Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Dinna Wisnu

Memahami Konflik Timur Tengah

Edisi 1140 | 05 Feb 2018 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita akan bicara mengenai Timur Tengah karena kita beruntung kehadiran Dinna Wisnu, yaitu dosen dengan bidang keahlian politik luar negeri. Dia juga merupakan Wakil Indonesia di Komisi Antar Pemerintah ASEAN untuk Komisi Hak Asasi Manusia (HAM).

Dinna Wisnu mengatakan Timur Tengah merupakan satu kawasan yang politik antar negaranya saling terkait antara satu sama lain dengan sangat pelik, terlebih urusan dalam negeri dan luar negeri yang hampir sama. Kita melihat Timur Tengah seharusnya jangan hanya melihat negaranya, tetapi kita melihat juga suku, ikatan agama, kepercayaan semacam Syiah versus Sunni, Kurdi, Arab, Persia. Itu identitas-identitas yang lebih melekat dan menentukan dinamika relasi hubungan antar negara maupun politik dalam negeri di negara-negara Timur Tengah. Ada istilah yang berkembang di Timur Tengah adalah, "Tiada Musuh Abadi, Tiada Kawan Sejati". Jadi di sana memang yang namanya koalisi, pertemanan, dan persekutuan itu bisa temporer.

Menurut Dinna, Indonesia tidak boleh abai dengan perkembangan di Timur Tengah. Bukan karena apa-apa, tetapi ada rute-rute strategis baru yang dibangun oleh sejumlah negara untuk memutus kebuntuan yang secara tradisional membungkam ekonomi mereka. Contohnya, Iran, Oman, dan Turki membuat jalur perdagangan baru, bekerja sama dengan mitra-mitra yang tidak biasa supaya mereka kalaupun sampai dikucilkan negara lain, maka mereka sudah menjadikan tempat-tempat mereka sebagai jalur perdagangan baru. Apa kepentingannya bagi Indonesia? Selain direct kerja sama ekonomi dengan mereka seharusnya lebih baik, kita juga harus antisipasi kalau orang lebih ramai pergi ke sana karena Selat Malaka dan wilayah perairan kita mau berapa persen akan kehilangan pengunjung kalau pertumbuhan ekonominya tidak lagi dipandang hanya di daerah Asia Tenggara.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dan narasumber Dinna Wisnu.

Sejak kecil saya sudah tahu ada masalah Timur Tengah, ada Terusan Suez yang diblokade sebelum perang Israel - Arab yang pertama. Saya tidak pernah mengerti mengapa itu terjadi dan tidak selesai-selesai. Apakah karena orangnya memang begitu, atau karena masalah agama atau masalah teritori, ekonomi, dan lainnya? Jadi saya ingin dapat gambaran di situ.

Tentunya tidak usah kuliah lengkap akademis, mungkin bisa dikaitkan dengan peristiwa saat ini, yaitu Turki sebagai sekutu NATO marah sekali dengan Amerika Serikat (AS). Turki tidak ingin AS intervensi dalam melawan komunitas Kurdi di selatan Turki yang dekat pada Syria. AS galak sekali terhadap golongan itu dan juga terhadap Syria tentunya, tapi tentu baik kepada Israel dan Arab Saudi. Bagaimana peta geopolitiknya sekarang ini?

Kalau kita bicara tentang Timur Tengah, memang ini satu kawasan yang politik antar negaranya saling terkait antara satu sama lain dengan sangat pelik, terlebih urusan dalam negeri dan luar negeri yang hampir sama. Berbeda dengan kita, mungkin bagi kita yang berada di Asia agak berat memahami Timur Tengah karena biasanya urusan dalam negeri kita hanya kita yang memikirkannya, tidak ada relasi langsung kelompok di dalam negeri kita dengan kelompok di negara seberang. Loyalitasnya biasanya hanya kepada satu negara saja.

Logika tersebut tidak ada di Timur Tengah karena di sana seharusnya jangan hanya melihat negaranya, tetapi kita melihat juga suku, ikatan agama, kepercayaan semacam Syiah versus Sunni, Kurdi, Arab, Persia. Itu identitas-identitas yang lebih melekat dan menentukan dinamika relasi hubungan antar negara maupun politik dalam negeri di negara-negara Timur Tengah. Jadi ada istilah yang sangat melekat di kepala saya karena saya kebetulan dari masih kuliah hobi melihat Timur Tengah. Menurut saya tidak akan ada habisnya dan justru karena tidak ada habisnya itu menarik untuk dilihat terus.

Apakah menurut Anda sampai sekarang masih begitu?

Masih, karena memang istilah yang berkembang dari Timur Tengah adalah, "Tiada Musuh Abadi, Tiada Kawan Sejati". Jadi di sana memang yang namanya koalisi, pertemanan, dan persekutuan itu bisa temporer.

Saya ambil contoh yang menarik mungkin justru dikelompokkan negara-negara mana yang merasa mempunyai indentitas yang cukup solid sehingga bisa mengakumulasi kekuatan militer yang cukup kuat. Ada negara-negara yang memang memutuskan untuk tidak mempunyai yang seperti itu karena tergantung pasokan dukungan (suplay) baik itu urusan makanan, ekonomi, sampai urusan kerja sama dari negara tetangga, ada yang membiarkan dirinya seperti itu.

Negara yang cukup solid dan kemudian akhirnya kuat memegang militer misalnya Israel, kemudian kita melihat juga ada Turki. Itu negara-negara yang memang mempunyai indentitas yang kuat dan solid sampai ke dalam. Namun negara seperti Lebanon, itu merupakan negara yang memang diciptakan sebagai buffer. Kalau dilihat dari komposisi pemerintahannya, di dalam itu komprominya luar biasa antara berbagai kelompok yang memutuskan untuk saling berganti-gantian menjadi pemimpin di sana.

Lebanon memang kadang-kadang terlihat seperti negara pluralis yang pemimpinnya dari agama satu dan presidennya dari agama yang lainnya. Di lain pihak bukan pluralis, tetapi kacau, sering diadu domba, dan sering menjadi tempat beroperasinya macam-macam jaringan keras semacam teroris. Sebaliknya kalau Israel dan Turki itu solid. Apakah Arab Saudi termasuk negara solid?

Dulu Arab Saudi mempunyai power yang lebih dibandingkan dengan negara-negara lain karena minyaknya. Tetapi sekarang dengan makin gigihnya negara-negara lain untuk meninggalkan minyak sebagai bases of power dalam politik internasional, Arab Saudi menjadi ketinggalan.

Apakah minyak sudah bisa digantikan?

Lumayan bisa diganti. Jadi AS sudah tidak memakai mereka lagi karena sudah ada teknologi shells (kerang). Harga minyak sudah tidak bisa hanya dimainkan oleh koalisi Arab Saudi. Misalnya Iran, ini juga merupakan satu negara yang menarik, identitasnya selalu dipisahkan dari negara Arab yang lain karena Syiah.

Apakah hanya Iran yang Syiah dan apakah Syiah berkuasa?

Tidak, tetapi memang yang mayoritas terbanyak Syiah ada di Iran.

Apakah negara Turki berbeda dengan Iran?

Turki itu Persia. Jadi dari segi bahasa saja mereka merasa bukan sebagai orang Arab dan mereka menolak mempunyai identitas yang dianggap sama dengan Arab dan kawan-kawannya. Misalnya Suriah, merupakan perpaduan dari berbagai macam orang. Kurdi dan Turki itu selalu berseberangan karena orang Kurdi ada di Iran, Irak, dan Turki, mereka justru saling bersatu.

Apakah orang Kurdi di masing-masing negara itu berbahasa sama?

Berbahasa sama, seperti orang serumpun yang kebetulan dipisah tempat. Akhirnya karena situasi politik yang berkembang, sekarang mereka memilih untuk mulai bersatu melawan negara-negara dimana mereka berada.

Ada yang mengatakan bahwa ISIS sekarang secara fisik sedang redup. Sewaktu ISIS ada, itu menjadi pemersatu bagi lawan-lawannya yaitu AS dan Rusia bersatu di Syria untuk melawan ISIS. Sekarang ISIS tidak ada, negara tersebut menjadi kacau. Kurdi juga sangat kuat mendukung perang anti ISIS di Irak. Sekarang ISIS sudah tidak ada sehingga tidak ada pemersatu lagi. Apakah ini menandakan suatu masa ketidakstabilan atau biasa-biasa saja?

Yang saya lihat di seluruh dunia itu ada lanscape baru yang tercipta, suasananya cair karena ada pemain-pemain baru yang mengucurkan dana sangat besar dalam politik luar negerinya untuk terlibat lebih aktif.

Apakah termasuk Rusia?

Betul, termasuk Rusia dan Cina. Cina termasuk yang aktif.

Tetapi Cina terlihat seperti tidak aktif politik luar negerinya.

Jangan salah, memang bentuknya berbeda tidak seperti negara-negara yang kita kenal yang mainnya dengan kehadiran militer. Cina juga hadir sekali di Timur Tengah tetapi dalam bentuk yang lain yaitu ekonomi.

Afrika sudah mereka kuasai.

Betul, banyak berita di luar sana yang hanya menyoroti hal-hal yang kasat mata saja. Biasanya dalam situasi yang sangat konflik itu dibaliknya pasti ada orang lain yang digandeng untuk bisa memanfaatkan situasi.

Apakah berarti tidak bisa dikatakan bahwa AS dan Rusia adalah dua super power yang utama di Timur Tengah?

Kalau saya lihat, AS ini masih mencari bentuk baru dari keterlibatan mereka di Timur Tengah. Kalau dulu mereka bisa bersembunyi dalam kebiasaan mereka menerapkan dua standar. Mereka di depan hadir sebagai mediator dalam banyak hal, tetapi di sisi lain mereka juga menjadi pemasok senjata dan segala sesuatunya.

Apakah itu bukan perbedaan tabiat antara pemerintah dan swasta?

Tidak juga, karena itu merupakan bagian dari military industrial complex. Jadi tidak bisa dipisahkan karena di AS mengenai urusan senjata memang diatur oleh pemerintah, terutama untuk masuk ke negara-negara. Tidak mungkin kalau tidak ada izin dari pemerintah. Jadi sekarang AS dalam posisi mencari bentuk baru untuk kehadirannya. Kalau mereka tidak bisa hadir lagi sebagai honest broker berarti harus ada pemain lain yang muncul, misalnya Arab Saudi dan AS sebenarnya mereka adalah sekutu lama.

Betul, sewaktu Peristiwa 11 September saja AS dianggap "kagok" karena yang membom adalah orang Arab dan AS malah diam saja. Walaupun mereka adalah sekutu lama, tetapi kunjungan terakhir Trump ke sana sangat mengejutkan karena betul-betul hebat penerimaannya dan kemudian ada revolusi domestik. Apakah itu menandakan kehadiran AS yang akan berada di sisi Arab Saudi untuk waktu yang lama?

Sekarang kita sudah tidak bisa pilah lagi bagaimana posisi AS terhadap Arab Saudi. Saya kira sekarang AS justru sedang mendua karena Arab juga mendua terhadap AS. Kita tahu bahwa Arab bisa hilang power di bidang Migas karena AS. AS merasa kesal karena sejak mereka harus menyebarkan banyak pasukan ke Timur Tengah membuat uang mereka habis, banyak nyawa hilang, dan banyak yang pulang cacat, sehingga menimbulkan banyak masalah dari segi jaminan sosial di AS.

Jadi Arab Saudi dalam posisi yang tidak sepenuhnya senang juga terhadap AS. Arab dalam posisi untuk mencari lagi bentuk yang paling pas untuk ekonominya setelah Migas ditinggalkan. Saya rasa Arab ingin menjadi seperti Qatar, bisa outwork looking, bisa eksis di dunia tanpa harus tergantung dengan minyak. Mitra Arab Saudi yang paling dekat sebenarnya adalah Israel, banyak orang yang tidak tahu hal ini.

Padahal yang satu sangat Islam dan yang satunya lagi sangat Yahudi.

Jangan salah, itu adalah keputusan politik dan ekonomi. Jadi kita tidak bisa anggap terpisah sepenuhnya.

Bagaimana dengan Qatar, Abu Dhabi, dan Bahrain yang bisa seperti negara kapitalis, padahal mereka adalah negara Arab? Apakah ada satu lapisan kapitalisme dengan Arab di bawah atau memang seluruhnya berjiwa komersial?

Lebih kepada yang pertama. Jadi lapisan kapitalisnya memang lebih tebal dan itu dipupuk. Mereka juga sangat terbuka dengan kedatangan para investor.

Bukan hanya lapisan kapitalis, barangkali memang kapitalis barat yang misalnya memiliki Airlines-nya, memiliki perusahaan minyak, radio, dan sebagainya. Lalu, mengapa Qatar ribut dengan Arab Saudi?

Arabnya yang tidak suka karena dari segi populasi dan lokasi Qatar relatif jauh lebih kecil daripada Arab Saudi, dan boleh dikatakan sebagai little brother. Namun sekarang apa-apanya sudah tidak bisa dikasih tahu lagi. Kita lihat di Organization of the Islamic Conference(OIC) atau yang kita kenal dengan Organisasi Konferensi Islam (OKI), itu merupakan satu perkumpulan yang sulit sekali untuk dikendalikan karena selalu saja ada kepentingan-kepentingan yang main di luar. Sebenarnya idealnya maunya Arab Saudi adalah OKI menjadi tempat yang solid dimana Arab Saudi bisa mengatakan apa yang dia mau.

Bagaimana pengaruh Indonesia saat ikut OKI? Apakah itu hanya pro forma saja atau memang berpengaruh?

Secara bahasa diplomasi kita memang harus terlibat di sana karena termasuk negara yang berpenduduk muslim dengan jumlah yang banyak. Tetapi dari segi teknis, memang untuk bisa membuat OKI bergerak untuk lebih mampu memberikan perubahan adalah tugas yang berat dan tidak mudah. Itu karena secara sumber daya memang harus full kalau mau terlibat di Arab. Kalau kita lihat sekarang saja sumber daya manusia kita untuk diplomat yang menguasai bahasa Arab dan betul-betul paham situasi di Arab sangat minim.

Kedua, memang kepentingan kita secara nasional bukan di sana. Urusan kita di Timur Tengah masih sebatas tenaga kerja Indonesia yang bekerja di sana, sebatas itu saja. Investasi dan yang lainnya belum termasuk.

Apakah tidak ada kepentingan strategis untuk berpihak dalam konflik Palestina?

Tidak, kita di sana lebih kepada memastikan bahwa Palestina merdeka. Kalau kita mau terlibat langsung di dalamnya, maka betul-betul butuh pihak yang dihormati oleh kedua belah pihak. Kita hanya diterima oleh Palestina tetapi tidak bisa masuk ke Israel.

Jadi sekarang AS sudah tidak bisa menjadi honest broker. Mike Pence, Wakil Presiden AS, datang kemudian ditolak oleh Palestina. Apakah itu bisa menjadi peluang bagi Indonesia dan apakah ada ketertarikan di situ?

Kalau saat melihat pada saat ini tidak ada.

Bagaimana dengan ASEAN, apakah ada kepentingan atau tidak?

Tidak juga. Kalaupun kita fokus ke sana, itu lebih kepada perdamaian, dan mungkin juga Hak Asasi Manusia (HAM). Masalahnya multidimensial sekali. Israel dan Palestina itu bukan semata-mata mengenai teritori, tetapi ada juga mengenai ekonomi yang sangat kuat. Mungkin juga tidak banyak orang Indonesia yang sadar bahwa walaupun mereka saling bertentangan, banyak sekali orang Arab atau Palestina yang dipekerjakan sehari-harinya di Israel. Jadi ketergantungan ekonomi diantara mereka sangat tinggi. Artinya mereka saling membutuhkan. Israel membutuhkan tenaga kerja rutin setiap hari untuk bekerja di pabrik roti, toko dan sebagainya.

Apakah Israel tidak merasa terancam dengan adanya labour force Arab di sana?

Ini adalah bagian yang memang tidak diceritakan di publik. Kenyataannya itu memang bagian dari keseharian mereka, dan Arab pun kenyataannya menerima. Memang kalau dipikir-pikir tetangga sebelah mana yang juga bisa menerima orang-orang Palestina. Mereka pun posisinya juga di tengah-tengah.

Apakah Indonesia perlu berpihak untuk mengamankan keseimbangan politik dalam negeri?

Kalau keseimbangan politik dalam negeri kaitannya dengan Timur Tengah, sebenarnya dari segi value (nilai) yang vakum, kita tidak terlihat ada arah yang menginspirasi. Kalaupun kita terlibat ke isu luar negeri, kelihatannya pragmatis juga. Padahal itu juga yang kita lihat, banyak terjadi dan dilakukan oleh negara-negara lain. Itu mungkin yang membuat kita bingung, mengapa kanan kiri hanya mencari keuntungan sendiri. Sementara kalau Indonesia biasanya melekatkan identitas politik luar negerinya dengan nilai kemanusiaan, kemerdekaan, perdamaian abadi, dan sebagainya. Itu yang boleh dibilang kita miss saat ini.

Apakah profesi Anda diperlemah dengan tidak pedulinya AS kepada HAM, bahkan AS bersahabat dengan rezim-rezim yang tidak menghormati HAM?

Betul, di tataran praktis itu peluang kita untuk masuk ke agenda politik hardcore menjadi lebih sulit. Namun seorang aktivis tidak boleh patah semangat, justru kalau di atas lagi beku biasanya jalan ke bawah lebih banyak. Jadi jalur untuk meluaskan kesadaran masyarakat, membangun jaringan di level civil society atau masyarakat basis itu yang lebih kuat. Saat ini yang banyak kita lakukan lebih ke arah sana karena pada akhirnya yang bisa mendorong secara konsisten itu juga masyarakat yang di bawah. Politisi kalau mendengar suara-suara dari masyarakat banyak biasanya nurut.

Sebaliknya kalaupun Indonesia tidak terlalu bisa mempengaruhi proses di Timur Tengah, apakah berkepentingan atau apakah akan mengubah nasib Indonesia dengan kejadian di Timur Tengah ini?

Dalam beberapa tulisan saya, saya sudah mengatakan bahwa Indonesia tidak boleh abai dengan perkembangan di Timur Tengah. Bukan karena apa-apa, tetapi ada rute-rute strategis baru yang dibangun oleh sejumlah negara untuk memutus kebuntuan yang secara tradisional membungkam ekonomi mereka.

Contohnya, Iran, Oman, dan Turki membuat jalur perdagangan baru, bekerja sama dengan mitra-mitra yang tidak biasa supaya mereka kalaupun sampai dikucilkan negara lain, maka mereka sudah menjadikan tempat-tempat mereka sebagai jalur perdagangan baru.

Apa kepentingannya bagi Indonesia? Selain direct kerja sama ekonomi dengan mereka seharusnya lebih baik, kita juga harus antisipasi kalau orang lebih ramai pergi ke sana karena Selat Malaka dan wilayah perairan kita mau berapa persen akan kehilangan pengunjung kalau pertumbuhan ekonominya tidak lagi dipandang hanya di daerah Asia Tenggara. Saat ini Afrika sudah mulai siap, Timur Tengah sudah mulai siap, jangan lupa Asia Tengah juga sudah mulai siap karena investasi Cina di situ luar biasa untuk infrastruktur. Jadi 10 C 20 tahun lagi suasananya akan berubah.

Cina berperan besar di Afrika dan sebaliknya, Cina tidak terlalu berperan di Asia Tenggara dan Timur, menurut saya. Apakah itu akan menempatkan kita di luar jalur utama geopolitik Cina?

Tidak, karena secara kedekatan geografis, kita lebih dekat dengan Cina. Ibaratnya, kalaupun Cina mau cuek dengan kita, dia tidak akan mampu. Pasar terdekat dan juga lebih berkembang secara sumber daya manusia itu berada di Asia Tenggara, termasuk Indonesia. Sementara Afrika masih baru. Ibaratnya kalau orang ada rantai nilai maka itu masih yang paling bawah, produk-produk yang paling rendah dilemparnya ke sana. Namun untuk kemitraan atau membangun sektor yang lebih middle up maka mau tidak mau di Asia.