Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

dr. Eni Gustina M.Ph.

Susu Kental Manis Bukan untuk Balita

Edisi 1176 | 29 Nov 2018 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita akan membahas mengenai kesehatan, terutama kesehatan anak dan keluarga. Narasumber kita adalah dr. Eni Gustina M.Ph. yang menjabat sebagai Direktur Kesehatan Keluarga di Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.

Eni Gustina mengatakan susu kental manis adalah suatu produk yang dibentuk dari produk susu, kemudian diuapkan supaya airnya keluar, lalu ditambah gula, sehingga itu boleh dikatakan sebagai rekonstitusi susu, bukan susu murni, dan bukan susu yang sebenarnya karena proteinnya hanya setengah, kemudian ditambah dengan gula yang sangat tinggi.

Menurut Eni Gustina, Kadar gula susu kental manis sangat tinggi yaitu sekitar 45 - 50%. Jadi susu kental manis itu bukan susu yang sebenarnya karena kandungan gulanya tinggi, sehingga tidak diindikasikan untuk diminum secara tunggal. Susu kental manis boleh digunakan untuk pemanis kue atau pemanis makanan, tapi bukan untuk dimakan secara murni apalagi untuk anak-anak.

Kalau kita memberikan susu kental manis pada anak Balita, Balita hanya membutuhkan gula sekitar 13 - 20 gram, sementara susu kental manis kalau kita berikan dalam satu gelas maka gulanya bisa 19 - 25 gram.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dan narasumber dr. Eni Gustina M.Ph.

Saya setuju dengan pendapat bahwa jika ingin melihat gambaran Indonesia ke depan yaitu 20 30 tahun mendatang, maka kita harus melihat kondisi kesehatan anak-anak sekarang. Itu karena anak adalah generasi penerus bangsa. Bagaimana kondisi kesehatan anak Indonesia saat ini?

Pada 2035 nanti, kita akan memasuki era bonus demografi. Artinya, anak-anak Sekolah Menengah Atas (SMA) sekarang akan beranjak dewasa dan memasuki usia produktif. Sedangkan bayi dan anak usia di bawah lima tahun (Balita) sekarang akan memasuki usia SMA. Tentu kita harus mempunyai misi bagaimana anak-anak ini supaya sehat. Namun kalau melihat kondisi sekarang, Indonesia dikatakan sebagai manusia terpendek di dunia. Sedih sekali mendengarnya.

Apa penyebabnya sehingga kita bisa disebut sebagai manusia terpendek?

Salah satunya yang dihitung adalah jumlah anak-anak stunting (pendek) cukup tinggi. Persentasenya berdasarkan hasil Riskesdas 2013 adalah 37,2%. Kendati demikian dalam pemantauan kita dalam beberapa tahun ini mengenai status gizi, jumlah persentase itu agak menurun yaitu menjadi 29,1%.

Berapa ratus ribu jiwa kalau dihitung dari sisi jumlah?

Stunting ini terjadi pada Balita. Balita kita ada 26 juta. Kalau satu dari empat balita mengalami stunting berarti ada 650.000 Balita di Indonesia yang dinyatakan stunting. Itu kalau kita pukul rata semuanya.

Apa penyebabnya sehingga satu dari empat balita Indonesia mengalami stunting?

Salah satunya karena faktor gizi. Jadi stunting terjadi karena konsumsi yang kurang secara berkepanjangan. Misalnya, anak makannya kurang maka dalam jangka waktu pendek dia hanya kurus. Namun stunting sudah akumulasi. Kalau kita bicara jangka panjang, maka itu berdampak pada perkembangan otot, perkembangan tulang, termasuk perkembangan mental otaknya. Itu yang kita khawatirkan. Jadi stunting menjadi masalah nasional saat ini. Hampir semua lembaga harus terlibat dalam intervensi stunting pada anak-anak Indonesia, disamping masalah-masalah lain.

Sebetulnya kita masih ada masalah selain gizi, yaitu masalah penyakit yang ada pada anak-anak seperti penyakit infeksi, diare, pneumonia, dan campak masih ada. Belum lagi penyakit-penyakit yang baru. Kalau kita bicara mengenai HIV, itu tidak hanya milik orang dewasa. Orang dewasa yang HIV mempunyai anak, maka anaknya kemungkinan bisa kena HIV. Ini juga menjadi beban Indonesia. Jadi cukup banyak beban kita.

Apakah ini merupakan faktor dari keluarga di Indonesia yang belum mengetahui kadar gizi yang baik untuk anak?

Sebenarnya banyak penyebabnya. Kalau kita bicara mengenai pengetahuan, itu betul. Kalau kita bicara mengenai gizi anak, maka yang paling dominan adalah ibu.

Pertama, ibu harus memberikan Air Susu Ibu (ASI) eksklusif. Jadi kalau kita bicara ASI, seharusnya sejak kehamilan sudah mulai dilakukan edukasi kepada ibu-ibu kita. Kita tidak menutup mata, rata-rata pendidikan penduduk Indonesia masih 8.2. Kalau kita rata-rata maka pendidikannya masih banyak yang tingkat SMP. Bahkan mungkin ada yang tidak sekolah. Misalnya, saya berpendidikan S2, tapi kalau dipukul rata tadi masih 8.2. Bisa dibayangkan ibu-ibu kita yang ada di desa maka dia mungkin tidak paham mengenai ASI dan gizi anak.

Contohnya, kami ke suatu daerah, anak diberikan ASI eksklusif. Namun begitu lepas enam bulan, pengurusan si anak dilepas bisa kepada kakaknya atau neneknya yang urus. Itu karena ibunya kerja di ladang. Anak baru diberi makan ketika dia minta. Sedangkan anak umur enam bulan sampai lima tahun, kapan dia mau minta makan? Kalau dia menangis pun karena haus.

Inilah perlunya pendidikan. Kalau orang tuanya mengerti maka dia akan memberi tahu bahwa anaknya harus diberi makan. Dari ASI berubah menjadi pemberian makan bagi anak. Itu juga mesti tahu mengenai berapa kali pemberian makan dalam satu hari, dan porsi makannya. Ini perlu pendidikan.

Memang kita sudah mempunyai jejaring sampai ke tingkat Puskesmas, bahkan sampai ke tingkat Desa kita mempunyai Posyandu. Inilah tugas bidan-bidan dan dokter-dokter kami di lapangan untuk mengajarkan masyarakat. Itu karena kalau pendidikan rendah, maka mereka harus diberikan informasi yang benar untuk memberikan makan kepada anak-anaknya.

Apakah masih ada masalah kesehatan anak Indonesia selain stunting?

Kita bicara masalah gizi, Indonesia termasuk salah satu dari 17 negara yang mempunyai tiga permasalahan gizi yaitu stunting, kurus, dan obesitas. Jadi komplit, yaitu ada yang kegemukan 15%, stunting 37,2%, dan yang kurus. Anak yang benar-benar normal hanya berapa persen saja. Hal tersebut terjadi karena pola makan yang tidak benar.

Kalau kita bicara mengenai bayi, setelah dia mendapat ASI ekslusif maka harus ada pola pemberian makan bagi anak dan harus diberikan gizi yang seimbang. Jadi anak diajarkan sejak dini mana makanan yang ada karbohidrat, buah, dan ada variasinya. Yang paling utama adalah juga terkandung zat-zat gizi mikro. Kalau kita bicara gizi, itu tidak hanya karbohidrat, protein, dan lemak, tapi juga ada zat gizi mikro seperti vitamin C, vitamin A, zink, zat besi, dan sebagainya.

Saat kita bicara mengenai gizi untuk anak, sering kali faktor minuman juga harus kita perhatikan gizinya. Saat ini banyak Ibu-Ibu dari keluarga Indonesia yang memberikan minuman susu yaitu susu kental manis yang dari segi harga juga murah meriah. Bagaimana dampak dari mengkonsumsi susu kental manis bagi kesehatan anak?

Susu adalah suatu produk yang berasal dari sapi, kambing, atau kuda yang bisa diolah, dipasteurisasi, dan diberikan pada anak atau dewasa, serta mengandung protein yang tinggi. Berbeda dengan susu kental manis yang adalah suatu produk yang dibentuk dari produk susu, kemudian diuapkan supaya airnya keluar, lalu ditambah gula, sehingga itu boleh dikatakan sebagai rekonstitusi susu, bukan susu murni, dan bukan susu yang sebenarnya.

Artinya maanfaatnya juga berbeda dengan susu yang dipasteurisasi.

Betul, karena proteinnya hanya setengah, kemudian ditambah dengan gula yang sangat tinggi.

Apa dampaknya pada kesehatan anak?

Itu yang menjadi permasalahan kita. Di satu sisi penduduk Indonesia rata-rata pendidikannya masih rendah. Jadi, begitu melihat ada susu kental manis, maka mereka beranggapan bahwa ini adalah susu. Kemudian dia memberikan susu kental manis kepada anaknya. Mohon maaf, mungkin di daerah terpencil seperti di kampung, mereka memberikan susu kental manis pada anak karena harganya yang murah. Padahal susu kental manis tidak direkomendasikan untuk anak di bawah lima tahun.

Berapa usia yang aman untuk mengkonsumsi susu kental manis?

Susu kental manis itu bukan susu yang sebenarnya karena kandungan gulanya tinggi, sehingga tidak diindikasikan untuk diminum secara tunggal. Sudah ada Surat Edaran dari Badan Pengawas Obat dan Makanan (POM) pada tanggal 22 Mei 2018, yaitu semacam edaran untuk tidak mencantumkan gambar anak Balita pada iklan susu kental, dan juga tidak memberikan gambaran gelas susu murni supaya bisa menjadi pemahaman masyarakat bahwa susu ini sebenarnya diperuntukan sebagai tambahan makanan. Jadi susu kental manis boleh digunakan untuk pemanis kue atau pemanis makanan, tapi bukan untuk dimakan secara murni apalagi untuk anak-anak.

Apa dampaknya kalau diminum secara murni atau secara tunggal bagi anak-anak?

Kadar gula susu kental manis sangat tinggi yaitu sekitar 45 - 50%. Kalau kita memberikan susu kental manis pada anak Balita, Balita hanya membutuhkan gula sekitar 13 - 20 gram, sementara susu kental manis kalau kita berikan dalam satu gelas maka gulanya bisa 19 - 25 gram. Jadi kalau satu gelas saja berarti sudah memenuhi.

Jadi bisa dibayangkan ketika anak Balita minum lebih dari satu gelas sehari. Jika dua gelas berarti dua kali lipat kadar gula yang dikonsumsinya. Akibat kadar gula yang tinggi ini akan memicu insulin tubuh kita. Insulin itu untuk memecahkan gula sehingga akan memproduksi lebih banyak. Ini akan berdampak pada penyakit tidak menular khususnya diabetes mellitus pada anak-anak.

Disamping itu, karena kadar gula yang tinggi, kalau dia kelebihan maka akan disimpan dalam bentuk lemak sehingga banyak anak-anak yang obes, tapi obesnya tidak sehat.

Apa yang sebaiknya diminum oleh anak?

Sebaik-baiknya minuman adalah ASI sampai umur dua tahun, kemudian dilanjutkan dengan makanan tambahan. Sebenarnya kita ada petunjuknya bagaimana pemberian makanan pada anak tetap dengan pola gizi seimbang.

Anak setelah enam bulan sudah harus mulai diperkenalkan untuk makan buah, karbohidrat, dengan bervariasi diperkenalkan rasa makanan. Namun jangan menambahkan gula. Anak kalau sudah terbiasa dengan manis, maka dia akan selalu menutut bahwa rasa itulah yang dia suka. Jadi kita sarankan untuk anak-anak di bawah lima tahun tidak diberikan gula pada makanannya.

Setelah satu tahun dia sudah mulai makan makanan tambahan seperti bubur, daun bayam, soup, wortel, dan sebagainya. Demikian juga protein. Protein itu tidak hanya dari susu tapi juga bisa dari telur. Meskipun dokter ahli alergi mengatakan sebaiknya anak di bawah usia satu tahun jangan dulu diberikan telur karena takut akan memicu alergi, tapi di atas usia satu tahun boleh ditambahkan telur, tahu, tempe, dan sebagainya.

Tadi dikatakan bahwa salah satu persoalan kesehatan anak Indonesia berhubungan dengan gizi, misalnya obesitas. Artinya anak Indonesia banyak sekali mengkonsumsi gula, salah satunya melalui susu kental manis. Bagaimana sebenarnya takaran untuk konsumsi gula pada anak anak?

Untuk anak di bawah lima tahun (Balita) antara 13 20 gram gulanya. Jadi supaya tidak terlalu tinggi karena anak lebih ke arah pembelajaran makanan. Namun kita di Kemenkes juga sudah melakukan beberapa edukasi terkait makan gizi seimbang. Kita tahu dulu mempunyai slogan "Empat Sehat Lima Sempurna" yang mungkin semua orang sudah nempel di kepalanya. Dulu susu adalah barang yang langka dan merupakan tambahan. Sekarang slogannya sudah kita ubah dalam bentuk "Isi Piringku". Itu lebih ke arah gizi seimbang.

Jadi gizi seimbang itu makanannya beragam, tapi mengandung berbagai macam jenis karbohidrat, lemak, protein, dan zat-zat gizi mikro. Secara umum kita mempunyai rekomendasi untuk kebutuhan gula per orang adalah empat sendok makan, artinya sekitar 50 gram gula sehari untuk orang dewasa. Karena itu kita harus memperhitungkan kadar gula dari makanan yang kita konsumsi.

Kalau untuk garam adalah satu sendok teh. Itu sekitar 2.000 mg garam. Kemudian kalau untuk lemak kita menyebutnya lima sendok makan. Kalau lebih dari itu sama dampaknya. Kalau kelebihan gula akan berdampak pada kegemukan dan gemuk merupakan faktor predisposed untuk berbagai penyakit termasuk diabetes mellitus dan hipertensi.

Kalau lemaknya kebanyakan akan menyebabkan orang menjadi gemuk karena lemak itu energinya tinggi yaitu satu gram lemak untuk sembilan kalori. Untuk garam sendiri itu dampaknya pada hipertensi karena ketinggian natrium akan berdampak pada pembuluh darah dan ini menjadi faktor predisposed untuk penyakit darah tinggi dan jantung. Bisa dibayangkan kalau sudah lemaknya tinggi, karbohidrat tinggi, garam juga tinggi, jadi komplikasinya macam-macam yaitu gemuk, hipertensi, dan penyakit jantung juga.

Kembali ke gizi seimbang, ada empat pesan yaitu makannya bervariasi, menu beragam, dan jangan lupa beraktifitas fisik karena aktifitas fisik juga mempengaruhi pengeluaran dari energi kita.

Bagaimana langkah atau kebijakan dari Kemenkes untuk mengatasi agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar mengenai gizi?

Sementara ini memang baru makanan-makanan bermerk yang mencantumkan ingredient-nya. Coba kalau kita membeli teh kemasan misalnya, tolong dibaca berapa gram gulanya di situ atau berapa persen kadar gulanya.

Apa biasanya penulisan nama gula dalam kemasan makanan bermerk?

Glukosa. Jadi di situ tertulis berapa gramnya. Jadi kita dapat memperhitungkan asupan gula untuk tubuh kita. Kalau sekiranya berlebihan lebih baik tidak dikonsumsi. Minimal kita tahu berapa kebutuhan gula untuk tubuh kita, sebaiknya tidak lebih dari 20 gram. Itu karena kalau kelebihan nanti akan disimpan dan itu menjadi beban bagi keseimbangan tubuh, insulinnya, pemecahan lemaknya, dan heparnya. Sedangkan untuk garam bagi jantungnya. Jadi harus dilihat.

Sebetulnya kami pernah mengharapkan semua makanan siap saji menyertakan komposisi dan berapa kalorinya. Namun sampai sekarang masih sulit. Misalnya, ketika kita pergi ke salah satu toko fast food untuk membeli satu porsi makan siang. Apakah kita bisa atau tidak meminta berapa komposisinya karena kita ingin mengukur kebutuhan kita. Ini belum terlaksana. Jadi baru yang kemasan saja yang sudah mencantumkan komposisinya.

Kita mengharapkan masyarakat juga jangan gembira dengan makanan kemasan. Ketika kita tidak tahu isinya apa, yang kita anggap satu kotak kecil ternyata gulanya sudah sekian gram. Itu berarti kalau saya makan/minum ini maka seharusnya makanan lain bisa dikurangi gulanya.

Bagaimana dampaknya untuk Indonesia ke depan jika pola konsumsi masyarakat Indonesia terutama anak-anaknya masih seperti sekarang ini?

Sebetulnya dampaknya sudah kelihatan. Kita jangan mikir terlalu jauh ke masa depan, sekarang saja penyakit tidak menular itu semakin tinggi.

Apa saja contoh penyakit tidak menular? Apakah obesitas termasuk di dalamnya?

Kadang orang masih berpikir bahwa obesitas itu bukan penyakit. Hipertensi, diabetes mellitus, jantung, dan kanker merupakan penyakit tidak menular. Kalau kita bicara mengenai Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), sekarang pengeluaran dana JKN tinggi untuk membiayai penyakit-penyakit tidak menular seperti yang sudah disebutkan.

Cuci darah itu luar biasa menyerap anggaran dari JKN. Ini merupakan dampak dari penyakit tidak menular. Orang hipertensi berkepanjangan, bisa dibayangkan tekanan darahnya tinggi, ginjalnya di gedor terus, dan jadilah gagal ginjal. Diabetes mellitus pun juga berkontribusi terhadap gagal ginjal.

Coba kita bayangkan, satu rumah sakit memiliki 20 mesin gagal ginjal. Itu bisa digunakan dua atau tiga shift, berarti ada 40 - 60 pasien sehari. JKN kita membayar untuk satu orang sebesar satu juta, berarti 60 juta sehari. Kalau satu bulan Rp 1,8 Milyar. Bagaimana JKN kita tidak jebol kalau dibiarkan seperti ini terus. Ini merupakan dampak yang sudah terjadi sekarang, apalagi ke depan kalau kita biarkan dengan pola makan seperti ini, bagaimana mungkin mengharapkan generasi kita yang cerdas, sehat, dan berkualitas.

Jadi kita berharap kepada Ibu-Ibu yang ada di seluruh Indonesia bisa memberikan makanan yang sehat pada anak-anaknya, dan bisa mengajarkan bagaimana makanan yang baik untuk anak-anaknya supaya tidak terdampak. Itu karena kalau anak sudah dari kecil gemar makan yang manis, maka biasanya sewaktu dia sudah umur sekolah atau di atas lima tahun, dia tidak suka kalau makanan tidak manis. Dia akan menuntut untuk selalu makan yang manis-manis.