Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Agus Herta Sumarto

Sekarang Harus Beralih ke Energi Terbarukan

Edisi 1221 | 27 Sep 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Anda belajar, Anda bekerja, Anda berdagang, dan hampir semua aktifitas  kita sehari-hari / dari tidur sampai tidur lagi membutuhkan listrik. Kini listrik sudah menjadi kebutuhan primer bagi kita semua. Hari ini kita membicarakan masalah kelistrikan dengan narasumber Agus Herta Sumarto, Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis di Universitas Mercu Buana Jakarta dan Peneliti di INDEF.

 

Menurut Agus Herta, Potensi energi terbarukan yang kita miliki sangat besar, misalkan hydro power sekitar 73 gigawatt tetapi yang baru bisa digunakan hanya 4% sampai 5% nya. Itu menunjukkan bahwa kita punya keterbatasan di situ. Jadi saya mendorong kalau anggaran negara terbatas, maka  tolong didorong sektor swasta mungkin bisa menjadi alternatif yang efektif untuk melakukan diversifikasi energi listrik ini.

 

Kalau kita terus menggunakan energi fosil misalnya minyak. Itu berdampak negatif terhadap lingkungan. Tetapi untuk energi terbarukan misalkan air, arus laut, matahari, malah menjadi substitusi dari yang merusak tadi. Sebetulnya ini malah menjadi green energy dan itu terhadap lingkungan efeknya malah menjadi positif. Saya kira untuk kedepan malah lebih positif untuk Indonesia. Kita harus mendorong energi terbarukan ini, memang masih relatif mahal tetapi kalau kita tidak mulai dari sekarang, itu mau mulai kapan?

 

Jadi harus dimulai, mau tidak mau memang mahal tapi itu pengorbanan yang saya kira cukup adil untuk kelestarian lingkungan, untuk kelestarian anak-cucu kita nanti, sehingga anak-cucu kita tidak mewarisi lingkungan yang rusak, energi yang sangat rentan. Jadi mereka benar-benar kita wariskan sebuah warisan yang saya kira dari sisi energi sangat bagus, dan tentu nanti juga mereka tinggal meneruskan membangun ekonomi menjadi jauh lebih mudah daripada sekarang.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan narasumber Agus Herta Sumarto.