Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

Kemerosotan Mutu Politik

Edisi 1190 | 23 Jan 2019 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita akan bicara mengenai refleksi 2018 dan meneropong 2019, terutama tahun ini kita sudah memasuki tahun politik. Kalau kita bicara mobil ibarat sudah masuk gigi empat menuju gigi lima artinya kita sudah tancap gas. Kita akan tanya kepada orang yang sudah melewati sekian Pemilu, sekian gerakan politik dari mulai gerakan mahasiswa, pengulingan Soekarno, Soeharto, sampai orang yang terlibat dalam sekian pemerintahan di Republik Indonesia. Dia adalah Wimar Witoelar yang saya perkenalkan sebagai mantan ketua Dewan Mahasiswa ITB.

Menurut Wimar, saat ini hoax lebih ditanggapi orang karena orang tidak punya perhatian mendalaman untuk bicara hal-hal yang serius. Indikasinya adalah orang lebih memperhatikan omongan ngawur daripada omongan yang benar. Orang bicara infrastruktur tidak ada yang ingin tahu, tapi berbicara mengenai hoaks-hoaks lebih laku. Jadi itu yang sangat mengkhawatirkan bahwa kehebohan itu lebih laku daripada kesungguhan.

Menurut Wimar, kita harus melibatkan pemuda dan orang yang sampai sekarang tidak bersikap politik untuk masuk proses politik. Namun bukan masuk dalam perdebatan partisan, tapi dalam menginjeksikan, menyuntikkan kejernihan. Mencuri kejernihan dari kerancuan. Itu karena sekarang orang tidak bisa membedakan omongan yang benar dan tidak benar.

Politik itu tidak kacau. Politik kacau karena orang yang tidak kacau tidak ikut. Orang yang baik-baik memilih untuk minggir karena merasa bukan urusannya. Saya berharap orang ke bilik suara, dan memberikan suara berdasarkan akal sehatnya.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adiputro sebagai pewawancara dan narasumber Wimar Witoelar.

Bagaimana Anda melihat gerakan mahasiswa sekarang dengan gerakan mahasiswa Anda dulu, ketika pada tahun enam puluhan mengulingkan Soekarno kemudian menjadi bagian dari Orde Baru tapi akhirnya masuk penjara juga di tangan Orde Baru. Banyak yang mengatakan civil society tidak sekuat dulu untuk mengkritik, dan menjadi watchdog bagi penguasa?

Sekarang civil society kuat tapi titik beratnya ada di lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang bertema seperti di bidang lingkungan, hak asasi manusia (HAM), dan dalam bidang-bidang tertentu. Kalau Dewan Mahasiswa atau Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) yang sifatnya umum memang kelihatan agak kehilangan arah sekarang. Pertama, karena sekarang memang zaman yang lebih bebas, orang telah kehabisan tema karena sudah dimakan oleh orang-orang lain. Kalau LSM sudah berbicara HAM, mahasiswa tidak bisa berbicara lagi. Kalau LSM sudah bicara soal perubahan iklim, mahasiswa tidak bisa bicara. Tapi satu hal yang juga melemahkan gerakan ini karena Indonesia kemasukan politik indentitas pelan-pelan, sehingga sekarang menjadi standar bahwa orang itu merujuk kepada dasar-dasar agamanya, dasar sukunya, dasar primordial, sehingga perjuangan yang sifatnya demokratis sekuler itu malah dicurigai.

Gerakan-gerakan mahasiswa yang berafiliasi dengan warna atau simbol – simbol relejius (agama) banyak sekali termasuk organisasi Cipayung waktu dulu sampai sekarang seharusnya mereka malah speak-up atau berkembang dengan munculnya politik identitas?

Tetapi kelompok Cipayung, kalau kita lihat waktu itu, sebetulnya sudah terancam menjadi minoritas karena tergeser oleh kelompok-kelompok nasionalis yang berdasar di kampus. Dulu kampus nasionalis, sedangkan ekstra universitas, kecuali yang independen seperti Ikatan Mahasiswa Djakarta (IMADA) dan Perhimpunan Mahasiswa Bandung (PMB), lebih kepada indentitas. Kalau saat ini mahasiwa tidak tahu menempatkan diri dimana kecuali kalau dia mengambil sikap yang ekstrim.

Jadi, jika ekstrimitas maka baru bisa mucul dan didengar oleh publik, betulkah?

Betul, karena adanya sosial media. Jadi sosialisasi orang itu cepat dan tidak bisa mendalam. Harus cepat, harus instan, dan mahasiswa menjadi dangkal karena instan itu.

Berarti gerakan mahasiswa zaman now harus berevolusi juga melihat perkembang zaman sekarang karena banyak orang yang mungkin lebih jago, lebih dalam, lebih cepat dari mereka dalam hal kajian-kajian itu juga penting?

Sekarang sudah ketinggalan zaman. Jadi pergerakan mahasiswa sekarang sudah kehilangan zaman dalam kehilangan pelopor isu, dia hanya bisa mengumpulkan masa.

Kita bicara demokrasi dan saya mulai dari mahasiwa karena mahasiswa dalam sejarahnya mewarnai politik nasional, bahkan dari era pra kemerdekaan. Misalnya, mahasiswa dan pemuda memaksa Soekarno memproklamasikan kemerdekaan, kemudian sampai menjadi bagian dari sejarah revolusi dan reformasi Indonesia. Sekarang, bagaimana Anda melihat politik nasional kita, apakah makin optimistis atau justru kondisinya semuram gerakan mahasiswa tadi, yang Anda lihat semakin agak susah menyaingi LSM- LSM yang punya isu-isu spesifik. Jadi bila melihat fenomena yang paling mengemuka di awal 2019 bicara politik konstestasi, apakah kita bisa optimis atau justru sepesimis analisa Anda terkait dengan gerakan mahasiswa?

Saya optimis karena tipu-tipu orang yang menggunakan hoax dan sebagainya dalam kampanye itu sekarang sedang dalam proses terbongkar. Jadi dia tidak bisa terus membohongi orang, seperti Donald Trump sekarang sudah mulai terbongkar, sehingga dalam polling dukungan terhadap dia turun karena juga berkali - kali hoax dan ter-expos sebagai sesuatu yang salah. Dia juga tidak bisa berlindung lagi walaupun yang mengexpos dituntut juga. Jadi ada satu keramaian bukan sekitar isunya tapi seputar caranya kampanye. Saya mengira juga kalau sudah dekat April 2019 menjelang Pemilu maka dia bosan juga kalau begitu terus. Saya pribadi menganjurkan agar kita sekarang mengembalikan isunya kepada kita ingin memilih presiden atau genit-genitan di media sosial.

Apakah Anda pernah mempunyai interaksi atau mengenal baik dengan kedua calon ini secara pribadi?

Sangat mengenal baik. Saya lebih mengenal Sandiaga Uno daripada Ma’ruf Amin. Saya lebih mengenal Prabowo daripada Jokowi. Jokowi saya tidak kenal dan saya juga tidak terlalu pro Jokowi, tapi saya pikir negara ini jadi apa kalau presidennya bukan dia. Itu karena dia sedang melakukan pekerjaan yang setengah selesai, yang semua harapan ingin untuk selesai. Kita lihat infrastruktur dan sistem sosial, mengapa harus diberhentikan, kalau mau diganti nanti saja.

Tapi yang ramai di sosial media sekarang adalah hal-hal yang mungkin seperti kata Anda tadi tidak bicara substansi, mungkin lebih banyak dari cara berpidato, cara berpakaian, bagaimana interaksi dengan Bahasa Inggris, bahkan sekarang propagandanya banyak sekali. Jadi hal-hal seperti itu. Bagaimana menurut Anda?

Karena ada dua pasangan dan yang satu tidak punya isu kampanye. Yang pasangan pertama banyak yang dia bisa berbicara mengenai pekerjaan dia, dan harapan dia.

Menurut Anda isu-isu kontemporer yang paling menjadi perhatian minggu ini tentu saja pertama soal hoax, dan kedua soal kontraversi debat. Apa catatan Anda?

saya, itu termasuk isu yang non isu yang diperdebatkan karena dia tidak tahu ingin memperdebatkan apa, dan saya tidak tahu mulainya dari mana. Tapi kenapa menjadi masalah, kalau mau berdebat maka debat saja.

Tapi, apakah Anda setuju bahwa KPU jauh dari kata profesional seperti kata orang sekarang, bahkan dapat hashtag di media sosial tagar KPU rasa tim sukses (Timses)?

Itu sih pendapat Anda dan pendapat orang saja, saya melihat KPU mencoba untuk menjadi penengah antara keduanya, terlalu hebat tidak dan terlalu tidak hebat juga tidak. KPU melakukan tugasnya selama ini, tapi orang yang membuat ribut sebelum ada isu. Jadi sebelum bertanding udah teriak agar nantinya berantem dan pertandingannya bubar.

Menurut Anda yang tahu politik sudah lama, apakah itu eksperimen politik atau spontanitas politik, atau berdasarkan strategi?

Itu eksperimen politik karena itu mulai di Pemilu Amerika Serikat pada 2016 oleh Cambridge Analytics dan Steve Bannon, Steve Miller, dan Donald trump. Dia kampanye presiden belum bekerja apa-apa, jadi mulai saja dengan membuat ribut, dan orang senang yang membuat ribut. Itu karena mengajak orang untuk mengeluhkan orang - orang yang mapan, sehingga orang lupa bahwa orang yang paling mapan sebetulnya dia.

Menarik karena ada data dari Neuro Scientist mengatakan bahwa orang lebih suka dengan keributan, ketakutan, dan kebohongan. Apa yang membuat hal seperti itu menjadi laku dalam politik, mengapa orang lebih suka hal-hal yang bombastis?

Karena orang lebih senang nonton sinetron daripada opera, orang lebih senang nge-gosip daripada diskusi filosofi. Orang tidak punya perhatian mendalaman untuk bicara hal-hal yang serius, tapi kalau dia harus tanggapi isu orang dibayar Rp 80 juta, dan sebagainya maka semua orang menjadi ahli dan hal itu lebih menarik dan lebih populer. Jadi sekarang kalau orang memang serius ingin berdiskusi itu melawan keengganan masyarakat untuk memberikan perhatiannya pada masalah-masalah yang penting.

Hal itu yang terjadi di Trump (AS), Bolsonaro (Brasil), Le Pen (Perancis). Apa itu terjadi di negara kita?

Mudah-mudahan tidak. Indikasinya adalah bahwa orang lebih memperhatikan omongan ngawur daripada omongan yang benar. Orang bicara infrastruktur tidak ada yang ingin tahu, tapi berbicara mengenai hoaks-hoaks lebih laku. Jadi itu yang sangat mengkhawatirkan bahwa kehebohan itu lebih laku daripada kesungguhan.

Apa yang bisa kita pelajari dari pemaparan Anda mengenai kampanye Donald Trump agar kita bisa membuat vaksinnya, atau imunisasinya, atau antivirusnya?

Kita harus melibatkan pemuda dan orang yang sampai sekarang tidak bersikap politik untuk masuk proses politik. Namun bukan masuk dalam perdebatan partisan, tapi dalam menginjeksikan, menyuntikkan kejernihan. Mencuri kejernihan dari kerancuan. Itu karena sekarang orang tidak bisa membedakan omongan yang benar dan tidak benar. Orang yang menyanjung penyebar hoaks dan sebagainya biasanya memang tidak mempunyai sumber lain. Dia hanya ikut satu sumber. Orang yang punya banyak sumber, baca website, baca koran tidak percaya, tapi dia memilih "Ah saya tidak mau ikutlah, ngaco itu politik." Jadi saya ingin menghilangkan kesimpulan bahwa politik itu kacau. Politik kacau karena orang yang tidak kacau tidak ikut. Orang yang baik-baik memilih untuk minggir karena merasa bukan urusannya.

Apalagi dengan kondisi sekarang bukankah lebih banyak orang yang "menjadi politisi dadakan" di sosial media. Orang menjadi analis-analis andal tiba-tiba. Apakah itu bukannya gejala baik, seperti kata Anda tadi.

Itu seperti semua hal mula-mula baik, kecepatan interaksi di dalam internet kemudian kespontanan, tapi kalau berlebihan jadi sudah kontra produktif.Kita kembali ke kampanye Trump karena saya boleh berbicara hal itu tanpa ada yang marah. Itu dijalankan dari Rusia melalui Cambridge Analytica, Wikileaks, dan tidak mustahil di Indonesia juga bisa seperti itu. Itu karena isu-isu yang dilancarkan oleh sementara orang yang berkampanye terlalu canggih untuk di-generate oleh dia sendiri. Itu diciptakan oleh profesional karena yang terjadi adalah orang yang menyebarkan hoaks itu sebetulnya orang pandai yang menggunakan keahliannya untuk menipu orang yang tidak berpendidikan, yang tidak siap.

Apapun hoaks yang disebar, apapun cerita bohong atau ketakutan yang disebar misalnya itu akan dengan sendirinya bisa terbantahkan atau tidak dipercaya jika memang kondisinya baik. Misalnya Justice memang ada, kesejahteraan mungkin kita lihat sehari-hari, bukan ilusi yang hanya dibicarakan begitu. Bukannya itu menjadi antibiotik?

Sekarang orang yang mencela hasil pemerintah sekarang, apakah dia pernah mengalami pemerintahan yang hasilnya lebih baik dari ini? Apakah dia tahu mengapa harga Dollar naik-turun? Kalau Rupiah turun ribut, sekarang Rupiah naik lalu diam. Itu adalah siklus keuangan dunia. Jadi orang gampang untuk mengeluh seperti, "Waduh bensin mahal, sembako susah." Apa dia pernah mengalami yang lebih murah? Kebanyakan yang mengomentari kesulitan hidup sebetulnya belum pernah mengalami kesulitan hidup di masa lain. Sekarang ini lebih baik dari yang lalu, yang lalu lebih baik dari yang lalu lagi, dan seterusnya. Relatif jadinya. Orang tidak ada patokan untuk relatif. Kalau yang kampanye itu dua orang yang pernah memerintah kita bisa bandingkan. Misalnya, Susilo Bambang Yudhoyono lawan Jokowi maka bisa membandingkan zaman Jokowi dan zaman Susilo Bambang Yudhoyono.

AS yang jauh lebih maju dari negara Indonesia bisa terhampar atau terpapar virus kebohongan Trump. Apa yang membuat kita juga bisa terpapar dan tidak bisa terpapar?

Demokrasi kita lebih bagus dari AS karena AS itu sudah gagal. Indikasinya, orang masih ada dialog di luar kebohongan, seperti kita dan diskusi di tempat-tempat lain. Di AS semua dialog sudah beralih ke forum bohong yang dikuasai oleh media yang tidak netral. Jadi demokrasi AS sudah dicuri. Sekarang susah karena internet yang membuat gampang sekali untuk mencuri suatu sistem.

Apakah Anda yakin orang Indonesia punya antibodi yang jauh lebih bagus dibandingkan orang AS untuk mengatasi virus-virus dan racun yang tadi Anda katakan?

Saya harus yakin karena kalau begitu tidak ada harapan. Saya berharap orang Indonesia mempunyai common sense dan dia belajar dari pengalaman dirinya, tidak gampang percaya, tapi itu hanya harapan. Saya tidak tahu juga. Ujungnya, kalau Jokowi kalah maka saya tidak heran itu karena berarti kebodohan sudah menang.

Januari, Februari, Maret, April berarti empat bulan, atau tersisa tiga bulan waktu efektif untuk menuju Pemilu 17 April 2019. Ini sudah masuk pertengahan Januari, apakah Anda melihat turning point atau titik jatuhnya paling dalam untuk keburukan tadi sudah lewat atau belum. Apakah kita akan rebound atau justru akan terus tenggelam dalam-dalam?

Ya, itu bisa rebound atau bisa masuk ke dalam laut dan dicari black box-nya. Jadi tidak tahu kita dimana. Tapi yang jelas warga harus selalu optimis. Warga itu bukan penonton, warga itu terlibat. Warga itu ikut karena siapapun yang terpilih menjadi presiden, maka dia menjadi presiden kita, dan hidup kita akan sangat berubah kalau presidennya bukan yang seperti sekarang.

Berarti intinya adalah bagaimana publik ikut terlibat dan berpartisipasi karena yang bisa mencuri kejernihan dari kerancuan adalah masyarakat yang tidak terpapar kepentingan politik. Apa yang kita bisa pelajari dari perjalanan civil society dari zaman Anda sampai sekarang?

Sebetulnya civil society kita adalah kekuatan yang paling bagus di Indonesia, tapi saya katakan jangan masukan mahasiswa di situ karena civil society itu sudah bangkit dari zaman dia ditekan selama Soeharto sekarang menjadi sangat kuat, kelompok HAM, kelompok jurnalis independen, lembaga hukum.

Dulu mahasiswa menjadi pionir karena civil society-nya tidak ada.

Itu karena mereka ditahan semua. Sekarang saya bisa setuju bahwa mahasiswa lebih baik belajar saja. Soalnya, kalau dia aktif juga aktif dalam jalur primordial, eksklusif identitas.  

Oke civil society makin kuat. Singkat saja 30 detik dari Anda, debat politik, konstruksi narasi politik dari para elit kita akan lebih bagus masuk ke substansi atau justru malah makin banyak produksi-produksi kekacauan.

Saya tidak berharap dari kandidatnya, saya berharap dari surat suara. Bahwa orang ikut Pemilu, ke bilik suara, dan memberikan suara berdasarkan akal sehatnya.