Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Makarim Wibisono

Kondisi Global Saat ini

Edisi 1243 | 10 Feb 2020 | Cetak Artikel Ini

 

Hari ini kita membicarakan hal yang sangat penting mengenai hubungan politik Amerika Serikat terhadap negara-negara lainnya di dunia di tengah panasnya kondisi perpolitikan global saat ini. Kita membicarakan topik ini dengan Makarim Wibisono, seorang diplomat senior yang aktif mengikuti perkembangan di AS dan luar finger.

Menurut Makarim Wibisono, Donald Trump memandang dunia ini tidak lagi di dalam perspektif liberalisme tapi mulai melihat dunia ini dalam perspektif, mungkin bisa disebut Neo-Merkantilisme. Dalam arti kata bahwa dia mementingkan kekuatan daripada AS sendiri. Jadi ini yang dia tekankan karena pada waktu Trump tampil, dia berkata bahwa ingin menarik diri dari semua engagement yang dilakukan di Afghanistan, Iran, Jepang, dan Eropa. Dia mengatakan bahwa ini adalah beban mereka, tapi AS mau untuk ikut serta membantu tapi biayanya harus ditanggung oleh mereka. 

Makarim mengatakan, langkah-langkah yang dilakukan oleh Donald Trump seakan-akan sifatnya spontanius, seakan-akan tim yang ada di belakang Trump, yang dulu pada zaman Presiden Obama dan Presiden Clinton dimanfaatkan sebagai backup sistemnya, sama sekali tidak konsolidasi dengan sistemnya. Karena itu banyak yang benar-benar tidak tahu, bahkan itu orang AS sendiri yang ada dalam pemerintahan.

Jadi boleh dikatakan bahwa Trump hanya bermain sendiri dan nanti kalau ada akibat dari permainannya itu, mulailah mereka menimbulkan semacam Scape-goating. Mereka mencari-cari siapa yang bisa disalahkan, sehingga dengan demikian juga banyak pihak-pihak yang mendoakan supaya proses impeachment ini bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat buat bangsa Amerika.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan narasumber Wimar Witoelar dan sebagai pewawancara Makarim Wibisono

 

@@START_COMMENTEndFragment@@END_COMMENT
@@START_COMMENTEndFragment@@END_COMMENT
@@START_COMMENTEndFragment@@END_COMMENT

 

Ketua Kongres Amerika Serikat (AS) Nancy Pelosi sudah mengajukan dua tuntutan impeachment kepada Senat. Kini Senat sudah mulai mengabsen senator-senatornya untuk diambil sumpah dan kira-kira setelah akhir minggu ini akan dimulai. Masih banyak persoalan yang belum selesai yaitu bagaimana aturan mainnya, apakah bisa ada saksi, bisa ada data, karena masing-masing belum mau mengeluarkan taktik dan strateginya. Tapi excitement atau kegairahan orang sudah terasa.

Ini berarti ada sesuatu karena bagaimanapun ini impeachment yang ke-3 atau ke-4 yang pernah dilakukan AS, dan juga rasanya Presiden Trump memang sudah lama pantas di-impeach tapi dia kuat sekali dan banyak pendukungnya. 

Menurut Anda sebagai orang ahli luar negeri, apakah untuk Indonesia akan ada implikasinya dari menang atau kalahnya Trump atau ini hanya suatu berita saja?

 

Mungkin saya termasuk juga yang lama tinggal di Amerika Serikat (AS) mengikuti berbagai pemilihan presiden di sana, sehingga saya bisa memberikan kesan pribadi terhadap masalah ini. Kalau saya perhatikan proses mengenai kebijakan-kebijakan yang disampaikan oleh Donald Trump adalah kebijakan-kebijakan yang tidak di dalam satu ikatan komprehensif antara satu dan dua atau tiga yang saling terkait. 

 

Jadi dia muncul sendiri-sendiri sesuai dengan situasi dan kondisi yang menurut dia bisa dimainkan untuk kepentingan opini publik. Dulu dia juga pernah menjadi pembicara di dalam acara televisi, Trump juga mengetahui mengenai masalah-masalah relasi publik dengan baik. Tetapi kalau Presiden Donald Trump di dalam proses impeachment tadi pada akhirnya kemudian kalah atau mengalami seperti Richard Nixon, maka akan terjadi proses dimana wakil presiden akan menggantikan dia.

 

Tadi Anda mengatakan kalau sampai terjadi impeachment maka wakil presiden mungkin akan pegang peranan. Apakah wakil presiden akan dianggap ikut bertanggung jawab atau terpisah, seperti Habibie terpisah dari Soeharto karena sebelumnya ada yang mengira Habibie akan ikut turun bersama. Bagaimana di AS?

 

Kalau melihat rekam jejak yang ada di belakang, maka biasanya yang menggantikan adalah wakil presiden. Seperti diketahui posisi wakil presiden di AS jelas. Selama ada presiden maka dia adalah cadangan. Jadi dia tidak termasuk satu pengambil keputusan yang betul-betul berperan di dalam perumusan kebijakan di AS. Karena itu yang accountable adalah yang the number one’.

 

Kita bisa memperkirakan bahwa kalau nanti terjadi bahwa Donald Trump menjadi korban dari proses impeachment maka wakil presiden akan naik. Tetapi ini tidak akan berlangsung lama karena masa pemerintahan Presiden Trump akan selesai dalam waktu singkat pada November 2020. Jadi proses yang akan dialami oleh wakil presiden sebagai presiden baru juga tidak akan lama karena akan segera harus ikut pemilihan umum baru yang harus dilakukan pada tahun ini

 

Apakah sebetulnya lebih baik Trump atau lebih baik wakil presidennya yang memegang kendali AS, walaupun wakil presidennya tidak seimpulsif Trump?

 

Seperti diketahui bahwa dunia bisa berjalan dengan stabil atau equilibrium tercapai kalau ada kekuatan yang mengawalnya, atau hegemoni yang mengawalnya.  Bila kita perhatikan, AS adalah hegemoni yang mengalami sistem-sistem internasional sejak perang dunia kedua. Kalau saja nanti wakil presiden yang kemudian memegang kendali AS, orang masih mengharapkan bahwa AS tetap akan menjadi hegemoni yang bisa mengawal sistem internasional agar bisa berjalan dengan baik. Meskipun demikian mereka juga memperkirakan bahwa China dan kekuatan lain akan ikut berperan, apa yang disebut multi-polar system yang akan bisa bermain bersama-sama.

 

Kalau kita perhatikan dengan seksama, sejak 1980-an ciri-ciri sebagai negara hegemoni sudah mulai rontok dari AS. Makanya banyak sekali konsep-konsep yang kemudian sudah mulai tidak lagi menonjolkan AS sebagai satu-satunya negara superpower yang semestinya dengan tidak ada lagi Uni Soviet. Orang berkata AS yang akan menjadi satu-satunya negara superpower. Dia menjadi salah satu pola, yang namanya masih kita ingat pada 1990, bahwa sudah ada bipolar dan akan mengarah kepada unipolar. Unipolar adalah Americanism itu.

 

 

Dulu saya masih ingat sewaktu mendengar Presiden George Bush senior berpidato setelah jatuhnya Uni Soviet. Dia mengatakan bahwa jangan mengharapkan AS akan menjadi seperti British di dalam waktu Pax Britannica. Tapi AS menekankan pada apa yang disebut universalisme. Jadi bagaimana prinsip-prinsip universal yang bisa menggaet bangsa-bangsa untuk bertingkah laku yang membawa manfaat bagi kelangsungan hidup manusia.

 

Sejak setelah Trump naik, universalisme juga tidak kelihatan, kemudian hegemoni yang dibangun dengan NATO atau dengan Asia Timur juga agak dipertanyakan. Apakah saat ini AS masih menjadi hegemoni atau dalam bentuk lainnya?

Sejak Donald Trump muncul sebagai pemimpin di AS, negara-negara lain bertanya-tanya, termasuk saya juga. Masih ingat sewaktu saya masih aktif, kita berjuang benar-benar bagaimana sistem perdagangan internasional tidak lagi ‘based on free trade’ tapi berdasarkan fair trade’ yaitu bagaimana menimbulkan kesejahteraan untuk semua pihak yang ada. Sekarang yang memperjuangkan fair trade bukan lagi kita-kita saja, tapi AS.

Berarti memang Donald Trump  memandang dunia ini tidak lagi di dalam perspektif liberalisme tapi mulai melihat dunia ini dalam perspektif, mungkin bisa disebut Neo-Merkantilisme. Dalam arti kata bahwa dia mementingkan kekuatan daripada AS sendiri. Jadi ini yang dia tekankan karena pada waktu Trump tampil, dia berkata bahwa ingin menarik diri dari semua engagement yang dilakukan di Afghanistan, Iran, Jepang, dan Eropa. Dia mengatakan bahwa ini adalah beban mereka, tapi AS mau untuk ikut serta membantu tapi biayanya harus ditanggung oleh mereka.

 

Jadi ada pengertian yang berbeda, misalnya dengan Presiden Wilson dan Presiden Kennedy, yang menginginkan ada satu dunia dengan prinsip-prinsip bernama demokrasi, yang bisa memberikan manfaat kepada masyarakat secara positif di dalam masa-masa yang akan datang.

 

Saya ingat sekali pada waktu Presiden Kennedy terpilih setelah menggantikan Eisenhower yang lebih pasif. Kennedy sangat optimis, sangat muda, sangat aktif, banyak yang mengira AS akan menjadi ‘great again’. Ternyata tidak pernah menjadi ‘great again’, malahan simbol ini dipakai oleh Donald Trump tapi malah AS menjadi hancur, menurut persepsi saya, tentu sejarah akan membuktikan lain.

 

Tadi Anda mengatakan bahwa Trump menganut Neo-Merkantilisme, Trump juga disebut anti-intelektual. Jadi dia memakai pendekatan dengan kekuatan individual saja karena Trump itu tidak bisa diajak kerja sama dengan NATO, memandang rendah Kanada dan negara sekutu lainnya di Eropa, kecuali Inggris barangkali.

 

Lucunya justru Trump respek kepada orang-orang yang keras, yang sebetulnya bukan Warga AS, mulai dari Putin, Kim Jong-un, sampai kepada Duterte. Jadi orientasi luar negeri Trump mulai tidak jelas. Kalau China menyerang Indonesia di Natuna, saya suka berpikir dari segi lain apa itu karena China memang punya orientasi lain dengan perkembangan di AS atau tidak. Menurut Anda, bagaimana pengaruhnya kepada keseimbangan dunia?

 

Kalau saya lihat bahwa betul Trump menggoyahkan balance of power di berbagai kesempatan. Pada waktu Donald Trump sedang giat-giatnya bertemu dengan Kim Jong-un, saya bertanya kepada teman-teman yang dulu Duta Besar AS. Saya telepon mereka kemudian saya bertanya, “Apa maksud Trump ini ya?” Kemudian teman saya bilang, mereka sendiri  tidak tahu.

 

Jadi langkah-langkah yang dilakukan oleh Donald Trump seakan-akan sifatnya spontanius, seakan-akan tim yang ada di belakang Trump, yang dulu pada zaman Presiden Obama dan Presiden Clinton dimanfaatkan sebagai backup sistemnya, sama sekali tidak konsolidasi dengan sistemnya. Karena itu banyak yang benar-benar tidak tahu, bahkan itu orang AS sendiri yang ada dalam pemerintahan.

 

Saya melihat bahkan State Department mereka menjadi agak berubah atau terganggu. Selain Mike Pompeo, diplomat-diplomat dan Officer State Department yang lain tidak dibawa dalam prosesnya, padahal prosesnya lebih penting dari hasilnya. Jadi sekarang tidak ada proses itu. Bagaimana menurut Anda mengenai hal ini?

 

Jadi boleh dikatakan bahwa Trump hanya bermain sendiri dan nanti kalau ada akibat dari permainannya itu, mulailah mereka menimbulkan semacam Scape-goating. Mereka mencari-cari siapa yang bisa disalahkan, sehingga dengan demikian juga banyak pihak-pihak yang mendoakan supaya proses impeachment ini bisa menghasilkan sesuatu yang bermanfaat buat bangsa Amerika.

 

Kalau sekarang kita masuk ke dalam impeachment, apakah barangkali yang mendoakan itu orang yang independen, kalau Partai Republik tidak ada keinginan lain selain mempertahankan Trump?

 

Menurut informasi yang saya peroleh dari teman-teman di AS, di Partai Republik ada semacam faksi-faksi. Jadi apa yang dilakukan oleh Trump, misalnya untuk menembak Qassem Soleimani sebenarnya adalah untuk memuaskan sayap kanan dari Republikan, karena ada juga Republikan yang tidak menginginkan peperangan. Jadi yang sayap kiri sebenarnya menginginkan bagaimana terjadinya pertumbuhan ekonomi yang luar biasa, sehingga AS menjadi besar lagi. Tapi bagaimana bisa membesarkan AS kalau terjadi peperangan, apalagi ini sedang terjadi perang dagang dengan China.  Itu belum selesai kemudian muncul lagi ketegangan dengan Iran.

 

Mereka kemudian mengatakan bahwa apakah benar Presiden Trump adalah orang yang bijaksana dalam memutuskan sesuatu yang bisa menimbulkan dampak yang luar biasa. Misalnya penggunaan senjata pemusnah massal, sekali tekan tombol maka dampaknya akan luar biasa. Kalau Hiroshima dan Nagasaki sudah menggetarkan Kaisar Hirohito, kemampuan daripada sistem senjata nuklir sekaarang di AS sudah berpuluh kali lebih besar daripada kemampuan bom atom Nagasaki dan Hiroshima.

 

Dari sisi Indonesia, melihat AS, bagaimanapun mereka selama ini banyak menjadi panutan bahkan perlindungan bagi kita, dimulai dari zaman Presiden Soeharto sampai sekarang. Tetapi kemanakah sebetulnya politik luar negeri kita sekarang ini?

 

Begini, saya sering mengikuti persidangan-persidangan dengan negara-negara yang sama sekali dictated oleh AS. Dulu pada waktu kita pertama kali membahas mengenai lingkungan hidup, kita lihat komitmen dari Jepang luar biasa kuat, maka dulu ada Kyoto Protocol yang berusaha untuk mengikat negara-negara agar bisa mengurangi emisi gas rumah kaca.

 

Kemudian setelah hampir selesai masa protocol itu, sudah mulai ada usaha dunia untuk bagaimana mempersiapkan pengganti daripada Kyoto Protocol. Jadi bagaimana mereka mempersiapkan yang baru. Pada saat Jepang mulai juga menyodorkan ide-ide yang betul-betul ingin mengamankan lingkungan hidup ke depan, namun saat itu ada pendekatan dari AS kepada Jepang, maka semua ide dan pendekatan yang dilakukan oleh Jepang ditarik kembali. Sekarang AS dan juga Jepang sudah tidak terikat lagi pada The Sustainable Development Goals.

 

Jadi sekarang ini adalah berusaha bagaimana mengatasi kekosongan sistem yang menentukan itu dengan misalnya apakah G-20 bisa berperan secara kolektif untuk memberikan arahan-arahan baru di dalam masalah-masalah global ini. Seperti diketahui, G-20 adalah negara-negara yang memiliki GDP terbesar. Jadi mungkin bisa mengisi tapi dengan kata lain bahwa ini adalah rekaan-rekaan yang mencoba menggambarkan bagaimana kita membuat suatu pemikiran baru yang bisa memberikan semacam ‘global governance to the world’. Dimana masalah-masalah yang sekarang makin lama makin besar itu bisa diarahkan secara bersama-sama di dalam kerja sama global untuk bisa diatasi.