Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Tetap Waspada di Normal Baru

Edisi 1265 | 02 Jul 2020 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

 

Wawancara Perspektif Baru kali ini menghadirkan narasumber yang merupakan pendiri dari Yayasan Perspektif Baru yaitu Wimar Witoelar. Dia akan berbagi perspektifnya mengenai saat kita memasuki normal baru.

 

Wimar Witoelar mengatakan yang penting saat memasuki normal baru adalah kita harus waspada, dan harus mempunyai disiplin pada diri kita sendiri. Jadi sebaiknya melakukan pembatasan sosial secara pribadi selama PSBB masih berlangsung, bahkan kalau juga secara resmi sudah berakhir. Namun saat ini angka-angka yang terkena penyakitnya belum mereda, jadi kita harus selalu menjaga diri.  

Rumusnya sederhana saja, jangan dekat-dekat dengan orang lain, jangan bersentuhan, kemudian kita harus pakai masker, harus menjaga jarak, dan kita harus mencuci tangan pakai sabun. Jangan pergi meninggalkan rumah. Soalnya, kalau meninggalkan rumah membuat ada potensi melanggar ketiga  aturan untuk mencegah COVID-19.

Jalankan semua protokol COVID-19, ditambah kalau pagi-pagi duduk di bawah sinar matahari, makan-makanan yang sehat. Jadi perspektif saya adalah kenalilah rutin kehidupan kita dan jangan mengandalkan pada kata-kata orang lain.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru yang dilakukan Monica Ayu sebagai pewawancara dengan narasumber Wimar Witoelar.

Bagaimana perspektif Anda secara garis besar soal Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) yang sebentar lagi berakhir dan kita semua akan memasuki normal baru?

Yang penting kita harus waspada, tidak usah panik, dan harus mempunyai disiplin pada diri kita sendiri. Jadi sebaiknya melakukan pembatasan sosial secara pribadi selama PSBB masih berlangsung, bahkan kalau juga secara resmi sudah berakhir. Namun saat ini angka-angka yang terkena penyakitnya belum mereda, jadi kita harus selalu menjaga diri. 

Jadi jangan dekat-dekat dengan orang lain, jangan bersentuhan, kemudian kita harus pakai masker, harus menjaga jarak, dan kita harus mencuci tangan pakai sabun. Jangan pergi meninggalkan rumah. Soalnya, kalau meninggalkan rumah membuat ada potensi melanggar ketiga aturan untuk mencegah COVID-19. Itu akan membuat kita berdekatan dengan orang, dan kalau tidak pakai masker akan mengakibatkan penjalaran COVID-19 sekali lagi. Kalau ingin cepat ketemu lagi maka kita harus disiplin dalam kesehatan kita.

Covid-19 tidak hilang kecuali ketika kita benar-benar sudah tahu dia hilang. Jadi tidak ada tanda-tandanya. Saya kira Anda lihat saja referensi dari orang-orang yang ahlinya. Ini bukan soal pemerintah atau non pemerintah, tapi orang yang mengerti. Soalnya Anda bisa saja merasakan tidak ada COVID-19 padahal masih ada. Saat ini masih ada banyak orang meninggal di Jakarta, dan kita harus perhatikan juga nanti bagaimana situasinya. 

Jadi pesan saya adalah jangan anggap ringan COVID-19, dan cara mengatasinya adalah dengan disiplin dalam menjalankan protokol COVID-19. 

Apakah sebenarnya Indonesia sudah siap memasuki normal baru? Bagaimana perspektif Anda mengenai keputusan yang diambil pemerintah untuk mengurangi PSBB dan memasuki normal baru?

Keputusan untuk melonggarkan PSBB sebenarnya tergantung pada stabilitas angka-angka penularan COVID-19. Kalau angkanya sudah stabil atau menurun, maka itu sudah siap. Yang tahu itu adalah ahli epidemi di pemerintah. Saya tidak bisa menilai apakah kita siap atau tidak.

Jadi dalam hal itu kalau saya diberitahu bahwa kita siap maka kita siap mulai normal baru. Tetapi belum berarti akan langsung mulai karena harus dicek dulu siapa yang ingin bergaul dalam keadaan normal itu. Apakah aktivitas dia dalam waktu 14 hari terakhir tidak menimbulkan risiko? Ini karena saya sudah termasuk usia rentan dan kondisi juga tidak ideal. Jadi saya tidak berani mengambil risiko untuk bertemu dengan orang yang memang tidak bersih sejarah pertemuannya.

Kalau bicara soal pengaktifan kembali, saya tentu dalam konteks ini membahas dengan rekan-rekan di InterMatrix dan Yayasan Perspektif Baru. Setelah itu kita akan putuskan untuk lingkup  perusahaan kapan kita mulai, siapa yang boleh mulai duluan, dan bagimana protokol kesehatannya yang harus diperhatikan.

Apa kita dapat membandingkan Indonesia dan negara seperti Singapura dalam mempersiapkan normal baru ini? Bagaimana tren negara di dunia dalam mepersiapkan normal baru?

Kita tidak bisa menggunakan pengalaman negara tetangga untuk menjalankan kebijaksanaan kita karena kondisinya sama sekali berbeda. Misalnya, negara seperti Singapura, Malaysia dan Thailand mungkin mereka menjalankan PSBB-nya berbeda. Mungkin di Thailand lebih tertib dan sebagainya. Tetapi kita juga harus melihat bagaimana grafiknya. Jadi kita harus pelajari juga.

Yang paling penting kita pelajari adalah grafik COVID-19 dan tingkat kepatuhan kita di negara kita sendiri atau dari orang-orang terdekat. Saya pasti ingin tahu mulai hari ini, ke mana saja Anda setiap hari. Ini bukan berarti kita dilarang pergi ke mana-mana, tapi kita ingin tahu Anda itu pergi ke tempat-tempat yang menimbulkan risiko atau tidak.

Itu karena di tempat kita ada beberapa orang yang memang harus hati hati terhadap risiko. Walaupun yang pergi itu sehat,  dia mungkin saja bisa menjadi silent carrier, membawa virusnya untuk ditularkan pada orang yang lebih tua. Jadi kita tidak bisa melihat bagaimana keadaan di negara tetangga kecuali sebagai pengetahuan umum.

Apakah dengan berkurangnya atau longgarnya PSBB saat ini di Indonesia sudah bisa membuat kita lebih rileks?

Saya tidak bisa bicara atas nama masyarakat, saya hanya bisa bicara atas nama kawan-kawan terdekat dan saya sendiri, dan itu pun dikembalikan kepada masing-masing. Saya tidak tahu kemana saja dan apa saja kegiatan mereka selama ini. Saya hanya tahu bahwa saya tidak ke mana-mana, dan tidak ada kontak. Jadi itu harus dijawab oleh masing masing. Bagaimana rekor kepatuhan Anda selama ini.

Menurut saya, kita masih perlu waktu lama untuk menyerahkan kesehatan kita kepada keterangan pemerintah atau orang lain. Itu karena kita mengetahui dasar penularan itu dimulai dari exposure kita terhadap kuman-kuman atau virus yang ada di tempat lain. Jadi yang tahu apakah Anda sudah aman untuk ke luar atau tidak adalah Anda sendiri.

Rumusnya sederhana saja, kalau ke luar maka harus pakai masker. Di dalam rumah pun Anda harus sering cuci tangan selama 30 detik. Orang InterMatrix paling tahu karena dulu juara dunia sosialisasi cuci tangan pakai sabun dan itu masih berlaku hukumnya. Kemudian jangan dekat sama orang lain. Kalau Anda sering berdiri dekat orang lain, maka pasti ada virus yang menghinggap.

Apa perspektif Anda mengenai kebijakan pemerintah?

 

Pertama, kita tetap melihat data pemerintah dan bahkan negara lain sebagai dasar. Data-data itu yang akan digunakan untuk menentukkan apakah saya akan terjun atau tidak meninggalkan rumah, dan hidup sedikit normal dalam normal baru.

 

Apakah catatan kegiatan saya selama 15 hari terakhir sudah mengikuti protokol PSBB? Jadi seperti apa protokol PSBB itu sudah kita tahu bersama, tapi apakah selama 15 hari terakhir saya memang pernah ke luar rumah? Apa pernah jalan tanpa masker? Apa pernah lupa cuci tangan? Itu yang saya cek untuk mengevaluasi diri sendiri, bukan begitu saja mengikuti pada peraturan pemerintah. Tetapi peraturan pemerintah dan perkembangan di luar tetap harus diperhatikan. Jadi dua-duanya diperhatikan. Dari kebijakan pemerintah itu sebagai dasarnya, tapi yang kegiatan pribadi sebagai penentunya.

 

Ketika belum banyak orang yang terjangkit virus COVID-19, orang semua takut dan kita memperlengkapi diri sedemikian rupa. Tapi sekarang saat angkanya semakin meningkat justru orang makin tidak peduli atau makin acuh. Bagaimana menurut Anda?

Orang mulai tidak takut pada COVID-19 karena ada efek bosan juga. Bosan setiap hari di rumah terus, ingin juga jalan-jalan. Kedua, kita disuruh mengurung diri. Apalagi kalau di lingkungan kita para tetangga dan teman punya sifat yang skeptis terhadap PSBB. Mungkin juga diberi tahu, Ngapain sih lu nurut aja lo? Kan sudah boleh sama pemerintah. Percuma mobil lo nganggur. 

 

Jadi kita bisa dipancing untuk aktif ke jalan dan tidak pakai masker. Seperti halnya juga Donald Trump. Dia tidak mau pakai masker. Jadi tidak ada yang mewajibkan. Tetapi kesehatan kita sendiri risikonya.

 

Bagaimana perspektif Anda mengenai orang yang tidak peduli?

 

Perspektif saya adalah bahwa keadaan tetap tidak aman untuk kita pribadi per pribadi. Kalau pun kita kuat, muda dan tidak kenal dengan orang tua, tidak punya ibu di kampung, tidak punya saudara yang mungkin akan ketularan oleh infeksi, tetap harus waspada. Itu karena ada pembawa COVID-19 yang tidak ketahuan dan disebut silent carrier.

 

Jadi selama kita kenal dengan yang rentan, maka kita harus menjaga orang lain. Itu prespektif saya. Jalankan semua protokol COVID-19, ditambah kalau pagi-pagi duduk di bawah sinar matahari, makan-makanan yang sehat, dan jangan bergaul karena kita tidak curiga dengan orang lain. Setiap orang punya lingkaran pergaulan yang luas, yang berbeda-beda. Sedangkan kalau di rumah sendiri kita tahu semua terkendali. Jadi perspektif saya adalah kenalilah rutin kehidupan kita dan jangan mengandalkan pada kata-kata orang lain.