Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Menghadapi Banjir Berita Bohong

Edisi 1194 | 08 Apr 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita akan membahas mengenai semburan kebohongan dimana saat ini isu tersebut sedang mengemuka. Kedua belah pihak kontestan peserta Pemilu calon  presiden saling menuding satu pihak dengan yang lain itu berbohong. Narasumber kita adalah Wimar Witoelar, pendiri Yayasan Perspektif Baru.

 

Wimar mengatakan  dirinya tidak ingin menilai cara kampanye petahana atau penantang karena belum lama mengikuti ini. Tapi yang jelas, kebohongan jangan dilawan dengan kebenaran karena nanti ribut dan menjadi tidak karuan. Kebohongan dilawan dengan mengabaikan mereka. Orang membuat bohong itu paling sedih kalau dia tidak didengarkan.

 

Misalnya, ada orang ngawur membuat kebencian dan dia ditangkap, malahan senang menjadi hero bahkan dibawa ke penjara menjadi senang dia. Tapi kalau dia didiamkan, dimasukkan ke tempat yang kecil tidak jadi soal. Bagi saya yang menarik hanya satu, yaitu abaikan saja berita bohong dan majulah ke bilik Pemilu. Bagi saya, itu yang paling sederhana.

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Dwipo Kuncoro sebagai pewawancara dan narasumber  Wimar Witoelar.

Dulu Joseph Goebbles, Menteri propaganda Hitler, mempunyai jargon bahwa jika kebohongan kita suarakan terus-menerus maka itu akan diangap kebenaran. Saat ini ada istilah terbaru Selang Kebohongan. Apa kira-kira ada perbedaan istilah tersebut dengan jargon Joseph Goebbles?

Pertanyaan itu tepat sekali karena yang dilakukan oleh Joseph Goebbles sama dengan  yang dilakukan sekarang, tapi Joseph Goebbles berada pihak penguasa. Sekarang sedang dilakukan oleh orang yang justru ingin menggantikan penguasa.

Dasarnya hal itu adalah pertemuan dari ilmu komunikasi, ilmu psikologi, dan ilmu politik dimana mereka memanfaatkan pengetahuan mereka mengenai perilaku manusia bahwa orang takut menghadapi dunia. Jadi mudah percaya pada kebohongan untuk mengatasi ketakutan itu.

Misalnya, dulu orang takut hantu, sekarang takut politik maka dia berlindung pada kekuatan politik. Sayangnya, yang dipakai untuk perlindungan itu kekuatan politik kotor yang justru menganalisa ketakuatan setiap orang melalui ilmu analisa data, dan memanfaatkan ketakuatan itu dalam media sosial.

Jadi Anda berbicara mengenai data tadi berhubungan karena berkembangnya media sosial.

Iya, karena berkembangnya internet menjadikan media sosial berkembang cepat karena banyak salurannya. Jadi karena meraka mengtahui setiap orang memang secara alami memiliki ketakutan, maka ahli-ahli analis politik kotor dari berbagai negara mengamati kelompok mana yang suka takut terhadap isu mana. Misalnya, ada orang yang takut terhadap tergangunya agama mereka maka isu agama dilarikan, ada orang yang takut soal ancaman ras lain maka itu dimanfaatkan.

Berarti ada masalah inferior dan superior.

Ada, dan memang yang termakan oleh semburan kepalsuan itu adalah orang yang merasa inferior, orang yang merasa rendah diri. Kalau orang yang percaya diri maka dia cuek saja, dia abaikan.

Mengenai isu superioritas dan inferioritas, apakah ini masalah jumlah massa yang besar secara kuantitas itu berbanding terbalik dengan kualitas yang ada?

Saya mengira tidak ada langsung hubungannya dengan jumlah tapi dengan sejarah, pertumbuhan, dan masa kecil mereka. Dimana mereka sejak kecil sudah ditakuti oleh orang asing, maka mereka akan takut dengan orang asing. Atau ada sejenis ketakutan terhadap orang pintar, maka orang yang belum beruntung mendapat pendidikan akan takut dengan seseorang yang pintar, jadi dia curiga. Jadi mereka lari mencari seseorang kandidat sebagai hero, padahal kandidat yang mereka cari bisa menjerumuskan.

Apakah orang – orang yang termakan isu ini mempunyai latar belakang pendidikan yang kurang?

Pada umumnya latar belakang pengalaman yang kurang, bukan pendidikan formalnya. Namun mereka kurang pergaulan, kurang travel, kurang terbuka, hanya eksposure terhadap satu budaya, jadi mereka tidak terbuka dan ketertutupan yang menjadi kelemahannya.

Kampanye semacam ini sudah digunakan di berbagai negara pada beberapa tahun terakhir ini terutama karena itu sudah berhasil di Amerika Serikat, Amerika Latin, dan beberapa negara Eropa. Kita melihat seharusnya logika masyarakat mereka lebih maju daripada kita.

Masalahnya, kita pikir masyarakat di Amerika Serikat (AS) lebih maju, ternyata banyak yang belum maju, yang belum maju semakin iri terhadap yang sudah maju terutama di bidang teknologi internet. Apalagi yang fasih di bidang internet itu orang keturunan China, India, termasuk Indonesia. Jadi orang AS yang kurang pengalaman itu merasa terancam oleh mereka, dan jadi mudah terhasut.

Apakah hal itu sama juga terjadi di Eropa?

Kira – kira sama. Itu karena budaya di AS dengan Eropa sama. Kalau di Indonesia beda sama sekali, tapi persamaannya bisa kita bahas.

Bagaimana kondisi di Indonesia sekarang, perbedaaan dan persamaannya ?

Di Indonesia, pertama, ada perasaan kurang percaya diri bahwa suku lain lebih maju dari mereka, menurut persepsi mereka. Mereka berpikir kalau orang kaya seperti Arab, China, padahal banyak orang Jawa, Sunda, lebih maju tapi mereka tidak mengakui dan dianggap pengaruh asing.

Jadi di Indonesia sedang ada perubahan budaya dimana orang diharapkan menyambut baik perubahan ini, tapi banyak orang tidak ingin meninggalkan budaya lama. Mereka lebih baik hidup dengan segala ketakutan dan pertahanan semu yang mereka punya, jadi di Indonesia  belum menentu. Namun di Indonesia sudah ada pengalaman pada 2014 dan 2016 dimana teknik ini digunakan.

Pada 2014 sudah ada kampanye bohong tapi kalah karena pendukung Jokowi waktu itu sangat kuat dan kandidat yang lain kurang menarik mungkin, tapi sekarang mereka sudah belajar dari kesalahan. Karena itu ingin bohong tidak boleh tanggung – tanggung, bohong saja terus sampai orang pusing, dan kalau orang yang benar ingin membela diri maka fakta dilawan fakta, sehingga orang tidak ingin dengar.

Mereka pusing sehingga tidak ingin mendengar ceramah tentang infrastruktur dan politik. Jadi mereka mencari orang yang membuat nyaman seperti seseorang yang mereka kenal, atau seseorang guru agama karena guru agama macam – macam, ada yang ingin mencerahkan, dan juga ada yang ingin memelihara kebohongan itu.

Anda selalu berbicara bahwa bila bingung tanyalah kepada seseorang terdekat. Yang menjadi masalah sekarang orang – orang yang dekat itu terkadang mempunyai afiliasi politik tertentu.

Kita tidak bisa mendapat jaminan bahwa kita akan selamat, jadi tetap bertanya dengan orang terdekat tapi diuji secara kritis afiliasinya. Afiliasinya benar atau tidak, kalau lama – lama tidak masuk akal maka mereka harus ganti acuan atau penasehat. Jadi akhirnya orang hanya bisa bergantung pada diri sendiri selama orang itu bergantug pada orang lain, maka dia sangat rawan untuk ditipu.

Tadi Anda mengatakan kalau dengan teknik ini yaitu selang kebohongan membuat pemerintah terpilih nanti akan terus berbohong, dan menutup kebohongan dengan kebohongan?

Bukan pemerintah terpilih, tapi penantang. Jadi kalau ada orang yang berkuasa dan bekerja baik dan ada yang menantang ketinggalan 25% di polling, maka satu – satu nya cara untuk mengejar ketinggalan dengan membuat cerita bohong sehingga menjadi ramai, dan petahana terpaksa membela diri dengan cara mungkin terlalu keras, jadi orang kehilangan simpati kepada petahana. Kesimpulannya mereka tidak ingin politik, dan akhirnya tidak memilih kalau mereka tidak memilih maka penantang itu menang.

Bagaimana kasus ini terjadi di AS dan Brazil, dan bagaimana kondisi mereka saat ini?

Saat ini Trump baru membuat Pidato Kenegaraan satu tahun yang banyak dicibir karena sekarang Kongres dikuasai oleh partai Demokrat. Namun ada orang yang loyal terhadap Trump, dan Trump menggunakan orang yang tidak berpendidikan dengan mengatakan, “Saya membela kalian.” Tersirat orang yang tidak berpendidikan dibela.  Kemarin di dalam pemilihan antar waktu Trump kalah, tapi sekarang dia sedang melakukan serangan balik dan belum selesai.

Pada Pemilu 2014 isu ini sudah digunakan. Apakah pemerintahan incumbent sekarang  sebenarnya tidak ada metode untuk meredam isu-isu ini?

 

Tentunya punya, tapi mungkin kekuatan incumbent itu sekaligus menjadi kelemahannya, yaitu karena dia terlalu banyak yang mau diucapkan akhirnya yang keluar membuat orang juga pusing mendengarnya. Terus juga terlalu banyak pendukungnya, sehingga ada golongan-golongan pendukung, misalnya golongan pendukung yang satu itu kompak kalau soal menanggapi Pemilu DKI, tapi tidak kompak menanggapi urusan lain. Jadi tidak ada kekompakkan antara pendukung petahana.

 

Kalau penantang itu kompak, pokoknya membuat ribut dan mereka itu kompak satu sama lain, pokoknya kita benci kaum elit, kita benci orang yang korup dan sebagainya. Padahal yang paling korup itu justru yang uangnya dipakai dalam kampanye.

 

Saya baca sebuah artikel yang menyebutkan bahwa Presiden Jokowi berhasil pada 2014 karena didukung oleh kampanye di sosmed. Namun sekarang sosmed-nya diambil alih atau mereka kalah kampanye oleh penantang. Apakah memang seperti itu?

 

Saya tidak sepenuhnya berpendapat, tentunya saya hanya satu orang, tapi saya rasa Jokowi itu menang karena dia suara segar dan populer. Dia menang di semua medium baik yang konvensional maupun yang sosial media walaupun dia hampir tersusul oleh Prabowo pada saat-saat terakhir, tapi dia masih menang. Tapi kenyataan bahwa dia hampir tersusul itu membuktikan bahwa penantangnya tanpa ada pengalaman memerintah, tanpa ada kebaikan dalam sejarahnya  bisa mendapatkan suara yang besar.

 

Jadi Jokowi hampir kalah sebenarnya kemarin. Sekarang tidak tahu karena kalau dilihat polling maka dia menang. Namun kalau dilihat orang yang mulai sebal dengan penguasa, tidak puas dengan yang dia dapat tanpa tahu sebenarnya apa itu yang dia bisa dapat dari pemerintah lain, kembali rawan.

 

Sekarang kalau orang mendukung Jokowi jangan terlalu semangat mendukung programnya, programnya orang sudah tahu, orang bisa lihat ini ada kereta api, pelabuhan, jalan raya, BPJS, dan sebagainya. Jadi itu tidak usah terlalu dipersoalkan. Sekarang orang harus mempertahankan ketulusannya, tidak ikut mendengarkan berita bohong, dan yang penting memilih.

 

Dari segi media, saat ini petahana didukung oleh banyak media konvensional misalnya televisi. Apakah kemudian isu-isu di televisi itu menjadi tidak dipercaya oleh publik karena mereka berafiliasi dengan politik tertentu atau memang ada  kejenuhan?

 

Ada kejenuhan, saya saja tidak pernah melihat acara politik karena saya jenuh, yang benar itu  berulang-ulang menyatakan kebenarannya padahal kita sudah tahu seperti itu. Sedangkan yang menantang memang ngawur omongannya tapi menarik seperti acara hiburan karena TV itu media hiburan. Kita jangan lupa, orang lebih senang terhibur oleh hal-hal yang lucu dan ngaco daripada hal-hal yang rasional dan harus dipikirkan.

 

Apakah masalah di tim kampanye yang memang tidak membungkus pesan dengan baik?

 

Tim kampanye itu besar. Jadi ada bagian yang baik, ada bagian yang tidak, dan sekali lagi saya tidak bisa menilai tim kampanye karena saya tidak tahu bagaimana cara mereka kerja. Tapi produknya itu menunjukkan bahwa mereka di beberapa tempat kehilangan kepercayaan, sehingga kalaupun tidak memilih penantang paling tidak orang akan Golput dan tidak ingin urusan politik.

 

Jokowi membuat reuni dengan mahasiswa, misalnya, yang ikut reuni saja dari perguruan tinggi mengatakan, “Mengapa perguruan tinggi harus ikut politik?” Padahal itu bukan ikut politik. Kalau mengatakan, “Hai kamu jangan percaya hoaks.” Itu sebetulnya bukan politik, itu antipolitik. Tapi jadi susah sekarang kampanye melawan kebohongan itu karena orang yang cenderung takut lebih senang dapat solusi terhadap ketakutan dengan pahlawan-pahlawan yang dia mulai idolakan.

 

Kembali ke isu melawan kebohongan. Saya melihat saat ini petahana terlalu mengikuti gaya kampanye penantang. Jadi isu-isu kebohongan ini mereka jawab dan mereka hanyut dengan pola-pola pikir mereka, apakah seperti itu?

 

Saya tidak ingin menilai cara kampanye petahana atau penantang karena saya belum lama mengikuti ini. Tapi yang jelas, saya pikir bahwa kebohongan jangan dilawan dengan kebenaran karena nanti ribut dan menjadi tidak karuan. Kebohongan dilawan dengan mengabaikan mereka. Orang membuat bohong itu paling sedih kalau dia tidak didengarkan. Misalnya, ada orang ngawur membuat kebencian dan dia ditangkap, malahan senang menjadi hero bahkan dibawa ke penjara menjadi senang dia. Tapi kalau dia didiamkan, dimasukkan ke tempat yang kecil tidak jadi soal. Jadi memang harus hati-hati. Kalau kita mem-bully orang, maka yang di-bully itu bisa kick balik.

 

Jadi mereka seperti play victim.

 

Ya seperti play victim, “Wah ini orang galak sekali, kita dimarahin melulu.” Padahal orang itu maksudnya baik, sebaiknya tidak perlu bicara apa-apa begitu.

 

Jadi apakah memang dalam berkomunikasi kadang-kadang harus hati-hati juga dengan apa yang harus kita sampaikan?

 

Saya sudah lama mencoba berkomunikasi, tapi tahun ini saya merasa tidak mampu sama sekali karena message saya banyak yang tidak kena. Mungkin karena tidak terlalu banyak bicara karena pesannya itu-itu saja, atau karena teriring dengan emosi. Jadi harus tidak emosional mengenai masalah yang sebenarnya sangat mengganggu.

Bagi saya yang menarik hanya satu, yaitu abaikan saja berita bohong dan majulah ke bilik Pemilu. Bagi saya, itu yang paling sederhana.

 

Itu dua hal penting untuk kita lakukan, jadi abaikan berita bohong dan pilih di Pemilu. Kemudian kalau efek itu tetap berlanjut, apa kira-kira yang harus masyarakat lakukan supaya mereka bisa terhindar dengan berita-berita bohong?

 

Kalau efek berlanjut ada bagusnya juga kalau petahana kalah. Jadi orang merasa benar juga kalau kita terlalu santai seperti itu, sebab orang itu baru belajar kalau dia gagal, kalau dia  terpojok. Kalau menang lagi, biasanya reaksi orang seperti ini, “Ahh, dari dulu aku juga bilang kita tidak perlu berpolitik karena politik itu juga pembelaan.” Orang main bola maka membelanya dengan main bola juga, tidak bisa orang main bola terus pertahanannya basket. Jadi kalau ada serangan politik mempertahankannya dengan politik juga.

 

---oo000oo--