Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Ismail Fahmi

Golput Meningkat Kenapa

Edisi 1193 | 08 Mar 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Narasumber kita Ismail Fahmi, Founder dari Drone Emprit. Kita akan membicarakan pemanfaatan media sosial di kampanye politik elektoral sekarang.

 

Menurut Ismail Fahmi, hoaks di media sosial dalam kaitannya dengan pilpres, dua kubu bertanggung jawab. Kemarin mereka sudah menyatakan, “Jangan sebarkan hoaks, kalau ada yang ragu-ragu tanya kami. Ini perlu karena sebagai  info clearing house. Itu mereka paling tidak setiap hari harus mempromosikan, “Ini adalah hoaks yang salah, yang disebar oleh kawan-kawan kita, jangan dishare lagi,” misalnya seperti itu. Harus dijelaskan, jadi dia bertanggung jawab atas konstituennya, memberi tahu bahwa yang ini informasinya tidak benar, jangan dishare.

 

Ismail mengatakan Kominfo sudah membuat tapi begitu banyaknya tidak mungkin semua ditangani oleh Kominfo sendiri. Ada teman-teman Mafindo juga yang sifatnya relawan. Isu half truth, hoaks itu bisa muncul setiap hari. Jadi saya kira ini akan lebih bagus kalau dua kubu punya semacam daftar hoaks yang menyebar supaya follower atau pembelanya mengetahui mana yang harus diikuti, mana yang tidak.  

 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adi Putro sebagai pewawancara dan narasumber  Ismail Fahmi. Wawancara lengkap dan foto narasumber dapat dilihat pada situs www.perspektifbaru.com. Lewat situs tersebut Anda juga dapat memberikan komentar dan usulan.

apa nama lembaga Anda Drone Emprit karena terdengar sangat unik, apakah ada maksud tersendiri dari nama itu ?

 

Nama Drone Emprit memang sengaja kita gunakan agar terlihat unik dan agar tidak tegang saja. Jadi perusahaan saya sebenarnya berbasis Big Data, kita mengolah data yang sangat besar. Namun ketika kita mengeluarkan banyak data, jadi kurang menarik seandainya terlalu tegang penyampainnya. Bayangan waktu itu kalau sedang memonitor, saya menggunakan Drone namun Drone-nya memakai Twitter, salah satunya. Twitter itu simbolnya Burung Emprit.

 

Jadi karena itu Anda menamakannya Drone Emprit. Apa yang lembaga Anda lakukan atau pantau terkait dengan politik tentunya dalam menggunakan media sosial ini?

 

Sebenarnya Drone Emprit ini semacam layanan analisis gratis yang saya ingin share ke publik. Itu karena sewaktu sebelum Pilkada DKI saya melihat banyak hoax, banyak informasi yang salah, yang disebarkan oleh situs – situs tidak benar. Kemudian itu menyebar di media sosial dan publik tidak tahu, tapi saya tahu itu bohong.

 

Anda tahu itu bohong, dan diorganisasi. Apa ini menyangkut politik?

 

Kira – kira semacam itu, ada propaganda, ada informasi yang tidak benar. Contoh, waktu ketika demo di Monas pada 2 Desember 2016 atau 4 November 2017, ada berita dua orang meninggal. Peristiwa itu langsung ramai di media sosial, padahal meninggalnya dua hari sebelum saat mereka berangkat ke demo. Keterangan ini ada didalam teks tetapi ketika menyebar kemana – mana itu sudah tidak benar. Dari situ saya termotivasi sering membuat analisis yang sangat lengkap tentang isu – isu yang menarik. Jadi publik dapat belajar, melihat data, melihat kesimpulan dan kita ingin melakukan literasi berbasis data.

 

Jadi ini berangkat dari kekhawatiran Anda melihat dari jauh dan dekat dengan Big Data.  Apa saja penyakit – penyakit yang ada di media sosial yang bisa kita identifikasi terutama terkait dengan politik demokrasi akal sehat?

 

Sebenarnya kita perlu tahu dulu, saat kontestasi politik pasti ada yang namanya tim untuk melakukan kampanye. Ada dua jenis kampanye di sini. Pertama, kampanye positif untuk mengangkat calonnya. Kedua, kampanye negatif untuk menjatuhkan lawan, dan ini yang menjadi akar awalnya.

 

Contohnya, saat Pilkada DKI 2019 ada tiga kontestan yang berarti paling tidak ada tiga tim, tetapi ternyata tidak. Di data saya ada empat tim. Ada satu kelompok masyarakat yang bermain di media sosial dan mereka tidak masuk ke dalam tiga tim ini.

 

Kemudian sekarang Pilpres ada dua tim, dan itu sudah sangat jelas head to head-nya.  Setiap hari memproduksi dengan sengaja materi – materi dalam bentuk meme, screenshoot, dan apapun bentuknya untuk di-share ke publik. Jadi publik tidak perlu mencari, mereka hanya tinggal share – share saja dan itu sangat cepat sekali.

 

Kalau hanya publik saja, tidak ada tim yang melakukan memproduksi media dua hal kampanye jenis yang tadi saya bicarakan, maka berarti yang ada hanya rasa natural publik. Itu frekuensinya tidak akan pernah tinggi jadi seadanya saja. Tapi ketika ada yang sengaja menciptakan karena memang kontestasi, maka produksi informasinya luar biasa besar. Contoh, dalam sehari setiap kubu isunya paling tidak minimal dua, dikalikan dua kubu berarti akan ada empat isu dalam sehari.

 

Apakah itu untuk menyerang kubu lain atau untuk memposisikan kubu sendiri?

 

Paling tidak satu isu untuk memposisikan calonnya dan satu lagi untuk menyerang. Belum lagi bertambah ada kesalahan pernyataan, dan tiba – tiba di bahas menjadi ramai, counter attack lagi. Ini diciptakan terus, lalu akhirnya menjadi pabrik isu.

Seberapa mungkin peningkatan, pemakaian media sosial dalam kampanye elektoral dan seberapa punya dampak bagus kampanye elektoral di media sosial bagi mereka aktor-aktor  politik ini?

Saya kira jawaban singkatnya adalah ini sangat besar. Jadi kita harus melihat profil penduduk Indonesia yang mengunakan internet sangat besar, dan yang  bermain media sosial juga sangat besar datanya. Bahkan ini dari penelitian Alvara, lembaga punya teman saya juga. Ketika orang tidak bermain di media sosial kurang lebih satu jam dalam seminggu mereka sudah pasti memilih nomor satu atau dua, misalnya. Namun ketika mereka mengenal media sosial dan menjadi addict dengan media sosial, maka makin tidak yakin mereka dengan pilihannya.

Jadi media sosial dapat membuat masyarakat yang tadinya strong voter bisa menjadi ragu-ragu.

Mungkin iya karena mereka mendapat informasi begitu banyak jadi mudah untuk ragu-ragu. Saya melihat pengalaman Pilkada Jawa Barat 2018 dimana survei-survei banyak menjagokan nomor satu dan nomor dua (Ridwan Kamil dan Dedi). Sedangkan nomor tiga pasangan Asik kecil sekali suaranya. Namun saat H-7 saya melihat dashbord nya Drone Emprit meningkat sangat pesat. Percakapan, jumlah orang, jumlah tim yang mempromosikan nomor tiga tinggi sekali, dan ini mengalahkan yang lain termasuk Ridwan Kamil. Jadi pasukannya sangat besar.

Kalau hanya itu saja mungkin tidak berdampak, tapi dibarengi dengan operasi di lapangan juga. Jadi yang membuat berhasil adalah percakapan di media sosial itu membangun persepsi. Kemudian ketika di lapangan, orang sudah pernah mendengar misalnya menerima melalui media sosial maka akan jadi lebih mudah berbicaranya karena mereka pernah melihat di media sosial. Tetapi ketika di media sosial tidak ada percakapan ataupun isu tentang si tokoh politik ini, jadi sulit untuk dibicarakan di lapangan.

Apakah tingkat pengenalannya menjadi kurang jika tidak dibicarakan di media sosial?

Media sosial itu benar-benar sebagai informasi awal untuk membangun persepsi yang kemudian itu harus diikuti dengan gerakan di lapangan.

Menurut yang Anda lihat sekarang, yaitu aktor-aktor politik seperti calon-calon presiden, calon-calon anggota legislatif (Caleg), partai-partai politik secara institusi, apakah sudah sangat memanfaatkan media sosial secara maksimal ? 

Saya lihat isunya lebih ke Pilpres semua. Jadi yang banyak diperbincangkan pasangan yang di Pilpres. Calegnya terkadang ada tetapi tidak banyak yang diangkat isunya. Mereka atau Caleg mencoba mulai memanfaatkan media sosial tetapi memang jauh sekali dibandingkan dengan Capresnya. Jadi seolah-olah tidak ada pemilihan legislatif (Pileg) dan caleg sepertinya.

Menurut Anda apakah caleg-calegnya tidak sadar media sosial atau memang publiknya tidak suka menerima paparan kampanye Pileg dari partai ataupun dari calegnya ? 

Kalau kita lihat mengapa Pilpres bagus sekali karena mereka mempunyai tim khusus yang memproduksi informasi dengan sendirinya akan menyebar. Tapi para Caleg berangkat dari dirinya sendiri, tidak ada tim suksesnya, jadi akan berat. Kemudian kalau ingin membuat tim sukses akan lumayan besar biayanya. Dari sekian puluh ribu Caleg, saya lihat mereka belum turun memanfaatkan media sosial secara maksimal. Jadi mungkin kembali akhirnya pakai cara tradisional lagi, contohnya memasang baliho. 

Menurut Anda, apakah itu karena mahal biaya tim sukses dan publik yang menggunakan media sosial juga kurang tertarik dengan isu-isu seperti itu?

Saya kira yang kedua, yaitu kurang tertarik karena publik disibukan dengan percakapan tentang Pilpres saja. Jadi dua Caleg nasional itu menutup isu-isu lokal. Ketika ada Caleg di salah satu daerah ingin mengangkatnya, dia harus berlawanan dengan isu nasional yang lebih besar lagi dan pasti kalah.

Kalau tadi Anda sudah mengatakan percakapan isi media sosial sekarang terutama bicara politik elektoral yang isinya adalah Paslon 01 vs 02. Tapi dalam beberapa wawancara dengan beberapa media massa belakangan ini, Anda mengatakan potensi golput atau orang yang kecewa akan politik pilpres, politik elektoral sekarang cenderung meningkat di media sosial. Bagaimana analisanya?

 

Mungkin kalau jumlah Golput akan meningkat saya kurang mengetahui karena ini baru percakapan saja belum tentu terefleksi. Jadi terkait dengan pilpres ini saya lihat ada dua momen besar dimana percakapan tentang Golput itu meningkat cukup besar.

 

Pertama, pada saat setelah pencapresan, kemudian pemilihan cawapres terutama isu Kiai Ma’ruf. Pada saat itu berlangsung di kubu 01, kekecewaan atas pilihan itu luar biasa besar. Mereka menginginkan Golput, suara untuk Golput sangat tinggi sehingga menjadi PR mereka waktu itu untuk kemudian mengingatkan “Jangan golput, perjuangan kita masih panjang,” misalnya seperti itu, jadi untuk mengingatkan. 

 

Beberapa hari terus bergulir, kemudian mereda lagi dan kembali naik  pada saat debat kemarin. Saat debat, tidak pakai nama saat debat itu sendiri, dugaan saya karena profil orangnya masih sama, masih di 01 juga dan mereka yang lebih pro Ahok waktu itu. Mungkin kecewa melihat debat itu, melihat performa dari kedua capres. Kecewa dengan Jokowi tapi tidak ingin juga dengan Prabowo karena keterbatasan pilihan, Cuma ada dua pilihan itu.

 

Yang terjadi akhirnya adalah di antara mereka yang ingin menyuarakan untuk Golput diserang oleh kawannya yang tidak Golput, seharusnya secara persuasif saja tapi ini tidak. Perdebatannya, perdiskusiannya luar biasa. Akibatnya, percakapan Golput di dalam 01 sangat sengit ditambah dengan isu-isu berikutnya setelah debat pertama. Contohnya Abu Bakar Ba’asyir yang rencana mau dibebaskan itu meningkatkan semakin meyakinkan para Golput. Tapi yang menarik adalah ada surat dari Ahok, dimanfaatkan untuk mengingatkan mereka yang ingin Golput supaya tidak Golput

 

Apakah itu lumayan untuk penahan gerakan Golput supaya tidak lebih tinggi lagi?

 

Saya kira ada impact-nya karena itu menjadi narasi utama untuk mengingatkan mereka yang tadinya ingin Golput, khususnya dari Ahokers yang ingin golput diingatkan coba untuk tidak Golput.

 

Tapi apakah percakapan narasi Golput kian hari kian tinggi begitu karena dari pasangan 01 saja atau ada kompleksitas lain. Kalau kita lihat misalnya yang menarik belakangan ini ada pasangan “Dildo” (Nurhadi-Aldo), meskipun itu dianggap humor politik, satir politik saja, tapi itu justru katanya menyebarkan value Golput. Bagaimana menurut Anda?

 

Saya mencoba analisis percakapan tentang Golput. Kalau di Drone Emprit mudah saja, saya masukkan kata kunci “Golput” maka semua percakapan saya dapatkan. Kemudian saya analisis cara kualitatif, saya periksa kira-kira alasannya apa saja, tentang debat dan Ahok mungkin ada, terkait dengan Abu Bakar Ba’asyir ada, dan satu lagi ada tentang “Dildo” tadi. Berapa banyak percakapan tentang Golput yang relasinya tentang “Dildo” atau Nurhadi-Aldo tadi, ternyata cukup tinggi tapi konteksnya adalah mereka curiga.

 

Jadi bukan “Dildo” ini menyebabkan mereka ingin Golput tapi mereka curiga bahwa adanya “Dildo” ini adalah operasi dari 02 untuk membuat 01 banyak yang Golput. Sementara 02 merasa “Dildo” ini buatan 01 karena angka dan warnanya tinggal dibalik 10 jadi 01. Jadinya tidak jelas tapi menariknya di sana dan ada satu analisis juga diantara mereka supaya tidak Golput.

 

Ada analisis tentang tulisan yang sifatnya bisa membuat kita terbuai sehingga kita tidak percaya lagi, atau kita sangat percaya, atau mungkin makin benci. Tulisan-tulisan itu dibombardir terus, mereka melihat pola itu sama sewaktu Pilpres di Amerika Serikat. Tadinya mereka sudah biasa saja tapi begitu banyak tulisan-tulisan dibombardir entah itu benar atau salah tapi itu menyentuh ke perasaan. Tulisan-tulisan ini yang mereka lihat sebagian mengarahkan ke Golput atau mereka mulai tidak percaya dengan Jokowi. Misalnya, mereka tidak ingin sama Jokowi, tapi memilih Prabowo juga pokoknya tidak.

 

Hal-hal seperti itu mirip-mirip dengan serangan hoaks. Misalnya, beredar hoaks yang banyak kita keluhkan juga di media sosial. Itu kebanyakan memang orang yang pilihan politiknya Golput atau tidak suka dengan politik elektoral sehingga menyebarkan itu atau memang organize atau sistemik. Seperti yang dikatakan ada konsultannya, ada sistemnya, ada mesinnya. Bagaimana Anda melihat itu secara anatomi?

 

Baik, itu menarik. Kemarin Jokowi mengatakan ada propaganda Rusia, sekarang sedang ramai. Kalau saya lihat itu, tadi pagi baru saya periksa juga, kalau kita lihat di sana ada tempat anak-anak muda di Macedonia. Mereka membuat situs berita isinya faking News campur-campur dan itu mendapatkan rating yang sangat tinggi, kunjungan yang sangat tinggi, iklan yang sangat tinggi, dan mereka mendapatkan keuntungan.

 

Sekarang saya periksa ada tidak semacam itu di Indonesia yang kira-kira dibuat oleh orang Rusia atau mungkin orang di luar dua kubu ini. Dari berita-berita yang paling banyak di-share, saya mudah melihat di Twitter misalnya, itu kebanyakan media Indonesia, media mainstream, media non-mainstream, media yang pro 01, media yang pro 02, dan hanya itu-itu saja sebenarnya yang saya lihat.

 

Jadi kalau dikatakan ada propaganda, fake news, hoaks, itu kebanyakan diciptakan oleh media-media yang ada di sini oleh dua kubu ini. Saya mencoba mencari ada atau tidak jejaknya dari luar itu, saya belum menemukan. Tapi mungkin idenya bahwa ketika kita bombardir publik  dengan informasi yang meragukan akhirnya publik menjadi ragu, misalnya tentang keislaman Jokowi, dan agar fair juga keislaman Prabowo misalnya, tentang bacaan Qur’annya Jokowi, bacaan Qur’annya Prabowo.

 

Apakah Anda setuju bahwa hoaks itu makin meresahkan sekarang terutama di media sosial kita, apakah kita sudah mempunyai daya tahan tubuh yang cukup baik untuk menangkal itu sebenarnya?

 

Tidak juga, penciptaan hoaks ini false information, kadang-kadang bercampur half truth. Dia mengambil berita disampaikan dalam konteks yang berbeda. Misalnya, berita tahun 2017 di share lagi tahun sekarang tanpa kelihatan tanggalnya misalnya seolah-olah kejadian lagi. Ini bukan hoaks tapi missed konteks. Jadi banyak sekali tipe-tipenya dan ini memang kalau kita lihat  diproduksi cukup masif apalagi sekarang ini makin mendekati pilpres.

 

Apakah itu maksudnya secara organisasi begitu?

 

Kalau saya melihat pola-pola yang ada, pola yang lebih terstruktur ada di timnya 01. Karena mereka sangat bagus menyusun materi-materinya, desainnya juga sangat bagus. Sedangkan di timnya 02 saya melihat mereka distributed-saja. Jadi siapa yang menemukan di-share, dan seterusnya. Jadi seperti lose sebenarnya.

 

Jadi begitu ada isu, cepat sekali untuk diangkat isu ini. Tetapi karena lebih natural user jadi interaksinya jauh lebih bagus. Sementara kalau 01 tadi  ketika ada isu, misalnya “peluncuran apa” padahal ini isu yang tidak terlalu seksi untuk diangkat, tapi penting untuk disampaikan.  Untuk membuat orang untuk bercakap tentang itu susah, jadi akan dibantu oleh program komputer, setelah naik trending baru real usernya bicara. Jadi kalau kita lihat kebanyakan yang  bila menemukan langsung di share, maka yang paling sering terkena adalah orang-orang biasa. Mereka tidak tahu, mereka share saja berita itu, yang ternyata itu hoaks.

 

Apalagi kalau influencer yang mereka percaya juga ikut menyebarkan berita itu. Bahkan influencer-influencer ini ikut tertipu hoaks juga.

 

Iya bahkan sampai ke atas-atas juga tertipu.

 

Bagaimana meningkatkan daya tahan tubuh kita untuk membuat politik akal sehat ini, politik literasi yang baik terutama menjelang pemilu ini agar kita semua, elit politiknya baik, masyarakat pengguna sosialnya juga baik, tidak mudah terpapar provokasi dan juga berita-berita bohong.

 

Pertama dalam kaitannya dengan pilpres, dua kubu bertanggung jawab. Kemarin mereka sudah menyatakan, “Jangan sebarkan hoaks, kalau ada yang ragu-ragu tanya kami. Ini perlu karena sebagai  info clearing house. Itu mereka paling tidak setiap hari harus mempromosikan, “Ini adalah hoaks yang salah, yang disebar oleh kawan-kawan kita, jangan dishare lagi,” misalnya seperti itu. Harus dijelaskan, jadi dia bertanggung jawab atas konstituennya, memberi tahu bahwa yang ini informasinya tidak benar, jangan dishare.

 

Mereka pasti dapat laporan, Kominfo sudah membuat tapi begitu banyaknya tidak mungkin semua ditangani oleh Kominfo sendiri. Ada teman-teman Mafindo juga yang sifatnya relawan. Isu half truth, hoaks itu bisa muncul setiap hari. Jadi saya kira ini akan lebih bagus kalau dua kubu punya semacam daftar hoaks yang menyebar supaya follower atau pembelanya mengetahui mana yang harus diikuti, mana yang tidak.  

 

 

---oo000oo---