Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Memilih adalah Keharusan

Edisi 1196 | 08 Mar 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kali ini kita berbicara dengan seorang profesor komunikasi, mantan juru bicara presiden, yang mempunyai perspektif jernih mengenai debat presiden karena pernah menyaksikan dan memperhatikan   debat presiden di nasional dan internasional seperti di Amerika Serikat (AS), yaitu Wimar Witoelar.

 

Menurut Wimar Witoelar, debat calon presiden (Capres) kedua yang belum lama berlalu cukup menjawab kebutuhan publik yang serius, tapi banyak sekali publik pengikut kampanye pemilu ini yang tidak melihat hal-hal tersebut. Mereka hanya mengikuti apa reaksi emosinya ataupun reaksi primordialnya terhadap suku, agama dan sebagainya, sehingga tidak sempat memperhatikan hal-hal yang memerlukan pemikiran yang lebih tenang.

Faktor emosional lebih menentukan dalam pilihan daripada unsur-unsur data, rasionalitas, dan logika. Hal ini terjadi di banyak negara dan justru itu menjadi kelemahan sistem demokrasi di mana-mana karena terlalu dikuasai emosi. Contohnya itu terjadi di Amerika, Inggris, Italia, Polandia, Hungaria.

Menurut Wimar, klaim patriotisme atau nasionalisme itu dianggap klaim yang paling murahan. Mungkin efektif untuk pemilih yang bodoh, sedangkan pemilih yang cerdas tidak mungkin percaya.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adiputro sebagai pewawancara dan narasumber Wimar Witoelar. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat pula dilihat pada situs http://www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda dapat memberikan komentar.

Bagaimana perspektif Anda melihat debat presiden kedua? Secara keseluruhan topik yang dibahas adalah topik-topik penting dan sangat teknis seperti pangan, lingkungan, infrastruktur, dan energi. Apakah sudah cukup mengangkat masalah yang ada dan dijawab oleh kedua calon presiden (Capres)?

 

Yang jelas saya sangat menghargai usaha Komisi Pemilihan Umum (KPU) untuk debat ini. Apalagi pertanyaan yang disusun juga oleh panel ahli seperti Dewi Kartika, Nur Hidayati, dan ahli-ahli lain. Topik yang dibahas juga sangat penting. Di sisi lain, saya melihat ini mungkin pertanyaannya terlalu dalam untuk calon yang menjawabnya dan juga untuk audiens. Saya tidak yakin apa semua bisa mengambil manfaat dari situ.

 

Apakah masalah-masalah yang ditanyakan, persoalan yang dijawab, dan data-data yang digunakan sudah cukup menjawab kebutuhan publik untuk tema-tema tersebut?

 

Itu menjawab kebutuhan publik yang serius, tapi banyak sekali publik pengikut kampanye Pemilu ini yang tidak melihat hal-hal itu karena mereka hanya mengikuti apa reaksi emosinya ataupun reaksi primordialnya terhadap suku, agama dan sebagainya. Sehingga tidak sempat memperhatikan hal-hal yang memerlukan pemikiran yang lebih tenang.

 

Seberapa besar keyakinan Anda bahwa debat kandidat itu bisa mengubah strong voter yaitu orang yang sudah mempunyai pilihan atau swing voters untuk menentukan pilihannya?

 

Kalau mengubah voters yang sudah memilih itu saya yakin tidak ada pengaruhnya karena orang lebih mementingkan keyakinannya daripada kenyataan. Dia tidak sempat memikirkan lagi secara obyektif dalam waktu dua bulan ini, bahkan tidak akan ada perubahan dari segi pilihan voters.  Untuk swing voters saya yakin ada, tapi bukan dari debat itu. Saya kira kembali dari isyarat-isyarat emosional, isyarat-isyarat identitas, dan tetap pilihannya adalah itu.

 

Jadi, apakah emosional itu lebih menentukan dalam pilihan daripada unsur-unsur data, rasionalitas, dan logika?

 

Sangat menentukan sekali.

 

Apakah itu hanya terjadi di Indonesia saja atau negara demokrasi lainnya juga sama?

 

Itu terjadi di mana-mana dan justru itu menjadi kelemahan sistem demokrasi di mana-mana karena terlalu dikuasai emosi. Baru-baru ini banyak sekali pemilihan umum yang dimenangkan oleh emosi, yang paling besar tentunya di Amerika Serikat (AS), dimana Donald Trump tidak mempunyai rasio sama sekali tapi populer. Di Italia, Polandia, Hungaria itu emosi melawan arus imigran. Di Jerman tidak ada lagi orang yang membahas mengenai kesejahteraan sosial, pilihan energi juga tidak, itu semuanya emosi seperti nonton sepak bola.

 

Debat ke dua Capres masih menimbulkan banyak kontroversi. Katanya kurang santun karena Presiden Jokowi memakai alat untuk menyerang pribadi Prabowo. Bagaimana menurut Anda?

 

Mungkin karena saya kebetulan memang sudah mempunyai pilihan untuk Jokowi, nanti dikira saya tidak bisa obyektif. Tapi saya susah untuk memaksa diri setuju kepada calon lainnya. Mengenai kepemilikan tanah yang luar biasa, di luar segala keadilan, apakah tidak boleh dipertanyakan? Menurut saya, justru itu harus, tapi kalau dia tersinggung itu artinya bukan tersinggung terhadap pertanyaannya. Harusnya dia malu bahwa dia itu menguasai sekian ratus ribu hektar, yang itu hanya bisa diperoleh di zaman Soeharto yang dibagi-bagi di antara keluarga dan kroninya.

 

Apakah publik perlu tahu data-data itu atau memang Jokowi sengaja ingin menjatuhkan?

 

Ini bukan mengenai Jokowi. Publik perlu tahu kalau ada satu calon yang corrupt, yang tidak benar, dan hal-hal yang negatif itu harus diketahui publik termasuk yang positif. Kalau orang ingin mengangkat mengenai hal negatif Jokowi, itu juga harus.

 

Jadi memang tugasnya Prabowo untuk mengangkat negatifnya Jokowi dalam perdebatan itu atau timnya Prabowo. Sama seperti setelah debat ke dua ini, saya banyak bertemu orang-orangnya kedua belah pihak. Banyak yang protes terutama mereka meminta untuk membuka juga kepemilikan lahan ratusan ribu hektar yang dimiliki oleh kroni-kroni dekat Jokowi.  Bagaimana menurut Anda?

 

Itu sangat dipersilakan. Kalau waktu itu tidak sempat, sekarang saja diangkat.  Nanti akan dilawan dengan segala angka statistik.

 

Jadi maksud Anda, data lawan saja dengan data.

 

Betul.

 

Tapi banyak yang mengatakan narasinya bahkan sampai Bawaslu bahwa ini menyerang pribadi, menyalahi aturan, bahkan KPU akan dimarah-marahi, mereka itu harus tegas kalau perlu diboikot saja. Bagaimana hal ini dibandingkan dengan Debat Capres di AS?  

 

Di sini masih sopan sekali. Budaya Indonesia, budaya Jawa itu sangat sopan. Mau dipaksa- paksa kasar juga tetap sopan. Kalau di AS itu kasar, segala hal yang bohong dikeluarkan, di sini sebenarnya juga ada tapi tidak dikeluarkan dalam debat tapi mungkin dalam kampanye.

 

Kalau tentang adil atau tidak, ini ibarat kita main bola kemudian ada orang yang menendang bola keras sekali sampai sakit perut, apakah orang yang menendang keras itu akan disalahkan? Jadi salah saja, kenapa dia tidak menghindar.

 

Sementara di AS perdebatannya lebih tajam dan tercampur fitnah, bahkan terbukti fitnah dan menggunakan alat-alat sosial media.

 

Apakah itu hanya di era Presiden Trump saja atau memang sejak dulu?

 

Tidak, ini hanya khusus sekarang karena di sini ada presiden yang tidak memenuhi syarat, ingin menang dan kekuatan dia adalah popularitas publik karena dia itu bintang televisi, reality show yang di situ dia kuat. Tapi kalau dia debat substansi, sampai sekarang pun saya rasa dia tidak mengerti. Dia membuat hukum darurat, tapi tidak mengerti apa itu darurat.

 

Baru-baru ini kepemilikan lahan sedang ramai dibicarakan, kemudian banyak menimbulkan kontroversi. Salah satunya ada yang meminta KPU menegur Jokowi, bahkan Prabowo juga meminta Jokowi membuka data-data kepemilikan lahan. Yang menarik adalah statement dari wakil presiden yaitu Jusuf Kalla (JK) yang menjadi bagian dari tim kampanye Jokowi. Beberapa bulan terakhir JK terlihat agak sering berbeda pendapat, misalnya dia mengkritik Mass Rapid Transit (MRT) kemahalan, mengkritik pembangunan Trans Sulawesi. Kemudian yang terakhir dia mengakui bahwa dia yang membagikan atau memberikan tanah itu kepada Prabowo atas dasar daripada dimiliki oleh asing yaitu Singapore waktu itu. Padahal itu adalah tanah sitaan Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN), kalau tidak salah.

Bagaimana menurut Anda? Apa yang sebenarnya ingin ditampilkan oleh wakil presiden dengan pernyataan itu?

Saya tidak tahu sampai mana keterangan JK itu benar, tapi tidak bisa satu kesalahan dibalas dengan kesalahan lain. Klaim patriotisme atau nasionalisme itu saya anggap adalah klaim yang paling murahan. Apakah lebih baik lahan itu dikuasai oleh orang Indonesia yang corrupt daripada orang Singapura yang businessman biasa? Yang saya tidak mengerti, apakah pendukung Prabowo ini memang terbatas pengetahuannya atau memang ingin menang saja.

Apakah narasi patriotisme atau nasionalisme masih cukup efektif dan mengapa masih dipercaya sekali?

 

Mungkin efektif untuk pemilih yang bodoh, sedangkan pemilih yang cerdas tidak mungkin percaya.

 

Apa salah kaprah yang ditemukan ketika bicara narasi-narasi nasionalisme, patriotisme, dan anti asing yang dipakai dalam kontestasi Pemilu?

 

Kesalahannya bahwa dia menggunakan argumen yang sudah hilang zaman Orde Baru. Sekarang kita zaman internasional. Kalau dia juga kelihatannya ikut mendukung e-commerce dan sebagainya, itu dasarnya adalah internasionalisme

 

Apa kesalahan atau kekurangan Jokowi saat debat?

Mungkin terlalu banyak data, jadi orang pusing, apalagi orang yang tidak begitu pintar.  

Mengapa Jokowi terjebak pada itu? Apakah memang Jokowi minim retorika atau memang tidak ingin itu? Bagaimana analisa Anda?

Memang dia bukan ahli retorika, dia adalah ahli kerja. Jadi kalau debat itu agak susah.

Kalau diperhatikan, CV Anda dalam lima sampai enam tahun terakhir itu aktif sekali. Tidak hanya di bidang komunikasi tapi juga advokasi perubahan iklim. Lingkungan dan perubahan iklim itu jadi salah satu tema debat Capres, tapi saya tidak melihat itu jadi tema perdebatan yang cukup tajam kecuali ada ide-ide baru. Misalnya ketika membahas kebakaran hutan, konflik agraria, kemudian ada rencana juga pemisahan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan. Jokowi kalau tidak salah highlightnya sudah menindak banyak sekali perusahaan-perusahaan yang melakukan pembakaran hutan. Apakah highlight dari Anda untuk topik lingkungan dan perubahan iklim?

 

Ini  tercampur-campur. Ada yang memang kita perlu sorot, ada yang kita terima saja, termasuk Prabowo juga sering mengatakan, “Ya saya setuju saja.” Pertama soal pemisahan Kementerian Lingkungan Hidup, apakah Prabowo tidur selama lima tahun? Pemisahan itu hasil dari pada kajian untuk menyelamatkan hutan. Dengan menggabungkan lingkungan hidup dan kehutanan maka dimungkinkan dikurangi pembalakan liar, pengurangan deforestasi, menghindari kebakaran hutan karena lingkup kontrol lingkungannya ada di situ. Sebelum pemerintah yang kemarin itu, Kementerian Kehutanan menjadi kementerian untuk bagi-bagi korupsi. Jadi memang departemen yang terkenal korup. Sekarang, itu belum bersih sama sekali, tapi menterinya sangat bersih, pekerjaannya sangat mengacu pada pembersihan. Kerjasama dengan KPK dan semua yang baik itu terjadi karena penggabungan.

 

Tapi lucunya banyak yang mengatakan, “Mana bisa digabung, satu narasinya eksploitasi, sedangkan satunya lagi narasinya konservasi. Itu seperti minyak dengan air.”

 

Kalau dulu mungkin iya. Tapi sekarang kehutanan itu narasinya adalah perlindungan hutan.

 

Apakah ini berarti bukan untuk bagi-bagi jatah Hak Pengusahaan Hutan (HPH) atau sejenisnya?

 

Zaman Jokowi itu bagi-baginya hanya kepada rakyat kecil.

 

Apakah narasi atau pemisahan seperti itu justru malah kontraproduktif? 

 

Kita tahu bahwa dia ingin menang. Jadi kalau pemilihnya memang suka, mau gimana lagi.

 

Mengenai penegakan hukum untuk pembalakan liar, kebakaran hutan itu juga jadi di-highlight dan dikritik. Bagaimana menurut Anda?

 

Itu terjadi di kementeriannya Siti Nurbaya. Kalau zaman dulu ada oknum di kementerian yang melakukan pembalakan. Sekarang tidak ada yang namanya korupsi besar-besaran, ada yang korupsi tapi bukan atas nama menteri atau presiden.

 

Menurut Anda, apakah isu lingkungan seperti yang kemarin sudah cukup merepresentasikan kebutuhan dan sektor-sektor apa yang sebenarnya sangat penting tapi belum diangkat?

 

Lingkungan tidak dibahas. Sebetulnya bagus untuk dibahas demi kelengkapan debat. Tapi menurut saya tidak ada yang dengar karena publik sudah memutuskan - saya mau milih orang yang joget-joget di masjid, yang populer di ibu-ibu - bukan lihat isunya. Satu bulan lagi menjelang Pemilu sudah terlambat untuk mengedukasi publik.

 

Edukasi yang penting adalah isu lingkungan dan climate change. Itu harusnya menjadi jualan utama politik kita.

 

Harusnya iya, tapi kenyataannya tidak. Kelompok-kelompok masyarakat di publik, Civil Society dan LSM sangat gencar dalam mendukung itu. Sampai ada organisasi yang berbasis lingkungan yang menarik dukungannya terhadap Jokowi karena Jokowi kurang tegas dalam membawakan programnya.

 

Itu betul, tapi mungkin karena saya orientasinya terutama pada demokrasi, menurut saya kalau Pilpres itu yang penting kita pilih dulu presidennya yang benar. Pada masa pemerintahan Jokowi memang ada hal-hal yang dia belum selesaikan, tapi paling tidak arahnya benar. Kalau Prabowo  kelihatannya tidak tahu arahnya ke mana. Buktinya satu-satunya dalam sikap beliau terhadap lingkungan adalah penguasaan ratusan ribu hektar untuk keperluan pribadi.

 

Kalau kita bicara mengenai perdebatan di publik yang terjadi bertahun-tahun belakangan ini, seperti politik lingkungan, adalah antara kita ingin menggenjot pertumbuhan ekonomi misalnya pembangunan di mana-mana, jalan, infrastruktur, pembangkit listrik 35.000 MW targetnya, dengan pelestarian lingkungan. Banyak orang yang menganggap bahwa ini adalah air dan minyak yang tidak mungkin menyatu. Ketika kita memilih pertumbuhan pasti akan merusak lingkungan. Begitupun dengan kalau kita memilih konservasi pasti ekonomi kita tidak akan tumbuh. Bagaimana menurut Anda?

 

Itu pemikiran orang zaman dahulu. Sebetulnya sejak tahun 1990-an sampai 2000 orang sudah mengetahui bahwa lingkungan dan konservasi, energi atau pembangunan dan konservasi bisa dipertemukan dalam framework climate change, sama-sama mengacu pada penekanan atau penurunan emisi karbon.

 

Dalam beberapa tahun terakhir, apakah pemerintah Indonesia cukup concern untuk menggabungkan dua hal ini, misalnya seperti apa?

 

Di Konferensi Paris, Indonesia yang utama dalam membawakan suara ini yang kemudian tentu diingkari oleh Trump dalam setiap konferensi lingkungan. Di seluruh dunia, Indonesia terkenal sangat menjaga lingkungannya sampai kita menerima bantuan asing dari Norwegia, Jerman, AS, Perancis. Tentunya orang mengatakan, “Wah asing itu, saya tidak mau bekerjasama dengan asing.” Kalau begitu akan susah. Silakan saja kita tidak bisa mendidik. Sekolah juga hanya menerima orang yang mau belajar.

 

Kalau aktivis lingkungannya, apakah di Indonesia sudah cukup bisa untuk menyesuaikan atau mereka sudah mengerti bahwa memang tidak harus dipertentangkan kedua-duanya karena ini merupakan masalah masyarakat sipil? 

 

Mengerti betul, semua organisasi lingkungan itu sudah melihat model-model pembangunan yang sustainable, yang ramah lingkungan karena itu sudah ada rumus-rumusnya. Tapi mereka itu suka kesal bahwa pemerintah tidak selalu bisa melaksanakan itu termasuk Pemerintahan Jokowi. Tapi saya tambahkan, apakah kalau dengan Prabowo akan bisa? Lebih tidak bisa lagi karena dia tidak mengerti apa-apa.

 

Apakah sekarang ini pembangunan-pembangunan sudah lumayan?

 

Sudah sangat lumayan di dalam banyak hal.

 

Misalnya pembangkit listrik 35.000 megawatt itu kadang-kadang di pusat-pusat hutan konservasi. Bagaimana itu?

 

Tidak boleh kalau berada di pusat hutan konservasi. Harus ada AMDAL-nya, peletakannya harus tepat. Kalau ada yang menyebut infrastruktur listrik yang merusak hutan memang itu tidak tahu atau menyebarkan berita negatif.

 

Tapi ke depan seharusnya politik lingkungan menjadi salah satu penjualan utama pemimpin-pemimpin politik bukan hanya di Indonesia dan juga di dunia karena memang kebutuhan akan perubahan iklim atau concern atas perubahan iklim sudah di depan mata.

 

Sebetulnya sejak Pemilu 2014 sudah diusahakan bahwa naratif lingkungan masuk dalam kampanye, muncul kelompok poros hijau, kelompok-kelompok hijau masuk dalam dialog politik. Tapi tetap yang mempunyai power itu di pihak manapun terlalu cepat meninggalkan perencanaan itu untuk kepentingan jangka pendek.

 

       ---oo000oo---