Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Reformasi dan COVID-19

Edisi 1260 | 26 Mei 2020 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Selama pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing untuk mengatasi pandemi virus Corona atau COVID-19, program Perspektif Baru tidak mengadakan wawancara. Program Perpektif Baru menyampaikan paparan Pakar Komunikasi Hijau (Green Communications Specialist) yaitu Wimar Witoelar, yang juga pernah menjabat sebagai Juru Bicara Presiden semasa pemerintah K.H. Abdurrahman Wahid.

Wimar mengatakan peristiwa lahirnya reformasi 1998 datang sebagai hasil suatu proses ,tetapi juga bisa dikatakan kebetulan. Dia membelah jalannya sejarah menjadi bagian pra reformasi dan sesudah reformasi. Segala yang menjadi pegangan pada zaman sebelum reformasi, yaitu zaman Orde Baru, tidak bisa lagi menjadi pegangan sesudahnya. Kenormalan itu hilang dan diganti menjadi the new normal 

Sekarang juga begitu. Kita tidak akan kembali lagi ke normal yang waktu itu, yaitu normal yang kita alami sebelum COVID-19 datang. Kalau pun kita ada, itu normalnya akan menjadi normal yang baru. It will be the new normal. Normal baru itu akan dibentuk oleh survivor dari COVID-19,

Dunia akan berubah kita tidak akan kembali kepada yang kemarin, tetapi kita akan mencari normal tapi normalnya itu adalah The New Normal. Kalau Reformasi 1998 menyangkut politik, hukum, ekonomi, maka reformasi berserta COVID-19 ini akan menyangkut seluruh gaya hidup. Jadi akan ada reformasi gaya hidup disesuaikan dengan kemampuan atau dengan kelayakan kesehatan. Tidak bisa lagi orang beraktifitas yang membahayakan kesehatan. Reformasi ini lebih mendasar, lebih vital, dan lebih penting.  

Berikut perspektif Wimar Witoelar.

Dari Reformasi ke COVID-19

Reformasi dituntaskan bersama COVID-19. Kita masih ingat, paling tidak kita yang bukan anak kecil, yaitu pada 21 Mei 1998 saat kita dikagetkan oleh pengunduran diri Soeharto. Kemundurannya dipaksakan oleh tekanan politik luar biasa dari rakyat, tentara, dan entah apalagi yang bermain di situ. Yang jelas ekonomi sudah hancur, politik tidak ada bentuknya lagi, maka Soeharto mengundurkan diri tanpa syarat. Bahkan dia tidak menetapkan penggantinya. 

Tahun setelah itu agak kacau pergantiannya, dan Habibie sebagai wakil presiden yang otomatis menjadi pengganti presiden terlihat agak linglung dan merasa sangat kebetulan sekali dapat warisan kekuasaan yang begitu besar. Namun Tuhan baik dan sejarah menunjukkan bahwa akhirnya Habibie muncul dalam sejarah Republik Indonesia sebagai presiden yang sangat berarti. Ini berbeda dengan masa kerjanya sebagai wakil presiden. 

Setelah berapa tahun dari 1998 sampai 2020, kini kita di tengah-tengah krisis COVID-19. Mungkin juga di ujungnya atau di awal dari masa pasca COVID-19, dan kita ingin tahu bagaimana selanjutnya. Tapi seperti 1998, keadaan sekarang di luar kendali siapapun. Tidak ada yang bisa mengatakan bagaimana politik akan berlangsung. Juga tidak ada yang bisa mengatakan kapan COVID-19 ini akan berakhir. Semua ditentukan oleh virus. Jadi semacam bola liar juga, hanya saja dengan akibat yang sangat besar di luar kekuasaan satu manusia pun.

Pada 1998, reformasi dimulai oleh manusia dan dikelola oleh manusia. Berbagai presiden silih berganti dengan kemajuan dan kemunduran. Entah kita ada di mana sekarang, tapi kalau menurut saya kita lebih banyak majunya daripada mundurnya. Tetapi ini semua akan di-nol-kan. Lapangan permainan ini akan diratakan dan kita akan mulai dari nol kembali setelah COVID-19 ini selesai. 

Selesainya COVID-19 berbeda dengan peristiwa politik karena ini peristiwa biologis, peristiwa yang sampai di tangan tidak kurang daripada ketentuan Tuhan. Jadi kita tidak usah banyak berbuat karena akhirnya kita akan terima solusinya. Banyak bernarasi pun akhirnya COVID-19 dan  pembatasan sosial berskala besar (PSBB) yang kita tahu hanya berakhir kalau anti-virus bisa ditemukan, atau sebaliknya kalau virus itu mati sendiri. Inilah drama yang kita alami pada saat ulang tahun reformasi.

 

Normal yang Baru

Peristiwa lahirnya reformasi itu datang sebagai hasil suatu proses tetapi juga bisa dikatakan kebetulan. Dia membelah jalannya sejarah menjadi bagian pra reformasi dan sesudah reformasi. Segala yang menjadi pegangan pada zaman sebelum reformasi, yaitu zaman Orde Baru, tidak bisa lagi menjadi pegangan sesudahnya. Kenormalan itu hilang dan diganti menjadi the new normal.

Sekarang juga begitu. Kalau orang bertanya, “Pak, kapan kita kembali ke normal lagi?” Karena sering ditanya seperti itu, maka saya mengatakan bahwa itu tidak akan kembali lagi ke normal yang waktu itu, yaitu normal yang kita alami sebelum COVID-19 datang. Kalau pun kita ada, itu normalnya akan menjadi normal yang baru. It will be the new normal. 

Maka coba pikirkan apa yang bisa kembali. Apakah kantor bisa kembali? Bisa ya atau tidak sebab ada yang sudah terlanjur bubar sama sekali kantornya. Ada yang masih utuh badan hukumnya, tapi secara fisik orangnya sudah bercerai-berai atau produknya sudah susah dihasilkan atau dipasarkan. Bisa juga minat orang yang sudah berubah.

Kantor yang biasanya dipakai sebelum PSBB misalnya, sekarang mungkin tidak bisa dipakai lagi karena setelah ini tempat duduknya harus lain, protokolnya harus menyesuaikan. Misalnya, di Italia restoran buka tetapi duduknya harus berjarak antar satu meja ke meja lain sehingga tidak seperti restoran zaman dulu. Kalau pun masih seperti zaman dulu, maka terjadi penularan lagi. Sama saja bohong. 

Ya, bisa saja kembali ke zaman normal lagi. Sepak bola katanya mulai pada tanggal belasan Mei dan satu per satu liga akan aktif kembali. Tapi aktifnya secara aneh barangkali. Secara bertahap. Ada yang bermain tanpa penonton. Ada yang bermain dengan penonton sebagian. Yang jelas tidak akan ada orang yang berkumpul dengan jumlah ratusan ribu orang, baik karena pembatasan atau karena orang akan malas untuk berdesakan lagi karena itu bisa mengundang virus.

Jadi karena virus ini tidak akan hilang dalam waktu singkat, bahkan mungkin dalam beberapa tahun pun tidak akan hilang. Yang hilang itu mungkin proses penularannya menjadi dihambat dan peningkatan jumlah orang yang meninggal tidak sebesar sebelumnya. Tetapi virusnya masih ada dan dia siap untuk memasuki badan orang yang tidak menghormatinya. Yang tidak respect sama virus itu akhirnya akan menjadi korban virus, selain juga orang yang sial.

Jadi kalau orang mau menafsirkan secara spiritual atau religius, bisa jadi memang orang yang menjadi korban virus selanjutnya adalah pilihan Tuhan untuk membuat dunia baru. Karena tidak akan ada normal yang sebelumnya. Tidak akan ada lagi orang pesta tahun baru di jalan, atau berkumpul-kumpul hingga ratusan atau ribuan orang dalam pesta ataupun dalam peristiwa lain. Suasananya itu akan lain.

Mungkin Jakarta akan seperti di kampung atau juga tidak. Saya tidak tahu. Saya tidak bisa bilang akan menjadi bagaimana. Tapi yang saya tahu akan ada the new normal dan kita percuma meramalkan akan seperti apa dari sekarang. Orang yang korupsi juga sudah ditindak sebagian, masuk penjara, lalu di penjara kena COVID-19. Wah kapok betul. Tidak ada lagi semangat untuk mengumpulkan lagi uangnya. Harusnya. Tapi kalau pun belum kapok maka dibuat kapok.

Sangat menganggu bahwa kita tidak tahu masa depan kita itu bagaimana. Tapi memang seharusnya juga begitu. Sebelumya karena kita sok tahu, membuat rekayasa politik, membuat berbagai isu, akhirnya juga tidak ada yang menang karena yang menang itu virus. Adalah alam. Adalah tangan Tuhan.

Tidak semuanya kalah karena ada juga yang menang, misalnya alam hijau atau lingkungan hidup. Lingkungan hidup menjadi semakin hijau karena semakin sedikit orang yang merusak alam. Semakin bersih jadinya. Kalau kita lihat saja dari foto, langit di atas Jakarta sudah bisa biru sekarang. Jadi ada pembatasan karbon yang dilakukan di luar rumus-rumus manapun, di luar program-program manapun. Suatu dunia baru. Jadi yang ada sesudah COVID-19 itu bukan kembali ke normal tapi masuk ke normal baru.

Normal baru itu akan dibentuk oleh survivor dari COVID-19, dan survivor dari COVID-19 ini berbeda dengan survivor politik sebab di sini segala macam keilmuan harus dikeluarkan mulai dari leadership (kepemimpinan), ketrampilan juga harus lebih dari ketrampilan konvensional. Ini bukan hanya yang didapat dari belajar di sekolah tapi justru belajar dari pengalaman.

Jadi kalau kita punya banyak waktu, kita bisa berjam-jam membahas dunia sesudah COVID-19. Dan memang ini akan terus dibahas secara terus-menerus sampai PSBB berhenti. Sampai orang bekerja lagi. Bahkan sampai virus itu tidak kelihatan, walaupun masih ada. Virus Corona akan lama bersama kita, seperti virus influenza, virus SARS. Ada yang dianggap hilang dan ada yang tidak, tetapi tetap ada di situ.

Jadi pada peringatan reformasi tahun ini kita boleh bersyukur bahwa dulu kita diselamatkan oleh reformasi dari kehancuran dunia politik dan ekonomi Indonesia. Tapi kita juga harus waspada bahwa akhirnya yang jadi bisa menyelamatkan adalah diri kita sendiri, kreatifitas kita sendiri, kerja sama kita sendiri, kesehatan politik kita sendiri. Yang menghentikan virus itu barang kali sudah kelihatan yaitu orang-orang pejuang anti COVID-19; perawat, dokter, tentara, dan berbagai organisasi.

Tapi yang membangun dunia baru itu harus baru. Ini sebetulnya kesempatan jika orang mau memberi kesempatan kepada kaum millennial. Ini kesempatannya. Bukannya bikin start up macam-macam kemudian mencari forum untuk proyek, tetapi dunia setelah COVID-19 ini betul-betul adalah reformasi start up yang total. Start up dari nol menjadi satu dunia yang baru.

 

Perkiraan-perkiraan awal

Untuk lebih kongkrit mengakhiri monolog ini kita lihat saja beberapa hal yang perubahannya sudah bisa diperkirakan dari sekarang. Ini maksudnya awal perubahannya, sedangkan akhir perubahannya kita tidak tahu sebab itu tergantung bagaimana prosesnya nanti.

Pertama, contoh paling mudah ialah pesawat terbang. Apakah perjalanan dengan pesawat terbang akan kembali seperti kemarin? Tidak mungkin. Yang sekarang dibicarakan saja bahwa untuk penerbangan internasional diperkirakan perlu waktu check in selama 4 jam. Itu belum kalau sudah sampai dicek kesehatan, nanti disaring lagi yang harus dikarantina akan diproses bagaimana. Keadaannya tidak akan semudah seperti sebelumnya dimana orang suka bangga kalau dia naik pesawat terbang dan mendarat di Singapura dalam setengah jam sudah dari pesawat bisa sampai di taksi. Walah, kalau sekarang untung sekali kalau bisa keluar begitu cepat.

Kemudian juga saat di dalam pesawat terbang orang tidak mungkin lagi disuruh duduk dengan tiga atau empat orang berderet satu barisan. Itu karena terlalu dekat maka bisa langsung berkeliaran virusnya. Apalagi itu di ruangan tertutup yaitu kabin pesawat terbang sehingga peredaran virus itu lebih mudah lagi walaupun diperiksa dulu, disaring dulu. Tidak akan mudah bagi seseorang untuk bisa terbang dan apalagi untuk bisa menikmatinya. Semakin lama dilakukan maka kemungkinan penyebaran virus semakin tinggi.

Kalau dari sini ke Bali orang bisa ketularan dari turis yang dari luar negeri atau yang baru datang dari luar negeri. Tapi bagaimana kalau penerbangannya 14 jam seperti ke San Fransisco atau ke Pantai Timur Amerika atau ke Brazil? Ya, ini bisa terbayangkan dan tidak usaha memperkirakan akan ada virus dari Wuhan atau dari mana sebab virus itu global, demokratis tidak pandang bulu, dan tidak juga pandang harta. 

Bukan garansi lagi uang untuk menghadapi virus. Semuanya tidak berdaya. Kemudian transportasi darat juga mungkin relatif bisa dinormalkan kembali karena sekarang pun orang bisa jalan ke Jawa Tengah dan Jawa Timur pakai mobil sendiri atau pakai bus, pakai kereta api pun masih mungkin. Tapi tidak bisa lagi orang berdesak-desakan di jalan atau dalam kendaraan kecuali dia memang memilih mempertaruhkan nyawanya. Jadi perjalanan travel menjadi sangat riskan dan harus ditempuh dengan kesadaran yang sangat tinggi.

Kemudian universitas. Bagaimana orang banyak berombongan-rombongan di dalam kampus di dalam ruang kuliah yang berkapasitas 100 - 200 orang. Ini susah. Harus dibagi jadwalnya supaya mengurangi penumpukkan orang-orang pada jam-jam tertentu. Acara keagamaan saya tidak mau bahas di sini karena mengenai otoritas untuk acara agama ada yang lebih mampu dan lebih semangat membahasnya. Tapi yang jelas tidak akan seperti kemarin.

Sepak bola paling jelas, memang dalam bulan ini pertandingan sepak bola internasional sudah akan dimulai lagi di Liga Spanyol, Liga Jerman, Liga Inggris. Tapi orang belum sepakat itu bagaimana formatnya. Di dalam stadiun bagaimana? Siapa yang boleh menonton? Tidak mungkin di Senayan nanti diisi 100 ribu orang, atau di Emirates Stadium yang berkapasitas 70 ribu orang tidak bisa juga digunakan maksimal seperti sebelumnya. Itu harus dikurangi. Bagaimana cara menguranginya tanpa huru hara. Ini sangat susah.

Belum lagi bioskop yang sama seperti mengundang virus masuk badan kita. Duduk di dalam ruangan tertutup dengan AC. Duduknya nanti seperti di kursi teater premier. Jadi orang yang biasa duduk di kursi yang berdampingan maka nanti berdampingan juga tapi mungkin jaraknya jauh. Orang jadi lebih semangat lihat di rumah saja melalui Netflix dan streaming.

Marketing tools juga berubah. Marketing tools jelas akan muncul jenis-jenis yang baru sebab kita sudah mulai tahap pertamanya kemarin dengan delivery service dan pesan melalui internet. Jadi pergi berbelanja ke toko atau departement store untuk rekreasi bagus, tapi untuk beli barang akan  berisiko karena akan ketemu orang banyak.

Jika rekreasinya adalah bertemu orang-orang, maka itu rekreasi yang mengundang penyakit dan maut. Juga harus berpikir 10  kali kalau ingin melakukannya. Tidak usah deh ke tempat disko, pesta, atau ke mana. Kalau mau rekreasi maka ke gunung dan ke pantai dan tidak bergerombol dengan tetap berjauhan.

Dunia akan berubah kita tidak akan kembali kepada yang kemarin tapi kita akan mencari normal tapi normalnya itu adalah The New Normal. Kalau Reformasi 1998 menyangkut politik, hukum, ekonomi, maka reformasi berserta COVID-19 ini akan menyangkut seluruh gaya hidup. Jadi akan ada reformasi gaya hidup disesuaikan dengan kemampuan atau dengan kelayakan kesehatan. Tidak bisa lagi orang beraktifitas yang membahayakan kesehatan. Reformasi ini lebih mendasar, lebih vital, dan lebih penting.