Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Bina Bektiati

Kekuatan Kopi Indonesia

Edisi 1129 | 22 Nov 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Kita akan berbicara mengenai satu topik yang sangat menarik yaitu menggabungkan banyak hal seperti kebutuhan orang akan kopi atau kegemarannya, komoditas ekspor kita, pemeliharaan hutan, terutama cara yang kreatif dan inovatif yang bisa mempertemukan sekian banyak tujuan itu. Tamu kita adalah Bina Bektiati, mantan wartawan Tempo yang kini mengikuti kreativitasnya sendiri dan berkecimpung dalam dunia kopi.

Bina Bektiati mengatakan kopi Indonesia itu menarik karena rasanya beragam sekali, yang disebut sebagai single origin. Artinya, hanya tumbuh di tempat tertentu yang ketika dipindah ke tempat lain dia tidak akan sesuai. Jadi harus sesuai dengan ekosistemnya, tidak sekadar nama, tetapi rasa didefinisikan oleh ekosistem. Dengan demikian sebenarnya kita bisa mempunyai cara pandang (perspektif) untuk mendefinisikan kopi ini.

Dia mengajak lebih banyak orang menggunakan kopi sebagai ujung tombak kampanye kelestarian bumi, itulah kenapa muncul tagline: Coffee for Earth. Dari situ kita juga bisa memulai tidak sekadar mempromosikan kopi, tetapi juga mempromosikan keberagaman ekosistem kita, mempromosikan pohon-pohon penaung di sekitar kopi, dan sebagainya.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan narasumber Bina Bektiati.

Saya bertemu pertama kali dengan Bina Bektiati di gedung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, dimana saat itu dia sedang asyik membicarakan pekerjaan atau proyek kopi di hutan. Bagaimana konsep Anda dengan kopi hutan tersebut?

Sebenaranya saya tertarik dengan kopi, tapi saya bukan ahli kopi dalam arti tidak mempunyai café, tidak pernah ekspor kopi. Saya semata-mata hanya menikmati kopi Indonesia. Kopi Indonesia itu menarik karena rasanya beragam sekali, yang disebut sebagai single origin. Arti single origin adalah tumbuh di tempat tertentu yang ketika dipindah ke tempat lain dia tidak akan sesuai. Jadi harus sesuai dengan ekosistemnya, tidak sekadar nama, tetapi rasa didefinisikan oleh ekosistem. Dengan demikian sebenarnya kita bisa mempunyai cara pandang (perspektif) untuk mendefinisikan kopi ini.

Ahli kopi sudah sangat banyak, termasuk misalnya yang mengikuti gaya hidup seperti teman-teman yang muda menjadi barista. Yang terpenting adalah bagaimana kita berpikir tentang struktur hulu kopi, yaitu tidak sekadar tentang produktivitasnya tetapi juga kelestarian, kesinambungan dan keberpihakan kepada petani. Artinya dengan demikian harus ada konsep struktur hulu yang memang lestari dan baik untuk bumi.

Mungkin karena latar belakang saya juga wartawan, jadi pertama yang diputuskan untuk membuat artikel adalah angle atau sudut pandang yaitu perspektif. Itulah mengapa saya kemudian diajak begabung dengan Specialty Coffee Association of Indonesia (SCAI), yaitu sebuah organisasi kopi yang tidak sekadar sebagai eksportir, tetapi di situ ada petani, peneliti, eksportir, pemilik cafe, pokoknya stakeholder-nya paling beragam.

Ketika diajak bergabung di situ saya mengusulkan konsep Coffee for Earth (kopi untuk bumi). Sekarang ini kita perlu branding konsep, jadi ketika nanti kita bisa mengangkat tema ini, saat ditanya why do yo drink a coffee? Kita bisa menjawab I drink coffee for earth. Kemudian kita bisa mendefinisikan sesuai dengan tempat tanam kopi tersebut, yaitu earth atau tanah atau tegakan pohon yang di sekitar kopi. Di situlah kita mulai mengangkat soal kelestarian.

Apakah di daerah itu sendiri kopinya tetap ditanam dalam perkebunan seperti yang kita lihat sekarang?

Kopi memang lebih bagus bila ada pohon teduhan atau disebut sebagai shade tree (pohon penaung). Sebenarnya itu sudah menjadi ilmu bahwa kopi yang baik adalah yang ada pohon penaungnya karena kopi akan baik kalau terpapar sinar matahari hanya antara 60 - 70%, jadi tidak secara langsung. Itulah fungsi pohon penaung. Pada hakekatnya asal dari pohon kopi adalah pohon hutan, aslinya memang di hutan seperti banyak tumbuh-tumbuhan lainya yang aslinya di hutan. Hanya itu ada model domestikasi, yang akhirya ditanam di perkebunan dan sebagainya.

Saya ingin mengajak lebih banyak orang menggunakan kopi sebagai ujung tombak kampanye kelestarian bumi, itulah kenapa muncul tagline: Coffee for Earth. Dari situ kita juga bisa memulai tidak sekadar mempromosikan kopi, tetapi juga mempromosikan keberagaman ekosistem kita, mempromosikan pohon-pohon penaung di sekitar kopi, dan sebagainya.

Kemudian di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) ada program perhutanan sosial yang juga menjadi prioritas presiden. Saya kira itu gabungan yang sangat cantik karena perhutanan sosial mensyaratkan tidak tebang, revitalisasi hutan, dan inklusifitas. Jadi tidak ada marginalisasi seperti halnya industri-industri termasuk industri hutan selama ini. Artinya itu adalah sebuah konsep yang cantik dan sangat bisa dikolaborasikan dengan ide Coffee for Earth.

Sangat memukau bahwa kopi itu bukan hanya sekadar kopi, tapi kopi bisa dikaitkan dengan pelestarian hutan dan keragaman. Apakah kalau terlalu memperhatikan faktor-faktor tersebut, kopi tetap bisa diproduksi dalam jumlah yang layak?

Selama ini di Indonesia kita selalu kerepotan tentang produktivitas kopi. Kurang lebih Indonesia masih berada di nomor empat sebagai eksportir kopi, bahkan belakangan kita sangat ditinggalkan oleh Vietnam. Padahal kita mempunyai keberagaman kopi yang tidak ada bandingannya di dunia, bahkan bila dibandingkan dengan Brazil dan sebagainya.

Dan kopi kita bisa dipasarkan oleh Coffee shop papan atas.

Betul sekali. Jadi ini lagi lagi mengenai perspektif, bagaimana memperkuat struktur hulu sekaligus kita mengangkat kelebihan kopi Indonesia, misalnya dari tanahnya sendiri, kita merupakan negara kepulauan. Tidak ada negara penanam kopi lainnya yang memiliki kepulauan, semuanya kontinen. Kedua, kita berada di garis khatulistiwa. Ketiga, negara kita merupakan ring of fire. Tiga kelebihan itu sudah sangat bisa mendefinisikan keelokan rasa kopi dan keberagamannya.

Jika teman-teman mencoba masuk ke arena kopi, kita bisa mendeskripsikan rasa kopi mulai dari chocolate, spicy, rasa buah, dan sebagainya, itu seperti petualangan tersendiri. Kita juga bisa mengaitkan rasa-rasa itu secara trees able, mulai dari tempat dia ditanam, mengapa bisa spicy, dan sebagainya.

Salah satu petani kopi di Temanggung, yaitu Mukidi pernah menanam kopi di tempat yang sebelumnya pernah ditanami tembakau, jadi kopinya ada sensasi rokoknya. Tanah itu memang tidak pernah berbohong, ketika dia ikut mendefinisikan kelestarian yang ada di sekitarnya.

Dari angle Coffee for Earth kita bicara mengenai story telling, dan itu menjadi kekuatan untuk mempromosikan sesuatu, termasuk kopi. Siapa yang tidak terpesona oleh story telling? Misalnya, kita berbicara mengenai Menara Eiffel, siapa pernah mengimaji Menara Eiffel sebagai produk industrialisasi dengan struktur yang kuat? Orang pasti menggambarkan Menara Eiffel sebagai tempat yang romantis, jatuh cinta, dan itu semuanya karena story telling.

Kekuatan Indonesia pada story telling dimulai dengan konsep Coffee for Earth, kita bisa promosi dengan konsep Coffee for Earth Arround the World. Kita mempromosikan kelestarian kopi ke seluruh dunia dengan story telling yang kaya. Kopi Papua akan berbeda dengan Kopi Gayo, Kopi Gayo akan berbeda dengan yang ada di Nusa Tenggara Timur (NTT), Kopi NTT akan berbeda dengan yang di Bali, dan penceritaannya itu tidak hanya pencitraan tetapi berbasis pada kelestarian.

Apakah itu tetap bisa mempertahankan produktivitas volume produksi kopi bila ditanam di tempat-tempat terpilih?

Ini memang butuh keahlian khusus, tapi dari Memorandum of Understanding (MoU) Direktur Jenderal (Dirjen) Perhutanan Sosial menjadi kolaborasi yang menarik karena ternyata selama ini petani hutan memang sudah menanam kopi.

Menurut sepengetahuan saya, selama ini petani kopi di bawah Kementerian Pertanian karena perkebunan. Jadi persoalan mendefinisikan kelembagaan itulah yang kemudian gagal atau mempersulit kolaborasi.

Petani kopi yang ada di hutan posisinya "nanggung". Mereka tidak dilihat sebagai petani karena mereka bercocok tanamnya di hutan sehingga tidak memiliki pengetahuan yang seharusnya. Memang sudah ada model pendampingan, tapi itu dilakukan secara sporadis sesuai dengan panggilan hati masing-masing dan itu sudah menunjukkan keberhasilannya.

Kalau dibicarakan apakah menanam kopi di hutan bisa menambah jumlah produktivitas kopi, jawabannya adalah pasti bisa. Itu karena salah satu cantiknya di SCAI, di situ ada ahli agroforestry kopi. Dia sudah membuat Standar Operasioanl Prosedur (SOP) yaitu arsitektur kopi hutan. Kopi hutan itu sekarang sedang menjadi branding yang keren karena di Afrika mereka juga sudah mengangkat tema Jungle Coffee.

Apakah kopi Indonesia itu memang enak? Apa ada sesuatu yang bisa menjadi tanda bahwa itu benar enak di luar pembicaraan kita sendiri, misalnya, apakah di negara lain dikenal bahwa kopi Indonesia enak?

Kopi Indonesia memang enak. Sekali lagi saya bukan sebagai ahli yang dalam artian secara scientific bisa menilai kopi, tapi kurang lebih dari saya belajar, saya tahu kopi yang enak. Kalau diantara pecinta kopi, kita pantang mengatakan "kopi itu enak atau tidak" yang bisa kita katakan adalah mendekripsikan rasanya.

Satu hal mengapa di organisasi seperti SCAI mempunyai persenjataan yang kuat secara internasional, itu karena sudah banyak anggota SCAI yang mempunyai sertifikasi Q Grader. Mereka sudah memiliki sertifikat internasional untuk menilai rasa kopi, yang kemudian secara internasional juga bisa diberi harga sesuai dengan kesepakatan internasional. Jadi currency-nya sudah ada.

Di situlah mengapa kopi Indonesia secara kualitas termasuk ke dalam high grade atau specialty. Kalau tidak salah nilai specialty-nya pasti di atas 80. Bila seorang Q Grader dengan sertifikasinya bisa mendeskripsikan rasa, kemudian ada form-nya untuk penilaian, dan ini teknis sekali. Tapi ini menunjukkan bahwa di Indonesia sudah ada sertifikasi internasional. Jadi jangan khawatir bahwa kita percaya diri sendiri, karena kita sudah ada ahli-ahli yang bisa menentukan kualitas berdasar rasa dan sampai ke tingkat internasional. Jadi kopi kita siap berlaga.

Hanya saja kita perlu memperkuat hulunya karena kita terlalu kaya. Kita ambil contoh, siapa yang tidak tahu kopi Toraja? Itu sudah terkenal sekali. Namun ternyata di sana yang terkenal hanya kopi Toraja saja, padahal ada kopi Mamasa, kopi Enrekang. Mereka muncul sebagai single origin yang baru. Jadi sebenarnya kalau kita mau berpihak pada ketertelusuran, maka sebenarnya kita tidak perlu terlalu repot memberikan label kopi Gayo, Toraja, dan sebagainya. Kita justru bisa memperkaya dan memperkuat diri dengan cara menceritakan dari hulunya. Itulah kenapa konsep Coffee for Earth tidak sekadar untuk promosi.

Tetapi kita tetap harus ada label atau namanya.

Betul, jadi kopi di Indonesia juga ada namanya memakai indikator geografis yang merupakan salah satu cara untuk memberi label kopi, sekaligus melindungi masyarakat di sekitar sana agar mereka juga mempunyai hak untuk pengembangan dari kopi yang memang sudah dalam tahap specialty atau sudah dengan grade yang bagus.

Apa langkah-langkah penting yang akan dilakukan untuk perjuangan Coffee for Earth?

Sebenarnya fungsi saya hanya sebagai "provokator" karena saya bukan ahli kopi, saya hanya sebagai penikmat kopi. Namun sekarang ini saya kira kita perlu melihat organisasi sebagai jaringan. Jaringan adalah social capital, termasuk apa yang dimiliki oleh KLHK, sehingga kita bisa menjadikannya sebagai platform Perhutanan Sosial. Jadi berperan sebagai provokator ditambah adanya perspektif, kita bisa menggabungkan antara keberagaman kopi kita, kualitas kopi kita, dan keinginan kita untuk memperkuat struktur hulu termasuk mengenai produktivitas, kelestarian bumi, dan ada payung hukum yang namanya Perhutanan Sosial. Saya kira itu adalah perjodohan yang cantik.

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=nq_XVtWF2lg&feature=youtu.be&ab_channel=PerspektifBaruOnline