Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Astrid WEN

Membangun Hubungan Keluarga dengan Theraplay

Edisi 1143 | 05 Mar 2018 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Dasar kehidupan kita dan yang penting juga adalah keluarga karena keluarga adalah unit terkecil dari masyarakat, dan keluarga merupakan pondasi penting dalam kehidupan bernegara. Jadi penting untuk kita mengetahui upaya-upaya untuk membina hubungan baik dalam keluarga. Kini salah satu metodenya adalah melalui Theraplay. Saya akan membahasnya dengan Astrid WEN, Psikolog Anak dan Praktisi Theraplay sekaligus Ketua Theraplay Indonesia.

Menurut Astrid, Theraplay adalah intervensi psikologis untuk membangun atau memperbaiki hubungan antara orang tua dan anak melalui bermain karena kalau bermain sifatnya menyenangkan, rileks, dan positif. Jadi melalui kondisi yang positif, menyenangkan, rileks, akhirnya lebih mudah terbangun hubungan antara orang tua dan anak. Anak juga bahasa utamanya masih bahasa bermain. Jadi dia sudah nyambung dengan orang tua, kemudian dilakukan dengan konteks bermain, maka dampaknya akan optimal untuk kedekatan hubungan dengan orang tua.

Biasanya mainan yang digunakan adalah tubuh kita sebagai orang tua anak. Jadi kita tidak menggunakan terlalu banyak perlengkapan. Contohnya, di Indonesia kita mempunyai permainan yang paling mudah yaitu "cilukba" yang bisa diberikan pada anak-anak usia hingga balita. Apalagi anak usia enam sampai tujuh tahun yang sebenarnya tidak pernah dekat dengan orang tua pun, permainan cilukba bisa menjadi menyenangkan. Jadi Theraplay mengisi kebutuhan emosi anak sehingga anak merasa berharga dan dicintai oleh orang tuanya.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan narasumber Astrid WEN.

Keluarga adalah tempat menanamkan nilai-nilai, serta tempat pendidikan utama dan pertama dalam lingkup kehidupan bernegara, selain sekolah dan masyarakat. Kini upaya membentuk dan menguatkan hubungan antara orang tua dan anak dapat dilakukan dengan metode Theraplay. Apa itu Theraplay?

Metode Theraplay adalah intervensi psikologis untuk membangun atau memperbaiki hubungan antara orang tua dan anak melalui bermain.

Mengapa melalui bermain, tidak melalui belajar, dan sebagainya?

Karena kalau bermain sifatnya menyenangkan, rileks, dan positif. Jadi melalui kondisi yang positif, menyenangkan, rileks, akhirnya lebih mudah terbangun hubungan antara orang tua dan anak. Itu yang pertama.

Kedua, anak juga bahasa utamanya masih bahasa bermain. Jadi dia sudah nyambung dengan orang tua, kemudian dilakukan dengan konteks bermain, maka dampaknya akan optimal untuk kedekatan hubungan dengan orang tua.

Apa saja bentuk permainan yang bisa dimanfaatkan dalam metode ini?

Pertama, kalau orang tua mau dekat dengan anak, metodenya tidak susah-susah yaitu dengan kita melihat mata anak kita, lalu kita sapa dengan "hai". Biasanya kita menyapa anak kita ketika sudah capek bekerja, kita tidak melihat lagi mata anak kita.

Kedua, senyuman kita, biasanya kalau melihat anak sudah pasti selalu menanyakan bagaimana ujian di sekolah, atau bagaimana tadi di sekolah dengan suasana tegang atau dengan tekanan. Tapi kalau kita berikan dengan senyuman, anak juga akan rileks, dan anak akhirnya melihat ternyata kondisi emosi Mama dan Papa sedang baik, jadi lebih mudah didekati. Kalau kita melihat orang-orang tidak senyum, pasti kita juga malas untuk dekat-dekat.

Terakhir, lewat sentuhan yang memang sifatnya intim. Bayangkan ketika kita dengan pasangan sedang ada masalah, pasti kita tidak mau sentuh-sentuh. Sama anak juga demikian. Kalau kita tidak memberikan sentuhan yang aman kepada anak, anak tidak akan tahu bahwa dia sebenarnya berharga, dia disayang.

Biasanya kita sentuh anak dalam bentuk cubitan atau dalam bentuk pukulan, jadi sentuhan yang tidak aman. Padahal mungkin maksud kita baik yaitu untuk mendidik. Namun jangan lupa kita juga harus memberikan sentuhan yang aman supaya anak tahu bahwa ternyata ada sentuhan yang baik juga untuk saya, ada pelukan, ada ciuman yang aman, ada pegang tangan. Pada beberapa budaya di Indonesia hal itu masih sifatnya kaku.

Di Theraplay itu dilakukan dengan tatapan mata, senyuman, dan sentuhan. Sepengetahuan saya itu juga ada di metode lain. Apa yang membedakan metode Theraplay dengan metode-metode lainnya dalam psikiolog?

Kalau dibedah lebih lanjut memang permainan-permainan ini sebenarnya mengandung dimensi-dimensi yang cukup berat bobot terapetiknya atau bobot untuk membangun persepsi yang positif. Jadi ada empat dimensi.  

Pertama adalah ketertarikan, yaitu saat anak kita tertawa maka kita ikut tertawa, saat anaknya sedih maka kita juga ikut sedih. Jadi kita berusaha untuk menyamakan level emosi dengan anak.

Kedua, ada dimensi struktur yaitu bagaimana dalam permainan kita memberikan aturan-aturan bermainnya. Jadi nantinya anak juga akan lebih patuh dengan aturan-aturan yang kita berikan dalam keseharian.

Apakah aturannya itu harus saklek?

Iya, saklek yang dimaksud di sini adalah tegas tapi tidak dengan keras.

Bukankah dalam bermain itu susah untuk diterapkan?

Justru bisa, misalnya, "Oke, Mama hitung ya sampai tiga, baru kamu lempar bolanya." Ketika kita baru mulai menghitung dari satu tetapi bolanya sudah dilempar oleh sang anak maka kita harus mengulanginya. Misalnya dengan mengucapkan, "Tadi mama katakan sampai tiga baru dilempar bolanya, oke kita ulangi lagi ya." Kalau anak tetap melempar bolanya sebelum hitungan ketiga secara terus menerus, maka kita harus menggiringnya ke permainan lain. Misalnya, "Wah kayaknya kamu belum siap main yang ini, kita main yang lain dulu ya." Jadi kita langsung membantu dia untuk beralih ke permainan lain.

Kemudian, apa dimensi ketiga dan keempat?

Ketiga, ada dimensi tantangan. Jadi kita memberikan tantangan dalam permainan-permainan itu kepada anak dan sesuai dengan kemampuan anak tersebut. Kalau kita memberikan tantangan yang terlalu tinggi kepada anak, maka anak akan merasa gagal dan percaya dirinya menurun atau kurang.

Apa contoh tantangan yang bisa diberikan kepada anak?

Misalnya, pada anak usia dua tahun kita ajarkan cara untuk tos dengan mengatakan, "Coba kasih tunjuk dua tangannya, terus kita tos ya." Ini sebenarnya level yang bisa diikuti oleh anak usia dua tahun. Tapi kalau pada anak usia dua tahun kita langsung memberikan tantangan, misalnya, "Hitung jari mama ada berapa, satu, dua, tiga, hitung yang jelas." Cara seperti inilah yang terlalu tinggi tantangannya sehingga anak merasa kagok, takut gagal, dan menjadi tidak percaya diri. Kalau tantangannya terlalu rendah, anak juga menjadi tidak termotivasi. Jadi tantangannya harus disesuaikan dengan usia dan kemampuan anak.

Bagaimana mengetahui bahwa tantangan ini cocok untuk usia anak tersebut?

Memang kita sebagai orang tua perlu tahu biasanya tahapan perkembangan anak kita berada di rentang usia berapa. Kalau anak kita usia lima tahun maka dia sudah bisa apa saja, kita harus cek. Kemudian anak usia satu tahun sudah bisa apa saja. Jadi mau tidak mau kita sebagai orang tua perlu membekali diri dengan ilmu perkembangan anak, biasanya per usia itu sudah mencapai tantangan perkembangan apa saja.Dimensi terakhir yaitu keempat adalah dimensi kasih sayang.

Dimensi ini lekat dengan sentuhan. Ada sentuhan membelai, merangkul, menepuk yang memang aman untuk anak.

Berapa rentang usia anak dalam definisi Theraplay?

Sebenarnya Theraplay bisa diberikan untuk semua umur, tetapi efektif untuk anak usia bayi sampai 14 tahun. Ketika usia di atas 14 tahun, biasanya kita memberikannya secara grup. Jadi Theraplay tidak lagi diberikan per individu dalam keluarga, tetapi diberikan bersama-sama dengan teman sebayanya. Tujuannya adalah untuk membangun kedekatan hubungan antara dia dengan lingkungan teman-temannya.

Theraplay dikatakan adalah salah satu terapi dengan bermain. Apa saja mainan yang digunakan?

Biasanya mainan yang kita gunakan adalah tubuh kita sebagai orang tua anak. Jadi kita tidak menggunakan terlalu banyak perlengkapan. Contohnya, di Indonesia kita mempunyai permainan yang paling mudah yaitu "cilukba" yang bisa diberikan pada anak-anak usia hingga balita. Apalagi anak usia enam sampai tujuh tahun yang sebenarnya tidak pernah dekat dengan orang tua pun, permainan cilukba bisa menjadi menyenangkan.

Jadi Theraplay memang mengisi kebutuhan emosi anak sehingga anak merasa berharga dan dicintai oleh orang tuanya. Contoh permainan cilukba, kita letakkan kain menutupi kepala kita, lalu kita mengatakan "satu, dua, tiga" kemudian kita tarik kainnya dan kita berikan wajah kita yang positif kepada anak, misalnya dengan tersenyum. Maka anak akan merasa bahwa muka orang tua sangat menyenangkan untuk dilihat terus.

Kita juga bisa melakukan permainan hitung bintik wajah di wajah Mama, Papa, atau anak kita. "Lihat, kamu ada berapa bintiknya" atau kita lihat bintik di tangan anak kita, misalnya, "Wah, kamu ada lima bintik, lalu kita oleskan lotion di bintik tersebut dan kita mengatakan saja supaya rasanya enak. Tapi tidak boleh mengatakan, "Wah, kamu ada lima bintik, jelek sekali tangan kamu." Kita tidak mau memberikan kesan bahwa tangannya jelek, tetapi kita katakan, "Wah, tangan kamu kuat ya. Lihat, ada lima bintik, kamu spesial sekali."

Apakah ada syarat khusus untuk orang tua agar bisa melakukan Theraplay sendiri di rumah?

Melalui terapi Theraplay sebenarnya terapisnya mengajarkan pada orang tua supaya mereka bisa melakukannya sendiri di rumah.

Jadi harus diajarkan dulu.

Iya, karena kita percaya bahwa Theraplay itu diajarkannya melalui pengalaman. Jadi kita memberikan pengalaman dulu ke orang tua sehingga orang tua merasakan dan mengaplikasikan pada anak. Theraplay itu sebenarnya memang hubungan yang artinya penuh cinta. Cinta itu tidak bisa dikata-katakan atau diteorikan, tetapi harus dialami dulu, setelah mendapatkan pengalaman diperhatikan dan dicintai, baru dia bisa mengaplikasikannya ke orang lain.

Contohnya, kalau orang tua dari pola asuh sebelumnya dia tidak pernah tahu kalau dipeluk itu menyenangkan, kalau disentuh itu baik, ada sentuhan yang aman, dia tidak pernah bisa mengajarkan itu kepada anaknya karena dia tidak mempunyai gambaran itu. Tapi kalau dia mempunyai gambaran itu, maka dia bisa menerapkannya kepada anak dengan cara yang aman.

Saat ini banyak anak Indonesia yang hobi bermain dengan gadget bahkan banyak yang kecanduan. Ketika anak-anak sudah kecanduan gadget, apakah jika kita menggunakan terapi Theraplay maka kita juga harus ikutan bermain gadget bersama mereka?

Justru terapi ini bisa menggantikan waktu bermain gadget dengan waktu bermain yang interaksinya nyata. Kalau anak berinteraksi dengan gadget maka itu tidak ada tatapan, senyuman, dan sentuhan, yang sebenarnya ini penting untuk perkembangan emosi anak. Jadi kalau ini tidak tercukupi, maka anak akan mempunyai masalah emosi, marah-marah, atau anak akan mempunyai masalah impulsif, yaitu keinginannya harus dipenuhi sekarang. Jadi anak tidak belajar sabar dan mengendalikan diri sendiri.

Kalau bermain gadget-nya sudah terlalu lama, maka mau tidak mau kita sebagai orang tua perlu belajar tega atau tegas untuk mengatakan, "Kamu main gadget-nya harus dikurangi" atau memberikan batasan waktu kepada anak untuk main gadget pada hari tertentu saja. Kalau sudah dikurangi harus digantikan dengan sesuatu yang lain, yaitu digantikan dengan salah satunya bermain Theraplay.

Pengalaman saya dengan keponakan, biasanya anak sudah kecanduan gadget maka tidak mau diganggu sama sekali sampai marah kalau diajak bermain yang lain.

Memang tantangan sebenarnya bukan untuk mencegah anak marah, sudah pasti kalau gadget direbut maka anak pasti marah. Tapi sebenarnya kita ingin memberi tahu kepada anak bahwa ada hal-hal lain yang lebih penting dari gadget. Jadi ketika anak marah, tantangan kita sebenarnya adalah membantu dia untuk lebih tenang kembali.

Ketika anak marah kita bisa mengatakan, "Kamu marah sekali ya, kamu pasti kecewa karena gadget-nya diambil sama Mama, tapi ini memang bukan waktunya untuk bermain gadget. Kamu kalau masih marah tidak apa-apa". Tapi bukan berarti gadget-nya kita kembalikan ke anaknya karena kita sudah memberikan aturan bermain gadget, misalnya, hanya dari jam berapa sampai jam berapa.

Kemudian kita bisa mengalihkan perhatian dengan permainan lain. Misalnya, kita menaruh lotion dengan kapas dan letakkan di atas jari kita. Jadi kapasnya menempel di atas jari kita. "Coba kamu bisa atau tidak meniup kapasnya sampai jatuh." Kemudian anaknya meniup ujung jari kita yang sebenarnya dia pasti dekat secara kehadiran dan secara fisik dekat dengan kita. Lalu kita juga membawanya dengan santai, tenang, dan menyenangkan. Kita mau memberikan kepada dia interaksi nyata, jadi ada interaksi yang mengisi kebutuhan emosi anak.

Bentuk interaksi ini berbeda-beda antara anak usia 5, 10, atau 14 tahun dan contoh yang sudah diberikan tadi mungkin bisa untuk anak usia lima tahun. Bagaimana dengan anak yang sudah 10 tahun ke atas. Apa bentuk terapi permainan yang bisa mengalihkan perhatian mereka bahwa ini lebih menarik daripada bermain gadget?

Untuk anak-anak usia besar, kita sudah harus berikan kesepakatan kapan saja dia bisa bermain gadget. Jadi kita sebagai orang tua atau figur otoritas memang perlu memberikan batasan-batasan kapan saja dia boleh bermain gadget. Lalu kita juga harus perhatikan privasinya, misalnya, kita bisa mengetahui password-nya. Jangan sampai kita langsung memberikan gadget tanpa kita memberi tahu aturannya. Ingat dimensi struktur, aturan itu penting. Jadi aturan anak bermain gadget itu penting. Pada anak-anak usia 10 tahun kita juga berikan risiko-risikonya.

Ketika dia bermain gadget dan waktunya bermain sudah habis, kita harus memberitahukan ke anak bahwa waktunya sebentar lagi habis. Dengan begitu anak akan meregulasi dirinya bahwa sebentar lagi waktunya habis, maka dia harus bersiap-siap untuk berhenti bermain. Kalau langsung diputus seketika, pasti anak akan kaget.

Hal-hal seperti ini juga dilakukan di dalam ruangan Theraplay. Kita memberikan aturan-aturan bermainnya dahulu sebelum anak bermain. Ini akan membantu anak melihat dan bisa memprediksi bagaimana aturan di rumah itu diberlakukan. Jadi melalui bermain Theraplay, anak-anak besar maupun kecil jadi belajar bahwa ada aturan yang diberlakukan oleh orang tua.

Kemampuan untuk membina hubungan baik melalui bermain dengan anak adalah kemampuan yang tidak semua orang tua bisa miliki. Bagaimana cara jika ada orang tua yang ingin bisa mempunyai kemampuan Theraplay atau membina hubungan baik dengan anak melalui bermain? Dimana dia bisa mendapatkan pelatihan atau semacam pendidikan?

Saat ini sudah ada lebih dari 60 praktisi profesional kesehatan mental yang mengambil Theraplay. Tapi memang kebanyakan dari kami masih berlokasi di Jakarta, ada beberapa juga di Jember. Kami memang mempunyai visi dan misi untuk memperbanyak praktisi kami hingga ke seluruh Indonesia. Kami pernah ke Aceh, Ambon, dan kami juga pernah mengaplikasikan Theraplay hingga ke Sulawesi. Kami memang sedang menerjemahkan buku-bukunya ke dalam bahasa Indonesia. Theraplay ini baik untuk menurunkan tingkat kekerasan di sekolah ataupun di rumah.

Kalau memang dari daerah mau kami datangi atau kami ajari sebenarnya bisa kontak kami di info@theraplayindonesia.com atau telepon di 0812 8815 0889. Kemudian nanti kita bisa komunikasikan bagaimana cara kita berinteraksi atau mengajari. Misalnya kita membuat whatsapp group, telegram, atau membuat belajar online.

 

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=qa2EUrDcp6s&feature=youtu.be&ab_channel=PerspektifBaruOnline