Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Rukka Sombolinggi

AMAN Mengedepankan Solusi

Edisi 1217 | 27 Sep 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Wawancara Perspektif Baru hari ini menampilkan seorang yang sangat spesial menuju hari ulang tahun internasional organisasinya. Dia adalah Rukka Sombolinggi, Sekretaris Jenderal (Sekjen) Aliansi Masyarakat Adat (AMAN). Saya ingin membicarakan mengenai bagaimana signifikansi AMAN terhadap Indonesia dan internasional. Ini sehubungan pada 9 - 11 Agustus akan digelar Perayaan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) dan 20 tahun AMAN.

 

Rukka Sombolinggi mengatakan selama 20 tahun perjuangan AMAN ada banyak perubahan. Ada kemenangan-kemenangan kecil dan besar yang patut dicatat, ada pencapaian, dan penghargaan dari berbagai pihak, dari kawan-kawan seperjuangan, pendukung, pemerintah, dan dari lembaga donor yang harus diapresiasi. Namun masih banyak tantangan yang harus kita hadapi sama-sama. Jadi dalam perayaan 20 tahun AMAN, suasana batin kami seperti itu.

 

Ke depan perjuangannya tetap sama, tetapi AMAN sekarang lebih kuat di soal mengedepankan solusi. Jadi ketika kita mengkritisi, misalnya ketidakmampuan Pemerintah untuk melakukan pemetaan wilayah adat, atau mengidentifikasi wilayah adat, atau tidak punya data tentang masyarakat adat, maka itu kita siapkan semua. Kita kasih lihat contoh seperti apa seharusnya negara mengurus masyarakat adat. Itulah yang kami perlihatkan dan mengedepankan solusi.

 

Ketika kita di tengah krisis ekonomi global, AMAN memperkuat yang kita sebut sebagai ekonomi berbasis kampung.  Saat anak-anak muda kita mengeluh tentang kota yang begitu padat, di AMAN ada gerakan anak-anak muda pulang kampung karena tidak benar bahwa kehidupan hanya ada di kota.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dan narasumber Rukka Sombolinggi.

Saya ingin mulai dengan mengenai selama 20 tahun AMAN berdiri tentu ada banyak kekecewaan tapi juga banyak keberhasilan. Apa yang Anda bisa simpulkan mengenai 20 tahun AMAN?

 

Bicara tentang di mana kita saat ini, kalau secara singkat saya ingin rangkai dalam satu kata yaitu ada banyak perubahan. Ada kemenangan-kemenangan kecil dan besar yang patut dicatat, ada pencapaian, dan penghargaan dari berbagai pihak, dari kawan-kawan seperjuangan, pendukung,  pemerintah, dan dari lembaga donor yang harus diapresiasi. Namun masih banyak tantangan yang harus kita hadapi sama-sama.

 

Itu yang membuat mengapa tahun ini kami menyebutnya sebagai memperkuat komitmen, menguatkan akar, dan mengedepankan solusi. Jadi dalam perayaan 20 tahun AMAN, suasana batin kami seperti itu karena perjuangan pada 100 tahun lalu, 45 tahun lalu, 20 tahun lalu  ketika AMAN terbentuk dan sekarang adalah perjuangan atas wilayah adat yang masih sama, dan tentu saja perjuangan untuk itu tidak akan pernah berhenti kapanpun.

 

Kongkritnya dalam hal apa AMAN akan berbeda. Apakah dalam rekruitmen orang-orangnya, dalam kegiatannya, dalam internasional outreach, atau dalam apa?

 

Perjuangannya tetap sama, tetapi AMAN sekarang lebih kuat di soal mengedepankan solusi.  Jadi ketika kita mengkritisi, misalnya ketidakmampuan Pemerintah untuk melakukan pemetaan wilayah adat, atau mengidentifikasi wilayah adat, atau tidak punya data tentang masyarakat adat, maka itu kita siapkan semua. Kita kasih lihat contoh seperti apa seharusnya negara mengurus masyarakat adat. Itulah yang kami perlihatkan dan mengedepankan solusi.

 

Ketika kita di tengah krisis ekonomi global, AMAN memperkuat yang kita sebut sebagai ekonomi berbasis kampung.  Saat anak-anak muda kita mengeluh tentang kota yang begitu padat, saat ini di AMAN ada gerakan anak-anak muda pulang kampung karena tidak benar bahwa kehidupan hanya ada di kota.

 

Jadi ada hal-hal yang selama ini menjadi tantangan yang kami kritik, maka kita perlihatkan seperti ini seharusnya ke depan. Jadi memang sejak dulu basis perjuangan mempertahankan Indonesia adalah dari kampung-kampung. Dalam situasi sekarang ketika terjadi krisis ekonomi, terjadi krisis iklim global, maka jawabannya itu ada di kampung-kampung. Itu yang kami siapkan, makanya AMAN ingin mengedepankan solusi.

 

Dalam hal perubahan iklim sangat penting sekali peranan AMAN. Walaupun di seluruh dunia gerakannya kuat, tetapi ada beberapa pemerintah negara besar yang  mengundurkan diri dari kesepakatan seperti Paris Agreement. Sedangkan AMAN kita tahu berada di barisan terdepan dengan basis masyarakat adat.

 

Di sini poin yang ingin saya ajukan adalah keberadaan AMAN menjadi contoh bagi negara lain. Karena itu AMAN dikenal dan diakui di negara lain bukan hanya karena lembaga yang besar  tapi juga karena approach yang sangat tajam. Bagaimana pendapat Anda untuk periode berikutnya AMAN, apakah peran itu akan dilanjutkan?

 

Sebenarnya kita juga merasa terhormat kalau yang dikerjakan oleh AMAN selama ini  diapresiasi baik dari kawan-kawan maupun juga pemerintah. Arena internasional adalah salah satu arena perjuangan. Jadi banyak standar-standar kebijakan global seperti tentang hak asasi manusia, dan perubahan iklim, yang diputuskan di meja - meja perundingan global, tetapi berdampak terhadap kampung. Bahkan sampai jumlah satu pohon kita di kampung, satu jengkal tanah kita di kampung, terkena dampak dari perubahan atau negosiasi- negosiasi yang terjadi di jauh sana.

 

Kami merasa di negosiasi itu nasib kita juga sedang ditentukan, sehingga apapun yang akan diputuskan maka kita harus menjadi bagian dari itu. Jadi AMAN secara aktif mulai dari awal selalu ikut berusaha untuk terlibat dalam mempengaruhi perundingan-perundingan. 

 

Dalam 10 tahun terakhir AMAN sangat aktif khususnya terkait dengan perubahan iklim. Yang terjadi saat ini adalah AMAN termasuk ikut di dalam, yaitu ada yang disebut dengan platform untuk masyarakat adat dan komunitas lokal. Waktu itu kita berhasil memastikan bahwa negosiasinya tidak ada yang telat. Jadi  saya harus mengapresiasi kawan saya Mina Susana Setra yang waktu itu  AMAN tugaskan untuk mengawal, dan dia kemudian berhasil memastikan itu. 

 

Waktu itu saya titip, “Mina tolong dikawal ini baik-baik dipastikan jangan pulang kalau tidak beres.” Dia pulang, dan itu beres tapi kemudian yang terjadi adalah ketika pemilihan untuk  perwakilannya maka mau tidak mau, karena kita yang mendorong membentuk dan kemudian diminta oleh teman-teman, AMAN dan kali ini oleh Mina Susana Setra diminta untuk menjadi salah satu representatif tapi alternatif.

 

Jika representatif utamanya adalah Dolma Sherpa dari Nepal tidak bisa maka Mina wajib menggantikan.  Itu karena kita melihat bahwa yang terjadi di luar sana hanya akan menjadi realitas di kampung kalau kebijakan-kebijakan baik itu kita bawa dan terjemahkan di kebijakan nasional dan menjadi realitas di lapangan.

 

Dengan pendekatan pemikiran seperti itu maka kami juga meminta pemerintah Indonesia untuk ikut mewakili pemerintah. Kami bersyukur bahwa Mina lagi - lagi  menyampaikan ke kami semua di AMAN bahwa kita perlu bersyukur karena pemerintah Indonesia di ujung perundingan itu sangat kooperatif. Kemudian sekarang secara resmi menerima juga menjadi bagian dari utusan pemerintah alternate.

 

Menurut saya, ini kesempatan yang luar biasa untuk AMAN dan pemerintah kemudian bersama-sama ke depan bagaimana kita bisa mengangkat Indonesia di mata internasional. Ini supaya ketika bicara indigenous peoples bukan hanya yang buruk-buruk yang kelihatan tapi banyak sekali prestasi yang kita bisa sampaikan ke Internasional.

 

Bagaimana Anda, membuat diri Anda relevan kepada negara-negara maju yang secara kasat mata tidak punya Masyarakat Adat dan tidak punya hutan?

 

Dari awal kita sudah tahu dunia negosiasi di luar sana dan bagaimana kebijakan dibuat. Prinsip AMAN adalah mengedepankan solusi. We showed the examples, kita menjadi teladan, menjadi integritas. Itulah yang selalu menjadi pegangan kami ketika berkomunikasi termasuk di meja-meja perundingan.

 

Jadi kita itu selalu keluar dengan fakta dan data. Fakta, data, dan angka yang bisa diukur karena kalau tidak maka jargon-jargon saja. Itu tidak akan bisa diterima, tapi show the numbers, show the reality, put them on paper, lebih kepada komunikasi. Jadi intinya adalah komunikasi dimana kita harus menyampaikan hal yang topik-topik atau keinginan-keinginan yang ingin mereka putuskan itu di dalam bahasa yang bisa mereka pahami. Bahasa-bahasa yang dipahami di meja perundingan adalah bahasa-bahasa faktual, jumlah, indikator, dan output.

Mereka hanya bisa memahami komunikasi Masyarakat Adat ketika kemudian ada fakta-fakta, ada angka yang bisa dipahami. Dalam situasi itu kemudian AMAN memilih untuk oke, berarti untuk perjuangan-perjuangan yang ingin kita sampaikan maka kita harus menyampaikannya dalam bentuk-bentuk angka dan bentuk kata-kata yang bisa dipahami oleh delegasi-delegasi pemerintah. Juga dengan kami terus kemana-mana selalu menunjukkan identitas Nusantara.

 

Jadi menunjukkan identitas Nusantara selalu punya hubungan dengan kisah-kisah yang terjadi di kampung sendiri, atau berada di kampung-kampung anggota AMAN dan bukan kisah yang dibuat-buat. Jadi yang menjadi mandat dari yang kami bawa itu adalah memang hal-hal yang terjadi secara nyata di di kampung-kampung, anggota-anggota AMAN khususnya.

 

Bagaimana persiapan Anda untuk rekrutmen atau kaderisasi melanjutkan perjuangan ini?

 

Ini juga salah satu yang selama ini menjadi bagian dari pertimbangan dan pemikiran kami di AMAN karena hampir 20 tahun Rukka, Abdon, Mina masih terus menjadi pilihan untuk menjadi wajah AMAN. Itu semua sebenarnya terpaksa karena kemampuan AMAN untuk mencetak kader-kader yang khusus untuk di internasional lambat sekali.

 

Itu bukan karena kita tidak mau atau menghambat itu terjadi tapi memang Masyarakat Adat  prakondisinya itu memang sudah menyulitkan, khususnya bahasa. Saya baru belajar bahasa Inggris dengan serius Ketika berumur 30 tahun karena saya terpaksa. Saya memaksa diri dan itu adalah bagian dari pekerjaan saya.

 

Kita bisa belajar kapan saja, mulai belajar sesuatu tidak dibatasi. Namun regenerasi di AMAN khususnya di internasional masih menjadi PR. Kalau kita mencetak kader untuk mengorganisir di kampung itu mudah, mencetak kader-kader pemetaan cepat, kader-kader ekonomi bisa, untuk urusan menulis juga mudah, dokumentasi mudah.

 

Kader untuk di internasional harus punya skill khusus, khususnya bahasa dan ilmu pengetahuan tentang apa yang terjadi, struktur global atau pengetahuan umum. Untuk kami Masyarakat Adat, kami tidak mempunyai kemewahan untuk pergi ke sekolah-sekolah yang mengajarkan itu, bahasa Indonesia saja banyak yang tidak lancar apalagi bahasa Inggris.

 

Kalaupun ada yang bisa bahasa Inggris biasanya senangnya kerja di private company. Kalau di AMAN kesulitan kami adalah mencari orang-orang seperti itu dan juga punya komitmen untuk Masyarakat Adat, organisasi dan untuk dirinya sendiri.

 

Apakah bisa bekerjasama dengan suatu grant atau perusahaan komunikasi?

 

Jadi begini, ini bukanlah soal komunikasi biasa karena itu yang saya sebutkan sebelumnya, pergi ke negosiasi bukan hanya soal bernegosiasi. Jadi bukan hanya negosiator yang diperlukan tapi memang utusan, menjadi representative, face of indigenous peoples Indonesia. Apabila Abdon, saya, Mina, we’re the face, ada orang Dayak, ada orang Toraja dengan kampung masing-masing.

 

Jadi pimpinan AMAN karena pergi ke perundingan itu memang dia harus utusan resmi organisasi. Misalnya, Amerika Serikat mempunyai lawyer, bagaimana cara untuk bernegosiasi. Dari AMAN itu adalah pejabat-pejabat di organisasi, mau itu Sekjen, atau Deputi, maupun Dewan, ketua BPH, pengurus organisasi sayap, atau utusan dari kampung yang memang bukan hanya sekadar orangnya hadir di sana tapi dia punya landasan legitimasi yang kuat dari kampung.