Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Hikmat Darmawan

Kekuatan Bahasa Komik

Edisi 1122 | 09 Okt 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita mendapatkan kehormatan wawancara seorang budayawan senior. Saya bertemu dia di ASEAN Literary Festival di Jakarta. Walaupun acara berupa literary (berkaitan dengan kesusasteraan), tetapi asyik bisa mengobrol bersama Hikmat Darmawan karena dia mengetahui kehidupan melalui bidang seninya, yaitu komik, film, dan dia mengerti betul dinamika kehidupan.

Menurut Hikmat, salah satu keterampilan penting dalam kartun adalah menyederhanakan tetapi tidak meniadakan kompleksitas masalahnya. Sebetulnya complicated-nya kartun atau seni komik itu adalah bagaimana menterjemahkan masalah, entah itu sosial atau budaya, menjadi bahasa simbol dengan perangkat atau alatnya berupa garis dan kertas.

Dia mencontohkan kartun Mice, yaitu Mice memilih adegan paling penting dan detail paling efektif untuk memberikan, suasana, cerita, dan pesan. Karena itu dia mengatakan, pengamatan Mice setajam etnografer yang ulung karena melihat apa yang ada sehari-hari, kemudian diangkat menjadi bacaan yang bagi kita menjadi baru terasa. Misalnya, perilaku orang yang dicatat dalam buku Indonesia 1998 yang kemarin diterjemahkan dan diluncurkan di ASEAN Literary Festival, secara keseluruhan rupanya Mice menangkap kegagapan manusia Indonesia ketika mendapatkan kebebasan baru atau kemerdekaan baru.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dan narasumber Hikmat Darmawan.

Di acara ASEAN Literary Festival, saya dan Hikmat Darmawan bersama-sama membahas karya seorang seniman favorit kami, yaitu Muhammad Mirsad (Mice) yang menurut saya adalah salah satu komikus utama di Indonesia dan sudah sangat terkenal. Saya sudah mengenal Mice sebelum dia terkenal dan sangat gembira melihat kemajuannya yang begitu konsisten. Waktu itu Mice mengeluarkan buku yang diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris oleh seorang profesor yang mengerti betul inti dari karikatur Mice yang sebenarnya susah untuk dimengerti, apalagi diterjemahkan.

Menurut Anda, dimana kekuatan Mice dan mengapa dia begitu memukau?

Pertama adalah pilihan mediumnya. Saya sebagai seorang yang sangat menyukai pembicaraan tentang kebudayaan yang sebetulnya juga tidak mengerti apa itu budayawan. Apalagi kalau diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris maka artinya menjadi lebih tidak jelas. Tapi saya cukup senang menggali aspek kebudayaan berbagai wahana, media, dan sebagainya.

Komik dan kartun adalah sebuah medium yang sering kali dipandang sebelah mata, tetapi saya sudah tidak risau lagi mengenai hal tersebut karena saya tahu persis kekuatannya. Dari zaman Goethe, ketika bahasa komik modern diciptakan oleh Rodolphe Topffer, mereka memuji setengah mati karena baru ada cara membaca dan cara berfikir sekuensial dituangkan ke dalam kertas. Waktu itu tujuan Topffer adalah mengubah perilaku karena dia seorang kepala sekolah.

Kemudian komik Topffer dan kartun-kartunya antara lain kisah The Adventures of Obadiah Oldbuck diterjemahkan, menyeberang ke Amerika, dan mempengaruhi Benjamin Franklin. Kemudian Benjamin Franklin mengembangkannya menjadi kartun-kartun politik yang awal di Amerika Serikat. Dia adalah salah satu yang penting dalam sejarah kartun AS, tapi memang Benjamin Franklin menguasai banyak hal, sehingga kita juga mengenal dia sebagai science experimenter dengan layangan, listrik dan kuncinya.

Sebagai kartunis, dia penting sekali karena membahas isu-isu awal ketika Amerika sedang dirumuskan dan dinarasikan pertama kali. Dia mengkritik praktik-praktik politik yang ada, tetapi dia terpengaruh oleh bahasa sekuensial dari Topffer (Eropa) yang dikagumi oleh Goethe. Jadi ada pertalian budaya yang penting pada saat itu yang singkat kata sampai juga ke Indonesia.

Salah satu pengembang yang kuat dalam ilmu kartun untuk bicara, memberikan komentar tentang kehidupan di sekitar kita adalah Mice. Kehadirannya pun juga kuat. Pertama, sebagai duet Benny dan Mice pada 1997-1998 kita melihat bagaimana dia mempunyai pisau analisis yang setajam etnografer. Jadi dia melihat dari dekat bahkan sampai stiker pembersih wc atau badut ada di tukang gorengan tidak luput dari pandangan dia. Detailnya sangat luar biasa, misalnya, di pohon, halte bus, kemudian juga dia menangkap perilaku manusia.

Detailnya luar biasa tapi gambarnya tidak penuh detail.

Itulah yang menjadi salah satu keterampilan penting dalam kartun, menyederhanakan tetapi tidak meniadakan kompleksitas masalahnya.

Jadi membuat hal yang complicated menjadi terlihat sederhana, tetapi dengan teknik yang sedikit complicated juga.

Sebetulnya complicated-nya kartun atau seni komik itu adalah bagaimana menterjemahkan masalah, entah itu sosial atau budaya, menjadi bahasa simbol dengan perangkat atau alatnya berupa garis dan kertas. Jadi penyederhanaan itu diperlukan, bahkan misalnya kartunis yang buruk pun juga akan menyederhanakan masalah.

Di situlah bahasa simbol bicara pada kartun karena satu bingkai. Namun kalau bahasa komik ada sekuensial, pada hakikatnya itu adalah sebuah cerita. Misalnya Mice, kita melihat dalam satu panel dia membuat adegan penuh di situ, tetapi kalau dia membuatnya sebagai bahasa cerita, dia memilih adegan paling penting, detail paling penting, tidak usah semuanya karena akan menjadi ramai dan membingungkan pembaca. Dia memilih yang paling efektif untuk memberikan, suasana, cerita, dan pesan.

Kalau dalam bahasa simbol cara kerjanya lain, yaitu mengolah dulu di kepala kira-kira ini bisa disampaikan dengan lambang apa. Biasanya kelihatan di kartun-kartun GM Sudarta yang sering kali bicara simbol, masalahnya itu dicari esensinya, baru kemudian diungkapkan dalam satu gambar. Tetapi kalau Mice, dia mencari adegan paling efektif untuk menggambarkan situasinya.

Jadi, bukan dia yang membuat adegan tetapi dia yang memilihnya.

Dia menyediakan diri agar dia mendapatkan adegan dan itu membutuhkan pengamatan. Karena itu saya mengatakan, pengamatannya setajam etnografer yang ulung karena dia melihat apa yang ada sehari-hari, kemudian diangkat menjadi bacaan yang bagi kita menjadi baru terasa. Misalnya, perilaku orang yang dicatat dalam buku Indonesia 1998 yang kemarin diterjemahkan dan diluncurkan di ASEAN Literary Festival, secara keseluruhan rupanya dia menangkap kegagapan manusia Indonesia ketika mendapatkan kebebasan baru atau kemerdekaan baru.

Ya, betul. Itu lucu dan mengharukan sebetulnya.

Betul, dan sekarang menjadi dokumen sosial. Penting untuk diketahui dunia, misalnya untuk memahami periode atau episode penting dalam sejarah dekat dari kita. Salah satu contoh adalah peristiwa 1998, itu membuka banyak hal dan saat ini penting untuk kita membaca ulang apa yang terjadi pada saat itu.

Mice tidak risau dengan kronologi politiknya, dia memerhatikan dampak dari perubahan besar itu di unit-unit kecil masyarakat seperti tetangganya, orang yang dia lihat di jalan, orang-orang kecil, orang-orang kelas menengah mungkin yang di kota yang kebetulan menjadi wilayah hidup dia dan sehari-hari dia melihat itu. Semua memperlakukan suasana baru ini dengan macam-macam, dan macam-macam itu tertangkap lewat detail-detail adegan dan detail-detail gambar.

Membahas mengenai zaman sejarah, apa yang bisa Anda katakan misalnya mengenai film G30S/PKI yang sedang dihebohkan, tetapi dilihat dari segi budayanya dan hubungannya dengan peristiwa waktu itu dan dibandingkan dengan buku atau kartunya Mice dengan peristiwa 1998?

Bedanya yang jelas adalah film G30S/PKI adalah film yang lahir dari kepentingan propaganda penguasa. Rezim Soeharto waktu itu membiayai sangat besar seorang sineas papan atas, yaitu Arifin C. Noer untuk membuat sebuah film yang kemudian dibuat baik sekali secara teknisnya. Mempunyai pendekatan sinematik yang unggul, tetapi juga kita melihat dilemanya dan upaya-upaya nakal yang tersembunyi di dalam film itu oleh sineasnya untuk menyampaikan pesan lain.

Apakah maksudnya di sini Arifin C Noer itu mempunyai pesan lain dalam film tersebut?

Misalnya, Ashadi Siregar menulis bahwa sebetulnya film itu bisa dibaca dengan kita memperhatikan adegannya. Misalnya, adegan penyiksaan yang sangat terkenal. Itu didekati oleh Arifin C. Noer sebagai film horor, tetapi kita perhatikan tidak ada atribut PKI, tidak ada ucapan-ucapan, yang ada selalu perangkat audio suara derap terompet militer.

Jadi kalau dibaca dengan cara lain bisa jadi film itu menitipkan pesan, "Itulah akibatnya kalau militer dirasuki oleh paham radikal." Memang kita harus mengakui bahwa itu adalah film propaganda, dan itu menyebalkan.

Tetapi Mice melihat di akar rumput. Dia adalah suara dari bawah. Ada suara dari atas yaitu film G30S/PKI yang memang proyek Soeharto waktu itu untuk mengukuhkan konstruksi ideologi kekuasaannya. Walaupun jelas ada perbedaan medium, yaitu kartun yang digambar dengan mudah, dan film yang lebih susah dibuat.

Yang lebih penting lagi adalah sudut pandangnya. Yang satu sudut pandang dari atas dan yang satu sudut pandang akar rumput. Dan saya kira kalau mau ada lagi film yang membahas peristiwa sejarah kelam yang belum selesai kita atasi pada 1965-1966, saya kira pendekatannya harus dari sudut pandang yang berbeda.

Saya percaya sekali bahwa rekaman sejarah kita sangat kurang, baik dari segi komik maupun segi film. Namun sekarang ini ada film-film seperti Habibie. Film tersebut termasuk mana, Apakah hiburan ringan atau ada artinya?

Ada semacam mode, film sejarah digali lagi dan biografi tokoh terkenal.

Apakah itu laku, dan apakah itu bentuk propaganda juga?

Ada yang laku. Saya sebetulnya juga tidak keberatan kalau itu dirancang sebagai hiburan, tetapi kadang-kadang kita suka berlebihan melihatnya. Misalnya, film hiburan dipandangnya bisa mengubah perilaku atau menginspirasi. Walaupun sebenarnya mungkin saja. Saya mau bicara mengenai tren film sejarah yang sekarang ini. Rupanya ada dua yang menarik dari perkembangan film pasca 1998 atau tepatnya 2000-an ke sini, lebih tepatnya lagi setelah 2008.

Pertama, keragamannya lebih terwujud, antara lain melalui daerah yang diungkapkan dalam film, baik sebagai setting maupun sebagai bahasanya. Sekarang film Indonesia tidak keberatan menggunakan bahasa daerah. Misalnya Turah, film yang menjadi wakil Indonesia ke Oscar tahun ini, sepenuhnya menggunakan bahasa Tegal Ngapak. Juga tentang dunia kampung yang secara konsisten memang di situ saja dunianya. Bagaimana rakyat di bawah mengalami tekanan-tekanan dari luar. Periode kisahnya sekarang, tetapi yang saya mau lihat bahwa itu salah satu ciri perkembangan film Indonesia sekarang.

Kedua, menggali kembali bahan-bahan sejarah. Dari mulai Garin Nugroho sampai Hanung Bramantyo. Mereka membuat film sejarah. Misalnya, Garin dengan film Guru Bangsa: Tjokroaminoto, dia sebetulnya hendak membicarakan tentang Indonesia masa kini. Dia seperti membuat sebuah esai budaya tetapi mediumnya adalah film sejarah.

Hanung juga sama ingin bicara tentang Indonesia masa kini tetapi gayanya berbeda. Saya terus terang kalau film-film yang dibuat Hanung, terutama film Soekarno: Indonesia Merdeka atau Kartini, saya sering banyak keberatan dari segi sejarahnya karena bukan hanya fakta tetapi juga perspektifnya. Misalnya film Kartini, itu betul-betul bulat-bulat mengangkat Kartini dari sudut pandang Belanda. Bahwa dia tokoh emansipasi, tetapi konstruksi emansipasinya itu bulat-bulat pada masa kolonial waktu itu. Sementara kalau saya melihat, Kartini bisa jadi lebih kompleks dari itu dan dia itu tercerabut dari akar masyarakatnya.

Apakah itu sengaja dikurangi kompleksitasnya supaya lebih mudah dicerna?

Saya rasa ini masalah proses membuat filmnya yang juga beda-beda. Misalnya kita melihat Garin Nugroho, dia lebih dalam memandang periode sejarah. Jadi saya kira memang ini pencarian para film maker-nya. Apakah itu berarti? Paling tidak memicu percakapan dan minat baru karena ternyata anak-anak muda sekarang cukup tergelitik dengan masa lalu kita.

Banyak yang kelihatannya tidak peduli, hanya peduli dengan cosplay, game, atau komik Amerika, komik Jepang terbaru, tetapi sebetulnya mereka seringkali ketika diberi bahan yang menarik, mereka mengolahnya sendiri dengan cara mereka sendiri.

Misalnya, ternyata Habibie itu keren sekali, dia dihormati di bangsa lain karena kejeniusannya. Ada yang tertarik gambaran kejeniusannya, tetapi paling tidak dia jadi mempunyai modal. Ada lagi orang yang berpikir, misalnya, mungkin dia sadar Indonesia adalah negara kepulauan yang harus dihubungkan dengan pesawat-pesawat kecil. Masih banyak pemikiran-pemikiran lainnya. Hal-hal seperti itu paling tidak bisa menjadi bahan percakapan.

Tetapi kalau terlalu tidak terkendali bisa miss leading, bisa sama saja dengan film G30S/PKI yang menjadi propaganda pemerintah. Jangan-jangan film-film baru ini adalah propaganda dari pribadi dan entah untuk maksud apa.

Betul. Karena itu sebetulnya yang penting adalah kompetisinya. Bagaimana membangun berbagai alternatif variasi atau sudut pandang. Sebetulnya yang membuat menyebalkan propaganda G30S/PKI karena waktu itu hanya tunggal sudut pandangnya. Sementara yang harus kita jamin sampai kapan pun di dalam pasca 1998 adalah keragaman.

Sewaktu film G30 S/PKI terbit tidak terlalu menyebalkan karena film yang lain itu komunis atau sosialis. Jadi waktu itu memberikan kelegaan pendekatan lain. Sekarang saja karena sudah puluhan tahun dan sudah terbukti bagaimana itu Soeharto, jadi mencekam.

Kemudian dibuat program nonton bareng (Nobar) dengan kehendak menggalang atau memobilisasi kelompok tertentu. Itu sudah lebih dari menyebalkan dan justru membahayakan.

Yang harus dilawan dari kecenderungan itu adalah kecenderungan menunggalnya. Sebetulnya bagi saya yang penting ada keragaman dan kompetisi ideologi, atau mungkin kita tidak bicara ideologi lagi sekarang. Kita bicara naratif saja, ada keragaman naratif dari sudut pandang.

Saya kira begitu karena masa ideologi sudah cepat tergantikan oleh naratif-naratif yang kadang kalau kuat sekali bisa membentuk ideologi baru.

Betul, tanpa dirumus dengan ketat dan itulah perannya komik dan film. Saya tertarik memasuki dunia film dalam pengertian sebagai penonton, komik sebagai pembaca, dan memahami cara kerjanya. Saya seringkali melihat justru suara kritis maupun alternatif pandangan budaya malah lahir dari film dan komik. Saya tidak melebih-lebihkan peran mereka, tetapi kenyataannya reformasi di Korea Selatan pada 1990-an, misalnya, bibit-bibitnya lahir dari para film maker Korea Selatan yang berkumpul dan berpikir dan akhirnya menjadi gerakan film baru di sana, tetapi juga lahir menjadi gerakan reformasi.

Para pemikirnya itu kemudian turun ke jalan. Lalu di Amerika pada zaman counter culture, di samping film dan komik ada juga musik. Kita sudah kenal Flower generation, tetapi juga komik itu underground-nya luar biasa. Banyak sekali percakapan tentang apa itu budaya mapan dan bagaimana kita melawan budaya mapan. Itu justru dengan leluasa bebas ada di komik dan jejaknya sampai sekarang.

Malahan ada beberapa komik yang masuk mainstream seperti Doonesbury yang termasuk counter culture.

Dia menjadi komentator politik paling tajam selama berdekade-dekade di Amerika. Bahkan komik Superman menjadi sarana untuk kritik politik paling tajam, ini saya bukan mempromosikan budaya luar tetapi saya tertarik pada kasusnya. Pada tahun 2000 ketika George Bush Jr. maju sebagai calon presiden melawan Al Gore, saat itu George Bush Jr menang, komik bisa menempatkan musuh bebuyutan Superman, yaitu Lex Luthor, sebagai Presiden Amerika. Itu yang menarik. Jadi, justru di dalam komik-lah ada kritik keras terhadap keadaan politik Amerika, sambil tetap senang-senang karena komik action atau superhero. Tetapi kritiknya kuat sekali waktu itu.

 

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=GFOHRFPAJCQ&feature=youtu.be