Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Nia Umar

Menyusui adalah Hak Ibu dan Anak

Edisi 1219 | 27 Sep 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Semoga kehidupan kita semua selalu tumbuh berkembang ke arah yang lebih baik. Pada dasarnya kehidupan kita selalu tumbuh berkembang setiap hari. Ingat kita yang sekarang telah menjadi manusia dewasa pada awalnya merupakan bayi yang terus tumbuh berkembang. Awal dari pertumbuhan kembang kita semua ditopang oleh Air Susu Ibu (ASI). Jadi hari ini kita mewawancarai Nia Umar yang menjabat sebagai Ketua Umum Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia (AIMI).

 

Nia Umar mengatakan semua orang harus mendukung untuk Ibu menyusui karena memberikan manfaat jangka pendek dan jangka panjang ke anak dan ibu. Jangka pendeknya, anak tidak ada risiko diare atau alergi. Jika formula maka kemungkinan tidak cocok bisa menyebabkan alergi, lalu infeksi saluran telinga. Untuk jangka panjangnya, mencegah obesitas pada anak, karies gigi, lalu mereka juga bisa terkena diabetes dimana risikonya lebih meningkat. Jadi banyak sekali.

 

Sedangkan yang orang sering lupa adalah menyusui itu memberikan manfaat juga bagi para Ibu. Riset menunjukkan Ibu yang menyusui akan berkurang risiko terkena kanker payudara, kanker rahim, kanker ovarium. Juga berkurang risiko terkena osteoporosis dan diabetes. Risiko ibu mengalami obesitas juga berkurang karena biasanya bila hamil maka berat badannya naik. Jadi itu sebenarnya banyak sekali manfaatnya. Karena itu saya selalu menekankan, menyusui itu haknya tidak dapat dipisahkan antara Ibu dan anak, dua-duanya adalah sepasang.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan narasumber Nia Umar.

Setiap pekan pertama Agustus ada momen penting yakni Pekan Menyusui Internasional  Sedunia. Bagi masyarakat awam, menyusui itu dianggap hal yang mudah. Lalu mengapa harus ada juga momen pekan menyusui sedunia?

 

Ini pertanyaan yang juga saya tanyakan mungkin sekitar 16 tahun lalu ketika saya belum mempunyai anak dan mau punya anak pertama. Saya pikir menyusui itu alamiah, secara pasti natural ditempelkan ke bayinya saat lahir maka langsung bayinya pasti bisa. Ternyata pada hari kedua setelah saya melahirkan di rumah sakit, saya menangis karena tidak bisa melekatkan bayi saya ke payudara. Ternyata menyusui itu tidak semudah yang dikatakan. Jadi menyusui itu biasanya ada tantangannya apalagi untuk ibu muda karena saat menyusui anak pertama itu memiliki banyak tantangan. 

 

Apa saja tantangannya?

 

Tantangannya banyak. Saat saya punya anak pertama pada 2005, kampanye menyusui itu belum segencar sampai sekarang. Jadi saya masih ingat karena saya ingin sekali menyusui anak saya. Saya mengatakan itu ke dokter, dan suami saya juga ngotot ke dokter kandungan. Akhirnya bayi saya mendapat treatment berbeda. Di kartu kesehatannya yaitu kartu bayi yang di box tempat lahirnya, ada tulisan hanya ASI saja. Itu berarti bayi-bayi yang lahir bersamaan dengan anak saya mendapat treatment berbeda. Saya ingat sekali sewaktu saya belajar memandikan bayi, saya masuk ke kamar bayi dan melihat di sana ada tempelan bertuliskan di minggu pertama formula merk ini, minggu kedua merk itu, dan seterusnya. Jadi kalau anak itu lahir di minggu ke sekian maka dia mendapatkan formula brand tertentu. 

 

Itu di rumah sakit pada 2005. Jadi bayangkan, saya saja yang sudah ngotot ingin menyusui dan melekatkan bayi saya mengalami kesulitan, belum lagi sudah ada promosi lain di rumah sakit. Kalau logikanya semua mamalia yang terlahir di dunia ini dibekali oleh Maha Pencipta untuk bisa bertahan hidup dengan mencari sumber kehidupannya yaitu payudara ibunya. Tetapi kalau hari-hari pertama saja dia sudah diintervensi oleh hal lain, maka wajar kalau akhirnya Ibu  kesulitan untuk bisa menyusui.

 

Logikanya adalah Anda melahirkan di rumah sakit swasta bagus dan tentu saja di sana  ada dokter-dokter yang paham mengenai hal pentingnya air susu bagi bayi dan juga bagi Ibunya. Mengapa justru rumah sakit yang mempromosikan formula bukan ASI untuk bayi?

 

Pada 2005 memang promosi formula gencar dan mereka bekerja sama dengan rumah sakit. Jangankan rumah sakit, seperti tadi disebutkan rumah sakit swasta, fasilitas kesehatan punya pemerintah pun ada promosinya yang bekerjasama dengan tenaga kesehatan (Nakes) dan fasilitas kesehatan (Faskes) juga.  Dari segala lini mereka bekerja sama. Pada zaman dulu membawa tas isinya merk-merk formula merupaan hal sangat biasa. Sekarang sudah tidak berani. Sejak pemerintah sudah memiliki Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 33 Tahun 2012 tentang ASI eksklusif membuat mereka sudah lebih hati-hati tidak melakukan hal itu.

 

Berdasarkan peraturan tersebut, tidak boleh fasilitas kesehatan dijadikan tempat untuk mempromosikan produk pengganti ASI. Saya harus jujur bicara bahwa PP ini belum bisa memadai melindungi ibu menyusui, tapi paling tidak peraturan ini masih melindungi ibu dan bayi yang baru melahirkan karena mereka memiliki 10 langkah menuju keberhasilan menyusui seperti tercantum di Pasal 33. Pasal ini yang mengatur semua bayi yang lahir harus inisiasi menyusu dini minimum satu jam di dada ibunya, skin to skin contact. Kalau bayinya sehat harus rawat gabung bersama ibunya, tidak boleh dipisah, bayi tidak boleh dikasih botol atau dot selama di rumah sakit di fasilitas kesehatan. Jadi harapan saya pasal 33 dari PP 33/2012 ini bisa  ditegakkan,  dimonitoring, dan dievaluasi. Sayangnya, sejak 2012 sampai sekarang, PP itu belum pernah dimonitor dan dievaluasi.

 

Tadi dikatakan menyusui itu bukanlah hal yang mudah dan itu banyak tantangannya. Apa tantangan paling berat yang dihadapi oleh Ibu?

 

Kebanyakan ibu merasa bahwa ASI-nya kurang. Ini ibu di desa maupun di kota. Saya di AIMI kebetulan berkesempatan diundang menghadiri forum-forum internasional untuk kegiatan menyusui, sehingga mengetahui hampir semua mengeluhkan banyak ibu merasa cemas, tidak percaya diri bahwa ASInya mencukupi untuk kebutuhan anaknya.

 

Mengapa sampai ada pola pikir Ibu seperti itu bahwa air susunya tidak cukup?

 

Banyak faktornya. Kalau berkaca pada pengalaman pribadi dan beberapa orang yang ada di sekitar saya, kami tidak melihat menyusui itu sebagai norma yang berlaku dan alamiah biasa dilihat. Saya tidak punya adik kecil, saya tidak pernah lihat ibu saya menyusui, yang saya ingat dulu tante-tante saya mereka memberikan formula ke anaknya. Saya tidak pernah melihat keluarga saya menyusui, saya pikir menyusui itu kampungan begitu. Tapi ternyata saya menyadari manfaatnya, saya justru terbentur-benturkan kepala saya karena baru sadar setelah saya punya anak bawa itu luar biasa manfaatnya.

 

Saya baru sadar dan saya justru ingin Ibu makin paham bahwa sebenarnya menyusui itu memang masing-masing orang mempunyai tantangan yang berbeda. Tantangan saya untuk Anak pertama adalah kesulitan melekat. Untuk anak kedua, saya kembali bekerja sehingga tantangannya bagaimana memberikan ASI perah. Bahkan semua ibu punya ceritanya masing-masing, tapi paling sering adalah ASInya kurang. 

 

Jadi mengapa mereka bisa berpikir seperti itu karena banyak faktor, dan bisa juga dari rumah sakit yaitu bayi sudah dipisahkan dengan  ibunya. Ibu tidak tahu tanda-tanda kapan bayi mau menyusu, dan juga kurikulum pendidikan kesehatan tidak mengajarkan menyusui sebagai informasi secara komprehensif. Kita ambil contoh penanganan luka pada kulit, setiap Nakes pasti mengetahui cara menanganinya. Namun saya tidak yakin semua Nakes bisa tahu tanda kecukupan bayi menyusui itu seperti apa. Kalau mereka tidak tahu hal seperti itu bagaimana mereka bisa mengajarkan dan memberdayakan orang tua untuk mengetahui anaknya cukup menyusu.

 

Jadi setiap Ibu mempunyai air susu yang cukup untuk bayinya walaupun bayinya  besar dan berat.

 

Jika dia didukung dengan tepat, dengan panduan yang tepat, dengan orang yang kompeten  maka si ibu akan berdaya untuk bisa menyusui anaknya. Kita ambil contoh mamalia, macan melahirkan sendirian di hutan dan anaknya survive, tidak pakai diintervensi. Kita berbicara pada kondisi ibu dan bayi yang sehat maka tidak ada yang intervensi.

 

Di sini kita banyak sekali intervensinya. Misalnya, bayi di lantai empat sedangkan ibunya di lantai dua. Ibunya masih nyeri harus mengambil ke atas, kemudian dijadwal. Memangnya bayi lahir sudah menggunakan jam tangan, sehingga dia minta waktu menyusui pakai jadwal. Jelas tidak. Itu adalah paradigma memberikan minuman formula, sehingga pakai jadwal. Kalau tidak maka anaknya bisa kegemukan.

 

Kalau menyusui tidak perlu dijadwal. Kapan bayinya mau maka langsung bisa disusui. Informasi-informasi mendasar seperti itu tidak banyak yang mendapatkan dan tahu. Ini yang menjadi tantangan terbesar juga untuk kita, serta kesempatan yang baik sebenarnya bagi para Nakes dan para pemangku kebijakan juga untuk memperkaya dan lebih menekankan ilmu tentang manajemen laktasi di kurikulum sekolah, baik kedokteran maupun kebidanan.

 

Tantangan yang besar juga pada era sekarang adalah banyak kaum perempuan dan Ibu yang memilih profesi lain selain sebagai profesi ibu rumah tangga, artinya bekerja di luar rumah. Bagaimana mengatasi tantangan sebagai Ibu yang bekerja di luar rumah dengan menyusui?

 

Ini juga salah satu tantangan yang banyak dijumpai, dan saya tidak bisa pungkiri bahwa sebenarnya memang cuti maternitas (melahirkan) di negara kita masih belum mencukupi. Contoh,  cuti maternitas di Vietnam sudah enam bulan. Profil mereka mirip sekali dengan Indonesia, yaitu banyak tenaga kerja perempuan, dan negara berkembang. Sekarang saya baca angka-angka pertumbuhan perekonomian sudah mulai menyusul Indonesia. Mudah-mudahan ke depannya kita ingin sekali mengadvokasi agar cuti maternitas bisa lebih meningkat.

 

Kita ingin diberikan cuti maternitas minimum enam bulan karena rekomendasi untuk menyusui eklusif itu selama 6 bulan. Jadi sebenarnya ini butuh dukungan semua pihak karena menyusui itu adalah hak ibu dan anak yang tidak bisa dipisahkan. Ketika hak itu ada pada ibu dan anak maka tanggung jawabnya melekat pada ayahnya, baik suami, pasangan, kakek-neneknya si bayi, masyarakat sekitar, tenaga kesehatan, fasilitas kesehatan, pengusaha, pemuka agama bahkan sampai pemerintah untuk mengatur kebijakan-kebijakan yang berlaku.

 

Kondisinya adalah saat ini cuti melahirkan kita masih tiga bulan, padahal menyusui eksklusif itu selama enam bulan. Lalu, bagaimana cara mengatasinya?

 

Kami di AIMI menyiasatinya adalah ketika kami melakukan kelas-kelas tentang menyusui atau kita  datang melakukan sosialisasi maka kita meminta kepada para ibu hamil untuk mengambil cutinya ke belakang. Jadi kalau kehamilannya sehat-sehat saja, maka ambil saja terakhir. Jadi mereka mempunyai waktu lebih lama bersama bayinya daripada mereka satu setengah bulan sebelum lahir sudah tidak bekerja.

 

Itu adalah cara yang bisa dilakukan, dan itu juga termaktub dalam Undang-Undang tentang Tenaga kerja. Jadi soal cuti maternitas diambil ke belakang dibolehkan selama kehamilan tidak bermasalah. Namun sedihnya pagi ini saya masih mendapatkan direct message dari ibu- ibu yang mengeluhkan di tempat kerjanya tidak boleh mengambil  cuti maternitasnya digabung menjadi tiga bulan. Jadi harus satu setengah bulan sebelumnya dan harus satu setengah bulan sesudah melahirkan. Sedih sekali kalau saya membaca informasi seperti itu, dan saya menyarankan yaitu kalau dia mau maka kumpulkan teman-temannya di tempat kerja dan kirim surat ke AIMI untuk kita bantu advokasi ke perusahaannya.

 

Apa manfaatnya menyusui bagi Ibu dan bayinya?

 

Yang jelas menyusui itu memberikan manfaat jangka pendek dan jangka panjang ke anak. Jangka pendeknya misalkan anak tidak ada risiko diare atau alergi. Jika formula maka kemungkinan tidak cocok bisa menyebabkan alergi, lalu infeksi saluran telinga. Untuk jangka panjangnya, misalkan obesitas pada anak, karies gigi, lalu mereka juga bisa terkena diabetes dimana risikonya lebih meningkat. Jadi banyak sekali.

 

Sedangkan yang orang sering lupa adalah menyusui itu memberikan manfaat juga bagi para Ibu. Yang dipikirkan hanya anaknya saja. Padahal sebenarnya ada manfaatnya juga untuk Ibu. Riset menunjukkan Ibu yang menyusui akan berkurang risiko terkena kanker payudara, kanker rahim, kanker ovarium. Juga berkurang risiko terkena osteoporosis dan diabetes. Risiko ibu mengalami obesitas juga berkurang karena biasanya bila hamil maka berat badannya naik. Jadi itu sebenarnya banyak sekali manfaatnya. Karena itu saya selalu menekankan, menyusui itu haknya tidak dapat dipisahkan antara Ibu dan anak, dua-duanya adalah sepasang.

 

Jadi saat seorang Ibu disampaikan suatu informasi bahwa kalau tidak menyusui ada risiko bermacam-macam untuk anak dan Ibunya, maka tidak mungkin ada Ibu yang tetap menolak menyusui dan ingin menanggung risikonya. Kualitas hidup seorang perempuan akan lebih baik ketika mereka tua nanti bila mereka menyusui. Jadi bila diinformasikan secara menyeluruh pasti mereka akan berusaha dan mengupayakan untuk bisa menyusui.

 

Anda sebagai salah seorang pendiri AIMI dan sampai sekarang aktif di AIMI. Salah satu tugas AIMI adalah memberikan, menyebarkan informasi mengenai pentingnya menyusui. Apakah sebenarnya masih banyak atau tidak masyarakat yang belum paham mengenai arti penting menyusui, terutama untuk bayi?

 

Data terakhir Riset Kesehatan Dasar Indonesia 2018 menunjukkan angka cakupan ASI eksklusif  baru 37,3%. Jadi masih sedikit sekali. Artinya, 37,3% itu tidak sampai 50%, tidak sampai setengahnya begitu. Jadi kalau dibilang masih sedikit, memang kenyataannya tidak banyak tahu. Jadi masih banyak sekali tantangan ke depan untuk kita segera bisa meningkatkan cakupan menyusui ini.

 

Tentunya banyak juga manfaatnya untuk negara banyak. Ketika angka kesakitan turun, baik pada anak maupun ibu, maka angka biaya kesehatan yang ditanggung oleh negara lewat BPJS seharusnya turun juga. Untuk pengusaha-pengusaha yang memiliki karyawati, perempuan yang menyusui dan difasilitasi untuk menyusui, berdasarkan riset yang dilakukan di Inggris menunjukkan ibu-ibu ini mereka menjadi lebih produktif karena anaknya jarang sakit. Jadi ibunya jarang bolos. Ibunya juga menjadi lebih berkomitmen kepada perusahaan karena mereka merasa berhutang budi karena diberikan fasilitas yang layak.

 

Jadi saya rasa para pengusaha juga harus melihat ini sebagai kesempatan untuk bisa memfasilitasi karyawatinya bisa menyusui. Bahkan saya pernah mendapat laporan ada perusahaan yang walaupun skalanya kecil memperbolehkan karyawatinya membawa bayi, disiapkan ruangan selama ada pengasuhnya di sana. Ada juga pabrik-pabrik yang sudah memulai mengatur shift karyawan. Jadi yang ibu yang menyusui, hamil tidak boleh mendapat giliran kerja pada malam hari. Ketika mereka yang berada di bagian produksi diatur juga ada jeda waktu untuk bisa memerah ASI.

 

Dimana peran AIMI dalam hal ini, apakah cukup hanya mengkampanyekan menyusui atau juga mengadvokasi sampai kepada perusahaan-perusahaan, atau bahkan ke pejabat pemerintah daerah?

 

Saat ini AIMI sudah ada di 17 provinsi di seluruh Indonesia, dan ada di 9 cabang tingkat kabupaten. Tugas kami ada tiga cakupannya yaitu promosi, perlindungan, dan mendukung menyusui serta terkait pemberian makan bayi dan anak. Kami juga mensosialisasikan soal pemberian MPASI yang berkualitas, makanan rumah, dan gizi seimbang. Jadi tidak berhenti hanya sampai di menyusui.

 

Upaya-upaya kami tentunya salah satunya adalah mengadvokasi ke pemerintah. Kita melakukan kelas-kelas untuk pemberdayaan orang tua, kita juga melakukan upaya-upaya yang kita sebut workshop untuk ustadz dan ustadzah. Kita mengelar juga penyuluhan untuk para ustad dan ustadzah supaya mereka memasukkan informasi menyusui saat mereka sedang ada pengajian.

 

Semua lini kita coba supaya pesan pentingnya menyusui dapat masuk. Saya juga beberapa kali diundang ke sekolah-sekolah, bercerita tentang menyusui baik itu di kampus maupun SD, jadi lebih bercerita kepada anak-anak.

 

Bagaimana jika pembaca ingin mengundang Anda  datang ke tempatnya atau kampusnya untuk memberikan penjelasan mengenai AIMI ataupun menyusui?

 

Dengan senang hati bisa dikontak di www.aimi-asi.org atau bisa lihat instagram kami, AIMI_ASI, atau lihat Facebook kami yaitu Asosiasi Ibu Menyusui Indonesia. Bisa kontak kami juga melalui media sosial dan website kami bila pembaca ingin bergabung atau membuka cabang AIMI. Nanti akan disambut oleh para pengurus dan relawan AIMI di seluruh Indonesia kemudian nanti akan diarahkan.

 

Siapa saja yang bisa bergabung di AIMI ini, apakah hanya kaum perempuan atau kaum pria pun boleh bergabung?

 

Tentu saja kaum pria juga boleh bergabung, bahkan wakil ketua AIMI Sumatra Utara adalah laki-laki, tetapi ketua harus perempuan. Pastinya siapapun boleh bergabung. Ketua AIMI Jogja saat ini belum menikah, belum pernah menyusui tetapi sudah konselor menyusui. Jadi kami persyaratannya harus menjadi konselor menyusui dulu, ada pelatihannya juga. Ini dilakukan supaya para ketua bisa menyampaikan informasi menyusuinya lebih baik kalau mereka sudah punya pemahaman yang cukup. Jadi kami minta para ketua sudah menjadi konselor menyusui.

 

Jika tertarik bergabung maka kami terima, baik remaja maupun siapapun, karena bagi kami menyusui itu butuh dukungan semua pihak. Ada istilah bahasa Inggrisnya, It takes a village to raise a child, and it takes the whole country to support breastfeeding. Jadi perlu semua orang untuk bisa mendukung menyusui.