Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Dunia Setelah COVID-19

Edisi 1255 | 29 Apr 2020 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Selama pemerintah mengeluarkan kebijakan social distancing untuk mengatasi pandemi global virus Corona atau COVID-19, program Perspektif Baru tidak mengadakan wawancara. Program Perpektif Baru menyampaikan paparan Pakar Komunikasi Hijau (Green Communications Specialist) yaitu Wimar Witoelar, yang juga pernah menjabat sebagai Juru Bicara Presiden semasa pemerintah K.H. Abdurrahman Wahid.

 Wimar mengatakan kita akan melalui COVID-19 ini seperti kita melalui suatu portal, suatu pintu gerbang dari kegelapan ke arah mudah-mudahan pencerahan dan mudah-mudahan energi yang baru. Kita berharap bahwa setelah pademi berlalu maka semangat orang akan kembali bangkit lagi, bahkan kalau bisa melebihi semangat semula. Namun yang lebih fundamental dari itu adalah bagaimana kemudian portal COVID-19 itu mempengaruhi perubahan sosial.

 

Dalam tatanan sosial dunia, Pemilihan Umum (Pemilu) Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu penentu. Menurut Wimar, Pemilu AS akan berlangsung pada November, kita tidak tahu apakah Covid-19 masih menjadi ancaman pada saat itu. Namun andaikata Trump tidak menang, maka untungya barangkali AS akan kembali memegang peran untuk mempertahakan demokrasi, hak asasi, dan sebagainya. Namun jika Trump kembali memenangkan pemilihan, dunia ini bisa jadi betul-betul kacau, hancur, tidak punya pegangan dan dapat menimbulkan krisis berkepanjangan yang mungkin lebih parah dari pandemi COVID-19. Itu karena kesehatan masyarakat tidak bisa dirawat atas dasar nilai egois dan nilai-nilai anti demokrasi. Kita lihat saja nanti, semoga yang terburuk tidak terjadi.

Berikut pemaparan Wimar Witoelar.

Portal COVID-19

 

Sekarang kita bicara satu topik yang sangat menarik. Suatu saat COVID-19 akan berlalu. Entah berapa lama, pasti tidak sebentar dan juga susah untuk mencapai titik yang tuntas. Tapi lama-lama pandemi covid 19 seperti halnya pademi yang lain juga akan selesai. 

 

Pengaruhnya akan sangat besar. Kita lihat saja nanti karena dia merombak segala macam sendi kehidupan mulai dari kebiasaan sehari-hari sampai kepada jadwal kegiatan. Lihat saja kota-kota sepi sekarang, lalu lintas antar kota praktis berhenti, dan untuk pertama kalinya Indonesia, Pulau Jawa, tidak mengalami mudik seperti biasanya. Toko-toko juga banyak yang sepi. Pegawai banyak yang tidak kerja dan ekonomi kita berhenti selama pademi berlangsung. Satu saat itu semua akan berhenti dan berangsur-angsur akan kembali ke normal.

 

Tapi kita tahu bahwa normal yang baru ini akan beda dari pada keadaan yang selama ini telah kita alami. Jadi kita akan melalui COVID-19 ini seperti kita melalui suatu portal, suatu pintu gerbang dari kegelapan ke arah mudah-mudahan pencerahan dan mudah-mudahan energi yang baru. Kita berharap bahwa setelah pademi berlalu maka semangat orang akan kembali bangkit lagi, bahkan kalau bisa melebihi semangat semula. Pertandingan olah raga yang dihentikan, turnamen-turnamen olah raga yang diberhentikan, nanti akan dimulai lagi dan orang akan terangsang untuk mencari prestasi-prestasi baru. 

 

Setelah COVID-19 berlalu kita ingin tahu apa saja yang akan berubah dan bagaimana perubahan itu akan bisa dimanfaatkan. Marilah kita sama-sama melihat secara sedikit lebih detail apa yang berubah setelah COVID-19 berlalu.

 

 

Setelah COVID-19 Berlalu

 

Hal pertama yang akan diperhatikan setelah COVID-19 berlalu adalah pulihnya kembali kehidupan perekonomian. Orang akan kembali berdagang, toko akan buka seperti biasa, masyararakat akan kembali beraktifitas, mall kembali ramai, dan sebagainya.

 

Selain itu, catatan harga juga akan muncul dengan harga-harga baru. Kita tidak tahu bagaimana harga baru itu terpengaruh oleh krisis COVID-19, tapi yang pasti adalah bahwa memang terpengaruh. Itu karena walaupun banyak orang yang mengatur langkah secara kemanusiaan dalam kehidupan perdagangan, tetapi orang orang yang serakah akan mengakibatkan dampak buruk yang lebih besar daripada itikad baik yang ada.

 

Kita ingin tahu bagaimana harga-harga baru itu setelah kehidupan kembali berjalan normal. Apakah akan tetap dalam daya jangkau masyarakat, atau justru sebaliknya ketika daya jangkau itu barangkali sudah berubah karena gaji yang tidak keluar, perdagangan kecil tidak terjadi, dan lain-lain. Dapat dikatakan bahwa sistem untuk memutarkan uang itu masih kaku.

 

Begitu COVID-19 berlalu yang ingin kita lihat apakah perekonomian langsung bisa hidup kembali seperti mobil yang normal atau harus didorong-dorong seperti mobil yang mogok. Dalam jangka panjangnya bagaimana harga barang di daerah, harga barang impor dan penghasilan ekspor mempengaruhi kehidupan ekonomi negara dalam arti yang luas.

 

Kita perhatikan juga negara-negara lain dalam menghadapi krisis pandemi ini. Seperti mesin yang tadinya sudah rapih kemudian dihentikan, menjadikan makin banyaknya unsur-unsur yang terganggu seperti pasar saham di kota-kota besar yang nilai nya menjadi di luar perhitungan normal. Kemudian juga komoditi strategis yang juga mulai dipermainkan lagi oleh kepentingan politik internasional.

 

Rakyat kecil tinggal melihat hasilnya saja. Bagaimanakah dampak akhir pada pendapatan atau penghasilan serta daya beli rakyat kecil. Dalam hal ini, pemerintah bisa ikut berperan dengan menerapkan subsidi melalui penghapusan beberapa biaya seperti pajak. Namun hal ini juga tidak begitu memperkuat kemampuan pemerintah untuk intervensi.

 

Jika pemerintah Amerika Serikat (AS) dapat mengeluarkan dana Rp 2,2 triliun untuk paket krisis COVID-19, berapakah angka yang dapat dikeluarkan pemerintah Indonesia? Selain kemampuan yang lebih kecil, keputusan politik yang diambil itu besar dan akan mempengaruhi kestablian politik sesudah COVID-19 di samping biaya-biaya yang dikeluarkan pemerintah. Biaya pengobatan, biaya rumah sakit, dan biaya lain sisa sisa COVID-19 yang pasti akan sangat panjang akibatnya dan sangat besar jumlahnya. Tetapi yang lebih fundamental dari itu adalah bagaimana kemudian portal COVID-19 itu mempengaruhi perubahan sosial.

 

Perang Dunia I mengakibatkan perubahan besar baik posiif maupun negatif. Perang Dunia II yang kita ingat lebih dekat juga melahirkan perubahan yang sangat besar dalam tatanan internasional seperti munculnya PBB. Pada tatanan eknomi dunia munculnya perjanjian Bretton Woods dan sistem pasar modal. Selain itu dalam pengertian sosial, munculnya sosialisme yang lebih dewasa setelah Perang Dunia II adalah akibat excess daripada penyalahgunaan istilah sosialisme dan perlawanan melawan sosialisme yang lari kepada ekstrim kanan seperti fasisme.

 

Di masa sekarang sebelum krisis COVID-19, kita sudah melihat sistem nilai dunia yang agak berantakan dari segi ekonomi, sosialisme, dan sistem perdagangan. Muncul perang dagang antara AS dan China yang pada akhirnya tidak memperkuat sistem perdagangan bebas. Presiden AS Donald Trump justru menjadi orang yang bersikap anti pasar bebas dan menyatakan politik Make America Great Again mejadi egois dan bersikap anti sosial terhadap imigran dan terhadap negara Eropa. Itu semua terjadi sebelum pandemi COVID-19.

 

Setelah COVID-19 berlalu, kita juga masih ingin melihat bagaimana akibat yang akan terjadi sebab saat ini masih jauh dari selesai. Hal ini terjadi karena AS misalnya tidak menjalankan peran yang diharapkan seperti dulu dalam menyeimbangkan tatanan sosial dunia. AS bukan menjadi pembela korban pandemi secara instinctive dan bukan lagi menjadi pembela orang miskin, tetapi menjadi negara pencari untung, paling tidak dari segi presidennya.

 

Pemilihan Umum (Pemilu) AS akan berlangsung pada November, kita tidak tahu apakah Covid-19 masih menjadi ancaman pada saat itu. Namun andaikata Trump tidak menang, maka untungya barangkali AS akan kembali memegang peran untuk mempertahakan demokrasi, hak asasi, dan sebagainya. Namun jika Trump kembali memenangkan pemilihan, dunia ini bisa jadi betul-betul kacau, hancur, tidak punya pegangan dan dapat menimbulkan krisis berkepanjangan yang mungkin lebih parah dari pandemi COVID-19. Itu karena kesehatan masyarakat tidak bisa dirawat atas dasar nilai egois dan nilai-nilai anti demokrasi. Kita lihat saja nanti, semoga yang terburuk tidak terjadi.

 

 

Pilpres AS dan COVID-19

 

Dari padangan yang sifatnyanya umum ada beberapa hal yang bisa diajukan tidak menurut urutan pentingnya tapi berupa pikiran-pikiran lepas yang sangat bersifat kontekstual. Pertama, kalau kita lihat perkembangan COVID-19 di AS menarik karena ada briefing setiap hari dan dilakukan oleh presiden dengan dilatarbelakangi ahli-ahli. 

 

Kita lihat yang ahli itu bukan presiden. Presidennya. selain dia sering salah, juga sering memanfaatkan kesempatan itu untuk melampiaskan perasaan kebenciannya terhadap ilmuwan yang tidak sependapat dan politikus yang dicurigai punya kepentingan lain. Jadi penonton malah bisa melihatnya sebagai hiburan dimana Trump dipertontonkan dengan gayanya yang memalukan.

 

Selain itu, di New York yang berkembang sekarang adalah Gubernur New York merupakan orang yang sangat tegar, selalu bicara berdasarkan fakta, dan melakukan briefing tapi itu sangat bisa didengar karena jarang ada kesalahan. Jadi orang yang rasional lebih senang melihat briefing Gubernur Andrew Cuomo dari pada briefing Trump. Briefing Trump lebih dianggap sebagai hiburan politik karena memang tidak ada nilainya.

 

Secara teknis dan tidak perlu dijadikan contoh tapi catatan saja bahwa AS kacau dari segi kebijaksanaan presidennya. Kalau presidennya ditanya apa strateginya untuk mengatasi krisis COVID-19 jawabannya tidak keluar-keluar. Dia terbawa emosinya dalam menyerang para pesaingnya dan orang yang dia tidak suka, atau kalau tidak ada lagi yang bisa disalahkan maka dia larinya kepada menyalahkan pemerintahan Obama. Padahal dia menjadi presiden hampir 4 tahun.

 

Jadi lucu, ada satu kalimatnya yang akan dikutip selanjutnya sewaktu ditanya apakah Trump tidak merasa bertanggung jawab bahwa ada kekurangan-kekurangan seperti persedian rumah sakit kurang dan sebagainya, ia menjawab, Ya saya kesel juga, tentara kita pelurunya kurang gara-gara Obama. Ditanyakan lebih lanjut oleh wartawan, jadi apa Anda tidak merasa tanggung jawab? Ia menjawab, I dont feel responsible for anything. Jadi dia mengatakan saya tidak merasa bertanggung jawab untuk apa pun karena dia mengganggap dirinya benar dan orang lain salah.

 

Ini menjadi catatan yang lucu tapi bisa jadi tragis kalau Pilpres tahun ini tidak menghasilkan presiden yang lebih baik. Jadi kita wajib melihat bagaimana hasil Pemilu ini karena kalau Trump tidak diganti maka dunia kehilangan kepemimpinan. Negara yang selama ini kalaupun jelek atau buruk namun selalu punya konsestensi dalam memperjuangankan sesuatu.

 

Modal Trump sudah hampir habis tinggal dukungan saja yang masih kuat di kalangan orang-orang yang memang hidup mati untuk dia. Kalau hasil poling, dia tidak pernah turun di bawah 48%. Itu karena yang 48% itu orang-orang yang merasa tidak punya tempat di kalangan masyarakat yang cerdas. Itu menarik.

 

Mudah-mudahan Indonesia tidak akan begitu dan saya rasa tidak. Kita punya trend sekarang bahwa orang-orang bodoh itu mulai mencari pegangan yang lebih cerdas dan orang-orang yang tadinya main politik sekarang kurang main pollitik. Mungkin karena belum tahu mau ikut politik mana.

 

Jadi Indonesia dalam hal itu jauh lebih bagus dari pada AS dibawah Donald Trump. Kita perhatikan kalau kita kembali pada portal, pengertian portal pasca COVID-19 harus dilalui dengan pembaharuan nilai dan pembaharuan etika. Pemerintahan AS mulai dari federal, sampai negara bagian, sampai kota, di dunia politik AS pada tingkat di bawah federal itu banyak sekali kekuatannya baik sistemnya maupun orangnya.

 

Kalau Pemilu nanti. akhirnya entah bagaimana, akan berputar menjadi Andrew Cuomo melawan Donald Trump misalnya karena Konvensi Demokrat memang belum selesai. Saya suka Mario Cuomo karena memang Andrew Cuomo itu anak dari Gubernur Mario Cuomo dari New York juga yang sangat kuat, sangat terkenal, dan hampir menjadi presiden.

 

Saya kira di kalangan kandidat presiden dari Partai Demokrat Andrew Cuomo sekarang sangat menarik untuk seluruh dunia. Itu karena seluruh dunia untung dan rugi berdasarkan kekonyolan Trump itu. Kalau kita lihat lebih lanjut, hal-hal yang spesifik seperti itu banyak.

 

Mengapa banyak referensi kepada AS karena sekarang AS di ujung tanduk, banyak membuat kesalahan, dan dia juga yang akan mempengaruhi pasaran dunia, pasaran penyediaan rumah sakit, dan pasaran kepercayaan kepada virus. COVID-19 baru akan selesai kalau sudah ditemukan anti virus yang memang layak, bukan yang didukung sementara pihak tapi yang layak teruji diuji oleh FBI, diterima oleh CDC, dan melindungi keamanan warga negara. Di samping hal-hal lain maka itu yang akan menjamin keamanan zaman pasca virus. Terima kasih.