Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Amerika Serikat di Titik Persimpangan

Edisi 1264 | 24 Jun 2020 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Wawancara Perspektif Baru kali ini menghadirkan narasumber yang merupakan pendiri dari Yayasan Perspektif Baru yaitu Wimar Witoelar. Wimar Witoelar akan berbagi perspektifnya mengenai perkembangan keadaan di Amerika Serikat (AS). Selama beberapa minggu terakhir di Amerika Serikat terus-menerus terjadi unjuk rasa sehubungan kematian warga kulit hitam George Floyd akibat aksi brutal polisi. Aksi protes terus-menerus berkembang menjadi berbagai unjuk rasa anti rasisme di banyak kota besar AS. Bahkan kemudian terjadi aksi-aksi unjuk rasa anti rasisme yang muncul di berbagai negara Eropa.

Wimar Witoelar mengatakan peristiwa tersebut ada unsur pandeminya, unsur politiknya, dan terutama unsur pemberdayaan rakyat. Jadi AS boleh dibilang berada di titik persimpangan.

 

Menurut Wimar, sejarah pergerakan hak sipil di AS sudah mulai puluhan tahun sebelumnya, dan mengalami naik turun. Lebih banyak naiknya daripada turunnya.  Sekarang tidak ada masalah, sudah sangat maju. Tetapi yang tidak maju adalah kekejaman polisi terhadap orang kulit hitam. Jadi orang kulit hitam itu cenderung cepat dihukum kalau dicurigai bersalah atau dihukum dengan kekerasan.

 

Pelajaran utama yang kita ambil dari AS saat ini adalah kita harus menghargai demokrasi karena demokrasi kita adalah demokrasi yang besar dengan pemilihan umum terbesar dan penduduknya banyak. Itu yang bisa kita pelajari. Jangan sampai terjadi negaranya kuat tapi yang berperan kadrun. Itu akan menjadi sangat disesalkan.

Berikut wawancara Perspektif Baru yang dilakukan Monica Ayu sebagai pewawancara dengan narasumber Wimar Witoelar.

Narasumber kita kali ini seorang yang sudah sangat familiar, dan juga pernah tinggal  di Amerika Serikat (AS) untuk melanjutkan studi. Dia adalah Prof. Wimar Witoelar. Mengapa Anda mengatakan saat ini hari-hari yang menentukan bagi AS?

 

Saat ini ada unjuk rasa rakyat AS setelah meninggalnya George Floyd akibat tindakan bengis dari polisi, yang sekarang mantan polisi, di Minneapolis. Sebagai akibat dari itu muncul unjuk rasa dari satu kota ke kota lain. Kalau mau disebut satu per satu maka banyak sekali. Soalnya, tidak ada satu kota besar di negara bagian mana pun yang luput dari tindakan unjuk rasa ini. Ini juga diiringi perasaan tidak senang kepada presiden dan polisi di AS.

 

Ini merupakan peristiwa bersejarah ketiga dalam abad ini. Pertama pada 1918 sewaktu muncul wabah Flu Spanyol. Kemudian pada 1968 ketika ada unjuk rasa yang besar sekali akibat pembunuhan Martin Luther King, pembunuhan Robert Kennedy, dan pengunduran diri Lyndon Johnson dari pencalonan presiden AS.

 

Sekarang peristiwa ini ada unsur pandeminya, unsur politiknya, dan terutama unsur pemberdayaan rakyat. Jadi AS boleh dibilang berada di titik persimpangan. Ke mana dia akan berkembang selanjutnya? Demonstrasi itu belum berakhir. Itulah tidak berlebih kalau saya mengikuti komentator lain mengatakan bahwa hari - hari ini paling menentukan untuk AS.

 

Apakah skenario terburuk dari krisis yang terjadi saat ini, baik yang ada hubungannya dengan polisi atau apapun?

 

Kalau polisi, sudah ada satu kota yaitu Minneapolis yang sedang merumuskan pembubaran polisi yang sekarang. Jadi mereka mencabut pendanaannya. Itu sudah keputusan dari dewan kotanya. Yang lain sedang mempertimbangkannya. 

 

Kemudian kalau mau dikatakan apa yang terburuk, atau juga pertanyaan yang sama bisa berbentuk apa yang terbaik? Itu karena yang buruk untuk satu pihak, bisa baik untuk lain pihak.  Sekarang adalah saat yang bisa sangat baik untuk pemberdayaan kaum minoritas terutama orang kulit hitam. Orang-orang yang tadinya tertindas terus setelah 400 tahun baru sekarang bisa bangkit kembali berani menyatakan pendapatnya.

 

Mereka didukung oleh jenderal-jenderal serta senator-senator, bahkan senator dari Partai Republik ikut mendukung juga gerakan ini. Ada juga puluhan walikota dan gubernur yang  banyak berkulit hitam, serta perempuan. Bahkan sekarang calon terkuat untuk wakil presiden AS adalah seorang wanita yaitu Walikota Atalanta bernama Keisha Lance Bottoms. Dia berumur 50 tahun, dinamis, dan bicara sangat bagus. 

 

Jadi yang orang sorot bukan negatifnya tapi positifnya. Menurut saya, Amerika bisa masuk ke dalam zaman yang mengobati keterpurukannya selama dipimpin Donald Trump.

  

Mungkin Anda bisa melanjutkan kembali mengenai pergerakan kulit hitam yang banyak dan tersebar di seluruh AS.

 

Selama 12 hari mulai dari unjuk rasa di Minnesota, kemudian disusul di New York dan Los Angeles. Sekarang sudah ada di kota lain.

 

Kalau yang dimaksud adalah sejarah pergerakan hak sipil di AS, itu sudah mulai puluhan tahun sebelumnya. Bahkan kemenangan terbesar itu terjadi pada 1968 dengan ditandatanganinya hak sipil dan Undang-Undang tentang Pemilihan Umum oleh Presiden Lyndon Johnson. Walaupun dia turun sesudahnya karena tanggung jawab terhadap perang Vietnam. 

 

Jadi perjuangan hak sipil di AS mengalami naik turun. Lebih banyak naiknya daripada turunnya. Turunnya itu misalnya akibat penembakan Martin Luther King, penembakan Robert Kennedy. Sedangkan kalau naiknya adalah orang yang tadinya tidak bisa naik bus yang sama, sekarang sudah boleh. Orang yang tadinya tidak bisa ke sekolah yang sama, sekarang bisa.

 

Dulu pada 1940 orang tidak bisa makan di satu restoran dengan campur antara kulit hitam dan kulit putih. Sekarang tidak ada masalah, sudah sangat maju. Tetapi yang tidak maju adalah kekejaman polisi terhadap orang kulit hitam. Jadi orang kulit hitam itu cenderung cepat dihukum kalau dicurigai bersalah atau dihukum dengan kekerasan.

 

Sudah ada belasan orang yang meninggal. Tetapi sering orang yang tidak bersalah dihukum, seperti George Floyd. Menurut Donald Trump, sebetulnya tidak perlu menyalahkan polisi karena polisi barangkali mau membalikkan badannya, bukan mau menginjak. Itu omong kosong. Jadi semakin orang tidak percaya kepada presiden yang mencari akal begitu.

 

Jadi kemajuan-kemajuan itu datang satu per satu. Tapi sekarang ada gelombang kemajuan besar dengan dibubarkannya satu kantor polisi di Minneapolis. Itu besar sekali artinya.

 

Kini George Floyd sudah menjadi lambang anti rasisme di berbagai negara. Apa dampak krisis ini terhadap citra AS di mata dunia?

 

Citranya makin jatuh, tetapi memang sebelumnya sudah mulai jatuh, seakan-akan dijatuhkan oleh Presiden Trump sendiri. Jadi AS sudah bertindak tidak sopan kepada anggota NATO, WHO, dan terhadap Perjanjian Paris. Banyak sekali afiliasi internasional AS yang disangkal sendiri oleh AS. Jadi orang sudah mencari kepemimpinan baru tetapi susah karena bagaimanapun AS sangat kuat. Orang tidak mau lari ke China. Tapi di dunia orang merdeka barangkali sekarang Angela Merkel yang lebih muncul sebagai pemimpin daripada Trump.

 

Dengan adanya peristiwa ini, respect orang bisa kembali kepada AS. Bagus juga kalau orang Indonesia mulai mempelajari karena AS sangat berbeda dengan China sebagai orang asing. Tidak semua orang asing itu sama. Dulu AS cukup baik sebagai orang asing. Bantuan luar negerinya lancar melalui USAID, penelitiannya bagus.

 

Selama Trump, satu per satu komitmen luar negerinya ditinggalkan. Tapi sekarang mungkin muncul lagi. Kemarin ada mantan menteri luar negeri, dan mantan jenderal yang berkulit hitam yaitu Collin Powell mengatakan belum pernah ada presiden yang seperti ini, tidak menghormati Kementerian Luar Negeri seperti Trump.

 

Mengapa AS menarik dan mengapa orang Indonesia juga perlu mempelajari soal Amerika ?

 

Perlu untuk orang yang tidak mau menjadi orang bodoh. Kalau orang memilih untuk menjadi orang bodoh, tidak perlu diperhatikan berita mengenai AS karena tidak ada hubungannya dengan kejadian di sini. Hubungan langsung tidak ada tetapi hubungan tidak langsung ada. Orang bisa saja buta terhadap AS dan lebih memperhatikan Timur Tengah atau China. Tetapi sebetulnya AS, bukan Donald Trump,  masih menjadi kekuatan geopolitik nomor satu di dunia.

 

Apakah implikasinya terhadap pemilihan presiden yang akan berlangsung pada November 2020?

 

Akan ada Pemilihan Presiden di AS pada 3 November 2020 dan akan ada pelantikan presiden baru pada Januari. Sangat besar artinya kalau Trump terpilih atau tidak terpilih. Kalau Trump terpilih lagi kemerosotan AS akan berlanjut terus, orang asing susah masuk, kerja sama internasional berhenti, dan juga bantuan asing. Juga USAID dan sebagainya bisa bubar kalau Trump sekali lagi muncul.

 

Tapi kalau yang menang Biden, maka AS yang kita kenal sejak zaman Obama dan sebelumnya bisa bangkit lagi. Saat ini akibat-akibat kejadian COVID-19 dukungan terhadap Trump mulai merosot. Dari mulai di atas 50% menjadi 38% sedangkan Biden di atas 50%. Jadi kalau bisa dimanfaatkan momentumnya maka peluang Biden untuk menang itu besar.

 

Tapi orang berpikir apa yang terjadi kalau Trump kalah? Jangan-jangan dia mencari macam-macam alasan. Itu jadi tontonan saja. Tapi sekarang yang penting keputusan politik sudah diambil. Yang kemarin luput dimenangkan Hillary Clinton, sekarang orang sudah belajar untuk memilih. Salah satu alasan Hillary Clinton kalah adalah pemilihnya malas turun karena tidak semangat.

 

Sekarang orang tahu kalau orang malas turun maka pemilih Trump selalu rajin turun. Jadi mudah-mudahan tidak terjadi kesalahan yang sama. Posisi Biden sekarang terhadap Trump relatif lebih baik dari posisi Hillary Clinton pada bulan yang sama di periode pemilihan sebelumnya.

 

Apakah dengan hal-hal yang terjadi sekarang dapat membuat Trump tidak naik menjadi calon presiden? Mungkinkah Partai Republik mencalonkan nama lain selain Trump?

 

Itu tidak berani diharapkan. Itu yang paling bagus bagi Partai Republik juga. Soalnya kalau mereka terus dukung Trump, ingatlah sampai sekarang Partai Republik belum melepaskan Trump, makanya bisa hancur partainya. Yang lebih bijaksana kalau mereka majukan calon lain sebab banyak orang-orang yang berhak maju yang ada di Partai Republik.

 

Sekarang pimpinan Partai Republik saja mau memilih Biden, seperti Colin Powell dan George Bush tidak mau dukung Trump. Tapi perlu keberanian yang besar. Kita tahu politik itu tempat orang yang paling berkuasa, paling tidak berani lihat kiri-kanan. Kalau kejadian itu terjadi, itu pasti dalam bentuk tanah longsor dukungannya dan akan sangat radikal. Akan sangat jelek untuk Trump.

 

Apa yang akan penting ketika nanti hasil pemilu AS keluar bagi negara-negara dunia atau Indonesia. Apakah benang merah yang terjadi mengubah perjanjian-perjanjian atau kerja sama?

 

Yang akan terjadi adalah penyusunan kesepakatan dan persahabatan antar negara, dan AS bisa memulihkan citranya, bisa mengembalikan citranya di dunia. Itu akan bagus untuk kestabilan geopolitik, soalnya tanpa AS ini susah. Indonesia pasti terpaksa dukung China tapi orang agak segan untuk dukung China karena memang kurang biasa kerja sama politik.

 

Jadi yang paling berdampak adalah efek luar negerinya, yang juga termasuk pendidikan dan beasiswa. Sekarang orang tidak bisa study di AS. Nanti kalau dibuka lagi mungkin bisa dan itu akan memperkuat Indonesia.

 

Apa pelajaran yang bisa kita ambil dari krisis AS?

 

Pelajaran utamanya adalah kita harus menghargai demokrasi karena demokrasi kita adalah demokrasi yang besar dengan pemilihan umum terbesar dan penduduknya banyak. Itu yang bisa kita pelajari. Jangan sampai terjadi negaranya kuat tapi yang berperan kadrun. Itu akan menjadi sangat disesalkan.