Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Rasisme di Tahun Politik Amerika Serikat

Edisi 1263 | 17 Jun 2020 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Selama pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing untuk mengatasi pandemi virus Corona atau COVID-19, program Perspektif Baru tidak mengadakan wawancara. Program Perpektif Baru menyampaikan paparan Pakar Komunikasi Hijau (Green Communications Specialist) yaitu Wimar Witoelar, yang juga pernah menjabat sebagai Juru Bicara Presiden semasa pemerintah K.H. Abdurrahman Wahid.

Wimar mengatakan peristiwa rasisme terhadap warga AS George Floyd, yang mengalami perlakuan brutal polisi dan kemudian meninggal, tidak berdiri sendiri. Ini berangkaian mulai dari pembunuhan sampai kepada unjuk rasa, kekerasan, dan reaksi balik Trump yang berlebih kejam. Tetapi di balik itu juga dasarnya sangat kuat dalam tradisi politik kebudayaan AS, dimana sejarah rasisme itu tidak hilang juga bahkan di masa pemerintahan Trump lebih dipertebal.

Suasana menjadi panas juga karena tahun ini menjadi tahun pemilihan Presiden AS dimana Trump sangat ingin dipilih kembali. Dia sudah pasti akan dicalonkan oleh Partai Republik. Sedangkan Partai Demokrat sudah mempunyai calon yaitu Joseph Biden yang didukung kuat orang biasa. Jadi pilihan presiden AS nanti antara Trump dengan sifatnya yang tidak disukai oleh golongan liberal dan pembela kemanusiaan.

Berikut perspektif Wimar Witoelar.

Pada 25 Mei 2020 terjadi kekejaman dan tragedi di jalanan perumahan di kota Minneapolis, di negara bagian Minneapolis, Amerika Serikat (AS). Seorang bernama George Floyd ditarik dari mobilnya dan tanpa ada tuduhan apa-apa diseret dan dibanting ke permukaan jalan dengan muka menghadap ke bawah, ke jalan. Kemudian lehernya ditekan oleh lutut seorang anggota polisi, sehingga dia tidak bergerak dan merintih merintih memohon dibebaskan dengan mengatakan, Saya tidak bisa bernafas, Saya tidak bisa bernafas. Dia juga memanggil ibunya berkali-kali, sedangkan ibunya sudah lama meninggal.

 

Ini menjadi awal dari rentetan kejadian protes oleh warga kulit hitam di AS dan sebagian kecil kulit putih juga karena menjadi contoh pengingat dari tingkah laku polisi yang kejam, tidak memperhatikan kemanusiaan, dan melanggar apa yang dibayangkan sebagai etika polisi. 

 

Hari- hari sesudah kejadian itu menjadi hari penuh aksi, bukan saja di Minneapolis tapi juga di kota-kota besar dimana polisi mempunyai reputasi kurang baik, yang kejam, dan dianggap sering melanggar kode kemanusiaan. Mula-mula di New York City, kemudian Louisville di Los Angeles, Washington, Philadelphia, akhirnya di mana-mana. Bahkan terjadi beberapa demonstrasi di ibu kota negara-negara Eropa yang juga mempunyai pengalaman kurang baik dengan polisi. 

 

Itu karena pimpinan negara, presidennya, tidak melakukan tindakan memberikan penyejukan berarti, permintaan maaf kepada publik, dan bahkan menyalahkan aksi sesudahnya yang sama. Ini berujung pada perusakan dan penjarahan, tapi dalam skala yang jauh lebih kecil dari pada protes kesedihan, dan kemarahan.

 

Donald Trump memang lebih dikenal tidak condong untuk membela minoritas atau kaum tertekan, dan bersimpati seperti orang garis kanan terhadap tindakan keras dari polisi. Bahkan ia menambah panasnya suasana ketika, pertama, tidak memberikan komentar atas peristiwa itu. Sekalinya mengeluarkan komentar kemudian berjalan ke luar Gedung Putih yang sedang dikelilingi masa, dan jalan kaki ke satu gereja di luar Gedung Putih khusus untuk diambil fotonya dalam ritual yang dikenal sebagai photo opportunity. Memang sesuai dengan watak Donald Trump yang senang tampil di foto, televisi, dan mengambil publisitas pribadi tanpa membahas dasar isunya.

 

Ini kemudian membuat orang menyusul kegiatan di Washington itu dengan kegiatan protes susulan. Itu karena kerumunan massa yang diusir dari luar Gedung Putih untuk memberi jalan kepada Donald Trump ke arah photo opportunity  diamankan oleh bukan saja polisi Washington, tapi juga polisi federal, dan national guard yaitu tentara cadangan yang dimiliki berbagai negara bagian.

 

Wali Kota Washington sangat keberatan terhadap tindakan Trump itu. Bahkan jenderal-jenderal ternama yang telah pensiun juga sangat berkeberatan terhadap kurangnya kemanusiaan Donald Trump, dan juga terhadap kurangnya keberpihakan pemerintah pada peristiwa dimana seharusnya simpati diberikan kepada korban kekerasan polisi, dan bukan pada unjuk rasa yang semata-mata menunjukkan sikap dan perasaan. 

 

Tidak kurang dari Jenderal Jim Mattis, mantan menteri pertahanan, mengatakan dia tidak bisa terima tentara digunakan sebagai alat politik oleh Donald Trump. Juga John Kerry, mantan Kepala Staf Gedung Putih, menyampaikan perasaan yang sama. Mark Esper, Menteri Pertahanan aktif, lebih sopan dan lebih terselubung tapi yang jelas dia mengatakan dia tidak mendukung bahkan dia mengatakan dia ikut dalam foto itu tanpa diberitahu apa acaranya.

 

Jadi tidak ada follow up positif terhadap Donald Trump sesudah acara itu. Sekarang belasan hari setelah peristiwa aksi makin lama makin banyak aksi unjuk rasa, terutama karena kita baru weekend. Aksi di Washington merupakan yang terbesar sejak Donald Trump dilantik dimana ada protes dari kaum wanita. Kemudian di Los Angeles, New York, dan di Buffalo ada lagi kejadian lain yang melibatkan kekejaman polisi terhadap warga. 

 

Jadi orang bertanya kemana akhirnya arah dari kejadian ini karena Donald Trump tidak punya dukungan politik. Tidak seperti biasanya. Senator Partai Republik pun ada dua orang yang tidak menyatakan pendapat dan yang lain bungkam. Jadi tidak seperti biasanya Donald Trump tidak kembali kekuatannya setelah melakukan tindakan yang salah itu.

 

 

Rasisme di Politik AS

 

Peristiwa ini tidak berdiri sendiri. Ini berangkaian mulai dari pembunuhan sampai kepada unjuk rasa, kekerasan dan reaksi balik Trump yang berlebih kejam. Tetapi di balik itu juga dasarnya sangat kuat dalam tradisi politik kebudayaan AS, dimana sejarah rasisme itu tidak hilang juga bahkan di masa pemerintahan Trump lebih dipertebal.

 

Rasisme itu bukan hanya ditoleransi oleh pemerintah AS, tapi bahkan diperkuat oleh Trump berkali-kali sejak peristiwa unjuk rasa di Charlottesville pada 2017 sampai komentar - komentar Trump pada ketidakadilan ras, ketidakadilan politik, maupun ekonomi yang diderita oleh kaum minoritas hitam dan minortitas imigran. Tidak pernah kaum minoritas merasa dilanjutkan peningkatan penghargaannya seperti di zaman Obama maupun pemerintahan Bush, Clinton, dan Reagan sebelumnya.

 

Jadi perasaan tertekan secara rasial sudah banyak sekali. Mudah saja bagi suatu contoh eksplisit daripada ketidakadilan alat negara yaitu polisi untuk menyulut ledakan di warga kota besar di AS. Kejadian-kejadian lainnya terjadi sebelum pemerintahan Trump, tetapi pemerintahan Trump tidak melakukan usaha untuk memperkecil kesenggangan yang ada atau disparitas sosial antara golongan hitam dan mayoritas kulit putih, sehingga warga Amerika Serikat terutama yang berkulit hitam frustasi.

 

Dalam sistem politik pun tidak ada gerakan dari politikus pada anggota Kongres atau anggota Senat untuk memajukan penghargaan terhadap kaum minoritas. Ditambah lagi bahwa sikap Trump tidak bersahabat kepada orang yang berpikir berbeda dengan dia dan bahkan langsung memihak pihak yang kuat dan tidak mendukung pihak yang lemah.

 

Kalau kita lihat juga dalam politik luar negeri, dia sangat berpusat pada dirinya sendiri dan merugikan AS dengan sikap yang tidak menghargai peran multilateral yang sudah lama dijalankan AS. Mulai dari sikap yang tidak simpatik pada North Atlantic Treaty Organization (NATO), World Trade Organization (WTO), kepada perjanjian perjanjian luar negeri.