Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

dr. Muliono

Pengobatan Kanker Payudara Tanpa Operasi

Edisi 1234 | 03 Des 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita membicarakan hal yang sangat penting dalam kehidupan kita sehari-hari mengenai  kesehatan, terutama dalam upaya penyembuhan penyakit kanker. Kita membicarakan topik ini dengan seorang dokter, yaitu dr. Muliono yang menjabat sebagai Health Advisor St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou.

 

dr. Muliono mengatakan pada prinsipnya kejadian sampai penyebab kematian akibat kanker itu bisa kita hindari bila kita tahu pencegahan maupun deteksi dininya. Pencegahannya yaitu kita perlu menjaga pola hidup kita, tentu pola hidup yang sehat dan teratur. Tidak mengkonsumsi alkohol diantaranya, membiasakan aktivitas sehari-hari dengan olah raga yang cukup, dan menghindari makanan jenis junk food.

 

Dalam upaya mendeteksi dini mengenai ada atau tidaknya penyakit kanker di payudara maka kita harus pakai prinsip SADARI seperti yang sudah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan. Maksud SADARI itu adalah periksa payudara sendiri. Jadi wanita atau ibu yang memeriksa payudaranya sendiri. Artinya, ini dilakukan dengan tangan sendiri, dilakukan pada masa setelah menstruasi selesai beberapa hari.

 

Menurut dr. Muliono, saat ini ada terobosan baru di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou untuk pengobatan kanker termasuk payudara beberapa teknik pengganti operasi, kemo, maupun radiasi. Jadi tidak perlu melakukan ketiganya itu. Salah satunya adalah teknik pengobatan Cryosurgery. Itu adalah teknik pengganti operasi. Kalau terapi operasi itu harus dilakukan dengan teknik pembiusan umum, sedangkan Cryosurgery adalah pembiusan lokal, itu bedanya. 

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan narasumber dr.Muliono

Dunia memperingati setiap 26 Oktober sebagai Hari Kanker Payudara Sedunia. Ini sebagai upaya untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai pentingnya upaya-upaya pencegahan dan penanganan kanker payudara. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (World Health Organization/WHO), penyakit kanker payudara tidak bisa dibilang ringan karena merupakan penyakit yang menyebabkan kematian terbesar bagi wanita di dunia setelah kanker rahim atau kanker serviks. Apa yang menyebabkan atau pencetus dari penyakit kanker payudara?

 

Kanker payudara merupakan salah satu pembunuh nomor satu bagi wanita di dunia. Pada prinsipnya kejadian sampai penyebab kematian itu bisa kita hindari bila kita tahu pencegahan maupun deteksi dininya. Pencegahannya seperti pada umumnya kanker lainnya, yaitu kita perlu menjaga pola hidup kita, tentu pola hidup yang sehat dan teratur. Tidak mengkonsumsi alkohol diantaranya, membiasakan aktivitas sehari-hari dengan olah raga yang cukup, dan menghindari makanan jenis junk food.

 

Itu adalah beberapa hal yang perlu kita waspadai untuk penyakit kanker payudara. Pun demikian kita harus bisa mendeteksi dini gejala awal bagaimana kita menderita penyakit kanker payudara. Inilah pentingnya kita untuk bisa mengetahui pada awalnya.

 

Bagaimana cara mendeteksi bahwa seseorang terkena penyakit kanker payudara?

 

Sebagian besar gejala di payudara bila berupa benjolan adalah tumor jinak, hanya sebagian kecil yang disebut keganasan. Namun pada kenyataannya karena kehidupan masyarakat kita yang masih banyak kurang pengetahuan untuk deteksi dini, yang awalnya itu memang ternyata keganasan sehingga berkembang menjadi lebih ganas lagi, dan akhirnya telat mengetahuinya. Karena itu awal untuk mendeteksi dini adalah kita harus pakai prinsip SADARI seperti yang sudah dicanangkan oleh Menteri Kesehatan.

 

Maksud SADARI itu adalah periksa payudara sendiri. Jadi seorang wanita atau ibu yang memeriksa payudaranya sendiri. Ini ada beberapa teknik yang digunakan sendiri untuk tubuhnya. Artinya, ini dilakukan dengan tangan sendiri, dilakukan pada masa setelah menstruasi selesai beberapa hari. Itu lebih baik dengan cara menekan payudara secara teratur dari luar bagian payudara searah jarum jam mengarah ke pusaran puting. Bila saat dirasa dan diraba ada suatu benjolan maka segera periksakan diri ke tenaga kesehatan, itu salah satu caranya.

 

Apakah kanker payudara ini hanya menyerang kepada wanita? Apakah bisa menyerang kepada kaum laki-laki juga?

 

Kanker payudara bukan hanya milik kaum wanita, dan bisa juga menyerang kaum pria. Memang angka kejadiannya sangat kecil tapi bisa mengenai kaum pria juga.

 

Jika seseorang itu baik perempuan maupun laki-laki terdeteksi ada kanker di payudaranya, apa yang harus dilakukan?

 

Jika kita bicara sudah terdeteksi, maka langkah-langkah yang dilakukan adalah beberapa serangkaian pemeriksaan. Saat kita pergi ke tenaga kesehatan atau medis, biasanya dokter akan menyarankan untuk pemeriksaan yang paling sederhana yaitu bisa melalui USG. Bila memang ternyata hasil pemeriksaan USG menyatakan kecurigaan ke arah keganasan, maka bisa lanjut dengan pemeriksaan mamografi.

 

Jadi langkah pertama adalah harus ke rumah sakit atau ke fasilitas kesehatan?

 

Betul sekali.

 

Apakah pengobatannya itu memang harus di rumah sakit dan tidak bisa secara pengobatan tradisional?

 

Masyarakat kita sekarang ini banyak sekali berpikiran untuk terapi atau pengobatan alternatif seperti pengobatan tradisional. Saya mau menggarisbawahi dan meluruskan bahwa pengobatan alternatif itu hanya membantu, tetap terapi utamanya adalah pengobatan medis dokter. Jadi saya harus meluruskan pandangan masyarakat, yaitu pengobatan dengan alternatif atau herbal  hanyalah pendamping dan tidak utama.

 

Misal, seseorang terdeteksi terkena kanker payudara lalu dia datang ke dokter umum, apakah langkah-langkah selanjutnya yang harus dilakukan pasien yang terdeteksi ini?

 

Nanti seorang dokter akan membuat suatu  rangkaian  pemeriksaan seperti  USG, mamografi, pemeriksaan laboratorium, darah, dan bila memang cenderung ke arah keganasan maka akan dilakukan biopsi. Pemeriksaan biopsi ini memang jadi momok di masyarakat.

 

Mengapa jadi momok?

 

Banyak pandangan masyarakat yang tidak menginginkan untuk dibiopsi dengan alasan setelah biopsi justru bisa menyebar, mungkin itu yang diperkirakan oleh masyarakat. Melalui wawancara ini saya mau meluruskan bahwa biopsi wajib dilakukan untuk menegakkan diagnosa. Bagaimana seorang dokter akan melakukan terapi bila diagnosa tidak tegak? Jadi kekhawatiran masyarakat untuk tidak dibiopsi mulai saat ini harus dihilangkan.

 

Saat berbicara tentang kanker, termasuk di dalamnya kanker payudara, merupakan penyakit yang paling mematikan. Apakah memang benar kanker tidak bisa disembuhkan?

 

Kalau berbicara soal kesembuhan tentu kita kembali lagi kepada pencipta kita. Seorang dokter hanya perantara, tapi secara teknis medis semua jenis kanker secara umum termasuk kanker payudara bisa dihindari, bisa diobati bahkan bisa disembuhkan. Artinya itu semua bisa terlaksana kalau kita memang lebih tanggap untuk diri kita sendiri.

 

Tadi kita sudah berbicara mengenai upaya menghindari dan upaya mendeteksinya. Sekarang kita berbicara bagaimana upaya mengobatinya. Apa saja pengobatan secara medis yang ada saat ini? Apakah ada terobosan baru atau teknologi baru untuk pengobatan kanker payudara sehingga bisa mempunyai tingkat kesembuhan yang lebih tinggi?

 

Secara garis besar pengobatan kanker di dunia ini ada tiga, yaitu operasi, kemo dan radiasi. Namun ilmu pengetahuan berkembang, melalui terobosan baru di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou ada beberapa teknik pengganti operasi, kemo, maupun radiasi, jadi tidak perlu melakukan ketiganya itu.

 

Apa itu penggantinya?

 

Saya akan jelaskan tiga hal. Pertama, metode pengganti operasi biasanya untuk kanker stadium awal, medis akan melakukan tindakan operasi namun biasanya sebagian besar pasien tidak menginginkan operasi. Teknik pengobatan kita ada namanya Cryosurgery, itu adalah teknik pengganti operasi. Kalau terapi operasi itu harus dilakukan dengan teknik pembiusan umum, sedangkan teknik kita adalah pembiusan lokal, itu bedanya. 

 

Kedua, kalau teknik operasi maka penyakit generatif seperti diabetes, hipertensi patut diperhitungkan saat untuk menidurkan seorang pasien sebelum melakukan tindakan operasi. Namun dengan teknik kita tidak perlu terlalu memikirkan hal itu karena kita hanya menggunakan bius lokal. Karena itu di sini saya perlu menjelaskan beberapa hal teknis.

 

Cryosurgery menggunakan gas argon dan helium. Jadi setelah teranestesi lokal maka jarum halus akan ditusukkan ke pusat tumor melalui panel layar monitor. Kemudian setelah sampai ke pusat tumor dikeluarkan gas argon di sini. Gas argon itu membuat tumor membeku sampai -165° C.

 

Selanjutnya jarum kedua ditusukan ke pusat tumor yang sama dan pada saat ini dimasukkanlah gas helium. Gas helium ini yang memanasi kembali sampai +40° C. Jadi metode ini diulang beberapa kali, dingin-panas-dingin-panas sehingga tumor ini hancur. Hasilnya seperti operasi dan tentunya pasien lebih nyaman.

 

Tapi apakah itu akan mengubah bentuk payudaranya?

 

Jadi dengan tindakan kita itu menggunakan teknologi yang justru meminimalkan efek samping, sehingga malahan kita dapat mempertahankan organnya. Yang diselesaikan atau yang diterapi hanya bagian tumornya saja. Artinya baik itu perempuan atau laki-laki akan tetap memiliki payudaranya.

 

Apakah keunggulan-keunggulan ini hanya ada di rumah sakit St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou?

 

Yang saya pelajari seperti itu, memang teknologi seperti ini belum ada di Indonesia. Jadi untuk pasien-pasien, yang mungkin mau untuk second opinion atau third opinion dan yang ingin berangkat ke sana, kita akan bantu pemberangkatannya lalu kita jelaskan juga bagaimana teknik pengobatannya di sana.

 

Kalau pengobatan teknik sebelumnya itu biasanya ada beberapa kali kemoterapi sampai beberapa bulan. Apakah ini juga harus mengalami periode pengobatan yang lama?

 

Tadi saya baru jelaskan mengenai pengganti operasi. Pertanyaan kedua mengenai kemoterapi. Perbedaannya adalah kemoterapi konvensional itu melalui infus intravena, dan biasanya ada jarak antara kemo pertama dengan kedua itu selama tiga minggu. Di tempat kita pun sama jaraknya tiga minggu. Yang membedakan adalah kalau teknik kita intervensi namanya itu melalui intra arteri, jadi berbeda dengan intravena. Teknik kita langsung ke pusat sasaran tumor.

 

Jadi melalui panduan layar Digital Subtraction Angiography (DSA) nanti dimasukan selang kateter yang sangat kecil namanya microcatheter superselection yang sangat fleksibel. Itu dimasukan melalui pembuluh darah arteri, dimasukan menuju ke pusat tumor. Setelah sampai ke pusat tumor diinjekkan obat kemo di situ. Ini yang membedakan, jadi obat kemonya terkonsentrasi di pusat tumor dan tidak ke seluruh badan. Benefitnya adalah dengan teknik intervensi ini tentu efek sampingnya minimal dengan dosis yang optimal.

 

Berapa kali itu kemoterapinya?

 

Di tempat kita, satu kali kemoterapi berbanding enam kali kemo konvensional. Untuk berapa kalinya di tempat kita memang tidak ada prosedur tepatnya sampai berapa kali, tergantung penerimaan pasien sejauh mana progresnya. Jadi ada beberapa pasien yang tiga kali dikemo intervensi selesai, ada juga yang harus lima kali. Jadi tergantung penerimaan badan pasien.

 

Tadi sudah disebutkan dua teknik yang ada, dan sekarang ada teknik yang ketiga yaitu radiasi. Bagaimana teknik radiasi yang dilakukan di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou?

 

Teknik radiasi kita ada dua yang eksternal maupun internal, tapi yang sering kami lakukan adalah hal yang bersifat internal. Teknik kami adalah penanaman biji partikel atau disebut juga sebagai “Pisau Partikel”.  Jadi teknik penggunaannya dengan biji partikel Iodin 125 yang dibungkus dengan lapisan plat Titanium. Biji partikel Iodin 125 ini besarnya setengah dari ukuran beras dan nanti akan diletakkan langsung di pusat tumor, fungsinya sama  dengan radiasi eskternal.

 

Apakah peletakkannya  melalui operasi juga?

 

Peletakkannya tanpa operasi karena kita punya jarum-jarum halus. Jadi cukup dianestesi lokal saja, setelah diletakkan dia akan berfungsi selama enam bulan. Jadi dua bulan pertama, partikel Iodin 125 ini akan meradiasi maksimal selama dua bulan. Bulan ketiga sampai keenam turun dosisnya, dan bulan ketujuh habis dosisnya.  Jadi berbeda dengan radiasi eksternal, kita langsung on target penyinarannya.

 

Tadi ada tiga teknologi terbaru dari Rumah Sakit St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou, apakah dalam pengobatan kanker ini ketiga-tiganya dipakai atau cukup salah satu saja?

 

Semua jenis kanker yang kita tangani tidak ada single therapy artinya lebih dari satu treatment therapy. Misalnya, bisa saja dipadu antara intervensi dengan Cryosurgery, tergantung dengan penilaian profesor kita nanti di sana.

 

Tentunya semua penderita itu menginginkan kesembuhan, bagaimana tingkat kesembuhannya dengan teknologi baru ini?

 

Dengan teknologi baru seperti ini, statistik menunjukkan di rumah sakit kami lebih dari 50% ke arah perbaikan, apalagi bila masih stadium awal. Jadi kembali lagi seberapa berat pasien itu datang ke rumah sakit kami. Kalau fasenya sudah metastasis atau sudah menyebar hampir ke seluruh organ tentu harapan hidup menjadi lebih kecil dibandingkan dengan yang  masih stadium awal.

 

Stadium awal itu berapa saja dokter?

 

Biasanya secara umum tingkatannya ada empat stadium, stadium satu sampai empat. Jadi stadium satu masih sifatnya terlokalisasi. Stadium dua sudah menyebar sedikit lebih besar ke organ di sebelahnya. Stadium tiga sudah mengenai kelenjar getah bening, dan stadium empat sudah hampir ke berbagai organ.

 

Apakah bila datang pada stadium satu dan dua kemungkinan sembuhnya semakin besar?

 

Tentu semakin besar dan saya menggarisbawahi banyak masyarakat mungkin terkecoh dengan grade. Jadi grade dengan stadium itu berbeda. Kalau grade  itu menandakan tingkat keaktifan sel tumornya, sedangkan stadium menandakan tingkat penjalarannya sampai di mana. Jadi harus dimengerti bagi masyarakat perbedaannya stadium dengan grade.

 

Bila sudah terdeteksi, apakah lebih baik langsung ke dokter umum atau langsung ke rumah sakit yang khusus menangani kanker?

 

Masyarakat yang sudah terdeteksi positif terkena kanker sebaiknya langsung datang ke ahli di bidangnya tentu, dokter onkologi di sana  yang akan menanganinya.

 

Berbicara mengenai St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou dari Tiongkok, apakah rumah sakit ini hanya ada di Tiongkok? Apakah ada juga di Jakarta?

 

Sementara memang rumah sakit ini hanya ada di RRC, Tiongkok Selatan. Jaraknya kira-kira empat setengah jam penerbangan dari Jakarta. Jadi di Jakarta itu adalah kantor representatifnya, pasien yang ingin tanya jawab silahkan datang nanti. Kalau bersedia berobat di sana, kita akan bantu kirim ke sana. Jadi penanganan penuhnya murni di sana, kita tidak melakukan tindakan penanganan di Jakarta.

 

Apakah persoalan bahasa bisa menjadi masalah? Warga negara Indonesia banyaknya menguasai bahasa Indonesia ataupun bahasa Inggris, bagaimana ketika pengobatan itu untuk berkomunikasi dengan dokternya?

 

Seluruh pasien kita yang berobat di sana nanti akan disediakan penerjemah. Pada waktu kunjungan akan disediakan penerjemah-penerjemah kita yang siap selama 24 jam. Jadi kendala bahasa saya rasa bukan lagi masalah, para penerjemah ini sudah  dididik bahasa medis dokter. Jadi setiap kita bicara dan berbahasa Indonesia dia akan menerjemahkan dalam bahasa Mandarin ke profesor yang melakukan tindakan pada pasien tersebut.

 

Apakah biaya akan menjadi kendala untuk seseorang yang sudah terdeteksi karena kita tahu pengobatan kanker membutuhkan biaya besar?

 

Sebenarnya tergantung kita membandingkan dari kacamata mana. Bila kita membandingkan dengan negara Singapura, maka jauh lebih mahal Singapura. Kita hampir mirip sebanding dengan Malaysia, kurang lebih seperti itu. Namun dengan teknologi minimal invasif dimana probabilitasnya secara statistik itu persentase kesembuhan jauh lebih besar maka akan mengurangi biaya tentunya.

 

Apakah pengobatan di St. Stamford Modern Cancer Hospital Guangzhou ini sudah ada kerja sama dengan BPJS?

 

Untuk saat ini belum. Saya pribadi mengharapkan kalau bisa ke depannya rumah sakit ini bisa kerja sama membangun suatu rumah sakit di sini, sehingga pasien-pasien kita tidak perlu ke Guangzhou.

 

Saya perlu tambahkan satu lagi, kalau rumah sakit kita ini sudah terakreditasi Joint Commission International (JCI). Itu perlu saya sampaikan. Akreditasi ini diakui secara internasional. Jadi SOP-nya sudah disetujui, bukan uji coba lagi. Ini penting untuk pasien atau masyarakat mengetahuinya. Jadi sudah terbukti secara medis dan secara teknologi.