Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Femke Den Haas

Sirkus Satwa Kejam

Edisi 1130 | 11 Des 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita kali ini kedatangan tamu spesial dari negeri jauh. Ia adalah Femke Den Haas, seorang aktivis pecinta lingkungan asal negeri Belanda yang jatuh cinta dengan satwa-satwa Indonesia. Femke telah bertahun-tahun menghabiskan masa hidupnya di Indonesia hingga kini untuk melindungi satwa hingga ia sangat mahir berbahasa Indonesia. Femke juga mendirikan Jaringan Bantuan Satwa Jakarta atau Jakarta Animal Aid Network (JAAN) yang berdiri sejak 2008 dan terus memperjuangkan keselamatan dan perlindungan para satwa.

Menurut Femke banyak orang yang salah paham terhadap satwa. Banyak satwa menjadi bersikap galak karena mereka dikurung, tidak dimengerti kebutuhannya dan menyerang manusia. Kuncinya adalah memahami mereka sehingga mereka tidak melihat kita sebagai ancaman. Ini rahasia Femke dan aktivis JAAN bisa menangani hewan yang sering dianggap ganas tanpa pembius.

Satu hal yang juga penting untuk diketahui bahwa satwa liar seharusnya hidup di alam bebas. Memelihara mereka tidaklah benar. Ini lebih buruk lagi dalam sirkus-sirkus satwa termasuk lumba-lumba yang sebenarnya kejam mengurung satwa, dan memperlakukan dengan siksaan untuk dijadikan tontonan. Banyak negara yang sudah mulai meninggalkan sirkus lumba-lumba misalnya. Sayangnya di Indonesia masih marak bahkan paling buruk kedua dunia setelah Brazil.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Femke Den Haas.

Kita beruntung sekali menerima tamu Femke Den Haas, seorang pecinta satwa alam yang aktif mendirikan Jakarta Animal Aid Network (JAAN) yaitu suatu jaringan yang membantu binatang satwa. Apa itu JAAN dan latar belakangnya?

JAAN adalah Jaringan Bantuan Satwa Jakarta atau Jakarta Animal Aid Network yang didirikan pada tahun 2008. Saat itu belum ada perkumpulan atau organisasi yang memperjuangkan hak hewan dan kami melihat banyak sekali isu-isu tentang kesejahteraan satwa yang memang harus ditangani. Jadi kami perlu membentuk yayasan ini. Sebelum JAAN, saya sudah lama bergerak di Indonesia untuk perlindungan khususnya satwa liar yang dilindungi. Pada tahun 1996 itu pertama kali saya beruntung bisa menemukan orang utan di alam dan dapat kesempatan bekerja selama enam bulan secara sukarela di pusat rehabilitasi orang utan di Kalimantan Timur. Dan dari sana munculah kecintaan saya terhadap alam Indonesia dan juga keinginan saya untuk melestarikannya mereka dan menghentikan perdagangan ilegal yang sampai sekarang terus terjadi.

Pada tahun 1996 saya juga berkunjung ke pasar burung di Pramuka saya diajak staf kedutaan besar, pada saat itu bapak saya bekerja di kedutaan. Beliau mengajak saya, karena saya sebagai anak pecinta satwa harus melihat pasar burung. Saya diajak kesana dan di sana saya menangis. Orang yang mengaja saya tidak mengerti kenapa saya menangis, "Kenapa kamu sedih? Inikan satwanya banyak?" Saya sedih kerena melihat satwa liar di kandang-kandang kecil. Dari sana munculah keinginan saya untuk kembali ke Indonesia dan membantu kelestarian satwa.

Berapa tahun jarak melihat satwa dan kembali ke Indonesia?

Tahun 1996 saya melihat pasar burung itu. Saya juga sempat kerja di pusat orang utan di Kalimantan. Terus saya kembali ke Belanda. Pada saat itu saya berhenti sekolah khusus agar bisa membantu.

Pada tingkat sekolah apa itu?

Masih tingkat high school.

Orang tua mengizinkan?

Tidak, tetapi mereka melihat ini passion saya sangat tinggi. Mereka memberikan saya izin selama 6 bulan bisa ikut program orang utan, setelah itu saya kembali ke Belanda untuk menyelesaikan sekolah SMA dan kuliah. Tahun 2002 saya kembali ke Indonesia. Saya bekerja di pusat penyelamatan satwa di Tegal Alur. Itu inisiatif pemerintah Indonesia, karantina pertama yang dirikan khusus satwa liar yang dilindungi, yang disita di bandara dan di pelabuhan. Saya ikut dalam tim untuk mendirikan pusat penyelamatan satwa ini. Dan akhirnya saya lama kerja di sana selama hampir empat tahun dan di situ saya bertemu suami.

Apakah Femke pernah menelusur karya lain atau 100% dedikasinya kepada satwa?

Memang 100% didedikasikan kepada satwa-satwa

Ini tidak seperti mengurus anjing atau kucing, namun ini satwa liar seperti buaya dan ular?

Sebenarnya semua satwa. Saya sudah lama bekerja di penampung untuk anjing di Belanda. Semua mahluk hidup punya hak untuk hidup secara baik dan sejahtera. Tetapi saya spesialisasi di satwa liar. Intinya saya mengerti cara menangani mereka dan saya ingin melihat mereka kembali ke alam bebas.

Training seperti apa dalam menangani satwa? Dari mana training diperoleh?

Dari pengalaman dan juga dari merasa ingin mengerti mereka, jadi ingin mempelajari perilaku mereka, ingin mengerti kebutuhan mereka apa. Contohnya orang sering memelihara monyet habis itu orang sering bilang monyet ini galak. Sebenarnya monyet itu tidak galak. Karena dia merasa ketakutan, dia stres akhirnya dia mulai membela diri dan mengigit. Sering sekali saya di panggil ada monyet galak, tolong di ambil. Dari awalanya sudah salah. Dari pedagangnya sudah salah dan terus terjadi. Sampai monyet ini bisa dijadikan satwa pemeliharaan itu sudah salah. Seharusnya mereka hidup di hutan.

Sama sekali tidak bisa dikurung? Monyet itu harus bebas?

Harus bebas dan dia sangat sosial jadi perlu hidup berkelompok, perlu interaksi dengan monyet lainnya. Kalau dikerangkeng otomatis dia menderita. Orang beli masih kecil, masih jinak, dengan dia berumur dia semakin banyak punya kebutuhan ingin sosialisasi. Dari situ orang bilang ini galak. Saya bisa saja handle monyet seperti itu tanpa obat bius karena kami atau tim JAAN sudah mengerti tingkah laku mereka.

Walaupun sudah galak masih bisa dikendalikan?

Masih bisa karena galak muncul dari rasa. Mungkin dia merasa tidak dimengerti oleh orang di sekitar jadi dia merasa ketakutan. Tetapi dengan kita mendekati dia dengan cara yang dia mengerti. Dia melihat ini bukan ancaman.

Tapi tentu ada batasnya berdasarkan jenisnya. Kalau singa bagaimana dimengertinya juga tetap saja galak. Adakah binatang liar itu yang pada dasarnya sudah galak?

Bagaimana pun satwa liar monyet adalah satwa liar yang harus dikembalikan ke alamnya. Tetap jadi ancaman kalau orang memelihara.

JAAN ini bekerja sama dengan LSM lain atau dengan PBB?

Saya dulu ikut banyak organisasi berbeda-beda. Saya melihat organisasi sering gara-gara ego atau merasa lebih hebat jarang ada kerjasama. Dari situ muncul keinginan saya untuk dirikan Jaringan atau Network. Jadilah JAAN itu Network. Kami terbuka untuk jaringan pihak apa pun yaitu LSM lain, individu, penyayang binatang atau pemerintahan. Karena kita harus kerjasama kalau memang ingin maju.

Femke merasa bekerja melawan arus jadi melawan opini masyarakat. Kan banyak orang seperti saya senang melihat lumba-lumba. Jadi seberapa jauh itu ada pengertian dari masyarakat?

Saya melihat jarang yang mengerti apa sih pentingnya satwa. Mengurus orang saja masih susah. Dulu sering tidak dimengerti oleh masyarakat mengapa saya sibuk-sibuk urus monyet mereka dan tidak urus diri sendiri saja. Terkadang orang marah tetapi sekarang saya melihat ada perubahan drastis. Masyarakat semakin mengerti bahwa hewan perlu diperlakukan dengan baik dan masyarakat juga sangat aktif. Di dalam yayasan kami sendiri juga banyak sukarelawan.

Kira-kiranya karena pendidikan formal atau karena sosialisasi melalui film dan sebagainya? Kira ľkira kenapa kemajuan sikap orang?

Mungkin sosisalisasi lewat media, mungkin sekolah-sekolah mulai memberi perhatian subyek satwa. Mungkin dulu tidak dan sekarang iya.

Saya dengar secara khusus ada perjuangan Femke dengan lumba-lumba yang sudah lama populer di sirkus dan orang senang kelucuannya. Kelihatannya bebas berenang-renang tetapi mereka semua pada hakekatnya tersiksa. Adakah perkembangan dalam sikap orang terhadap lumba-lumba?

Ada perkembangan dari publik untuk menutup sirkus lumba-lumba. Seruannya sangat besar. Ada demonstrasi dimana-mana, mahasiswa kumpul di beberapa kota, ada protes untuk menutup sirkus lumba-lumba, ada publik figur beberapa orang terkenal di Indonesia yang selalu kampanye stop sirkus lumba-lumba di sosial media mereka, atau ada kesempatan untuk berbicara di tv atau di radio. Opini publik sangat ingin menutup sirkus lumba-lumba. Saya melihat ada banyak dukungan untuk menghentikan sirkus lumba-lumba. Permasalahannya bisnis yang menjalankan ini kerja sama dengan pihak pemerintahan yang masih terus biarkan kekejaman ini terjadi.

Dalam semangat yang sama tentunya sirkus yang bukan lumba-lumba, sirkus biasa gajah, macan, singa itu juga kejam iya.

Semua sirkus satwa adalah hal yang kejam karena satwa liar di suruh menghibur manusia

Itu tidak sukarela? Mereka tidak senang?

Mereka tidak senang dan setiap latihan ada hukumannya yaitu bisa rasa sakit. Untuk lumba-lumba hukuman itu rasa kelaparan. Mereka selalu dibuat lapar. Kalau mereka tidak lapar mereka tidak akan tampil.

Mana yang lebih berat perjuangannya merdekakan lumba-lumba atau merdekakan binatang sirkus lain?

Memerdekakan lumba-lumba. Ini sangat berat soalnya bukti-bukti tentang perdagangan ilegal di baliknya itu semua sudah kami punya dan sudah kami serahkan ke pihak pemerintahan. Satwa lumba-lumba adalah satwa yang dilindungi undang-undang yang terus diambil dari laut secara ilegal untuk di perdagangkan, untuk di jadikan tontonan publik.

Bicara tentang perdagangan lumba-lumba, bagaimana orang mengirim lumba-lumba? Dibawa pakai apa?

Lumba-lumba di laut ditangkap dengan jaring oleh nelayan, kemudian di darat mereka melaporkannya sebagai satwa yang tertangkap sekarat. Otomatis akan diberikan izin titip ke lembaga konservasi terdekat, yaitu pusat sirkus. Ini ironis sekali pusat sirkus diberi status lembaga konservasi. Lebih anehnya lagi di Indonesia yang berwenang untuk lumba-lumba adalah Kementerian Kehutanan. Padahal di negara lain semuanya Perikanan. Ini juga yang menjadi pertanyaan kenapa lumba-lumba statusnya terus ditahan di Kehutanan.

Banyak orang yang senang ke sirkus untuk hiburan, bukan untuk menyelamatkan lumba-lumba. Semudah apa melepas lumba-lumba ke alam liar? Apakah bisa langsung dilepas begitu saja di Ancol begitu?

Kalau mau direhabilitasi, bisa. Beberapa negara ada yang sudah melakukan itu, di mana sirkus ditutup dan lumba-lumba dikembalikan ke alam. Negara terakhir yang melarang lumba-lumba dalam sirkus adalah India. Sudah ada 17 negara yang melarang.

Tidak ada satu negara pun yang menggunakan sirkus keliling dengan lumba-lumba. Itu hanya di Indonesia, dan dinilai sangat kejam. Karena lumba-lumba dipindah-pindah kampung ke kampung, dibawa pakai truk, dimasukkan dalam kotak. Jadi masyarakat pasti datang, karena mereka ke daerah yang terisolasi dan jarang lihat lumba-lumba. Jarang ada hiburan juga, jadi pasti lah masyarakat datang. Karena ya mau tidak mau, hanya itu yang ada di depan mata. Tapi apakah ini benar? Apakah ini hal yang etis? Apakah ini pendidikan yang harus diberikan kepada anak-anak kecil? Tidak dong.

Ini semua bisa terjadi pasti karena adanya kerja sama antara pemegang kekuasaan dengan pihak pengusaha. Jadi rasanya harus ada legislasi yang jelas untuk melindungi lumba-lumba. Apakah sudah pernah dilakukan?

Kami pertama mempelajari adanya sirkus lumba-lumba itu tahun 2009. Waktu itu ada sirkus di Bekasi, ada warga yang menonton kemudian telepon saya. Ada lumba-lumba mati dalam show. Saya tanya di mana shownya? Dia bilang di Bekasi. Saya pikir mana mungkin ada lumba-lumba di Bekasi.

Jadi orang yang nonton tidak curiga bahwa di situ ada kekejaman ya? Dia kira itu hanya untuk hiburan saja?

Iya. Telepon dari warga tersebut jadi laporan masuk buat kami. Shownya berat. Dia kelaparan, perjalanan jauh, dan di kolamnya itu penuh klorin, obat-obat, yang pelan-pelan melukai mereka juga. Sampai buta, sampai organ-organnya rusak keracunan. Karena mereka harus hidup dalam kolam kecil dengan obat-obatan yang sangat keras. Sama seperti kita berenang di kolam, setelah satu jam mata sakit. Tapi lumba-lumba ini 24 jam di dalamnya. Saat itu kami lobby pemerintah, dan mendapat respon positif. Karena dari Kementerian Kehutanan juga merasa ini salah, dan lumba-lumba yang selama ini diambil dari laut tanpa izin. Mereka hanya mendapat status titipan sementara. Intinya harus dikembalikan ke alam. Kalau memang mau melakukan itu, kami siap melakukan tanda tangan dan MoU untuk pembebasan.

Tanda tangan MoU terjadi kemudian di tahun 2010. Tapi sampai saat ini tidak ada yang dibebaskan. Soalnya direktur yang pada waktu itu menandatangani MoU kami langsung dicopot dari jabatannya. Penggantinya mengatakan dia punya banyak utang budi sama sirkus-sirkus jadinya dia tidak bisa melakukan pembebasan lumba-lumba.

Apakah anda juga menangani kasus hewan lain di sirkus seperti harimau?

Ya. Kami kampanye secara umum mengatakan janganlah nonton sirkus dengan satwa liar. Soalnya satwa liar lebih indah dilihat di alam.

Apakah Indonesia termasuk yang besar pelanggarannya terhadap satwa liar?

Besar sekali. Perdagangan satwa liar yang terjadi di Indonesia bisa dibilang yang terbesar setelah Brazil.