Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Bersiap-siap Keluar COVID-19

Edisi 1257 | 01 Mei 2020 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Selama pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing untuk mengatasi pandemi global virus Corona atau COVID-19, program Perspektif Baru tidak mengadakan wawancara. Program Perpektif Baru menyampaikan paparan Pakar Komunikasi Hijau (Green Communications Specialist) yaitu Wimar Witoelar, yang juga pernah menjabat sebagai Juru Bicara Presiden semasa pemerintah K.H. Abdurrahman Wahid.

Wimar Witoelar berbagi beragam kilasan pikirannya mengenai perkembangan terbaru bagaimana dunia menghadapi virus Corona. Kini berbagai negara termasuk Norwegia, Spanyol, Swiss dan Amerika Serikat mulai bersiap-siap keluar dari pandemi COVID-19. Ini dilakukan terutama dengan menghidupkan kembali ekonomi masyarakat. Tidak semua negara punya sudut pandang yang sama. Amerika Serikat melakukannya dengan cara Donald Trump yang seperti berjudi yaitu mengambil resiko besar untuk menaikkan peluangnya menang pemilihan presiden Amerika Serikat di bulan November. 

Negara-negara lain melakukannya dengan kehatian-hatian seperti Norwegia yang mulai membuka sekolah-sekolah namun tetap mengijinkan dan memerintahkan warga yang beresiko tinggi tetap di rumah. Indonesia bisa mengambil pelajaran dari berbagai negara tersebut karena di Indonesia sendiri pengalaman dan data mengenai penanggulangan COVID-19 masih lebih sedikit. Keluar dari pandemi merupakan perubahan yang harus dilakukan secara hati-hati dan bertahap. Untuk bisa melakukannya dengan baik maka perlu pengelolaan data yang lengkap dan dilakukan terpusat oleh pemerintah baik tingkat pusat maupun daerah.

Berikut pemaparan Wimar Witoelar.

Kita akan bicara sekarang satu topik yang sangat menarik. Beberapa negara dunia dalam minggu ini mulai melakukan langkah-langkah pertama ke arah normalisasi pasca COVID-19. Mereka berkesimpulan bahwa memang tren COVID-19 itu sekarang ke arah perbaikan begitu sudah mencapai puncaknya. Dan gara-gara itu mereka sudah mulai dengan tahap-tahap mendekati itu. 

 

Kita tidak tahu apakah itu bijak atau tidak tapi kenyataannya demikian. Ada juga tentunya kebijaksanaan pemerintah atau pemimpinnya seperti Donald Trump yang memang bersemangat melakukan langkah pendahuluan karena ingin mempercepat munculnya lagi kegiatan ekonomi. Bagi pemimpin macam itu kegiatan ekonomi yang lebih penting daripada keamanan jiwa manusia calon potensial korban COVID-19.

 

Karena ini punya arti politik yang sangat dekat bagi orang semacam Trump. Kalau dia bisa menyulap bangkitnya ekonomi dari bencana COVID-19 ini maka kemungkinan dia masih bisa menang dalam pemilihan presiden Amerika Serikat bulan November. Ini agak meningkat. Kalau sekarang hasilnya boleh dibilang nol atau negatif karena mula-mula nol karena tidak bereaksi terhadap krisis COVID-19. Dan negatif dari reaksinya yang selalu salah. Kebaikannya selalu diarahkan pada kepentingan dirinya, untuk kepentingan politik dirinya. 

 

Jadi kalau seorang penjudi seperti Trump dalam bisnis pun sering usahanya bangkrut yang nanti kebangkrutannya diceritakan seolah diatasi oleh pukulan-pukulan bisnis yang agresif. Pada saat ini memang posisi Trump secara politis itu melemah. Ia sempat menguat beberapa poin menurut angket-angket yang umum pada waktu setelah program menghadapi COVID-19 yang dimulai karena ya orang senang aja ada pemimpin yang berbuat sesuatu dan kelihatannya agresif. 

 

Tapi ketika terbukti bahwa tindakan-tindakan seperti Trump itu tidak ada hasilnya atau diragukan hasilnya, diragukan atas dasar ilmiah, maka dia turun lagi. Jadi dia sekarang harus ambil pukulan yang lebih besar. Seperti main poker kalau sudah kalah ya teruskan saja dengan langkah yang lebih berani, dihabiskan saja. Kemungkinan peluang dia itu dipertaruhkan untuk mencari keuntungan yang lebih besar. Tapi itu Trump.

 

Kalau di seluruh dunia, negara-negara yang lain memang punya dasar untuk memulai kegiatan- kegiatan mempersiapkan exit dari COVID-19. Mereka antara lain negara-negara Eropa yang kita bisa sebut sekarang ini yaitu Spanyol, Jerman, Austria, Denmark, Republik Ceko dan Norwegia. Jadi mereka mulai memodifikasi pembatasan sosial berskala besar (PSBB)-nya masing-masing atau kebijaksanaan restriksinya dengan hal-hal yang dianggap aman. Misalnya Spanyol mengurangi keharusan memakai masker kecuali kalau naik kendaraan umum. Kalau di Republik Ceko misalnya masker tetap wajib dan travel mulai diijinkan untuk perjalanan yang penting. Norwegia membuka dengan aturan baru bagi sekolah dan sektor jasa sementara anak-anak dengan anggota keluarga yang beresiko tinggi tetap harus tinggal di rumah. 

 

Pro dan Kontra Pengurangan Restriksi 

 

Banyak yang menyambut dikuranginya restriksi pandemi dengan memungkinkan kebebasan bergerak dan bekerja yang lebih baik. Tetapi ada juga yang khawatir bahwa upaya untuk mengurangi penularan penyakit dapat bangkit kembali jika restriksi tersebut dicabut. Kalau di Amerika Serikat masalahnya ini menjadi tajam karena terdapat dua pilihan yaitu antara membangkitkan kehidupan ekonomi dan menjaga kesehatan. Jika ekonomi ingin cepat tumbuh,  masyarakat diijinkan saja untuk bergerak secara bebas, tetapi resiko penularan penyakit akan semakin besar pula.

 

Pada umumnya masyarakat menginginkan keamanan dijaga dahulu. Jadi lebih baik kesehatan diamankan baru nanti kita lihat ekonominya barangkali bisa bangkit. Jika dilihat dari sudut pandangan para pemimpin, mungkin perhitungannya lebih langsung karena banyak yang dirugikan secara ekonomi seperti bagi pegawai yang tidak memiliki sumber penghasilan. Banyak pabrik yang juga mengalami kerugian besar walaupun dimiliki oleh golongan modal besar. Namun mereka rela mengambil pengorbanan untuk kesehatan masyarakat demi hidupnya lagi usaha mereka. Dibukanya kembali hotel, restoran, dan pabrik mereka dan sebagainya menjadi masalah politik.

 

Jika melihat Amerika Serikat, seperti biasa Presiden Trump itu berada di pihak industrialis dan perusahaan besar. Sehingga dia mencari alasan atau mencari pembenaran untuk mengambil resiko atas kesehatan. Hal itu ditentang oleh banyak orang, banyak warga, banyak orang politik, bahkan juga oleh pemimpin pada tingkat gubernur dan walikota. Jadinya runyam.

 

Tetapi Trump tetap memaksakan relaksasi atas restriksi itu pada awal minggu ini dan di awal bulan Mei sehingga hal ini akan mengarah pada satu showdown. Akan kelihatan nanti siapa yang berhasil. Apakah kepentingan kesehatan, kepentingan rumah sakit, atau kepentingan produksi dan distribusi barang. Kita lihat saja.

 

Di Indonesia pilihannya itu berbeda karena di sini tidak ada politikus yang terang-terangan berada di pihak industri atau pihak perusahaan. Walaupun secara diam-diam tentu kita tahu motifnya kesitu. Secara terbuka pada umumnya mereka mengambil sikap atau citra bahwa mereka itu pro kesehatan umum, sehingga pertikaian perbedaan pendapat dilaksanakan secara lebih diam-diam.

 

Di Amerika Serikat, terlihat sekali bahwa tantangan terhadap dikuranginya restriksi itu adalah jaminan akan rumah sakit, tenaga medis dan peralatan untuk mengatasi jika ada tekanan terhadap kesehatan. Di Indonesia hal itu tidak dinyatakan secara terbuka, lagi pula alat-alat nya memang kurang jadi bagaimanapun selalu kurang.

 

Jadi ini bukan merupakan debat politik yang transparan, juga tidak ada data yang transparan sehingga antara Amerika dan Indonesia tidak bisa disamakan. Hal yang bisa disamakan adalah pengertian publik mengenai pilihan antara munculnya kembali kekuatan ekonomi dan dibukanya pintu-pintu untuk mencari nafkah, untuk mencari kerjaan dan bagaimana pengaruhnya terhadap tingkat kasus COVID-19 yang muncul dan bahkan tingkat kematian yang timbul.

 

Menghidupkan ekonomi

 

Menghidupkan kembali satu sistem perekonomian itu tidak semudah istilahnya membalikkan telapak tangan atau tidak seperti menghidupkan lampu. Bukan tekan satu tombol atau saklar itu tetapi ada proses berurut-urut sehingga pelan-pelan kehidupan ekonomi nya mulai bangkit.

 

Mungkin bisa disamakan dengan terbitnya matahari, tidak langsung keluar tapi mulai dengan gelap menjadi sedikit terang, dari sinar-sinar yang mengintip dari belakang pohon-pohon dan sebagainya sehingga menjadi puitis ceritanya. Yang namanya proses bangkitnya ekonomi itu berkala. Kalau orang mau mengembangkan ekonomi saja maka itu susah, banyak segi-seginya. Apalagi ini menghidupkan ekonomi dari mati jadi hidup kembali.

 

Para karyawannya harus dikerahkan dan kebanyakan tentu senang dapat banyak kerjaan. Tapi ada juga orang yang tadinya kerja di pabrik atau perusahaan, tadinya mendapat istirahat lalu sekarang harus kerja lagi dan rutin. Mereka sudah sebulan lebih mereka melakukan Work from Home dan sebagainyanya dan sekarang mereka harus berubah lagi rutinnya.

 

Kemudian juga resiko yang penting itu apakah tidak akan datang lagi wabah COVID-19? Di sini masalahnya adalah harus ada data yang jelas di mana hotspot itu ada atau di mana penderita COVID-19 itu berada, dan di mana sekarang COVID-19 sudah hilang apakah nanti bangkit kembali, dan data itu harus diikuti terus secara sentral dari pemerintah daerah dan pusat. Ini untuk tahu apakah keadaan sedang gawat atau ketika keadaan kembali berbahaya lagi, apakah kegiatan masyarakat harus distop lagi atau terus saja.

 

Di situ banyak sekali keputusan yang harus diambil dan data diperlukan sebagai perangkat lunaknya. Ini belum membicarakan perangkat kerasnya. Kita harus punya cukup alat swab test, alat pengukur suhu tubuh, kemudian ventilator untuk orang yang sakit. Harus ada tenaga medis dan tenaga dokter. 

 

Apakah bisa membangkitkan ekonomi sambil memelihara sistem kedokterannya? Akan menjadi tantangan besar bagi kita indonesia ini kalau memang harus terjadi penghidupan ekonomi itu sebelum semuanya aman. Dan menunggu semuanya aman tentu tidak bisa karena terlalu lama dan juga tidak adaa jaminan kapan semua aman karena virus itu tidak kasih tahu kapan dia mau datang atau tidak. Harus diambil data saja dan diambil perkiraan apakah wabah itu akan terjangkit kembali.

 

Kemudian juga selama sebulan mungkin di beberapa tempat, kurang lebih ada perubahaan pada prilaku disiplin orang seperti di jalanan dan di toko-toko. Apakah waktu kembali orang akan mudah kembali pada cara lama ataukah jadi kacau. Orang yang tadinya naik kendaraan umum dibatasi kapasitasnya sampai sekian persen. Lalu apakah nantinyaakan menjadi seratus persen atau membludak lagi. Kalau iya maka itu menjadi  masalah baru. Jalan yang tadinya lengan menjadi macet lagi.

 

Jadi menghidupkan kembali ekonomi masyarakat itu sama bahayanya dengan mengundang penyakit masuk. Itu yang orang harus ingat pada waktu membahas membangkitkan perekonomian. Bisa tentu kita belajar juga dari negara lain. Di negara yang disebut tadi seperti di Denmark, Austria, Swiss, apakah aman dan tidak ada draman-drama waktu restriksi itu dicabut? 

 

Lebih dekat lagi keadaannya adalah di Amerika. Di Amerika banyak contohnya karena setiap negara bagian itu akan punya riwayat yang berbeda. Di mana itu berhasil dan apa faktor suksesnya? Indonesia beruntung punya data meskipun data orang lain sedangkan data sendiri tidak punya dan pengalaman sendiri terbatas.

 

Indonesia sudah cukup mengalami tragedi tetapi secara kuantitatif dibandingkan tragedi-tragedi di negara-negara Eropa dan China itu bukan apa-apa. Kalau Indonesia itu korbannya ratusan kalau Amerika itu sudah belasan ribu atau puluhan ribu. Tapi kita harus mau belajar dari pengalaman orang lain. Belum tentu juga orang bisa belajar dari penglaman orang lain, bahkan ada orang yang sampai sekarang pun tidak sadar bahwa COVID-19 itu adalah bahaya yang bisa dikelola, bisa dikurangi resikonya.

 

Ini harus menjadi studi sehingga kalau sebelumnya datangnya bencana pandemi itu mendadak dan membuat orang kelabakan, menderita dan meninggal, sekarang juga tetap kelabakan tapi kelabakan untuk mencegah munculnya hal-hal tadi: orang meninggal dan orang sakit. Tapi kalau ingin hidup dan juga ekonominya bangkit maka itu sangat susah.

 

Belum lagi ada fixed asset yang harus dibiayai untuk dihidupkan kembali. Misalnya kalau hotel pernah ditutup maka untuk membuka itu ada investasi, untuk perbaikan gedung, untuk mendatangkan tenaga kerja, dan banyak sekali hal-hal yang tidak boleh terlewat dan detail yang harus diatasi untuk mempersiapkan suatu transisi. Ingat apa yang orang katakan bahwa jalan turun bukit bencana COVID-19 licin, orang mudah tergelincir dan orang bisa jatuh kalau tidak hati-hati merencakan jalannya dan juga melaksanakan turunannya. Terima kasih