Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Wimar Witoelar

20 Tahun Reformasi

Edisi 1154 | 14 Mei 2018 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Perspektif Baru kali ini membahas mengenai 20 Tahun Reformasi. Mungkin ada hal-hal yang belum banyak diketahui tentang proses reformasi 1998 dan bagaimana reformasi telah mengubah banyak aspek kehidupan negara ini.

Tamu kita kali ini adalah Wimar Witoelar, pendiri Perspektif Baru, salah seorang yang mengalami langsung proses reformasi dan sempat disebut sebagai spokesman of the reform movement oleh CNN International kala itu.

Menurut Wimar, ada beberapa hal yang mempengaruhi gerakan reformasi 1998. Rakyat jelas sudah tidak puas, tapi ketidakpuasan rakyat itu seringkali rakyat tidak mengerti apa yang membuat tidak puas itu bisa direkayasa. Tapi bahwa ada juga hasutan dan pengorganisasian kekuatan, tapi tidak bisa dibilang dari pemerintah karena pemerintahnya saat itu tidak ada.

20 tahun reformasi menurut Wimar yang disesali hanya sedikit sekali. Kalau yang disyukuri adalah bahwa demokrasi kita maju. Kita itu sangat bebas dan kebebasan itu sangat penting karena dengan kebebasan kita bisa membangun segala macam. Selain itu ada perkembangan komunikasi, generasi milenial lebih punya perhatian terhadap kehidupan, masyarakat kita maju, pemerintahnya oke dan membangun, tapi parlemennya yaitu DPR-nya tidak becus.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Budi Adiputro sebagai pewawancara dan narasumber Wimar Witoelar.

Saya akan mengajak Anda untuk terbang ke masa lalu, untuk melihat suasana, bagaimana kegentingan dan apa cerita-cerita yang mungkin saja belum banyak kita tahu tentang proses reformasi tahun 1998. Hadir bersama saya narasumber kita hari ini yaitu Wimar Witoelar.

Kalau kita berbicara 20 tahun reformasi, apa yang paling Anda ingat dari proses reformasi ketika itu?

Bagi saya ini bukan 20 tahun tetapi kemarin karena sangat tajam ingatannya yaitu pada waktu Soeharto mengumumkan dia akan mundur. 30 tahun saya menunggu kapan Presidennya diganti, juga sudah putus asa, tetapi pada waktu dia mundur itu hampir tidak percaya. Jadi dunia berubah. Memang Soeharto banyak jasanya dan banyak yang senang juga. Tetapi sekarang repot karena setelah Soeharto tidak ada, banyak orang yang merasa tidak tambah baik. Jadi bagus juga kalau saya share.

Bagi saya setelah Soeharto itu yang tambah baik bukan dari ekonominya saja. Bayangkan waktu zaman Soekarno tidak boleh menonton film Barat, tetapi zaman Soeharto semua boleh, tetapi kalau tidak punya uang maka tidak masuk hitungan. Jadi di zaman Soeharto itu dipermudah untuk kaya, asal dia tutup mulut secara politik dan asal memuja Soeharto. Hal itu untuk saya menekan sekali dan membuat tidak betah. Pada waktu Soeharto mengundurkan diri, saya rasanya lega kembali dan menyambut Indonesia yang lebih cerah. Walaupun sampai sekarang naik turun juga.

Banyak yang belum tahu atau ingin tahu ketika 20 tahun reformasi. Ketika bulan-bulan Mei terjadi krisis ekonomi, kemudian kerusuhan di mana-mana, dan sampai ujungnya Presiden Soeharto mengundurkan diri. Pak Wimar dulu sudah menjadi bintang, orang yang dianggap sebagai salah satu pejuang yang melawan orde baru karena mengkritik, kemudian acara televisinya dibredel. Ketika masyarakat bergerak menginginkan Soeharto mundur, apa yang Anda lakukan waktu itu dan peristiwa-peristiwa apa yang Anda lewati?

Saya menjadi saksi semua peristiwa dan sebenarnya saya tidak berbuat apa-apa, tetapi orang lain mendukung rezim sedangkan saya tidak. Kemudian saya mulai menceritakan apa yang janggal di dalam kejadian itu dan direkam oleh pers, terutama pers asing. Jadi boleh dibilang bahwa saya sebenarnya lebih sering muncul di pers asing, terutama TV seperti CNN, BBC, Belanda, di mana kita menceritakan keadaan yang sebetulnya. Pers Indonesia kurang bisa meliput karena sudah biasa dibungkam. Peran saya di situ sebetulnya adalah cerita mengenai peristiwanya sehingga CNN Internasional menyebut saya itu spokesman of the reform movement.

Terutama untuk perspektif Indonesia di mata dunia.

Saya senang saja, walaupun saya tidak bisa mengklaim. Orang yang berjuang lebih banyak, apa lagi yang mengorbankan jiwanya. Kalau saya dianggap bisa mewakili gerakan reformasi, saya senang sekali karena memang saya sangat tulus mendukung reformasi.

Menurut Anda, seberapa penting peran internasional ketika itu untuk bisa mendukung jatuhnya Soeharto dan proses reformasi ini?

Saya tidak merasa itu penting dan saya juga bukan mengharapakan dukungan tetapi hanya ingin menunjuk cerita yang benar saja. Dan memang dari luar negeri itu saya mendapat julukan macam-macam, tetapi di dalam negeri saya juga mendapat dukungan.

15 Mei, peristiwa-peristiwa apa saja yang bisa anda ceritakan?

15 Mei sudah terjadi kerusuhan, dan malam-malam ada pembakaran, jalan-jalan gelap. Saya biasanya setiap hari kumpul di rumah teman di daerah Kebayoran. Orang kaya, pro reformasi juga. Dia yang bayarin nasi bungkus mahasiswa. Di situ jadi pusat informasi. Berkumpul berbagai macam orang, salah satunya Amien Rais, orang-orang PDI-P, kecuali orang-orang Golkar, dari situ saya dapat banyak informasi. Jam 11 malam saya pulang, sebenarnya janjian mau iring-iringan dengan teman, biar aman. Tapi teman saya jalan terlalu cepat jadi saya ketinggalan. Saya nyetir sendiri, nah saya masuk jalan Fatmawati dari arah Kebayoran, itu gelap sekali. Saya pikir ini orang sudah tidur semua, ternyata setelah mata saya sudah terbiasa, rupanya bukan tidak ada orang, banyak orang, tetapi semuanya hanya duduk diam di pinggir jalan. Jadi seperti burung begitu, ngeri kan? Lagi ngeri-ngeri gitu tahu-tahu di depan ada cahaya terang. Saya pikir baguslah ini ada perumahan. Ternyata bukan terang perumahan, tapi pembakaran Pasar Cipete. Ngeri kan kalau ada pembakaran, dan mobil juga rata-rata diberhentikan lalu dibakar. Mobil saya juga sudah mulai diberhentikan, digoyang-goyang, disuruh turun. Di tengah situasi itu, seperti mujizat, tiba-tiba ada yang teriak, "Diem lo itu Bang Wimar, balik bang, balik!"

Pada saat itu sudah terkenal ya, berarti?

Tentu sudah, sangat terkenal malah. Saya merasakan dampaknya itu bukan hanya di luar negeri saja tapi di dalam negeri juga. Waktu itu saya merasa didukung masyarakat, didukung pers asing juga, pemerintah tidak ada. Waktu ada upacara kematian mahasiswa Trisakti, dan kampus itu penuh, saya jalan beberapa meter dari mobil, saya lewat situ, banyak mahasiswa teriak-teriak dan kemudian mengawal saya. Ada seorang tokoh pemuda dari Golkar malah ditimpukin batu. Jadi itu sebuah pembenaran bahwa yang saya lakukan ada dukungannya.

Anda lebih setuju yang mana? Bahwa gerakan reformasi pada waktu itu adalah karena animo masyarakat yang sudah tidak tahan lagi, atau memang ada desain juga dari sistem pemerintahan Soeharto yang ada membuka sedikit pintunya, bahwa sistem demokrasi atau proses transformasi kepemimpinan itu bisa berlangsung?

Ada beberapa hal, rakyat jelas sudah tidak puas, tapi ketidakpuasan rakyat itu seringkali rakyat tidak mengerti apa yang membuat tidak puas itu bisa direkayasa. Tapi bahwa ada hasutan dan pengorganisasian kekuatan itu betul, tapi tidak bisa dibilang dari pemerintah, karena pemerintahnya saat itu tidak ada. Unsur-unsur di dalam pemerintahan, unsur-unsur di dalam tentara, lebih tepatnya lagi, unsur-unsur di Angkatan Darat waktu itu.

Jadi seperti tahun 1965-66 ketika Angkatan Darat juga berperan dalam proses transformasi kepemimpinan?

Pada 65-66 waktu saya juga aktif sebagai demonstran, Angkatan Darat itu pro mahasiswa, terutama Kopasusnya.

Benang merahnya apa? Anda bisa mengatakan bahwa sebenarnya ini diberikan sedikit karpet merah oleh kekuatan negara, dalam hal ini Angkatan Darat?

Bukan diberikan, angkatan darat atau siapapun itu berkepentingan untuk menggoncangkan masyarakat, untuk menggoyangkan stabilitas supaya Soeharto bisa digulingkan.

Apa kepentingan mereka? Apa kepentingan tentara? Apa kepentingan Angkatan Darat waktu itu untuk mempercepat pergantian kepemimpinan?

Ya seperti sekarang, slogan "2019 Ganti Presiden", waktu itu "ganti Presiden 1998", kepentingan mereka menggantikan Soeharto.

Jadi semacam kudeta?

Ya, semacam kudeta. Kegiatannya anti-Soeharto, dan dilakukan oleh tentara Soeharto. Soeharto nya sudah tidak tahu apa-apa, sudah tidak memiliki kemampuan berpikir, sudah hilang dari peredaran.

Coba anda ceritakan lebih detil lagi, bahwa memang ada esa brutus di dalam pemerintahan Soeharto yang ingin menggulingkan dari dalam?

Brutus-nya ada beberapa, ada banyak, karena banyak yang berkepentingan untuk mengambil kekuasaan. Sedangkan tidak ada yang berkepentingan mempertahankan Soeharto, karena Soeharto sudah tidak bisa dipertahankan. Sarwono bilang di TV waktu itu "kalau gigi sudah goyang, copot saja". Jadi orang itu daripada Soeharto jatuh dan dia ikutan jatuh, lebih baik ikut menjatuhkan biar dia ikut naik. Jadi agak bersaing dalam mencari kekuatan untuk menjatuhkan Soeharto.

Jadi Soeharto sendiri pada saat-saat terakhirnya, kehilangan back-up dari orang-orangnya, kemudian harus menjadi tulang punggung pemerintahannya sendiri?

Tentu sangat miris ya, seperti Harmoko yang selalu menyuarakan keloyalannya itu malah jadi yang pertama bilang bahwa Soeharto harus turun. Tentara-tentara juga meskipun tidak kelihatan, tapi di belakangnya itu juga bersuara sama. Bahkan menantunya sendiri juga diragukan. Jadi siapa kawan, siapa lawan itu dulu tidak jelas.

Pra-kondisi apa yang terjadi sehingga memunculkan banyak sekali brutus-brutus yang menginginkan Soeharto turun?

Bertambah usianya Soeharto dan tidak dipersiapkannya putra mahkota. Soeharto sengaja milih Habibie jadi wakil presiden, karena Habibie tidak mungkin jadi presiden. Supaya orang tidak berani jatuhkan Soeharto, seperti orang tidak mau jatuhkan Trump karena tidak mau Pence jadi presiden. Jadi memang Habibie dipasang as a joke. Makanya saat Habibie ternyata tidak ikut turun dan malah jadi presiden, Soeharto kesal sekali sampai hari meninggalnya tidak mau bicara dengan Habibie. Nah, jadi tidak ada loyalis yang tinggal, dan kendali politiknya sudah mulai lepas. Pada waktu pemilu tahun sebelumnya di Banjarmasin, Golkar kacau, kebakaran. Dulu Golkar stabil, tidak failed, tapi di tahun-tahun terakhir dia failed. Kemudian ditambah ekonomi menjadi susah karena kolaps pasar properti Asia, tapi itu terlalu canggih, orang itu tidak tahu kalau kolaps itu salah siapa. Sehingga muncul kondisi beras susah dan sebagainya. Tapi itu sangat berbahaya. Orang komplain mengenai sembako itu bisa diatur. Terutama ada kepentingan untuk mengangkat diri jadi pelanjut Soeharto, karena ahli waris resminya tidak ada.

Memang sebenarnya kondisi ekonomi seperti harga bensin dan sembako naik itu penting, tapi hanya menjadi bumbu. Karena intinya adalah konflik politik di tubuh Soeharto dan masyarakat sipil seperti Anda yang pro reformasi yang kemudian memanfaatkan konflik ini untuk sekalian transformasi kepemimpinan. Bagaimana menurut Wimar Witoelar?

Selalu motifnya adalah perebutan kekuasaan. Sekarang pun kalau ada yang bilang ganti Presiden, itu sebetulnya hanya ada 3 golongan kalau menurut Luhut Pandjaitan. Satu yang takut korupsinya ditangkap oleh KPK, kemudian golongan yang takut tidak bisa berkutik karena korupsi, dan satu lagi adalah golongan yang mempunyai motif agama.

Jadi sekarang kalau ada kerusuhan itu semuanya adalah mengenai pertukaran kekuasaan. Ekonomi itu orang tidak mengerti. Tenaga kerja juga orang tidak mengerti. Banyak isu yang orang tidak mengerti tapi emosional. Apalagi mengenai agama, banyak yang mengerti tapi bukan mereka yang aksi massa di jalan. Orang yang beragama dengan baik tentu adalah orang baik-baik.

Ada banyak teori konspirasi seperti saat jatuhnya Soekarno tahun 1965 1966 dimana Anda juga terlibat dalam proses politiknya. Tapi banyak juga teori-teori konspirasi yang mengatakan bahwa tidak hanya konflik internal di tubuh pemerintah seperti yang Anda katakan. Tetapi ada juga peran dari asing dan internasional terutama CIA Amerika Serikat yang juga ingin berkepentingan mengganti kepemimpinan Indonesia. Seberapa setuju Anda dengan ide teori konspirasi ini?

Itu teori orang bodoh yang tidak mengerti, karena Amerika sama sekali tidak berkepentingan untuk mengganti rezim. Kalaupun mereka bilang hak asasi atau yang lainnya itu adalah lip service saja. Sebetulnya Amerika tidak ada kepentingan menggantikan. Waktu Soekarno juga Amerika tidak ada kepentingan.

Apakah berarti ini merupakan kecanggihan persaingan politik dalam negeri?

Ya, dan di dalam negeri orang menggunakan itu. Misalnya "itu adalah orang CIA, jadi jangan dibantu" atau kalau sekarang "itu adalah orang PKI, jadi jangan dibantu". Semua itu adalah isu dan yang menjadi pencipta kerusuhan itu adalah orang Indonesia.

Apakah pada waktu itu siapa kawan, siapa lawan, siapa Golkar, siapa orde baru, siapa yang pro reformasi itu jelas atau semua terlihat sama?

Tidak, tapi kita sudah cukup pengalaman bahwa kawan politik itu bukan kawan selamanya. Saya sangat dekat dengan Amien Rais, sampai kalau apel-apel di daerah, saya ikut jadi pidato pembukaannya dan saya bawa dia ke Perspektif Baru. Tapi setahun sesudahnya, dia menjadi sangat anti Gusdur. Jadi yang menjadi kawan mungkin lebih langgeng, tapi yang efektif itu sebenarnya orang-orang lawan yang membuat ribut. Kita hanya tahu bahwa orang-orang dengan alasan yang jelas itu bukan orang yang patut didengar.

Bagaimana tingkat penerimaan kelompok pro reformasi yang diluar kekuasaan seperti anda, Amien Rais, Gusdur, dan tokoh-tokoh reformasi lainnya terhadap orang-orang orde baru atau pemerintahan orde baru atau orang-orang Golkar lama yang hidup dari rezim orde baru, yang mengaku reformasi dan mendukung proses reformasi? Seberapa besar tingkat penerimaannya kelompok reformasi dengan kelompok yang mengaku reformis tapi dari dalam orde baru sendiri waktu itu?

Saya tidak pernah dan tidak bisa mengaku diri saya reformis walaupun memang saya reformis, tidak ada tindakan saya yang melambangkan itu. Saya hanya reformis dalam pendirian saja atau dalam hati. Orang yang mengklaim judul reformis itu biasanya dengan cepat menjadi tokoh-tokoh yang merusak masyarakat.

Bagaimana penerimaan orang-orang yang ketika itu pro reformasi diluar pemerintahan terhadap orang-orang yang tadi Anda katakan? Apakah banyak brutus-brutus atau mungkin orang-orang yang besar dari rezim orde baru, tapi di saat-saat terakhir kemudian menjadi bagian dari pro reformasi?

Kita tahu bagaimana menolak brutus. Misalnya begitu Amien Rais miring maka langsung kita tolak. Dan yang kita dukung lama itu jarang, tapi ada institusi yang kita bisa dukung yang khusus waktu itu adalah Bank Dunia. Bulan Mei waktu itu, Presiden Bank Dunia saat itu James Wolfensohn datang ke Jakarta membuka hearing dengan 60 tokoh civil society. Jadi kita suarakan suara kita melalui Bank Dunia agar dia mengunci kran-kran ekonomi kepada Indonesia. Di luar itu kita tidak ada pegangan sama sekali.

Lebih penting mana dan lebih cepat mana output-nya untuk transisi kepemimpinan Soeharto ke reformasi, gerakan politik yang Amien Rais dan gerakan-gerakan masyarakat lainnya atau internal konflik di orde baru sendiri?

Internal konflik. Kalau Amien Rais hanya semacam lalat yang terbang ke sana ke sini, gatal dan mengganggu, tapi tidak instrumental dalam mengubah.

Meskipun sangat mengganggu.

Iya, kalau yang instrumental itu justru orang yang diam sehingga terlihat seram.

Apakah Anda tahu orang-orang itu siapa?

Bukan tahu tetapi mendengar karena tidak berminat membuktikan. Orang itu tidak mempunyai record pro demokrasi ataupun pro masyarakat sipil.

20 Tahun reformasi, apa yang Wimar syukuri dan sesali dari proses ini hingga kita mencapai tahun 2018 dan tahun depan kita menghadapi Pemilu?

Kalau yang disesali sepertinya hanya sedikit sekali. Kalau yang disyukuri adalah bahwa kita bisa bicara seperti ini. Kita itu sangat bebas dan kebebasan itu sangat penting soalnya di atas kebebasan itu kita bisa membangun segala macam. Dan perkembangan komunikasi, generasi milenial lebih punya perhatian terhadap kehidupan, masyarakat kita maju, pemerintahnya oke dan membangun, tapi parlemennya yaitu DPR-nya tidak becus. Tapi menunjukkan kita itu perlu mempunyai parlemen untuk diperbaiki. Jadi singkatnya saya senang demokrasi kita maju.

20 tahun reformasi, apakah Anda melihat orde baru dengan segala kejelekan, kebusukan, dan kekurangannya itu sudah betul-betul musnah diganti dengan sesuatu yang baru atau Anda melihat ini hanya transformasi ganti pakaian saja, sedangkan orang-orangnya juga masih sama?

Orang-orangnya ada yang sama tapi yang jelas tetap adalah uangnya. Jadi uang Soeharto itu adalah diktator yang korupsinya terbesar dalam sejarah dunia. Marcos itu korupsinya Milyar, sedangkan Soeharto itu Milyar tahun 1998. Itu kalau diinvestasikan dengan bijak maka sekarang sudah menjadi 0 Milyar, itu lebih kaya dari Raja Brunei. Jadi Soeharto itu uangnya masih ada, tapi orangnya sudah diganti dengan yang ahli mengolah dana. Jadi uangnya masih berkeliaran. Dan uang itu memang tidak punya loyalitas politik, tapi jelas uang itu bisa membedakan antara good guys dan bad guys.

 

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=JV2uIybVbls