Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Sikdam Hasim Gayo

Mensosialisasikan Disabilitas

Edisi 1239 | 30 Des 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita membicarakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari di Indonesia mengenai perjuangan kaum disabilitas, terutama kisah inspiratif seorang tunanetra. Kita membicarakan topik ini dengan Sikdam Hasim Gayo yang menjadi Duta PBB untuk Disabilitas.

 

Sikdam Hasim mengatakan kategori disabilitas luas sekali, tidak hanya tuna rungu, tuna netra, tuna daksa. Bahkan sebenarnya maaf kalau yang kakinya panjang sebelah dan albino masih termasuk disabilitas, tapi di Indonesia tidak dimasukkan. Di Indonesia, kehidupan teman-teman disabilitas,yang berjumlah sekitar 21 juta masih susah untuk mendapatkan pendidikan yang layak, pekerjaan layak, serta akses.

 

Menurut Sikdam, masalahnya sebenarnya hanya satu, sosialisasi. Dia merasa pemerintah Indonesia masih kurang mensosialisasikan, mengedukasikan kepada masyarakat, kepada daerah-daerah mengenai siapakah disabilitas itu, dan apa kebutuhannya. Akibat kurang sosialisasi maka teman-teman di Aceh, Papua, Sulawesi, dan daerah lain mendapatkan diskriminasi ketika mereka ingin bersekolah di sekolah umum. Juga ketika mereka ingin mendapatkan pekerjaan walaupun mereka S1. Bahkan ketika mereka mau masuk masuk Masjid dan masuk segala macam tempat,  mereka selalu di stigma segala macam.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan narasumber Sikdam Hasim Gayo dan sebagai pewawancara Hayat Mansur.

Anda adalah seorang yang memiliki keterbatasan dalam penglihatan atau Tunanetra. Bagaimana awal ceritanya Anda sampai mengalami disabilitas dalam hal ini untuk disabilitas tunanetra?

Banyak yang tidak tahu bahwa saya menjadi tuna netra sejak sembilan tahun lalu. Sekarang usia saya sudah 30 tahun. Penglihatan saya sebenarnya normal sejak lahir, tapi sembilan tahun lalu saat usia saya sekitar 22 tahun melalui sebuah musibah benturan dalam kecelakaan membuat saya harus mengembalikan penglihatan saya kepada Tuhan.

Saya memang tidak bisa menggambarkan bagaimana perasaan saya waktu itu, tapi yang pasti ketika saya sadar saat itu saya tidak bisa melihat lagi. Saya sangat syok dan terguncang, sedih dan marah sekali sama Tuhan waktu itu. Saya sampai berpikir, “Kok nasib saya seperti ini, kenapa Tuhan kasih ini semua sama saya?”

Waktu itu saking tidak kuatnya, sembilan tahun yang lalu saya pernah ingin mengakhiri hidup saya karena saya berpikir waktu itu mata saya adalah segalanya bagi saya. Tanpa mata, saya tidak bisa melakukan apapun, saya tidak akan bisa melanjutkan hidup, dan menurut saya waktu itu jalan yang terbaik adalah mati. Bagi saya kematian justru bisa membuat saya lebih bahagia dan saya juga pernah bertanya sama Tuhan, “Kok sudah dibutakan seperti ini kenapa Tuhan masih kasih saya nafas?”

Sebelum Anda mengalami disabilitas tunanetra, apakah ada di antara keluarga Anda yang mengalami disabilitas tunanetra juga?

Tidak ada, saat saya mengalami kebutaan, keluarga saya panik juga. Jadi mereka panik-sepaniknya, mereka tidak percaya bahkan Ibu juga tidak percaya. Mereka berpikir bagaimana bisa terjadi seperti ini hanya karena benturan. Itu adalah respon keluarga saya waktu itu.

Saat Anda mengalami benturan, apakah Anda tidak segera dibawa ke rumah sakit untuk mendapatkan pengobatan agar penglihatan Anda tidak hilang?

Yang saya ingat waktu itu setelah benturan saya dibawa ke rumah. Di rumah juga saya tidak berproses dulu, dan saat itu langsung gelap mata saya. Saya langsung berpikir jangan-jangan ini buta, tapi inipun masih percaya tidak percaya. Setelah dua minggu saya baru bisa dibawa ke rumah sakit karena keluarga juga tidak percaya. “Mungkin matanya nanti bisa membaik Sikdam,” kata kakak saya waktu itu.

Mengapa pihak rumah sakit tidak dapat memulihkan penglihatan Anda, apakah memang sudah tidak bisa dipulihkan sama sekali?

Jadi setelah saya berhasil memaksa kakak saya untuk membawa saya ke rumah sakit, mulai dari Rumah Sakit RSPAD, Jakarta Eye Center, RSCM sampai Rumah Sakit Mata Aini, mereka semua memvonis bahwa positif retina mata saya lepas. Kalaupun dilakukan operasi, kemungkinan berhasilnya sangat kecil, jadi lebih baik dibawa pulang saja, tidak usah dioperasi. Tapi waktu itu keluarga saya dan saya pribadi juga memaksa operasi karena kami berpikir uang itu masih bisa dicari, mungkin kalau mata tidak bisa dicari. Oleh karena itu tetap dilakukan operasi, kalau tidak salah dulu dilakukan operasi kecil. Jadi kira-kira disuntik atau apa saya tidak tahu, tapi tetap matanya tidak bisa kembali. 

Tadi Anda mengatakan sempat mengalami keterpurukan ketika menerima kenyataan bahwa Anda harus menjadi disabilitas tuna netra. Bagaimana Anda bisa akhirnya lepas dari keterpurukan tersebut?

Jadi setelah berkeliling ke beberapa rumah sakit dan hasilnya nihil, bahkan dioperasi juga hasilnya tidak ada akhirnya saya kembali ke rumah, dan memang itu prosesnya panjang sekali. Jadi sebenarnya karena saking panjangnya proses itu, saya tinggal di rumah hampir setahun lebih. Tapi saya ingat setahun kemudian setelah saya capai, mungkin karena terus marah kepada Tuhan dan segala macam, saya mulai menyadari berkat bantuan dan motivasi dari Ibu bahwa mata saya itu bukan segalanya bagi saya.

Apa yang Anda lakukan selama setahun itu saat di rumah saja?

Pertama, saya menenangkan diri, berusaha untuk menerima keadaan yang baru ini, berusaha untuk belajar jadi orang tuna netra, dan berusaha untuk percaya mungkin ini nasib saya setelah umur 22 tahun. Ibu juga mengatakan kepada saya, “Sikdam percayalah Tuhan pasti punya maksud dan tujuan kenapa Dia mengambil mata kamu.”

Jadi setelah itu saya mulai mencoba untuk mengubah pola pikir saya tentang tuna netra. Saya mulai menerima kondisi saya sebagai tuna netra, saya mulai belajar lagi pelan-pelan sebagai seorang tuna netra. Itu semua berkat motivasi dari Ibu saya. Ibu adalah penolong saya, saat saya masih terpuruk dalam-dalam, Ibu selalu membesarkan hati saya,Sikdam apapun yang terjadi sama kamu, walaupun sekarang kamu jadi seorang buta, Ibu sayang sama kamu dan Ibu bangga sekali sama kamu.”

Dengan motivasi dari Ibu Anda, apakah yang Anda lakukan setelah mampu bangkit kembali?

Jadi sebelum bangkit ada dua hal faktor yang buat saya bangkit. Pertama adalah dari Ibu saya. Ibu saya selalu memotivasi saya, membesarkan hati saya, dan kata - kata yang paling mujarab dari Ibu saya adalah, Sikdam percayalah Tuhan itu tidak akan mengubah nasib kamu sebelum kamu mengubah nasibmu sendiri, terlepas kamu disabilitas, dan jangan pernah fokus sama kekurangan kamu tapi fokus sama kelebihan kamu. Kamu itu banyak lebihnya daripada kurangnya, dan selalu banggalah dengan dirimu. Jangan pernah hiraukan omongan-omongan orang lain.”

Bagi saya yang menyakitkan adalah saat orang berkata, “Lihat Sikdam, kamu jauh-jauh  merantau dari Aceh ke Jakarta hanya ingin jadi orang buta.” Ada juga yang mengatakan seperti ini, “Mendingan jadi orang bodoh tapi bisa jalan, bisa lihat, dari pada jadi orang pintar seperti Sikdam tapi buta.” Sakit sekali mendengarnya.

Apakah pernyataan-pernyataan itu tidak membuat Anda down, kembali menjadi terpuruk?

Sempat, tapi Ibu selalu membesarkan hati saya, Ibu selalu mengatakan, “Jangan dengarkan mereka, mereka tidak tahu apa yang terjadi sama kamu. Tapi percayalah Ibu sayang sama kamu, tidak seperti mereka.” Itu adalah motivasi dari dalam. Dari luar datang dari teman-teman saya, teman-teman disabilitas.

Siapa saja mereka?

Teman-teman saya di panti. Selama ini saya selalu menutup diri, menyalahkan diri dan merasa bahwa saya ini adalah anggota keluarga yang paling tersiksa. Saya merasa ini tidak adil. Ini karena saya selalu membandingkan diri saya dengan adik dan kakak saya yang normal.

Ketika di panti saat bertemu dengan seorang adik yang multi disabilitas. Dia tidak hanya buta, tapi tunarungu dan menggunakan kursi roda juga. Ibu saya kemudian berkata,Sikdam lihatlah dia. Dia sejak lahir saja sudah tidak bisa melihat. Kamu bersyukur walaupun Tuhan hanya memberikan kamu penglihatan sampai usia 22 tahun, setidaknya kamu bisa lihat Ibu, bisa lihat Bapak, bisa lihat adik-adikmu, bisa sekolah, dan bisa lihat dunia.

Hal ini yang membuat saya tersadar, saya selalu membandingkan diri saya ke atas tanpa melihat  ada juga saudara saya yang nasibnya kurang beruntung dari saya. Namun mereka tetap tersenyum dalam menghadapi hidup. Jadi setelah kejadian itu saya mulai menerima diri.

Singkat cerita Ibu saya berkata, Sikdam sudah lama kamu di kamar ini, kenapa sih kamu sekarang tidak berkegiatan? Kamu kan punya kemampuan bahasa Inggris, kenapa kamu tidak sharing ke orang-orang di kampung ini? Mereka susah untuk pergi ke English Course dan mereka tidak mampu bayar.”

Saya mengatakan ke Ibu, Bu saya itu kan tuna netra, tidak mungkin saya bisa mengajar orang yang bisa melihat.” Tapi Ibu saya menolaknya dan berkata lagi, ”Sikdam percayalah, mereka itu tidak butuh mata kamu, mereka justru butuh kemampuan bahasa Inggris kamu. Belum tentu orang yang bisa melihat punya kemampuan bahasa Inggris, sekarang tugas kamu adalah cari jalan bagaimana caranya kamu bisa mengajar.”

Akhirnya singkat kata ternyata saya sebagai tuna netra bisa juga mengajar bahasa Inggris dengan metode vokal dan audio. Sejak saat itu saya buka seperti English Social Class di kampung, kemudian dari panti ke panti saya mengajar tanpa dibayar serupiah pun.

Dari mana Anda mendapatkan kemampuan untuk mengajar itu, apakah Anda mengikuti pendidikan singkat ataukah memang Anda belajar secara otodidak?

Kalau Bahasa Inggris memang saya pernah belajar di Bali, tapi kalau mengajar memang sebelumnya saya tidak pernah. Saya merasa ‘aneh bin ajaib’ tiba-tiba bisa mengajar. Jadi dulu kenapa saya tidak mau mengajar saat ditawarkan karena saya berpikir kalau mengajar itu kita harus bawa buku, bawa pensil, dan bawa segala macamnya. Ternyata saya sadar bahwa mengajar itu yang terpenting bagaimana caranya mereka mengerti.

Jadi memang metode saya ke pengajaran vokal. Pertama, sebagai tunanetra yang mengajar bahasa Inggris maka harus kuasai materi. Jadi  misalnya besok materinya adalah percakapan tentang bagaimana caranya memesan makanan di restoran. Jadi saya hapalkan terlebih dahulu percakapan tentang itu semua, kemudian saya lempar ke forum.

Siapakah murid Anda saat itu, apakah disabilitas juga atau yang tidak penyandang disabilitas?

Murid saya jujur Alhamdulillah sampai sekarang mayoritas non disabilitas, bahkan untuk anak-anak SD mereka tidak percaya bahwa saya tuna netra karena saya di kelas tidak ada masalah. Materi untuk mereka sudah ada di kepala saya semua. Jadi kalau untuk anak SD, konsep saya  adalah saya kasih teks misalnya tentang Cinderella. Kemudian saya mengatakan ke mereka, “Ini teks tentang Cinderella, kalian coba tulis dan kemudian kalian buat vocab-nya.

Menurut saya, masalahnya adalah mereka tidak paham dan tidak mengerti. Ketika mereka mengerti kata demi kata, pasti mereka bisa mengartikannya. Saya menjadi kamus bagi mereka sebenarnya. Jadi sistemnya untuk anak SD, kita lebih ke bagaimana cara menerjemahkan teks seperti itu.

Apakah aktivitas Anda sebagai disabilitas tunanetra mendapat perhatian dari berbagai pihak, seperti tadi mengajarkan bahasa Inggris tanpa bayaran?

Ketika saya mulai menerima kondisi sebagai tunanetra, saya pernah berjanji kepada diri saya bahwa saya akan mendedikasikan sisa hidup saya untuk berbagi, apapun itu, padahal waktu itu saya tidak punya uang, dan saya tidak punya harta untuk dibagi. Jadi waktu itu yang saya lakukan adalah mengajar dari satu kampung ke kampung yang lain, dari satu panti ke panti yang lain, jadi saya nothing to lose saja.

Saya pergi pagi, pulang sore, menjadi relawan. Salah satu om saya mengatakan, “Sikdam kamu buat apa capek-capek pergi pagi, pulang sore untuk ngajarin mereka toh kamu tidak dibayar. Jangankan kamu dibayar, mereka hargain aja tidak.” Dalam hati saya berkata, “mereka memang tidak bisa bayar saya, tapi saya yakin Tuhan pasti bisa bayar saya dengan mahal.” Jadi inilah kenapa saya bisa dapat penghargaan internasional, karena kegiatan berbagi saya ini dan saya ikhlas melakukan itu.

Bisakah Anda menceritakan proses Anda bisa mendapat penghargaan terpilih sebagai Duta PBB untuk disabilitas?

Singkat cerita, saya berbagi selama dua tahun. Kemudian suatu saat saya mengajar bahasa Inggris di sebuah Yayasan bernama Wisma Cheshire. Ketika saya menjadi pengajar bahasa Inggris di sana, salah satu manajernya mengajak saya bergabung di organisasi pemuda penyandang disabilitas. Di organisasi disabilitas inilah saya belajar banyak tentang disabilitas. Satu yang pasti, organisasi ini membuat saya lebih percaya diri lagi, lebih berani lagi sebagai disabilitas.

Sebelumnya saya berpikir kalau saya sudah jadi tuna netra saya bukan warga negara Indonesia lagi, saya tidak punya hak dan kewajiban yang sama karena saya berpikir bahwa seorang disabilitas akan susah untuk sekolah, akan susah untuk bekerja, dan tidak ada yang melindungi saya. Organisasi ini mengajarkan kepada saya, walaupun saya seorang disabilitas saya tetap adalah warga negara Indonesia, saya adalah prioritas, dan saya punya hak dan kewajiban yang sama. Karena itu di sini saya aktif sekali dari forum ke forum, dan segala macamnya.

Tidak lama kemudian setelah itu saya mendapat penghargaan Internasional Award dari Kerajaan Inggris. Jadi itu seperti sertifikat yang diakui lebih dari 150 negara di dunia. Sebenarnya sertifikat ini kuat sekali karena walaupun saya di Indonesia, profil saya sudah sampai ke Afrika, Eropa, Australia, dan Amerika.

Pada 2016, waktu itu PBB Asia Pasifik yang pusatnya di Bangkok akan mengadakan Forum Pembangunan Asia dan mereka butuh satu figur disabilitas. Kemudian mereka mengundang saya, mereka menawarkan saya untuk hadir di forum ini menjadi suara mereka dalam menyuarakan hak-hak disabilitas di kawasan Asia Pasifik. Penghargaan internasional inilah yang kemudian membuat saya dikenal, tidak hanya di dunia internasional, PBB juga sudah mulai mengakuinya.

Sehubungan dengan tugas Anda sebagai Duta PBB untuk disabilitas kawasan Asia Pasifik, bagaimana Anda menilai negara-negara di kawasan Asia Pasifik ini apa sudah memenuhi hak-hak para penyandang disabilitas?

Lebih baik kita fokus ke Indonesia saja. Kalau di Indonesia ada sekitar 21 juta manusia hidup dengan disabilitas, itu kalau versi dari kita. Kalau versi PBB ada sebesar 25 juta, 10% dari jumlah penduduk Indonesia yang disabilitas.

Kategori disabilitas luas sekali tidak hanya tuna rungu, tuna netra, tuna daksa, bahkan sebenarnya maaf kalau yang kakinya panjang sebelah dan albino masih termasuk disabilitas, tapi di Indonesia tidak dimasukkan. Itulah mengapa  jumlahnya bisa sebanyak itu. Kalau di Indonesia, bila saya tanya bagaimana kehidupan teman-teman disabilitas, yang jumlahnya berkisar 21 juta, mereka masih susah untuk mendapatkan pendidikan yang layak, pekerjaan layak, serta akses.

Apakah penyebabnya itu?

Masalahnya sebenarnya hanya satu, sosialisasi. Saya merasa pemerintah Indonesia masih kurang mensosialisasikan, mengedukasikan kepada masyarakat, kepada daerah-daerah mengenai siapakah disabilitas itu, dan apa kebutuhannya. Akibat kurang sosialisasi maka teman-teman di Aceh, Papua, Sulawesi, dan daerah lain mendapatkan diskriminasi ketika mereka ingin bersekolah di sekolah umum. Juga ketika mereka ingin mendapatkan pekerjaan walaupun mereka S1. Bahkan ketika mereka mau masuk masuk Masjid dan masuk segala macam tempat,  mereka selalu di stigma segala macam.

Sekarang saya suka miris, kalau teman-teman saya yang puluhan juta itu tidak bisa mendapatkan pendidikan yang bagus, bagaimana mereka bisa mendapatkan pekerjaan. Kalau mereka tidak bisa mendapatkan pekerjaan, bagaimana mereka bisa membiayai hidup mereka. Otomatis mereka akan tinggal di panti akhirnya.

Jadi kadang-kadang di satu sisi pemerintah dan masyarakat ingin kita mandiri, ingin kita sukses, ingin kita berprestasi tapi mereka tidak siapkan kita pendidikan yang bagus. Mereka tidak berikan kita pekerjaan yang bagus, bahkan kesempatan itu masih kecil. Jangankan mereka, untuk saya saja kesempatannya masih kecil, masih sering mendapatkan kendala. Teman-teman saya yang di Sulawesi, dan Aceh sering melaporkan masalah. Kemudian saya laporkan ke pemerintah dan tidak ada respon sama sekali.

Apakah dari sisi masyarakat, wawasan masyarakat kita tentang pemahaman disabilitas masih rendah atau sudah mulai membaik saat ini?

Menurut saya belum maksimal. Kalau di kota-kota besar mungkin, tapi kebanyakan mayoritas teman-teman disabilitas tinggalnya di daerah. Misalnya tingkat desa, tingkat kecamatan bahkan kabupaten mereka masih tidak mengerti siapakah disabilitas itu, apakah disabilitas itu. Yang mereka tahu disabilitas adalah orang panti. Disabilitas itu Sekolah Luar Biasa (SLB), disabilitas itu orang termarjinalkan. Jadi kalau Anda disabilitas bila mau sekolah maka ke SLB tempat Anda, dan Anda pasti tinggal di panti.  Orang-orang kalau lihat disabilitas selalu sedih, selalu dikasihani. Saya selalu mengatakan bahwa kami tidak butuh dikasihani, kami justru butuh kesempatan. Ibaratnya kalau orang-orang melihat kami lebih baik bantu dan jangan bicaranya saja, istilahnya no action, talk only.  Kami sama seperti orang lain, hanya kami lebih unik dan kami tetap orang Indonesia juga.

 

                                                                                                         ---ooo000ooo---