Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Nathanael E.J. Sumampouw

Stres Bisa Dikelola

Edisi 1123 | 09 Okt 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Stres atau keadaan tertekan adalah sesuatu yang lazim dan tidak bisa dihindari dalam kehidupan sehari-hari. Stres bukanlah sesuatu yang bersifat negatif, bahkan diperlukan dalam batas tertentu, dalam kehidupan agar kinerja seseorang bisa lebih optimal.

Stres disebabkan oleh tiga faktor, yaitu faktor internal seperti pengalaman stres yang pernah ia alami, kemudian faktor kepribadian dimana ada sebagian individu yang senang berkompetisi sehingga stres merupakan hal yang biasa bagi dirinya, ketiga adalah faktor eksternal, seperti dukungan sosial. Seseorang yang merasa didukung oleh lingkungan sekitarnya, akan lebih mudah dalam menghadapi suatu tekanan.

Stres dapat dikelola dengan teknik-teknik tertentu. Hal yang pertama adalah mengenali diri kita sendiri, kemudian mengenali penyebab stres hingga mengetahui cara-cara untuk mengatasinya. Mengelola pikiran sangat penting karena dengan pola pikir yang baik, maka pemecahan segala masalah dapat ditemukan.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Ansy Lema sebagai pewawancara dengan narasumber Nathanael E.J. Sumampouw.

Jika kita bicara mengenai stres, konotasi di masyarakat selalu buruk dan negatif. Apa memang selalu demikian?

Memang pada kenyataannya kalau seseorang kita katakan stres, lalu banyak pemikiran negatif yang muncul, bahkan stres disamakan sama dengan gila. Dan stres itu diartikan tidak berfungsi, tidak mampu melakukan apa yang dilakukan sehari-hari, dan ada perubahan yang cukup bermakna dalam dirinya.

Lalu kenapa kemudian yang berkembang adalah konotasi yang bersifat negatif?

Kami memang berpendapat jika masyarakat memerlukan edukasi tentang bagaimana kita mempunyai perspektif yang baru dalam memahami stres. Kami para praktisi di dalam dunia kesehatan mental berpendapat, tidak ada istilah menghilangkan stres, karena kami percaya bahwa stres itu diperlukan dalam batas tertentu untuk membuat performance atau kinerja seseorang itu optimal.

Jika stres diperlukan sampai titik tertentu, sampai sejauh mana atau sampai titik apa stres ini bisa ditolerir dalam kehidupan?

Pastinya kita harus memahami kapan seseorang menjadi stres. Seseorang menjadi stres ketika sumber daya yang biasanya dia pakai untuk berhadapan dengan masalah atau kesulitannya sehari-hari ternyata belum cukup, atau ternyata masih kurang untuk bisa menghadapinya. Misalnya seorang anak, biasanya dia pergi belajar satu jam, kemudian dia bermain, dia lalu bertanya ke orang tua tentang tugas-tugasnya, dan hal ini membuat dia dalam kondisi rileks atau nyaman. Tapi ketika mendekati ulangan umum, dia belajar satu jam, dia bertanya ke orang tua, dia juga berusaha untuk bertanya ke teman, tetapi dia masih juga dalam kondisi tegang karena dia merasa dalam kondisi yang tidak mampu.

Dari penjelasan Anda, bisa kita simpulkan bahwa stres itu inherent dalam kehidupan kita dan itu wajar?

Stres merupakan satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan. Stres merupakan sesuatu yang wajar, sehingga kita tidak bisa menghilangkan stres. Oleh karena itu yang diperlukan bagaimana kita mampu melakukan manajemen stres.

Kita ambil satu contoh, anak-anak SD yang akan melakukan ujian semester. Stimulusnya mereka semua melakukan ujian semester, tapi respon terhadap stimulus ini bisa bervariasi. Ada yang tenang, ada yang super stres, ada yang sedang-sedang saja. Kenapa kemudian bisa timbul respon yang variatif?

Jadi memang reaksi stres orang itu bisa bervariasi, berbeda-beda antara individu yang satu dengan individu yang lain, dan ada banyak faktor yang mempengaruhi. Yang pertama dikaitkan dengan faktor internal, misalnya pengalaman stres sebelumnya. Ketika seseorang sudah punya pengalaman stres sebelumnya, itu bisa membantu dia menghadapi masalah atau situasi tekanan baru yang dihadapi di waktu kemudian. Berikutnya, ada faktor kepribadian. Ada orang-orang yang misalnya dikatakan tipe A, orang ini cenderung sangat senang berkompetisi. Buat mereka menjadi nomer satu itu sesuatu yang penting dan utama. Ini tentu mempengaruhi bagaimana ketika mereka berhadapan dengan stres tersebut.

Berikutnya adalah faktor eksternal yang juga turut berkontribusi, seperti dukungan sosial. Individu yang mempersepsikan atau melihat bahwa dia didukung, artinya ada orang yang peduli terhadap dia, maka kemudian akan merasakan jika orang-orang terdekatnya cukup memperhatikan dirinya. Tentu ini dampaknya tidak seperti mereka yang melihat bahwa dirinya tidak memiliki dukungan sosial.

Artinya respon terhadap stimulus ini bergantung kepada lingkungan sekitar dan faktor-faktor eksternal?

Ada faktor dari lingkungan yang kemudian mempengaruhi bagaimana menghadapi stres itu. Kalau kita lihat dari literatur atau pengalaman di lapangan menunjukkan bahwa bagaimana cara orang tua menghadapi stress dalam banyak hal menginspirasi anak ketika menghadapi stres juga. Jadi misalkan dalam konteks bencana yang masif seperti yang kita lihat di Aceh atau di Yogyakarta, reaksi-reaksi orang tua itu menjadi bahan dimana anak belajar. Mereka jadi belajar menghadapi tekanan seperti dengan menangis, marah-marah dan sebagainya. Kemudian dilihat ternyata tingkah laku orang tua ini dipakai anak untuk menghadapi stresnya, mungkin di dalam sekolah atau di dalam pergaulan.

Tadi sempat dijelaskan cukup detail jika setiap individu harus mengenali cara mengatasi stres. Dalam kadar tertentu, stres bisa berdampak konstruktif atau positif. Contohnya seperti apa?

Misalnya kalau kita kembali ke pembahasan mengenai anak-anak sekolah yang akan menghadapi ujian. Kalau kita lihat ada berbagai macam tipe anak, ada anak yang kemudian dia menghadapi ujian ini berusaha bisa tampil dengan sangat baik sehingga dia belajar sampai malam bahkan tidak tidur. Anak-anak memakai "sistem kebut semalam suntuk", dia fotocopy begitu banyak catatan, kalau perlu catatan teman-temannya satu kelas dia fotocopy. Dia beli begitu banyak buku. Dalam hal ini kita lihat bahwa tingkat stres yang dia miliki sangat tinggi, karena ada banyak hal antisipasi-antisipasi yang dipikirkan tentang performance-nya dia pada saat ujian. Tapi ada juga anak lain yang besok mau menghadapi ujian kemudian berfikir jika ujian butuh ketenangan, jadi dia santai saja. Misalnya dia tetap bermain games, lalu dia tetap melakukan hobi-hobinya, dia berpikir berdoa saja cukup misalnya begitu. Jadi dia tidak mempersiapkan diri dengan baik. Nah disini kita melihat dari kacamata stres, tentunya stresnya dia level rendah, sedangkan yang satunya lebih tinggi.

Padahal persiapannya prima dan komprehensif.

Tapi kalau kita kaitkan dengan performance atau bagaimana ketika perilaku dia dalam mengahadapi ujian yang sangat tegang, tentunya ketegangan bisa dikatakan menghambat, karena untuk bisa menyelesaikan soal-soal, dibutuhkan pikiran yang tenang, ketelitian dan fokus. Jadi kalau kita lihat kedua anak ini, anak tipe A dan B, performance keduanya di dalam ujian sama-sama buruk. Oleh sebab itu, ada level yang tengah, atau kita katakan level mediumnya. Dia sadar bahwa ujian itu sesuatu yang sangat penting, dia harus mempersiapkan diri tapi dia juga tidak begitu tegang, sudah mengatisipasi segala sesuatu sehingga dia belajar tidak sampai larut malam atau bahkan tidak tidur. Karena dia punya perencanaan yang matang, maka prestasinya juga akan optimum. Nah ini bagaimana hubungan antara stres, performance dengan prestasi, ataupun dengan kesehatan kurang lebih sama.

Bisakah stres ini dicegah untuk tidak muncul?

Misalnya begini, kita tahu bahwa sekolah itu ada tekanan, ada tuntutan untuk mendapatkan nilai yang baik, untuk berprestasi, untuk lulus dan sebagainya. Jadi mudahnya kalau kita lihat ke dalam satu sisi saja supaya tidak stres karena pendidikan, ya kita tidak perlu sekolah. Tapi kemudian yang terjadi ketika kita tidak sekolah, kita tahu bahwa masyarakat ini punya tututan juga dan kita juga dituntut untuk bisa minimal misalnya melanjutkan hidup kita, membiayai hidup kita dan sebagainya. Karena kita tidak ada sumber daya, maka kita menjadi stres juga. Artinya dalam kehidupan stres adalah sesuatu hal yang sangat wajar, sesuatu hal yang sangat dekat dengan kehidupan kita.

Lazimnya stres rentan menimpa individu dengan karakter atau dengan usia-usia seperti apa?

Karena stres adalah sesuatu yang dekat dalam kehidupan manusia, maka stres bisa dialami oleh siapa pun, mulai dari anak-anak sampai lansia. Namun karena tadi tingkatan atau level stres seseorang sangat dipengaruhi dengan bagaimana penilaian subjektifnya dia, dimana penilaian subjektif ini kemudian banyak berada di kelompok usia dewasa ke atas. Penilaian subjektif orang dewasa lebih bervariasi dibandingkan dengan anak-anak. Misalnya ketika ada seorang bos yang menegur bawahannya, lalu kita sebagai bawahan berpikir jika bos ini tidak suka dengan dirinya, kemudian timbul persepsi pada diri bawahan jika bos ingin dia gagal, misalnya begitu. Atau timbul pikiran jika bos sentimen terhadap dirinya. Jadi ada begitu banyak interpretasi sehingga membuat kita dalam kondisi stres.

Ada begitu banyak metode dalam mengelola stres. Mungkin bisa Anda gambarkan metode-metode untuk me-manage stres ini.

Kalau kita bicara tentang pengelolaan stres, kita harus mengakui bahwa stres itu juga dialami oleh diri kita. Jadi langkah pertama adalah kita aware, kita mengakui, kita mengenali diri kita, dan kondisi stres yang terjadi pada diri kita. Karena hal ini penting. Banyak orang kemudian tidak aware, tidak menyadari bahwa dirinya ini dalam kondisi yang stres. Ketika kita mengenali dan menyadari sumber stres pada diri kita, kemudian kita tahu bagaimana atau apa sumber daya yang diperlukan oleh diri kita untuk mengatasi stres tersebut. Misalnya ketika kita dalam situasi sulit, atau kita sedang mengalami musibah, dan kemudian saya datang pada teman saya untuk curhat atau meminta pertolongan. Itu adalah sesuatu hal yang sangat efektif. Artinya, mengelola stres diperlukan strategi-strategi yang membantu diri kita sendiri. ‘Self-help’ itu yang membantu diri kita sendiri.

Ada begitu banyak metode penyaluran stres, model penyaluran stres itu seperti apa?

Bicara tentang metode mengelola stres, kami berusaha untuk menemukan apa cara-cara yang mudah, bisa dilakukan di mana saja, kapan saja, praktis, tidak membutuhkan begitu banyak biaya dan prinsipnya menghadapi masalah atau mengatasi masalah tanpa masalah. Sehingga kemudian, ketika seseorang mengalami stres, reaksi yang utama muncul adalah reaksi fisik. Jadi berhubungan dengan ketubuhan kita. Ketika kita stres, badan-badan akan menegang. Jadi banyak keluhan-keluhan fisik, karena itu biasanya menyerang pada bagian tubuh kita yang paling lemah. Ketika stres tubuh akan memproduksi hormon stres, hormon kortisol meningkat membuat kita menjadi tegang lalu kita mengalami kelumpuhan fisik. Cara mengatasinya yang praktis, mudah dilakukan di mana saja, dan simple, adalah dengan mengatur dan mengelola reaksi tubuh kita. Yang pertama dan yang paling mudah diatur adalah mengatur pernapasan kita. Itu semua dalam kontrol kita. Dengan demikian, membuat kita menjadi fokus. Yang tadinya fokus keluar atau fokus ke berbagai macam hal yang negatif, kita menjadi fokus kepada diri kita. Ada berbagai macam teknik-teknik, lebih saya katakan ini teknik-teknik sebenarnya. Salah satunya misalnya teknik relaksasi, dan relaksasi ada begitu banyak macam.

Salah satu metode relaksasi yang kami ketahui adalah relaksasi progresif. Apa kekhususan dari metode ini?

Kekhususan dari relaksasi progresif adalah kita dapat melakukan dimana saja dan kita fokus dengan diri kita. Kita diajak untuk lebih mengenali kondisi tegang dan rileks. Stres itu tegang, lawannya rileks. Ketika kita mengenali hal tersebut, kita juga bisa merasakan betul-betul dan menghayati ‘Oh, seperti ini toh yang namanya tenang atau rileks ini’, ‘Oh, seperti ini toh yang namanya tegang’. Kita latihan terus sehingga ketika kemudian kita ada dalam kondisi tegang, kita bisa kemudian switch kepada kondisi rileks tersebut. Misalnya, saya mau pergi ke dokter gigi, wah, tegang sekali. Saya membayangkan jarumnya, membayangkan segala macam. Tapi dengan relaksasi progresif, oke saya atur respon diri kita, atur pernapasan dan sebagainya, terus kita mengalami kondisi rileks, sehingga kemudian kita bisa jadi lebih berani dan lebih tenang.

Apakah ini bagian dari ‘Self-help’? "Bersahabat" dengan stres yang kita alami. Hal ini tentunya membutuhkan latihan yang terus-menerus. Apakah ada tips sederhana untuk melakukan ini?

Yang pasti ketika kita ada dalam situasi tersebut, kembalikan dan ajak diri kita untuk mengenali respon-respon dalam diri kita. Jadi ketika diajak untuk mengenali ‘bagaimana pernapasan kita, bagaimana jantung kita yang berdetak sangat cepat’. Setelah kita kenali, kita lakukan sesuatu untuk melihat bahwa ini semua dalam kontrol kita. Jantung yang berdegup-degup cepat itu ada dalam kontrol kita dengan cara atur pernapasan tadi. Kita tarik napas biasanya dalam dua hitungan kemudian kita hembuskan perlahan-lahan. Jika ketenangan mulai kita alami, kontrol mulai kita pegang. Yang tadinya napas itu sedemikian cepat tanpa saya kontrol, sekarang bisa saya kendalikan. Jadi itu yang pertama, dengan mengelola reaksi fisik.

Berikutnya, dalam psikologi, kita melihat ada koneksi antara reaksi fisik, pikiran, dan emosi. Seringkali dalam banyak hal kita berpikir negatif tentang diri kita dan berbagai macam, termasuk juga lingkungan. Kita sekarang berpikir, ada yang dinamakan dengan mengatakan pada diri sendiri, ‘Self-talk’, saya bisa. Jadi, kita mengatakan pada diri kita sendiri jika saya dapat melakukan yang terbaik yang saya mampu. Kemudian untuk emosi yang positif, kita bisa lakukan dengan membayangkan hal-hal yang positif. Misalnya, kita membayangkan pengalaman berlibur di tempat yang sangat indah atau kita memvisualisasikan saat itu juga tentang bagaimana keberhasilan yang saya bayangkan. Karena dalam banyak hal, fokusnya tergantung pada kekuatan pikiran juga. Jadi, what you get is what you think. Ketika kita mendapatkan apa yang kita pikirkan, jika berpikir sesuatu yang baik, sesuatu yang positif, maka kemudian ada umpan balik dalam diri kita yang positif juga.

Level atau tingkatan stres sangat variatif. Selain relaksasi progresif, saya pernah membaca atau pernah mendengar soal metode bercerita atau testimoni. Untuk level-level stres yang cukup tinggi, apakah metode ini bisa diterapkan?

Memang sharing itu sesuatu yang membantu untuk banyak orang, tapi tidak untuk semua orang. Karena ada orang tertentu yang kita tidak bisa memaksa yang bersangkutan untuk bercerita tentang apa yang terjadi. Kenapa metode bercerita bisa membantu, karena dengan bernarasi atau bercerita, dia kemudian meletakkan pikiran yang kacau seperti benang kusut, sehingga bisa terurai dan dia kemudian bisa melihat ‘Oh, ternyata selama ini yang saya lakukan itu karena ini, ya’. Jadi, dia kemudian bisa menemukan penjelasan, menemukan jawaban atas apa yang sebenarnya terjadi dalam dirinya. Jadi, memang bercerita salah satu hal yang efektif untuk mengurangi ketegangan.

Tapi ada juga bagi sebagian orang ketika stres justru diam.

Karena yang menarik dalam bicara manajemen stres, tidak ada satu cara yang manjur untuk semua orang.

Apakah tidak ada cara yang tunggal dan generik?

Masing-masing mempunyai caranya sendiri-sendiri. Oleh sebab itu, diharapkan masing-masing mempunyai bank data atau database, jadi mereka punya "tas" yang isinya seperangkat cara untuk menghadapi stres. Kalau caranya hanya satu, hanya itu-itu saja yang digunakan, ada kemungkinan cara itu akan tidak efektif juga.

Bagaimana kita mengelola stres dan penyaluran stres seperti apa yang perlu kita pelajari sehingga kemudian ini bisa baik bagi psikis dan fisik kita?

Yang pertama harus kita pahami bahwa stres itu sesuatu yang wajar sehingga dalam kehidupan kita tidak bisa menghindar dari stres. Yang kedua, diharapkan betul-betul bahwa kita mengenali diri kita. Tubuh kita itu bisa dikatakan luar biasa karena bisa memberikan sinyal-sinyal, warning early detection, agar kita dapat melihat keadaan kita dan kemudian melakukan sesuatu. Ketika kita dalam kondisi stres, tubuh sebenarnya sudah memberikan reaksi atau sinyal. Tapi dalam banyak hal itu diabaikan lalu kemudian kita melakukan sesuatu untuk mungkin bisa memperlambat atau kita melakukan sesuatu membuat kita lebih tenang, lebih stabil.