Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Greg Barton

Kelanjutan Kepresidenan Gus Dur

Edisi 233 | 22 Aug 2000 | Cetak Artikel Ini

SEKARANG kita akan bicara mengenai masa depan yang akan dihadapi oleh rakyat Indonesia, khususnya dalam hubungan dengan pemerintahan baru atau sebetulnya adalah kabinet baru. Tapi kalau kita lihat apa yang terjadi di MPR kemarin, boleh dikatakan bahwa kita telah lolos dari suatu drama politik yang membuat semua orang menjadi tambah bijaksana. Mudah-mudahan saja, dan paling tidak tambah pengalaman dalam menghadapi jalannya demokrasi di Indonesia sambil mengatasi krisis. Untuk membicarakan ini kita menemui Profesor Greg Barton, seorang staf pengajar dan peneliti di Dicken University, yang bertempat di Melbourne. Kekhususan Greg Barton adalah bahwa dia sudah lama mempelajari perkembangan politik di Indonesia, khususnya dalam bentuk kasus biografi terhadap tokoh-tokoh yang berlatar belakang Islam. Khususnya lagi mengenai Gus Dur yang sekarang jadi presiden kita. Walaupun presiden Republik Indonesia dipilih untuk 5 tahun, tapi dengan adanya suatu tradisi politik baru yaitu Sidang Tahunan MPR, boleh dibilang seorang presiden itu akan memerintah lima kali setahun, karena pada setiap tahunnya akan dinilai juga baik langsung maupun tidak langsung jalannya pemerintahan Gus Dur. Seperti kita ikuti dalam 10 bulan pertama, pemerintahan Gus Dur ini banyak sekali mengalami tantangan, dan ada yang merasakan bahwa tantangan itu datangnya dari luar, tapi ada juga yang merasakan bahwa tantangan itu lahir akibat keterbatasan pengalaman atau ketidakmampuan kabinet Gus Dur atau bahkan Gus Durnya sendiri. Sekarang masalah itu sudah selesai di Sidang MPR, semua sudah berlalu. Gus Dur melanjutkan pemerintahannya dengan suatu kabinet yang baru. bagaimanapun kabinet itu, dan bagaimanapun program barunya tapi tetap jalannya pemerintahan akan sangat dipengaruhi oleh karakter, pembawaan, dan kinerja pimpinannya yaitu presiden. Walaupun dalam hal ini presiden Abdurahman Wahid akan banyak didukung oleh Wakil Presiden Megawati Soekarno Puteri. Kita sekarang akan berbincang dengan Profesor Greg Barton mengenai Gus Dur sebagai seorang pemimpin, Gus Dur sebagai manusia, dan bagaimana Gus Dur kira-kiranya akan berkinerja dalam tahun kedua kepresidenannya ini. Inilah percakapan Greg Barton bersama pemandu Perspektif Baru Wimar Witoelar.

Menurut pengamatan saya dan kawan-kawan walaupun Gus Dur memasuki tahun kedua bahkan baru 10 bulan jadi presiden, tapi karena banyak sekali peristiwa politik yang terjadi, termasuk semacam pengujian dari MPR, seakan-akan dia memasuki term yang kedua lengkap dengan pembaharuan mandatnya, tantangan baru, dan jelas satu staf yang baru.

Sebagai seorang ahli politik yang mempelajari baik prilaku maupun motivasi Gus Dur, apakah menghadapi term yang kedua ini perlengkapannya itu lebih kuat dari tahun lalu atau agak lelah oleh pertikaian-pertikaian kemarin?

Ia memang agak kompleks tapi saya kira mungkin sekali ini merupakan langkah baru dengan term kedua ini. Karena yang dulu itu ada begitu banyak kompromi dalam kehidupan politik, walaupun kalau koalisi antara PDIP dan PKB agak sangat lemah mungkin ini salah satu akibat dari proses Gus Dur menjadi presiden. Gus Dur dijadikan presiden oleh Poros Tengah, dengan bantuan dari Golkar.

Tapi sangat kelihatan minggu yang lalu bahwa yang sebenarnya tidak mendukung adalah Poros Tengah dan Golkar. Dan yang sebenarnya temannya adalah dari PDIP dan yang lain. Itu sangat wajar. Itu salah satu faktor, tapi faktor yang lebih penting adalah proses pergantian rejim yang harus bertahap-tahap. Sekarang Gus Dur baru bisa masuk ke tahap membentuk pemerintah yang sesuai dengan keinginan dia. Supaya ada satu team yang kuat.

Sejarah itu aneh juga kita bisa kembali kedalam satu format yang sebetulnya wajar, tapi baru terjadi sekarang karena tahun lalu tentu situasinya lain. Saya setuju dengan anda, koalisi yang wajar adalah dengan PDIP dan Megawati sehingga kesulitan yang tahun lalu, Gus Dur tidak akan alami.

Tapi ada juga kesulitan yang dialami yaitu manajemen pemerintahannya sendiri, dimana spent of controlnya Gus Dur itu sangat lebar dan sangat dalam dari soal besar sekali yaitu soal mempertahankan negara, sampai kepada soal projek-projek, dari sektor pertanian ke sektor Hankam. Apakah dalam hal itu kira-kiranya gaya manajemen Gus Dur akan berubah diluar formalitas pembagian kerjanya dengan Megawati?

Sebenarnya sudah mulai proses perubahan itu. Ini salah satu faktor yang menarik dengan Gus Dur karena orang sering bilang bahwa Gus Dur akan tetap Gus Dur, itu memang benar. Tapi dalam beberapa hal kelihatan ada perubahan yang besar dalam diri Gus Dur, baik dalam kesehatannya dan disiplin pribadi, maupun dalam proses sebagai manajer.

Dia nampak lebih hati-hati, lebih waspada. Saya kira asal ada team yang baik, dia bisa berjalan dengan baik. Karena sebelum ini tidak ada team yang lebih baik, baik itu di pemerintah maupun di PBNU. Jadi ini merupakan pengalaman baru Gus Dur kalau ada team yang baik, resources yang lengkap, mungkin baru sekarang akan kelihatan kemampuan Gus Dur yang sampai sekarang belum muncul.

Gus Dur itu sangat fasih sekali dalam menghadapi tantangan politik didalam negeri terutama dari Amin Rais, dari rival politiknya yang lain. Apakah dia tidak terlalu senang untuk mengalahkan lawan-lawannya dari pada rutinitas pemerintahan sehari-hari?

Mungkin kadang-kadang ada perasaan begitu tapi saya kira sekarang Gus Dur sudah ada pengalaman yang cukup baik, cukup sulit, dan yang jelas hal seperti itu mau dihindari untuk masa depan. Ini memang tidak mau diulangi lagi.

Masyarakat di Indonesia yang barangkali kurang menghargai adalah bahwa keterlibatan Gus Dur di luar negeri bukan saja bertujuan menghasilkan kemungkinan investasi luar negeri di Indonesia tapi bahkan menempatkan Indonesia sebagai pemain politik luar negeri, karena kita lihat sekarang posisi Indonesia lebih dihargai, katakanlah sebagai mediator antara negara-negara yang berkonflik terutama dalam negara-negara yang berlatar belakang Islam.

Bukankah disitu kekuatan Gus Dur sebetulnya dalam masalah luar negeri, apa anda bisa memberikan keterangan yang dulu-dulunya karena sebagai PBNU apakah Gus Dur banyak bersinggungan dengan masalah politik luar negeri?

Sebenarnya Gus Dur sejak dulu tertarik dengan masalah-masalah begitu. Pertama kali dia kunjungi Israel tahun 94, beberapa minggu sebelum muktamar PBNU. Saya kira ini sesuai dengan wataknya, dia tertarik pada yang garis besar, baik di Indonesia maupun di pentas Internasional, dan sudah lama ada keinginan untuk campur tangan. Dulu agak terbatas tapi dengan adanya kesempatan, dengan beberapa kesepakatan yang lain, sekarang baru kelihatan bagaimana potensi Gus Dur.

Harus diakui juga bukan saja Gus Dur yang punya potensi, tapi bangsa Indonesia karena ada banyak hal-hal yang sangat baik yang bisa dijadikan contoh yang baik di dunia. Tentu saja asal perkembangan politik di sini berjalan. Misalnya filosofi Pancasila sebagai dasar negara yang masyarakatnya paling banyak menganut Islam, tapi yang tetap sekuler, tetap ada keterbukaan pada agama tapi tidak berpihak pada satu agama. Saya kira itu merupakan contoh yang sangat baik untuk dunia yang lebih luas, terutama didunia Islam.

Seringkali kita sebagai manusia kurang menghargai apa yang ada ditangan kita, karena kita direpotkan atau merepotkan diri dalam soal-soal yang lain yang barangkali lebih kecil. Dalam hubungan dengan kepresidenan Gus Dur saya kira tidak banyak yang menyadari bahwa kita punya seseorang yang kelasnya barangkali kelas dunia. Orang yang fasih dalam kepemimpinan di dunia.

Apakah kalau pemerintahan ini lebih tertangani di dalam negeri, anda bisa melihat ada kemungkinan Gus Dur membawa Indonesia kedalam peran yang lebih aktif di politik luar negeri?

Ya, karena ada dua faktor yaitu politik domestik dalam negeri dan potensi di luar negeri. Untuk politik dalam negeri yang sangat penting, karena kalau domestik tidak sukses, yang lain akan sia-sia. Kita perlu melihat sejauh mana kemampuan Gus Dur bisa diterapkan, tapi kalau ada team yang baik, Gus Dur merupakan cendekiawan kelas satu dan dia sangat pandai dalam hal-hal yang berkitan dengan garis besar.

Jadi kalau dikasih kesempatan untuk menjadi seorang pemimpin yang melihat jauh kedepan, saya kira kemampuan sebagai seorang pemimpin memang luar biasa. Kalau berjalan dengan baik didalam negeri, ada kemungkinan besar bahwa Gus Dur akan berperan besar di pentas internasional. Itu kita melihatnya dengan kasus Yerussalem, Israel dan Palestina, mungkin juga ditempat-tempat yang lain. Saya kira ada kemungkinan Gus Dur akan seperti Nelson Mandela.

Anda juga mengamati masyarakat politik berbasis Islam di Indonesia yang kita sebagai awam melihatnya sebagai suatu keunikan atau keanehan, dimana Gus Dur itu sangat progresif, sangat liberal, dan sangat internasionalis, dilatarbelakangi oleh masyarakat yang sangat konservatif misalnya sikap terhadap Israel, sikap terhadap modal asing, dan sebagainya. Apakah Gus Dur itu seorang yang menyendiri atau dia punya dukungan yang luas juga di masyarakat yang dari luar kelihatan tradisional?

Sebenarnya mungkin bukan saja pribadinya Gus Dur yang kurang dipahami tapi juga kebudayaan, ulama dan Islam tradisional. Bacalah kitab-kitab sufi, itu menarik. Sebenarnya cara berpikir golongan NU agak longgar, kreatif dan terbuka. Memang Gus Dur salah satu anggota yang lebih progresif, tapi ada banyak yang lain seperti bapaknya, kakak perempuannya dan lain-lain. Jadi bukan bahwa Gus Dur merupakan orang yang unik, yang tiba-tiba muncul, tapi boleh dikatakan dia merupakan warisan dari dulu dan ia merupakan seorang pelopor.

Dalam hal itu yang harus dimengerti dunia bukan Gus Durnya tapi seperti anda katakan barangkali adalah tradisi, budaya dan politik Islam di Indonesia. Sekarang dalam hubungan dengan Australia, dimana anda merupakan penghuninya dan warganegaranya, dan tinggal disana. Apakah Australia akan bisa mengapresiasi Gus Dur dalam warna seseorang yang lembut, humanis, internasionalis, diluar masyarakat akademik yang barangkali sudah lebih tahu?

Mungkin sekali karena memang dulu begitu, hanya sejak menjadi presiden yang diluar dugaan orang, dan sayang sekali banyak yang dilaporkan pers disana yang kurang akurat dan berat sebelah. Kita tahu ada banyak kelemahan pada diri Gus Dur, apalagi dalam pengalaman selama 10 bulan yang kemarin ini, tapi kalau kita lihat kebelakang beberapa tahun yang lalu, Gus Dur sudah sangat terkenal dan sangat dikagumi di Australia, hanya setelah menjadi presiden orang menjadi agak kecewa, mungkin karena harapan orang terlalu tinggi, baik disini maupun disana. Tapi saya kira ada harapan bahwa tahun depan sudah akan kelihatan lagi bahwa Gus Dur memang seorang yang progresif, humanis, seorang liberal yang betul-betul jujur, dan bisa mencapai hal-hal yang signifikan.

Apakah dari pihak Gus Durnya ada suatu kehati-hatian terhadap Australia sekarang atau bahkan suatu keraguan. Apakah suatu kebetulan bahwa dia belum ke Australia, atau ada sebab-sebab tertentu? Sebetulnya kenapa itu tertunda begitu lama?

Ada beberapa faktor. Faktor Pertama adalah kurangnya penghargaan atau pemahaman bahwa bagi Gus Dur dan bagi Indonesia hubungan dengan Australia merupakan hubungan yang sangat penting. Itu boleh dikatakan sama pentingnya dengan hubungan Amerika atau dengan Jepang, apalagi Australia adalah tetangga. Justeru karena itu Gus Dur tidak mau ada kunjungan yang terlalu dangkal, dia ingin yang betul-betul berarti, Itu salah satu faktornya. Jelas faktor Timtim itu baik secara pribadi maupun secara politik nasional. Ada juga beberapa faktor lain yang agak rumit, salah satunya Perdana Menteri Australia John Howard yang orangnya sangat kolot.

Sebenarnya publik opini di Australia melihat bahwa John Howard terlalu banyak melihat ke belakang, terlalu kolot dan terlalu sempit. Memang kalau dibandingkan dengan Gus Dur sebaliknya. Jadi saya kira kalau ada Perdana Menteri Australia yang mengambil inisiatif lebih dulu, mungkin sekali presiden Indonesia yang lebih dulu ke sana. Tapi walaupun begitu pada akhirnya Gus Dur akan kesana, mungkin bulan Oktober dan saya kira setelah menjalankan kunjungan yang pertama, mungkin tahun depan hubungan akan pulih dengan cepat.

Sekarang Gus Dur itu masuk dalam suatu partnership dengan Megawati yang dari tahun lalu memang sudah, yaitu sebagai presiden dan wakil presiden. Barangkali sampai ke awal 90-an juga sudah sebagai rekan yang mempunyai keberpihakan yang sama melawan rejim Suharto. Tapi justeru pada saat mereka beroperasi bersama dalam masyarakat, banyak timbul kekuatiran. Bagaimana kira-kira partnership Gus Dur dan Mega akan berlangsung dan dimana faktor-faktor kritisnya yang harus dijaga?

Saya merasa cukup optimis dengan hubungan partnership itu, karena beberapa faktor. Gus Dur dan Mega sudah begitu lama menjadi teman yang cukup akrab, walaupun kadang-kadang ada yang mengganggu keakraban itu, tapi itu wajar saja dalam persahabatan. Selain itu mereka punya visi politik yang sama, Gus Dur adalah penggemar berat Soekarno, jadi sangat wajar. Selain itu kalau kita lihat Mega dan Gus Dur itu merupakan orang-orang yang agak unik. Gus Dur kadang-kadang kurang waspada dalam komentarnya, Mega kadang-kadang agak terlalu manja menurut perasaan saya.

Tapi ini harus diterima, tapi kedua-duanya harus kerja keras. Karena ini bukan saja hubungan pribadi tapi merupakan kemitraan untuk bangsa. Ini sangat penting demi bangsa. Tapi kalau bentul-betul dicoba, maka saya kira sebenarnya masalah-masalah kecil bisa diatasi, apalagi kalau ada team yang lengkap dan baik. Kalau Gus Dur punya beberapa asisten pribadi yang dipercaya, begitu pula dengan Mega. Dan kalau asisten pribadi ini sering tukar pikiran dan sering bergaul saya kira bisa berjalan baik.

Tentunya setengah masyarakat berharap demikian, dan setengahnya lagi berharap memancing di air keruh. Tentunya baik Gus Dur dan Megawati tahu persis bakal ada pancingan-pancingan ini. Tapi yang menarik adalah bahwa disini ada suatu partnership, yang bisa dibilang Gus Dur senior partner sebagai CEO (chief Executive Officer) nya dan Megawati junior partner sebagai COO (chief operating officer) nya bila dalam suatu perusahaan. Apakah itu suatu hal yang baru, barangkali dalam karier Gus Dur selama ini, dia itu selalu berada diatas orang lain. Apakah pernah ada teman dekat, mitra, yang pernah mendampingi dia sejajar dalam hidupnya?

Sebenarnya dulu pada periode pertama PBNU ada almarhum Kyai Ahmad Sidiq, dan pada waktu itu ada partnership juga. Tapi pada waktu itu para senior, Kyai Ahmad Sidiq itu dan Gus Dur yang yunior cukup sukses. Saya kira kalau Gus Dur sendirian yang memimpin pada waktu itu tentu akan sulit, tapi karena dibantu oleh Kyai Sidiq bisa sukses.

Nampaknya ada kemampuan Gus Dur bersama orang lain.

Tapi untuk waktu itu di PBNU akan sulit, karena ada beberapa orang yang luar biasa seperti Kyai Sidiq tapi kalau banyak yang lain yang tidak sama kelasnya dengan Gus Dur, dia dipaksa oleh keadaan menjadi pemimpin sedirian. Tapi kalau ada orang yang sesuai dengan kemampuan dia, saya kira ada kemungkinan yang besar untuk partnership.

Apakah kultur politik bangsa Indonesia itu sangat berubah dengan munculnya ke tengah panggung, baik organisasi maupun tokoh yang berlatar belakang, berbasis, dan bersuasana Islam, menggantikan suatu sistem politik yang kelihatan sangat sekuler. Apa itu artinya bagi masyarakat, penyesuaian apa yang kira-kira akan terjadi di masyarakat pollitik yang lebih luas?

Dulu rejim Suharto disebut rejim yang otoriter, terlalu ketat. Sangat wajar bahwa dengan baru mendapatkan demokrasi, orang bisa berbuat yang keterlaluan. Tapi lama-lama akan lebih mantap. Ini kelihatan dengan Piagam Jakarta. Itu sejak dulu sudah merupakan hal yang settle, tapi orang mau lagi coba dengan Piagam Jakarta.

Saya kira sudah cukup di Sidang Tahunan ini terlihat orang sudah puas dengan adanya Pancasila dan segalanya, dan tidak mau ada yang menyempit lagi. Ini merupakan masa experimentasi, orang mau coba mendesak sejauh mungkin, lama-lama akan menjadi lebih stabil.