Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Paran Sarimita Winarni

Tuberculosis Bisa Disembuhkan

Edisi 1152 | 30 Apr 2018 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Narasumber kita kali ini akan mengingatkan kepada kita semua mengenai arti penting menjaga kesehatan, terutama bagaimana kita harus berjuang untuk sembuh melawan suatu penyakit. Narasumber kita yaitu Paran Sarimita Winarni, yang dikenal sebagai pejuang tangguh Tuberculosis Resistan Obat (TB RO), dan juga menjabat sebagai sekretaris di Yayasan Pejuang Tangguh TB RO (PETA) Jakarta.

Paran mengatakan semua orang dan semua umur berpotensi terkena TB. Jadi tidak memandang status, ras, atau apa pun, semua berpotensi kena. Ketika sudah terasa tanda-tanda TB, lekaslah periksakan diri ke Puskesmas terdekat. Itu karena selain obat puskesmas untuk TB sudah terstandar dari WHO, berobat ke Puskemas sudah merupakan paduan yang tepat bagi penderita TB dan juga ditanggung oleh pemerintah. Bahkan sampai level tertinggi yaitu extremely drug resistant (XDR) pun ditanggung oleh pemerintah semuanya. Kita rawat inap pun untuk pasien MDR dan XDR sudah gratis.

Menurut Paran, dengan masih adanya stigma yang berkembang di masyarakat mengenai TB, sebenarnya hanya satu bentuk dukungan yang dibutuhkan penderita TB yaitu kita hanya perlu di-orang-kan, yaitu dengan merangkul kita, menganggap kita, tidak menjauhi kita, tidak menganggap kita berbeda. Terkadang itu yang menjadi salah satu semangat lebih untuk bisa terus berjuang. Pengobatan ini tidak mudah, tidak semua orang bisa, dan tidak semua orang sanggup untuk bisa melalui pengobatan yang seperti ini karena sangat menyita waktu, tenaga, pikiran. Semuanya akan terasa lebih berat bagi pasiennya sendiri ketika tidak ada dukungan sama sekali.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dan narasumber Paran Sarimita Winarni.

Di masyarakat kita masih banyak yang berpandangan bahwa tuberculosis atau TB tidak dapat disembuhkan, tapi Anda dapat membuktikan bahwa TB bisa disembuhkan. Bagaimana perjuangan Anda bisa sembuh dari penyakit TB?

Memang untuk mengatasi TB membutuhkan kemauan dan motivasi yang kuat dari dalam diri kita sendiri, dan kita juga butuh dukungan dari orang-orang sekitar. Dulu saya benar-benar berjuang untuk TB, saya pertama kali terkena TB pada tahun 2008.

Bagaimana Anda bisa terkena TB?

Saya juga tidak tahu karena kita semua berpotensi terkena TB. Itu karena penularan TB melalui udara. Penderita TB masih berisiko menularkan, ketika dia tanpa masker berbicara dengan orang lain bisa menimbulkan percikan dahak lewat udara, kemudian terhirup oleh orang yang sehat, maka itu bisa masuk ke tubuh orang yang sehat.

Saya berpikir kemungkinan saya terkena TB adalah dulu saya sering sekali kerja pulang pergi naik kereta rel listrik (KRL). Keluarga saya tidak ada yang terkena TB, bahkan sampai saat ini sampai saya sembuh.

Waktu itu karena saya punya asma, gejala yang saya rasa mungkin ini hanya asma, yaitu sesak nafas, batuk-batuk, tidak bisa tidur, tetapi tidak terlalu parah batuknya. Belakangan ketika saya sudah berobat ke Puskesmas, gejala itu mereda, tetapi tidak lama keluar lagi dengan batuk yang lebih parah dari sebelumnya.

Dulu saya merupakan salah satu orang yang berpikir bahwa obat Puskesmas adalah obat dengan mutu yang rendah, dan itu yang saya sesali saat ini karena itu adalah persepsi yang salah. Akhirnya saya pindah pengobatan ke salah satu klinik, yang kata orang-orang merupakan klinik bagus untuk pengobatan segala macam. Saya diberi obat, mungkin tidak sesuai dengan standar dan waktu itu saya cuma dibilang flek, bukan sakit paru-paru, atau semacamnya.

Saya minum obat itu sampai yang harusnya. Kalau TB paru untuk pengobatan awal adalah enam sampai delapan bulan minum obat, tetapi saya sampai dua tahun. Ketidak tahuan saya terhadap informasi tentang TB itu sendiri yang mungkin membuat saya akhirnya nurut saja.

Apa ciri-ciri khas dari seseorang itu mempunyai penyakit TB?

Yang paling khas memang batuk-batuk lebih dari dua atau tiga minggu, berkeringat pada malam hari tanpa melakukan aktifitas apapun, berat badan turun, nafsu makan turun, kadang-kadang kita batuk disertai ada sesaknya juga, bahkan di kondisi tertentu sampai keluar batuk darah.

Tadi dikatakan bahwa pengobatan TB minimal memakan waktu sampai 6 bulan. Mengapa sampai harus begitu lama dan apa saja tahapan yang harus kita ikuti?

Itu karena kuman TB bisa dibilang sebagai kuman yang bandel. Jadi memang butuh waktu lama untuk mengobatinya. Terkadang pasiennya sendiri juga sudah mulai bosan dan mulai menghentikan pengobatannya secara sepihak. Padahal sebetulnya tanpa mereka sadari hal itu yang membuat kuman TB menjadi lebih kuat, dan yang akan membuat penderita masuk ke tahap lebih parah lagi dari sebelumnya. Sebenarnya memang butuh kesadaran tinggi, butuh dukungan penuh, butuh juga motivasi dari dalam diri pasien sendiri, seperti untuk apa saya sembuh? Untuk siapa saya sembuh? Mau apa nanti ketika saya sudah sembuh?

Apa bentuk dukungan yang paling bisa Anda rasakan untuk bisa sembuh?

Yang pasti, dengan masih adanya stigma yang berkembang di masyarakat mengenai TB, sebenarnya hanya satu bentuk dukungannya yaitu kita hanya perlu di-orang-kan.

Apa maksudnya kita perlu di-orang-kan?

Dengan merangkul kita, menganggap kita, tidak menjauhi kita, tidak menganggap kita berbeda. Terkadang itu yang menjadi salah satu semangat lebih untuk bisa terus berjuang. Pengobatan ini tidak mudah, tidak semua orang bisa, dan tidak semua orang sanggup untuk bisa melalui pengobatan yang seperti ini karena sangat menyita waktu, tenaga, pikiran. Semuanya akan terasa lebih berat bagi pasiennya sendiri ketika tidak ada dukungan sama sekali.

Bagaimana jika pasien TB bosan dan berhenti pengobatan? Apakah nanti bisa sembuh atau tidak bisa sama sekali?

Yang pasti kalau menghentikan pengobatan secara sepihak tanpa pemberitahuan dari dokter secara langsung akan membuat bakteri TB akan semakin kuat, dan akan menjadi semakin kebal terhadap obat yang diminum sebelumnya. Yang sekarang hal itu dikenal dengan multi-drug resisstant (MDR) atau TB kebal obat, mereka bisa masuk ke fase itu.

Apakah pengobatannya mahal, mengingat durasi pengobatannya yang juga panjang hingga mencapai 6 bulan?

Alhamdulillah pemerintah kita membebaskan semua biaya ketika sudah masuk kategori kasus TB. Ketika sudah terasa tanda-tanda TB, lekaslah periksakan diri ke Puskesmas terdekat. Itu karena selain obat puskesmas untuk TB sudah terstandar dari WHO, berobat ke Puskemas sudah merupakan paduan yang tepat bagi penderita TB dan juga ditanggung oleh pemerintah. Bahkan sampai level tertinggi yaitu extremely drug resistant (XDR) pun ditanggung oleh pemerintah semuanya. Kita rawat inap pun untuk pasien MDR dan XDR sudah gratis.

Bagaimana prosesnya? Kemana dulu harus datang?

Langsung saja ke Puskesmas. Katakan saja mau cek TB karena terdapat gejala, nanti mereka akan langsung mengarahkan harus cek apa terlebih dahulu.

Apakah semuanya sudah langsung gratis, tanpa perlu menunjukkan surat keterangan tidak mampu?

Di awal bisa menggunakan BPJS untuk pemeriksaan, tetapi ketika mereka sudah masuk program TB, semuanya gratis.

Apakah ada dampak atau efek samping dari obat?

Semua obat pasti ada efek sampingnya. Tapi itu semua bisa diatasi karena kita dipantau oleh dokter. Efek samping yang kita rasakan, apapun itu jangan takut dulu, jangan panik, cari tahu terlebih dahulu, dan langsung hubungi dokter.

Apakah obat-obat itu mudah didapatkan?

Pasti, karena obat TB harus dikonsumsi di waktu yang sama, jam yang sama, dan tidak boleh terputus sama sekali. Jadi diusahakan harus tepat waktu. Obatnya juga pasti tersedia karena pemerintah kita sudah menyediakan obat TB gratis dan persediannya tidak pernah habis. Jadi akan selalu tersedia.

Bagaimana cara agar tidak menular ke keluarga kita? Bagaimana upaya yang Anda lakukan karena tadi Anda katakan bahwa keluarga Anda tidak ada yang tertular?

Yang pasti adalah berobat. Itu adalah salah satu bentuk pencegahan kita untuk orang lain. Kemudian, ini yang paling sulit dilakukan oleh teman-teman yang sudah menderita, yaitu pakai masker. Itu juga merupakan salah satu bentuk pencegahan kita agar tidak menularkannya pada orang lain.

Selain telah sembuh dari TB, Anda juga aktif di Yayasan Pejuang Tangguh TB RO (PETA). Apa itu Yayasan Pejuang Tangguh TB RO (PETA)?

Yayasan Pejuang Tangguh (PETA) adalah yayasan atau organisasi yang semua anggotanya adalah mantan pasien TB MDR atau multidrug resistant. Sebagian juga ada yang masih pengobatan tapi levelnya sudah aman. Mereka memang lebih mendengarkan kita dari pada dokter dan perawat karena kita sudah merasakan menjadi mereka.

Dimana saja wilayah kerjanya?

Kalau PETA ada di DKI Jakarta. Di luar DKI ada 16 lagi organisasi seperti kami dengan nama yang berbeda tapi di 16 provinsi lain.

Kegiatan PETA adalah mendampingi para pasien untuk bisa sembuh. Apa ada lagi kegiatan lainnya?

Kegiatan rutin kami seperti hospital visit. Jadi kita ke rumah sakit yang khusus untuk TB MDR. Saat ini sudah ada lima di Jakarta. Jadi Senin sampai Jumat kami ada di sana. Kami mengedukasi dan memotivasi teman-teman, dari yang baru terduga sampai yang masuk pengobatan pada hari itu juga dan yang pengobatannya sudah beberapa bulan, kita menyebutkan pasien follow up.

Ada beberapa pasien yang sudah dipindahkan ke Puskesmas-Puskesmas kecamatan yang ada di Jakarta. Kami juga melakukan kunjungan ke sana untuk memotivasi pasien yang di sana. Kami juga sharing mengenai masalah mereka di Puskesmas. Jadi kita ngobrol juga dengan petugas Puskesmasnya.

Satu lagi, kegiatan rutin kita adalah home visit. Kita melakukan kunjungan ke rumah pasien yang sudah terdiagnosis MDR tapi tidak mau pengobatan. Jadi kita mencari tahu apa masalahnya sehingga dia tidak mau masuk pengobatan padahal ini sangat penting. Juga pasien-pasien yang mungkin sudah lelah, sudah bosan sehingga mereka memutuskan untuk menyelesaikan sendiri. Kita juga melakukan home visit agar semua pasien mau kembali ke pengobatan, dan tidak menularkan ke orang-orang di sekitarnya.

Ada berapa banyak yang sekarang ditangani oleh yayasan ini?

Saat ini sudah lumayan banyak. Ada ratusan pasien yang kami coba dampingi. Memang tidak mudah, tapi Insya Allah dengan dukungan dari semua pihak kita bisa membuat pasien mau lebih patuh untuk berobat, dan mau lebih menyelesaikan pengobatan mereka.

Ada berapa di yayasan ini yang telah sembuh dari TB?

Anggota kami sekarang 35 orang, sekitar lima orang masih pengobatan tapi sudah masa lebih dari setahun sehingga sudah aman. Selebihnya sudah sembuh semua.

Jadi TB itu bisa sembuh. Kuncinya adalah rutin dan patuh dalam pengobatan. Bagaimana Anda dan rekan-rekan menghadapi stigma-stigma orang terhadap penderita TB?

Sebenarnya stigma dan diskriminasi terjadi karena kurangnya pengetahuan terhadap TB sendiri. Jadi kami berusaha melakukan sosialisasi yang lebih lagi tentang TB. Tujuannya adalah agar masyarakat yang tadinya berpandangan TB adalah penyakit untuk kalangan orang miskin atau tempat kumuh yang jorok hidupnya, diharapkan itu semua bisa berubah, karena sekali lagi semua orang bisa kena TB. Semua orang, semua umur berpotensi terkena TB.

Jadi tidak memandang status, ras, atau apa pun itu, semua berpotensi kena. Harapannya adalah dengan sosialisasi yang kami lakukan terkait TB lama-lama bisa menurunkan stigma dan diskriminasi masyarakat tentang pasien TB.

Apa yang kurang dari upaya kita sebagai bangsa dan negara dalam penanggulangan TB?

Kalau dari sisi pemerintah sampai saat ini sudah lumayan membantu karena sudah ada iklan, sudah merangkul semua orang yang bergerak di bidang TB untuk memberantas TB di Indonesia. Mungkin kalau saya lebih ke penyebaran informasinya yang harus lebih digaungkan lagi. Bukan hanya saat TB day atau hari-hari spesial peringatan TB, tapi lebih menjadi agenda rutin untuk memasukkan informasi terkait TB ke masyarakat luas. Jadi masyarakat mengetahui gejala TB dan ketika terkena TB mengetahui harus kemana. Jadi tidak lagi dapat pengobatan yang salah. Dengan informasi yang tepat saya yakin semua terkait TB bisa diterima dengan baik.

Mudah-mudahan wawancara ini juga bisa membantu upaya kita semua untuk memberantas TB. Bagaimana dengan dukungan swasta karena upaya ini membutuhkan dukungan semua pihak?

Sampai saat ini PETA masih di-support penuh oleh KNCV Tuberculosis Foundation, yayasan tuberculosis dari Belanda. Jadi dari awal berdiri PETA sampai sekarang kita masih di-support oleh mereka. Kami memang butuh banyak support sebetulnya. Semoga setelah ini banyak yang mau men-support kami dari pihak swasta.

 

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=22ZMD3aSZTU&feature=youtu.be