peroleh dari berbagai sumber, bisa dengan memutar kincir angin seperti di Eropa, atau di Selandia Baru, dengan pasang surutnya air, dengan geotermal, yaitu tekanan tekanan uap gas yang ada di pegunungan seperti pegunungan Kamojang, Patuha, Dieng dan sebagainya. Bisa juga dari bahan bakar minyak yang diambil dari dalam tanah, dan kawan akrabnya minyak bumi adalah gas. Yang ingin kita bicarakan sekarang adalah apa saja pilihan utama kita dalam sumber energi, dan apa pilihan kebijaksanaan yang mengakibatkan dampak harga di masyarakat? Prioritas apa yang harus dilihat, dan faktor-faktor teknis apa yang perlu diperhatikan? Kita akan membicarakannya dengan seseorang yang sudah berpuluh-puluh tahun aktif dalam praktek industri minyak dan gas, bahkan sudah 43 tahun menggeluti dunia minyak dan gas. Beliau adalah John S. Karamoy, lulusan ITB bagian teknik kimia, yang memulai karirnya selama 32 tahun di STANVAKIndonesia. Sekarang perusahaan itu sudah nggak ada, dulu merupakan join venture dari Exxon dan Mobil Oil. Kemudian John bekerja di Huffco Indonesia, lalu ikut mendirikan perusahaan Exspand yang merupakan anggota dari Medco Energy International. Sekarang John S. Karamoy adalah president director PT. Medco Energy International, yang mengoperasikan tambang minyak di Indonesia dan negara -negara lain. Selain itu John Karamoy menjadi anggota dari berbagai assosiasi profesional dan organisasi amal, sebagai Direktur Indonesian Petroleum Association, Indonesian Gas Association, US Indonesian Business Council, Indonesian Base Chapter of United way International, dan pernah mendapat gelar sebagai successful executive di Indonesia tahun 98. Inilah perbincangan John S Karamoy dengan pemandu Perspektif Baru Wimar Witoelar.

Sebagai seorang producer BBM, apa komentar anda mengenai rencana pencabutan sebagian subsidi dan sebagai akibatnya naiknya harga BBM di pasar dalam negeri?

Sebagai produsen dan juga sebagai konsumen, dengan subsidi BBM sebenarnya kami juga diuntungkan. Karena kami sebagai perusahaan minyak bumi bisa membeli minyak diesel untuk keperluan operasi dengan harga yang murah. Tapi tentunya dalam hati bertanya, apakah perusahaan minyak itu berhak untuk mendapat harga bensin, harga minyak diesel yang murah. Bagi kami sebagai perusahaan minyak yang jelas-jelas menerima pemasukan dollar, sebenarnya tidak berhak mendapatkan subsidi BMM.

Bahwa kami membeli dengan harga murah itu artinya menekan biaya kami. Apakah kami yang berincome dollar berhak untuk membeli murah? Jawabannya mestinya tidak, sebab telah beberapa kali kita bahas diantara perusahaan minyak supaya perusahaan minyak, produsen terutama, karena mendapat keuntungan dari harga BBM yang murah ini maka keuntungan itu dialihkankepada biaya atau pengeluaran misalnya untuk community development, dan saya kira sudah banyak perusahaan yang melakukannya.

Bagaimana gambaran energy sekarang menurut pengetahuan anda sebagai pribadi, apakah penyesuain harga semacam ini akan berlangsung terus, ataukah ada hubungannya dengan jenis energi lain yang bisa disubstitusikan disini?

Ada beberapa aspek tentunya yang dapat kita bahas kalau kita berbicara mengenai subsidi, subsidi ini memberatkan anggaran belanja pemerintah, apalagi jumlahnya dari tahun ke tahun meningkat, sehingga dari tahun ke tahun menggerogoti penerimaan pemerintah. Sementara itu pemerintah juga makin hari makin dibebani dengan kewajiban-kewajiban yang lain.

Kewajiban-kewajiban ini menurut kita itu jadi penting seperti membangun infrastruktur, membangun sekolah-sekolah, membangun irigasi, infrastruktur sosial. Dengan BBM yang makin lama makin memberatkan ini, akhirnya pemerintah dihadapkan pada dilema. Menurut saya salah satu jawabannya adalah subsidi harus dikurangi, atau kalau perlu dihilangkan sama sekali agar pemerintah mampu mengalihkan dana subsidiini untuk infrastruktur sosial. Itu dari aspek pemerintah. Dari aspek konsumen, ini tidak mendidik konsumen. Karena kalau dirasakan oleh mereka harga selalu murah, itu kecenderungannya terjadi pemborosan.

Sehingga orang-orang kita tidak begitu memperhatikan konservasi, dan biasanya kalau harga makin mahal orang akan makin menghemat. Tapi karena harganya murah, orang akan pakai seenaknya sehingga terjadi pemborosan.

Sekarang kalau kita tarik kedepan pemikiran itu sebetulnya sumber-sumber energi yang dipakai di Indonesia masa depan, apakah anda punya gambaran diluar pola sekarang yang bertitik berat pada produk-produk minyak?

Mungkin maksudnya adalah apakah ada substitusi atau ada alternatif? ada substitusinya salah satunya yang paling potensial adalah gas bumi atau gas alam. Bahwa kita tidak menggunakan gas alam, untuk keperluan bahan bakar, kita orang-orang energi juga tidak mengerti, karena sebenarnya gas ini cadangannya sangat besar di Indonesia dan tidak diperlukan terlalu banyak investasi di industri ini, termasuk transportasi, dan di segala bidang. Jadi kalau memang liquid fuel yang disubsidi ini harus dihilangkan subsidinya agar orang mulai berpikir substitusi fuel apa yang bisa menggantikan BBM yang lebih murah.

Bisa beri sedikit keterangan untuk orang yang sangat awam dalam soal gas, karena sering dengar tapi ingin dengar persisnya. Di negara mana gas itu dipakai secara meluas dan dalam pemakaian apa?

Tentunya kalau di negara-negara maju gas sudah sangat umum dan sangat luas dipakai. Tapi kalau kita bandingkan dengan negara negara tetangga seperti Malaysia, Thailand, Pakistan, yang mempunyai cadangan-cadangan gas yang relatif lebih kecil dari kita, tapi pemakaian mereka itu sangat tinggi. Kita mempunyai cadangan yang besar tapi tingkat pemakaian rendah.

Gas itu mempunyai dua pemakai yang pertama tentunya untuk keperluan energi dan untuk pembangkit tenaga listrik misalnya, power plan, keperluan rumah tangga, industri misalnya ketel uap. Tapi ada satu pemakaian yang sangat berpotensi bagi kita yaitu adalah industri petrokimia. Jadi gas alam itu sebenarnya bahan baku untuk membuat beragam petrokimia. Mulai dari urea, metanol, bisa bikin asam asetat, kita bisa membuat ratusan bahan-bahan hanya dari gas alam. Ini yang kita belum manfaatkan.

Pak John bisa berikan gambaran substitute ability-nya gas terhadap minyak, katakanlah dalam pemakaian untuk satu mobil atau satu pabrik, gambaran apa saja untuk membayangkan skala perbandingan gas dengan minyak?

Kalau ambil yang simple saja seperti Pertamina yang sekarang menjual copress natural gas dalam botol-botol bertekanan tinggi dan dipakai di taxi-taxi yang katanya ada 2000 unit di Jakarta dan beberapa kota besar lain. Itu harganya dengan bensin pada harga sekarang masih lebih murah. Apalagi nanti kalau bensinnaik karena subsidinya misalnya dikurangi, ini harusnya mendorong orang menggunakan gas untuk keperluan transportasi. Kenapa kita tidak menggunakannya? mungkin lebih banyak faktor psikologis dimana orang merasa kalau membawa satu tangki yang bertekanan tinggi rasanya seperti tidak aman, ngeri.

Tapi dalam kenyatannya dan sudah di tes dimana-mana, antara tangki bensin yang biasa dipakai dengan tangki gas yang bertekanan tinggi karena memang sudah didesign sedemikian rupa, dalam tes misalnya menabrak dinding, ternyata tangki bensin itu lebih mudah meledak. Dengan kekuatan menabrak yang sama, kemungkinan untuk ledakan yang terjadi, tangki bensin ternyata lebih besar dari pada tangki yang berisi gas alam. Sebenarnya tidak usah ada kekhawatiran karena sudah dibuktikan dan dibuat aman.

Sekarang minyak dipakai dalam negeri sebagian dan gas dieksport, kalau gas didalam negeri dan minyaknya dieksport, bagaimana perbandingan harganya untuk income negara?

Kalau gas kan sudah kita eksport dalam bentuk LNG, dan harga LNG itu selalu dikaitkan dengan harga minyak. Jadi kalau harga minyak bumi naik, harga LNG juga naik. Kalau untuk dalam negeri, penggunaan gas dalam negeri akan kembali terbentur kepada dua pemakai yang terbesar. Pertama untuk keperluan pembangkit tenaga listrik, PLN selalu mengatakan karena harga jual listriknya nggak bisa dinaikan maka PLN tidak sanggupuntuk membeli harga gas sama dengan harga gas yang kita eksport.

Karena pembeli listrik dianggap tidak akan mampu untuk membayar kalau harga gas disamakan dengan yang dieksport. Pemakai kedua yang terbesar untuk Indonesia itu tadi yaitu Petrokimia. Artinya produk-produk dan pabrik-pabrik Petrokimia ini kalau kita kaitkan dengan harga gas yang sama dengan yang di eksport, maka harga produk Petrokimia akan sangat tinggi. Kita tahu bahwa banyak dari produk ini seperti misalnya pupuk urea harus kita jual pada petani dengan harga yang harus direndahkan.

Sehingga selalu ada tekanan untuk menuntut harga gas untuk keperluan Petrokimia untuk pupuk misalnya harus ditekan. Disamping itu masalah lain juga adalah kalau kita mau eksport pupuk misalnya, kita bersaing dengan negara-negara lain terutama dari negara Timur Tengah, dimana harga gas mereka rendah. Dan harga gas rendah itu karena dibakar, kelebihan produksi. Sehingga mereka menggunakan gas yang harus dibakar dan dijadikan Petrokimia, harganya rendah.

Akhirnya perusahaan Petrokimia seperti Subbiq dari Saudi Arabia bisa menjual produk Petrokimia paling murah didunia. Kita tidak akan sanggup melawan mereka dipasaran dunia. Sehingga kawan-kawan kita di industri pupuk mengatakan "kalau kita mau bersaing dengan harga pupuk dunia, harga gas di Indonesia harus ditekan lagi". Inilah dilemanya.

Jadi sebetulnya belum kelihatan perbedaan yang tajam dari segi harga antara pemakaian gas dengan minyak untuk suply dalam negeri, ataukah itu bisa berubah kalau misalnya eksploitasinya berubah gambarannya?

Barangkali yang sekarang sedang diperdebatkan di forum dimana mana, apakah gas itu harus dipisahkan dari minyak, karena selama ini selalu orang melihat minyak dengan gas itu sama. Dengan adanya dilema-dilema itu tadi seperti PLN kalau mau membeli harga gas yang equivalent, artinya masyarakat tidak sanggup membeli, pupuk juga demikian, sehingga timbulah pemikiran bahwa memang harga gas terutama untuk pemakaian dalam negeri harus punya harga yang tidak lagi dikaitkan dengan harga minyak.

Tapi yang dikaitkan dengan harga minyak itu adalah yang kita eksport. Itu berarti harga gas dalam negeri harus kita tekan. Kalau kita tekan, tentunya yang pertama kali akan protes adalah produsen gas. Karena dia tidak akan sanggup untuk mendapatkan incomenya yang sesuai dengan investasi yang dia keluarkan.

Pengertian ditekan ini beda dengan subsidi maksudnya? ditekan itu bagaimana maksudnya bagaimana?

Banyak dari produsen gas yang mengatakan bahwa kita sebenarnya sudah mensubsidi. Karena dalam kenyataannya harga gas yang dijual di dalam negeri memang murah. Seharusnya pabrik-pabrik seperti pupuk mestinya sanggup menjual pupuk dengan lebih murah, disini timbul pertanyaan " kok harga gas yang sudah murah menurut produsen, pupuk masih dibilang kemahalan?".

Sekarang ini kalau mau ditingkatkan pemakaian dalam negeri, apakah biaya investasi untuk distribusinya, untuk hard ware pemakaiannya, itu besar sekali atau bagaimana kira-kiranya dimensinya?

Kalau biaya pengembangan lapangan gas tentunya sangat besar, saya ambil contoh untuk yang biasa dipakai kalau untuk satu trilyun kubik kaki, cadangan gas kalau satu trilyun itu akan dikembangkan diperlukan 200 juta dollar. Itu gambarannya. Tapi yang harus kita permasalahkan harga gas bagi produsen itu terdiri dari operasi perusahaan itu sendiri, kemudian pajak, dan yang ketiga adalah penerimaan pemerintah.

Produsen mengatakan kalau harga gas harus ditekan lebih rendah dari yang sekarang ini berlaku, misalnya untuk paberik pupuk atau PLN, maka yang harus dikurangi adalah bagian pemerintah. dEngan demikian maka rate of return bagi produsen tetap dipertahankan. Ini satu dilema bagi pemerintah juga.

Sebetulnya idealnya bagaimana komposisi pemakaian sumber-sumber energi ini dimasa depan kita?

Untuk keperluan dalam negeri kita tingkatkan pemakaian gas, itu yang pertama yang harus kita setujui dari sekarang. Bagaimana nanti aturan mainnya dan bagaimana standarnya, bagaimana spesifikasi, itu tinggal diatur oleh pemerintah. Yang perlu diperhatikan adalah pemerintah mendorong pemakaian gas dalam negeri.

Itu kalau tidak salah tangkap antara lain karena pertimbangan cadangan gas yang jauh lebih besar dari cadangan minyak. Jauh lebih besarnya segimana? Bisa digambarkan dalam satuan-satuan apa?

Kalau dalam istilah kami minyak sekarang ini katanya pemakaiannya cukup untuk 10 tahun dengan tingkat pemakaian sekarang. Dengan tingkat pemakaian gas sekarang kita mempunyai waktu 40 tahun. Jadi memang jumlahnya besar dalam angka-angka, jumlah cadangan gas Indonesia yang belum dipasarkan adalah 100 trilyun kubik kaki. Sedangkan cadangan minyak bumi kita yang belum kita kuras dari dalam bumi tapi yang sudah diketahui hanya 10 milyar barel.

Jadi pada saat ini gas yang tidak dieksport itu memang masih dalam tanah, dan untuk mengeluarkannya memang tidak akan merubah perbandingan-perbandingan harga yang kita punya secara substansiil, mengeluarkannya tidak akan menjadi sangat sulit?

Kalau kita bicara untuk dikembangkan dalam negeri dan kalau pemerintah memang mau menjual gas itu dengan harga yang terjangkau oleh industri kita seperti PLN, dan pabrik-pabrik pupuk. Maka produsen hanya mengatakan "baiklah, asal pemerintah mengurangi bagiannya" Kami sebagai produsen tetap mendapatkan pengembalian modal yang tetap.