Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Jusupta Tarigan

Mempromosikan Produk Komunitas Lokal

Edisi 1124 | 17 Okt 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Topik hari ini membicarakan mengenai arti penting produk lokal dan upaya mempromosikannya. Narasumber kita yaitu Jusupta Tarigan, menjabat sebagai Ketua Konsorsium Panen Raya Nusantara (PARARA).

Menurut Jusupta Tarigan, produk dari komunitas lokal perlu dipromosikan karena disamping nilai ekonominya yang cukup besar tetapi kurang perhatian. Kemudian ada keterkaitan budaya dengan tradisi dari masyarakat tradisional Indonesia. Jadi mereka perlu diberikan ruang lebih besar dan itu dibutuhkan kolaborasi dari semua pihak.

Konsorsium PARARA yang merupakan gabungan 27 organisasi masyarakat sipil hadir untuk mempromosikan dan memperluas pasar terhadap produk-produk yang adil lestari dari komunitas. Kami menyebut adil lestari karena kami percaya produk-produk komunitas lokal tersebut diperoleh dan diproses dari alam dengan mengedepankan prinsip-prisip lestari.

Jadi salah satu syarat yang sangat penting di Konsorsium PARARA adalah produk yang dihasilkan tersebut harus mengikuti kaidah-kaidah. Satu prinsipnya adalah tidak merusak alam. Itu penting sekali, sehingga menjadi kriteria nomor satu di Konsorsium PARARA. Artinya, produk tersebut benar-benar diambil seperlunya dari alam, bukan menghancurkan alam. Jadi, banyak juga produk yang memang punya kualitas bagus tapi merusak alam, itu tidak akan bisa bergabung di PARARA.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan narasumber Jusupta Tarigan.

Dalam perjalanan hidup saya, saya termasuk yang telah berkesempatan mengunjungi banyak pelosok Nusantara. Dari 34 propinsi yang ada di Indonesia, saya telah berkesempatan mengunjungi dan menginap di 31 propinsi termasuk Aceh dan Papua. Di setiap wilayah yang saya kunjungi, saya selalu menjumpai ada produk khas masyarakat lokal. Misalnya Madu Nanas Basarang di wilayah lahan gambut Kalimantan Tengah, atau Madu dan Susu Kuda Liar di Sumbawa, ada juga Buah Merah di Papua.

Saat ini ada sebuah lembaga yang bergerak khusus untuk produk khas masyarakat lokal, yaitu Konsorsium Panen Raya Nusantara (PARARA). Apa itu lembaga PARARA?

Konsorsium PARARA adalah gabungan 27 organisasi masyarakat sipil yang mempunyai visi dan misi yang sama untuk bagaimana kita mempromosikan dan memperluas pasar terhadap produk-produk yang adil lestari dari komunitas. Kami menyebut adil lestari karena produk-produk tersebut kami percaya diperoleh dan diproses dari alam dengan mengedepankan prinsip-prisip lestari.

Apa saja produk-produk tersebut?

Produknya sangat beragam, secara umum kami mengelompokkan ke dalam tiga kelompok, yaitu kelompok makanan, kerajianan, dan fashion. Dari kelompok makanan, misalnya, jaringan madu hutan Sumbawa, madu dari Sentarum dan sorgum dari Nusa Tenggara Timur. Kelompok dari kerajianan bermacam-macam juga, salah satunya kerajinan dari masyarakat Dayak di Kalimantan dan sulam tumpar. Semua produk bisa ditemukan di festival yang kami gelar.

Dimana dan kapan festival tersebut diselenggarakan?

Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) dilakasanakan di Taman Menteng, Jakarta pada 13-15 Oktober 2017.

Mengapa kita perlu mempromosikan produk-produk lokal ini?

Ini perlu dipromosikan karena disamping nilai ekonominya yang cukup besar tetapi kurang perhatian, kemudian ada keterkaitan budaya dengan tradisi dari masyarakat tradisional Indonesia. Itu yang menurut kami perlu diberikan ruang lebih besar dan dibutuhkan kolaborasi dari semua pihak. Selama ini memang hanya 27 organisasi masyarakat sipil ataupun lembaga swadaya masyarakat (LSM), tetapi ke depannya ingin ada dukungan lebih besar dari pihak-pihak ketiga seperti pemerintah, dan pihak swasta. Itu yang kita harapkan ke depannya.

Apa kendala dari produk lokal untuk bisa dikenal oleh masyarakat sehingga pada akhirnya dikonsumsi atau dipakai?

Salah satu kendala mungkin adalah keterbatasan ruang promosi, sehingga sejak 2015 konsorsium PARARA mencoba memberikan ruang kepada masyarakat perkotaan urban. Tujuannya, agar masyarakat bisa melihat produk komunitas lokal. Ternyata pada 2015 respon masyarakat perkotaan sangat besar. Artinya produk ini sudah dilirik, nilai pasar yang besar. Pada 2015 kami melihat bagaimana masyarakat perkotaan menanyakan apakah pada 2016 akan ada festival lagi. Kesepakatan di konsorsium PARARA adalah ini event dua tahun sekali, memang sengaja dibuat dua tahun sekali agar orang selalu akan menginginkan. Tidak setiap tahun karena produknya dari Sumatera sampai Papua, sehingga membutuhkan waktu untuk komunikasi dengan komunitas.

Berbicara mengenai produk lokal, apakah produk lokal yang akan dipromosikan PARARA memiliki kualitas yang bisa bersaing dengan produk-produk dari pabrik maupun produk impor?

Itu kami pastikan iya karena memang produk-produk di Festival PARARA 2017 sudah melewati proses kurasi. Jadi produk yang kita tampilkan adalah benar-benar produk yang menurut korsosium layak ditampilkan dan mampu bersaing. Masyarakat Jakarta dan sekitarnya bisa melihat produk-produk tersebut, bahkan ada produk yang sudah sampai ke luar Indonesia.

Apa saja produk yang berhasil diekspor?

Produk dari komunitas PARARA yang sudah berhasil adalah berbentuk kerajinan dan juga fashion. Beberapa produk seperti tas yang memang bahan bakunya dari alam, seperti rotan dan bemban, ini sudah banyak penggemar dari masyarakat luar Indonesia.

Pada 2014 beberapa produk mengikuti pameran International Pop Up Market di Amerika Serikat (AS), dan juga ada beberapa buyer dari Eropa untuk produk-produk dari komunitas PARARA.

Bagaimana jaringan pemasaran dari produk-produk lokal tersebut selama ini, terlepas dari yang sudah berhasil ke luar negeri? Apa kendalanya bagi yang belum bisa ekspor?

Kendalanya memang karena tidak adanya pemasaran bersama. Itu juga yang menjadi salah satu tujuan dari Konsorsium di Festival PARARA 2017. Kita akan ada soft-launching untuk Cafe and Resto PARARA. Ini akan menjadi tempat bagi produk-produk komunitas agar masyarakat Jakarta bisa selalu melihat produk-produk tersebut dan menikmatinya. Ini akan menjadi tempat tongkrongan baru di Jakarta dengan nama Cafe and Resto PARARA.

Apa saja isi dari Cafe and Resto PARARA?

Selain seperti isi kebanyakan cafe, tentu nanti ada produk-produk komunitas seperti craft, dan fashion. Jadi kita tidak semata-mata ada kopi, teh, dan makanan.

Apakah Cafe and Resto PARARA hanya ada selama Festival PARARA atau nanti akan ada di banyak wilayah, seperti franchise untuk jaringan pemasaran?

Selain ada di Festival PARARA, nanti kita akan cari tempat untuk Cafe and Resto PARARA. Saat ini tim sedang melakukan survei untuk mencari lokasi. Jadi walaupun tidak ada festival, orang akan bisa berkunjung ke Cafe and Resto PARARA. Ke depannya kita akan melihat apakah nanti kita akan membuat di regional, misalnya di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua. Ini sedang dipikirkan.

Darimanakah permodalan untuk membuat Cafe and Resto ini?

Ini salah satu kekuatan Konsorsium PARARA. Kami ada 27 organisasi yang berkolaborasi dan bekerjasama. Artinya, sharing kemampuan. Bagi organisasi besar mungkin kontribusinya besar, yang kecil juga tetap berkontribusi. Jadi ini murni semua dananya dari anggota konsorsium.

Jadi skemanya adalah selain dari 27 organisasi, komunitas juga bisa in kind. Misalnya kopi, komunitas petani kopi dari Enrekang bisa in kind berapa kopinya per bulan ke Cafe and Resto. Itu akan menjadi modal juga di Cafe and Resto ini. Juga beberapa produk makanan dari Kalimantan, Nusa Tenggara Timur (NTT) akan berupa in kind. Jadi ini hasil kolaborasi antara lembaga pendamping dan komunitasnya.

Seandainya ada komunitas lokal dan mempunyai produk lokal yang khas, baik berupa buah, kerajinan, ataupun fashion, siapakah yang harus dihubungi agar produk lokal mereka bisa memanfaatkan jalur pemasaran lewat PARARA?

Yang harus dilakukan oleh komunitas adalah pastikan bahwa di Konsorsium PARARA ada mekanisme. Kalau ingin bergabung ada semacam hal yang harus dilewati, yaitu harus ada lembaga pendamping yang menjadi anggota Konsorsium PARARA, baru komunitas tersebut bisa bergabung ke dalam Konsorsium PARARA. Jadi ada mekanisme, tidak serta-merta langsung bisa bergabung, ada prosedur yang harus dilewati.

Siapa saja lembaga pendamping tersebut?

Di Sumatera antara lain ada Yayasan Mitra Insani, Yayasan Konservasi Way Seputih di Lampung. Di Jawa sangat banyak sekali ada Walhi Eksekutif Nasional, Aliansi Masyarakat Adat Nusantara, Yayasan Kehati, Teras Mitra, RECOFTC, WWF Indonesia, Non Timber Forest Exchange Programme Indonesia, Forum Komunikasi Kehutanan Masyarakat, Samdhana Institute, Yayasan Penabulu, Komunitas Konservasi Indonesia Warsi, Yayasan Dian Tama di Pontianak, Yayasan Anak Dusun Papua di Papua, Yayasan Jaringan Madu Hutan Indonesia yang khusus untuk madu, Yayasan Petak Danum di Kalimantan Tengah, Yayasan Menenun Mandiri di Sintang, dan masih banyak lagi yang tersebar di beberapa pulau besar di Indonesia.

Apa saja syarat agar produk lokal ini bisa dibantu pemasarannya oleh PARARA?

Salah satu syarat yang sangat penting di Konsorsium PARARA adalah produk yang dihasilkan tersebut harus mengikuti kaidah-kaidah, kalau kami menyebutnya value atau nilai dan prinsip. Satu prinsipnya adalah tidak merusak alam. Itu penting sekali sehingga menjadi kriteria nomor satu di Konsorsium PARARA. Artinya, produk tersebut benar-benar diambil seperlunya dari alam, bukan menghancurkan alam. Jadi, banyak juga produk yang memang punya kualitas bagus tapi merusak alam, itu tidak akan bisa bergabung di PARARA.

Apakah produk ini hanya boleh yang dihasilkan oleh komunitas, atau boleh juga dari industri menengah?

Keunikan lain di Konsorsium PARARA adalah di Konsorsium ini 27 lembaganya selalu berada di belakang, kita lebih mengedepankan komunitas. Jadi memang petani-petani skala kecil yang menjadi prioritas. Kalau ada yang menengah mungkin saat ini belum bisa bergabung dalam Konsorsium PARARA. Jadi yang kita ke depankan adalah bagaimana memberikan ruang lebih besar kepada komunitas karena kita yakin produk mereka dipanen secara lestari.

Mengapa fokusnya ke komunitas?

Kami melihat komunitas-komunitas ini cukup lama termarginalkan. Walaupun secara produk dan kualitas mereka sangat bagus, tetapi tidak ada ruang untuk mereka berekspresi. Kebanyakan yang didukung adalah kelas menengah ke atas. Karena itu kami dari 27 lembaga mencoba memberikan ruang kepada komunitas. Begitu banyak sebenarnya produk-produk dari komunitas di Nusantara yang layak kita dukung untuk mensejahterakan mereka sekaligus juga melindungi kelestarian alam.

Produk-produk dari komunitas lokal ini dipamerkan di Festival PARARA di Jakarta pada 13-15 Oktober 2017. Mengapa diselenggarakannya di Jakarta bukan di Surabaya, atau Balikpapan, Pontianak, Medan, atau kota lainnya?

Ini mau tidak mau karena Jakarta sebagai barometer, pusat ekonomi, semua kegiatan di sini, sehingga masyarakat urban dan orang akan selalu melihat. Misalnya, orang di Medan, Surabaya atau lainnya selalu patronnya adalah ke Jakarta. Kami melihat ketika kita berhasil mengkampanyekan produk komunitas ini di Jakarta, maka otomatis akan tersebar dengan sendirinya ke beberapa kota besar di Indonesia.

Semoga pada 2019 kita bisa mengembangkan juga ke beberapa provinsi yang sudah menjadi target kami yaitu Makasar, Bandung, dan Medan. Kita akan mulai road show di beberapa daerah tersebut pada 2019 untuk mengenalkan PARARA di kota-kota besar selain Jakarta.

Mengapa road show-nya hanya dua tahun sekali dan bukan setiap tahun?

Alasan kami sebenarnya adalah karena komunitas juga butuh waktu untuk mempersiapkan. Kita juga tidak mau mengganggu aktivitas masyarakat sehari-hari. Mereka ada yang berladang, menenun, dan sebagainya. Kalau dibuat setiap tahun, otomatis nanti akan bisa mengganggu kegiatan lain. Jadi kita juga memegang prinsip itu.

Apa manfaatnya bila produk lokal kita bisa dikenal oleh masyarakat baik di seluruh Nusantara maupun sampai ke luar negeri?

Manfaat yang pertama bagi komunitas adalah mereka bisa merawat dan menjaga tradisinya dalam merawat alam dan bumi. Ketika kita mendukung produk komunitas ini, ada hal-hal seperti tradisi dan budaya yang bisa mereka pertahankan. Sebagai contoh, ketika kita mendukung kerajinan menganyam berbasis rotan, berbasis bemban, dan pandan, maka otomatis budaya itu tidak akan hilang. Banyak tempat, tradisi, dan budaya yang sudah hilang karena memang tidak didukung.

Kedua, produk-produk dari komunitas ini memiliki keterkaitan yang sangat dekat dengan kelestarian hutan. Misalnya, masyarakat Dayak menganyam tikar dari rotan atau bemban, maka mereka selalu mengambil seadanya saja dari hutan. Bayangkan ketika misalnya produk ini tidak ada, maka tradisi itu hilang. Otomatis hutan itu dengan sendirinya tidak akan mendapat perhatian dari masyarakat adat.

Banyak manfaat jika kita mau menggunakan produk lokal dari komunitas lokal yang ada di Nusantara. Jadi mulai sekarang mari kita pakai produk lokal. Dari sisi pemasarannya. saat ini pola beli masyarakat adalah belanja lewat online. Apakah saat ini kita juga bisa belanja produk lokal melalui online tanpa harus selalu ke Festival terlebih dahulu?

Saat ini anggota Konsorsium yaitu 27 lembaga sudah melakukannya masing-masing, tetapi secara Konsorsium memang ini baru akan dilakukan. Di Festival ada talk show khusus digital marketing untuk produk-produk komunitas ini. Kita harapkan sudah mulai bisa online pada 2018.

Siapa nantinya yang akan menjual online produk-produk tersebut? Apakah Konsorsium PARARA atau komunitas lokalnya langsung?

Penjualan online akan dikelola oleh Konsorsium, tetapi produknya dari komunitas.

Apakah proses penjualan online itu akan membuka website, atau start up baru, atau menggunakan belanja online yang sudah ada?

Rencananya kita akan melihat atau survei terlebih dahulu. Memang yang sudah di-develop oleh PARARA sekarang ada website sendiri. Tetapi kita juga mencoba melakukan kolaborasi dengan start up yang sudah ada, misalnya Bukalapak yang nanti juga hadir menjadi salah satu narasumber di Festival, dan banyak digital marketing yang lain.

Apa alamat website PARARA jika pembaca ingin mengetahui informasi lebih lanjut?

www.panenrayanusantara.com

 

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=gmw-LD-JWPM&feature=youtu.be