Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Lin Che Wei

Pisahkan Kepentingan Politik dari Kepentingan Ekonomi

Edisi 235 | 05 Sep 2000 | Cetak Artikel Ini

Kondisi perekonomian kita tetap belum tertangani dan kabinet yang diumumkan baru-baru ini tidak menimbulkan inspirasi yang besar. Namun kita harus menghadapi masa depan dengan baik. Disamping penilaian bagi kabinet yang belum bekerja, kita juga ingin melihat apa yang kita harapkan sesudahnya.. Dalam soal ekonomi ini kali ini kita ingin berpaling bukan pada pakar-pakar teori tapi pada seorang pemain pasar, seorang ahli sekuritas, yaitu Lin Che Wei yang lahir di Bandung tahun 68. Lin Che Wei pernah mendapat penghargaan sebagai analis terbaik di Indonesia menurut majalah Asia Money Survey pada tahun 97, dan masuk dalam rating Reuteurs Survey pada tahun 98 untuk perusahaan-perusahaan di Asia Pasifik. Perekonomian di Indonesia bukan saja belum melakukan recovery tapi juga sedang melakukan re-orientasi. Model ekonomi yang kita alami, yang menumbuhkan pertumbuhan pada puncak dan bencana pada mayoritas rakyat Indonesia rasanya sukar diulangi. Apakah itu masalah struktur atau masalah integritas dari orang-orang yang melaksanakannya, apakah konglomerat itu buruk untuk suatu negara atau hanya orang-orang dengan prilaku tanpa moralitas, tanpa etika dari konglomerat tersebut? Kalau kemudian perekonomian kita berpindah pada arah populis, apakah rakyat akan mendapat keuntungan ataukah dalam jangka panjangnya pola itu akan terbukti tidak berkelanjutan? Pertanyaan-pertanyaan semacam itu diharapkan akan terjawab dalam diskusi ini yang ingin membahas kabinet dari kacamata pasar, bukan membicarakan orang-orangnya, gosip pribadinya, tapi untuk melihat bagaimana implikasinya terhadap pembangunan ekonomi. Ikutilah pembicaraan dengan Lin Che Wei, direktur penelitian dan strategi pasar dari SG Global Equities bersama pemandu Perspektif Baru Wimar Witoelar.

Waktu kabinet diumumkan pasar mengatakan kabinet itu tidak bagus dengan nilai rupiah drop terhadap dolar, Indeks Harga Saham Gabungan juga jatuh. Rizal Ramli mengatakan itu hanya sementara, ada juga yang mengatakan bahwa itu tidak ada hubungannya. Sebenarnya bagaimana duduk perkara indeks-indeks itu sebagai refleksi dari sentimen pasar?

Sebelum pengumuman kabinet sendiri, mood dari pasar sangat positif sekali, sehingga banyak dari klien saya waktu itu yang berancang-ancang hendak melakukan investasi di Indonesia, situasi politik dianggap sudah cukup mereda, sehingga political risk nya turun cukup drastis. Mereka juga melihat bahwa valuasi perusahaan Indonesia sangat menarik. Tapi sayangnya, berita pengumuman kabinet itu seperti menjatuhkan bom, yang bukan saja menimbulkan panik di pasar, tapi juga menimbulkan krisis kepercayaan kedua terhadap pemerintahan pada saat sekarang.

Apakah bomnya itu jatuh karena komposisi kabinetnya, strukturnya, orang-orangnya, karena kabinet itu muncul tanpa pengumuman terlebih dahulu, atau karena Megawati dianggap tidak mendukung, atau tidak bisa ketahuan mengapa?

Saya melihat ada tiga faktor yang jelas sekali. Pertama sejak Gus Dur memimpin kabinet ini sepuluh bulan yang lalu, Gus Dur merupakan orang yang tidak bisa diduga, sehingga sejak awal dia tidak pernah menciptakan atau menjelaskan kebijakan ekonominya. Jadi ketika penunjukan kabinet itu sendiri dilakukan, saya melihat suatu perubahan dari sikap Gus Dur, dimana sekarang jelas terlihat pola ekonomi yang akan dipilih oleh Gus Dur. Pola ekonomi yang dipilih Gus Dur ini sangat menakutkan untuk saya.

Kedua, yang saya khawatirkan pemilihan dari salah seorang anggota kabinet yang dikhawatirkan integritasnya. Dengan kita mengatakan bahwa kabinet ini positif karena kompak, capable, tapi integritasnya diragukan. Kalau kita bandingkan dengan kabinet Suharto waktu dulu, Suharto mempunyai kabinet yang jauh lebih capable, jauh lebih kompak, tapi jauh tidak mempunyai integritas. Jadi integritas merupakan suatu faktor yang krusial sekali menurut saya.

Ketiga, yang benar-benar paling membuat saya kecewa atau khawatir, saya melihat bahwa kita sudah dibawa lagi kepada point of no return didalam political conflict, dimana keputusan Gus Dur untuk mengambil keputusan yang bersifat ekonomi itu sudah dipenuhi political decision. Itu membawa negara kita kepada krisis politik yang menurut saya tidak terhindarkan lagi.

Mengapa anda katakan political decision, keanehan Gus Dur ini apa tidak lebih merupakan personal decision. Politik apa yang direfleksikan misalnya dengan penunjukan Priyadi atau yang lain?

Saya melihat bahwa pemilihan kabinet yang sekarang itu merupakan suatu taktik yang sifatnya survival. Karena sepengetahuan saya, sesudah Sidang Tahunan selesai kita mendapatkan persepsi bahwa eksekutif power akan diberikan kepada Megawati, sehingga kebijakan ekonomi juga akan dilakukan oleh Megawati. Tapi dengan Gus Dur berubah seratus persen, dengan menunjuk kabinet yang jelas menunjukan prioritas ekonominya, itu menunjukan bahwa Gus Dur mengambil suatu economic decision yang tujuannya untuk menjaga kesinambungan dari pada political decision Gus Dur sendiri.

Bisa anda jelaskan statemen yang mengatakan biasanya Gus Dur tidak bisa diduga arah ekonominya, sekarang bisa tapi mengkhawatirkan. Aliran ekonomi apa yang terbaca dari kabinet ini?

Yang jelas pada waktu kabinet yang lalu, saya katakan kabinet itu kabinet tidak berarah, karena tidak menentu target ekonomi apa sebenarnya yang akan dicapai. Jadi kabinetnya campur aduk, sehingga sebagai pasar kita melihat typical Gus Dur, tidak mengetahui apa yang akan difokuskan. Mungkin ini kita bisa terima pada waktu itu, karena pengetahuan ekonomi Gus Dur yang relatif cukup minim terhadap masalah-masalah ekonomi.

Dalam kabinet sekarang saya melihat kekentalan policy Gus Dur, terutama dari sepuluh fokus economic policy yang diumumkan oleh Rizal Ramli. Ada dua market segmen yang benar-benar menjadi target Gus Dur, pertama segmen menengah ke bawah, yaitu kebijakan yang bersifat sangat populis sekali dengan mentargetkan role development, infrastructure development, micro landing dan lain sebagainya. Kedua, saya melihat kedekatan terhadap konglomerat itu lebih dipentingkan pada saat sekarang. Contohnya dalam interview bersama Tempo, Rizal Ramli yang jelas pada waktu dulu sifatnya agak anti konglomerat, sekarang mengatakan "konglomerat sebaiknya dijadikan asset bukan liability".

Pergeseran nilai yang saya lihat dari Rizal Ramli itu mengkhawatirkan saya, karena menurut saya pada saat sekarang policy yang hendak Gus Dur pilih itu pertama populis policy, Kedua, berusaha mendekatkan dengan konglomerat. Ketiga, menjalin hubungan dengan militer. Pertanyaan saya apakah ini bukan repetisi dari pola yang dilakukan oleh Suharto dalam bentuk yang baru ? Saya hanya bertanya saja dan ingin mengambil similiaritynya.

Itu sangat mengkhawatirkan sekali karena populis policy yang tidak dirancang baik akan menyebabkan backlash terhadap populisnya itu sendiri, karena hasilnya mungkin tidak tepat guna. Tapi akan menimbulkan dampak yang membuat orang cenderung untuk tidak melakukan populis policy dikemudian hari. Saya tidak menentang populis policy selama hal itu dirancang dengan baik.

Sebagai orang yang beroperasi di dalam pasar yang kapitalistik, apa nggak senang kalau konglomerat itu tidak dikucilkan atau tidak dianggap langsung jelek?

Saya sendiri tidak menaruh konglomerat itu baik atau buruk, tapi yang terjadi pada saat sekarang ini sebenarnya kesewenang-wenangan, di mana fungsi konglomerasi itu sendiri menimbulkan suatu alokasi dari pada resources yang sebenarnya kurang efisien. Itu yang saya khawatirkan. Kedua, timbulnya praklek-praktek yang sifatnya monopoli. Ketiga, praktek kolusi antara pejabat dan konglomerat yang jelas merugikan.

Apabila dasar dari pembentukan konglomerat itu disebabkan oleh sinergy atau kemampuan manajerial, maka itu merupakan suatu sistem yang baik. Sayangnya di Indonesia ini sangat sedikit sekali perusahaan atau konglomerat yang mempunyai struktur yang seperti itu.

Tolong jelaskan lagi mengenai dua concern, satu concern mengenai policy populis dan concern mengenai membela konglomerat, dalam pengertian implisit yang dimaksud konglomerat itu konglomerat nggak bener bukan pengertian netral.

Kalau seorang menteri dianggap pada umumnya berbicara politis, bukankah kedua statemen itu bertolak belakang, dan kita tinggal nebak, sebetulnya yang mau dijalankan itu yang mana? mana yang anda kuatirkan, kolusi tingkat besar, fasilitas, dan sebagainya atau populisme yang memperlambat pertumbuhan?

Sebetulnya strategi dari pemerintah sekarang seperti saya katakan tadi sifatnya survival, tapi juga bukan berarti tidak ada kemungkinan untuk sukses. Apa yang ingin mereka lakukan? Pertama, mereka ingin mendapatkan dukungan dari bawah dengan memberikan policy yang sifatnya memberikan insentif langsung ke pertumbuhan ekonomi. Istilah yang saya pakai seperti Sinterclass yang bagi-bagi kue pada rakyat. Kedua, policy yang sifatnya memberikan settlement terhadap debt restructuring yang selama ini over hang.

Tapi cara yang paling mudah untuk menyelesaikan debt over hang itu, apakah asset sale atau debt restrukturing, banking restructuring, adalah dengan memberikan diskon yang cukup menarik kepada konglomerat. Pertanyaannya kepada kita, kita menghadapi suatu jebakan yang sulit, mana yang mau kita pilih ? Waktu cepat dengan diskon yang tinggi, atau waktu yang panjang dan mungkin anda tidak akan mendapatkannya. Itu merupakan suatu keputusan yang sifatnya benar-benar politis menurut saya.

Sebagai analist yang ingin saya lihat sebenarnya kombinasi dari dua hal tersebut, waktu yang cepat dan hasil yang tidak terlalu membebani rakyat. Tapi disaat sekarang dimana check dan kontrol dari masyarakat, yang sekarang ini bergantung pada DPR, BPK dan fungsi-fungsi yang lain yang sebenarnya tidak bekerja dengan baik, saya tidak menuduh kolusi tapi kemungkinan untuk melakukan kolusi itu sangatlah besar, sehingga kita bisa justify suatu hair cut dan mengatakan iniuntuk kepentingan ekonomi.

Yang akandibebani ini sebenarnya rakyat dikemudian hari. Yang jelas untuk menjalankan policy yang seperti ini dibutuhkan suatu team yang benar-benar integritasnya tidak lagi diragukan oleh masyarakat, minimal kita bisa tidur dengan nyenyak karena mengetahui bahwa uang kita tidak akan disalahgunakan. Satu hal yang mungkin kurang dalam kabinet yang sekarang. Yang saya khawatirkan itu adalah pertama, kebijakan populis yang sifatnya jangka pendek untuk meredamkan pressure dari masyarakat, tapi tujuan yang lebih besarnya itu mungkin debt restructuring untuk kepentingan politik dari konglomerat itu sendiri.

Melihat kultur politik yang melandasi orang-orang sekitar Gus Dur, dan basis kekuatan sempit yang dia punya sekarang bukankah lebih masuk akal bahwa populisnya itu yang merupakan true nature of the regime karena dia toh nggak biasa juga bergaul dengan konglomerat-konglomerat besar?

Mungkin, dan saya percaya dalam jangka waktu singkat, terutama dari butir-butir kebijakan Rizal Ramli dalam sepuluh prioritas utama. Kalau nomor itu menunjukan prioritas, maka prioritas utamanya itu dalam jangka waktu singkat akan lebih bersifat pada populis policy. Tapi yang perlu diingat bahwa debt restructuring policy itu kan sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah, dan meskipun kita memberikan suatu deal yang sifatnya menguntungkan konglomerat, mungkin wakil rakyat kita juga nggak mengerti bagaimana proses penyelesaiannya itu.

Sehingga sifatnya sangat teknis dan sukar untuk dimengerti bila orang benar-benar tidak mengetahui strukturnya. Faktor kedua, sering sekali kita berhenti atau bersembunyi dibalik soal kerahasiaan. Saya tidak mengkhawatirkan bahwa Gus Dur atau kabinetnya pada saat sekarang mungkin akan berusaha menggerogoti atau menjadi predator terhadap asset negara. Tapi yang saya khawatirkan kita akan memberikan deal yang sifatnya sangat lunak dan menguntungkan pada orang yang menimbulkan krisis pada awalnya.

Kalau kita ambil satu ilustrasi dari kasus pengambilan keputusan MSAA misalnya, Yang persis sedang dibahas pada waktu pergantian kabinet, dimana selain materinya sendiri itu mengandung sikap terhadap konglomerat, mengandung juga kekompakan dalam pemerintah, apakah kiranya sekarang keinginan untuk mereview MSAA dengan lebih baik itu akan tertolong dengan kekompakan pemerintah atau sebaliknya?

Saya cukup pesimis bahwa pemerintah akan mereview secara benar MSAA, hal ini disebabkan karena secara nature politiknya Gus Dur hanya mempunyai waktu yang sangat singkat untuk mempercepat proses debt restructuring sendiri, settlement terhadap debitor, sehingga waktu itu yang sebenarnya membuat kemungkinan MSAA akan direview menjadi sangat kecil kemungkinannya.

Apalagi pada saat sekarang, meskipun rakyat 95 persen tidak menyetujui Priyadi, pemerintah juga seakan-akan tidak perduli. Karena yang ingin mereka tunjukan pada saat sekarang sebenarnya ingin menjamin bahwa dalam periode waktu yang sangat singkat ini, mereka bisa menjalankan programnya supaya benar-benar bisa menciptakan hasil yang cukup baik.

Kabinetnya sudah ada dan orang itu kalau orang puas itu bagus. What’s the market going to do, dan tanda-tanda apa orang yang masih bisa mengurangi pesimisme pasar?

Tanda-tanda yang jelas sebenarnya endorsement dari IMF sangat penting sekali pada saat sekarang. Tadi pagi saya melihat Rizal Ramli berusaha membatasi peranan IMF dengan menimbulkan kesan-kesan bahwa kita itu negara berdaulat. Itu menurut saya akan menimbulkan suatu strategi baru atau problema baru, saya bukan mengatakan itu benar atau salah tapi dimana check and balance, serta kontrol dari masyarakat sudah sangat kurang apabila peranan dari multinasional agency yang sifatnya memonitor kita juga sangat berkurang, maka kita memilih suatu economic decision yang mungkin sifatnya lebih mengucilkan Indonesia terhadap ekonomi.

Tapi jangan takut juga, karena investor akan vote with quote their money apabila mereka tidak comfortable dengan rejim yang sekarang. Saya melihat bahwa globalisasi itu tidak akan bisa ditahan oleh satu regimepun. Selama proses dari capital market berfungsi dengan baik, itu sama seperti thermometer yang menunjukan suhu tubuh kita. Yang bisa kita lakukan adalah tolong thermometernya itu jangan dipecahkan, tolong itu dibiarkan difungsikan, jangan diintervensi. Sehingga memberikan refleksi yang sangat akurat terhadap apa yang pasar inginkan.

Faktor kedua yang benar-benar saya harapkan adalah independency dari economic policy dan sentral bank terutama dalam monetery policy, karena faktor itu sangat penting. Dikemudian hari saya harapkan economic policy bisa terpisah dari political decision. Tapi keputusan pak Anwar Nasution mengundang beberapa Menteri membawa arti baru tentang independency. Saya optimis bahwa segala sesuatu asal thermometernya terlihat, suhu naik 41 derajat dan harus dilakukan sesuatu, maka itu akan berfungsi dengan baik.

Bagaimana komisi-komisi di DPR menurut anda dalam menghadapi issues di BPPN, rekapitalisasi, issues ekonomi pada umumnya, apakah dari situ akan datang check and balance?

Saya mengharapkan dari situ akan datang check and balance tapi yang saya sering lihat DPR kadang-kadang menggiring masalah ekonomi menjadi masalah politik, sesuatu yang bring out of proportion. Sayangnya masyarakat pada saat sekarang ini sangat sedikit sekali orang yang bisa memberikan pandangan secara independen. Banyak orang yang setiap kali menginterview saya, ditulis itu sebagai pendapat pasar. Padahal saya tidak mewakili pasar, saya cuman salah satu pemain pasar.

Tapi apabila pemain pasar itu sudah mendominasi 17 tabloid, atau 4 stasiun TV, itu sebenarnya nggak sehat. Di satu pihak saya senang bahwa suara saya terdengar, tapi di lain pihak saya sedih karena negara ini sangat sedikit sekali orang yang benar-benar memberikan pandangannya secara independen. Sehingga peranan dari pasar itu sebenarnya masih belum terbentuk.

Sebelum pengumuman kabinet itu anda mengatakan pasarnya bagus, jadi barangkali ada harapan. Dari Gus Dur, dari kelompok politikyang dia pimpin, sebetulnya apakah dia bisa all things considered membuat kabinet yang lebih bagus untuk pasar, dan kalau dia harus ganti apa ada orang-orang di Indonesia yang bisa memberikan comfort pada pasar?

Setiap keputusan dari Gus Dur untuk memilih kabinet, apakah semuanya itu full teknokrat, apakah teknokrat campur dengan politician, apakah itu kabinet yang satu kubu dengan Gus Dur, itu merupakan political decision. Saya mengatakan apabila Gus Dur memilih teknokrat semua, yang jelas partai yang sekarang sudah mapan akan diuntungkan.

Karena financing dari pada political party akan limited, apabila kabinetnya campur seperti yang lalu, mungkin yang menunggu untuk menjadi presiden yang akan diuntungkan karena kabinet sekarang tidak akan berjalan. Pilihan ketiga, pilih kabinet sendiri yang orang-orangnya loyal kepada Gus Dur merupakan political decision. Menilai dari sudut ekonomi, ketiga pilihan dari pada political decision ini sebenarnya sangat sulit, tapi sebagai pemain pasar saya ingin mendapatkan suatu kepastian bahwa economic policy sebenarnya tidak benar-benar digunakan untuk political policy. Dan ketika economic policy itu sudah digunakan untuk kepentingan politik, maka independensi dari sentral bank, kita akan melihat bahwa kepentingan rakyat selalu akan dirugikan.