Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Fabby Tumiwa

Pengertian Terbaru Mengenai Energi Terbarukan

Edisi 1120 | 18 Sep 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita membicarakan mengenai pasokan ketersediaan energi untuk kehidupan kita sehari-hari dengan narasumber Fabby Tumiwa, yang menjabat sebagai Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR).

Menurut Fabby Tumiwa, kalau melihat dari sektor sumber energi, hampir 90% kebutuhan energi kita dipasok oleh energi berbasis dari bahan bakar fosil, seperti batubara, minyak, dan gas. Sekarang dengan kita mempunyai concern perubahan iklim, sudah ada pergeseran pandangan bahwa energi fosil sudah tidak lagi murah. Kalau kita hitung biaya ekonomi, biaya lingkungan, dan biaya sosial yang diakibatkan karena pemanfataan bahan bakar fosil, maka energi itu tidak jadi murah karena ada eksternalitas.

Di sisi lain sebenarnya sumber daya energi terbarukan Indonesia juga cukup lengkap. Kita mempunyai sinar matahari, angin, panas bumi biomas dan energi laut yang sebagian besar belum dikembangkan. Jadi kita harus melakukan tranformasi dari yang tadinya berbasis pada bahan bakar fosil menjadi berbasis energi yang terbarukan. Ini bukanlah hal yang mudah tetapi saya melihat dunia sudah mulai bergerak ke sana dan yang menjadi tantangan adalah seberapa cepat Indonesia juga mengikuti tren itu.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dan narasumber Fabby Tumiwa.

Dalam kehidupan sehari-hari kita selalu membutuhkan energi baik untuk keperluan pribadi, transportasi, ekonomi, maupun kegiatan-kegiatan lainnya misalnya memasak membutuhkan energi seperti gas atau listrik. Bagaimana kondisi ketersediaan energi kita di Indonesia untuk mendukung kehidupan sehari-hari?

Kalau kita lihat dari sisi kapasitas pembangkit listrik, kita sudah mempunyai kira-kira hampir 60 giga watt untuk seluruh Indonesia. Namun dari 60 giga watt itu kira-kira 75% kapasitasnya ada di Jawa-Bali. Sementara sisanya yang 25% tersebar di berbagai pulau di Indonesia dengan nomor dua ada di Sumatera, selanjutnya Sulawesi, Kalimantan, dan sebagainya.

Jadi, kalau dari sisi ini kita bisa melihat konsumsi dan pasokan listrik terbesar tentunya ada di Jawa-Bali. Sedangkan pasokan listrik di daerah-daerah lain masih sangat minim.

Artinya ketersediaan listrik untuk masyarakat Indonesia di seluruh pelosok Nusantara masih belum rata dan belum mencukupi.

Betul, khususnya untuk di wilayah-wilayah luar Jawa dan khususnya lagi di Indonesia Timur. Contoh, ada 12.500 desa yang masih kekurangan pasokan listrik, dimana dari 12.500 desa itu ada 2.500 desa yang sama sekali tidak berlistrik dari jumlah total kira-kira 66.000 desa yang ada di Indonesia.

Apa faktor penyebabnya?

Faktor penyebabnya yang pertama adalah Indonesia secara geografis sangat luas, berupa kepulauan dan daerah datarannya juga tidak rata. Inilah yang membuat pembangunan infrastruktur tenaga kelistrikan cukup rumit dan mahal.

Tidak hanya karena kondisi geografisnya, masyarakat tinggal tidak berkelompok yang dekat. Jarak satu pemukiman dengan pemukiman lain cukup jauh. Bahkan kalau kita melihat di daerah seperti Nusa Tenggara Timur atau Papua, kalau ke luar dari kota saja untuk jarak rumah satu dengan yang lain bisa antara 500 meter sampai satu kilometer. Jadi, tidak rapat.

Ini yang membuat pembangunan pembangkit, transmisi, dan distribusi menjadi sangat mahal karena kita harus melistriki satu daerah yang cukup luas, tetapi jumlah penduduknya relatif kecil. Kalau dihitung biaya ekonomi untuk membangun fasilitas tersebut dengan pelanggan atau pengguna listrik yang ada di daerah yang jumlahnya tidak banyak tersebut, maka proyek tersebut bisa dikatakan tidak ekonomis.

Sampai 15 tahun lalu, kira-kira hanya 65% rakyat Indonesia yang berlistrik. Walaupun sejak 2017, menurut data dari Kementerian Energi, Sumber Daya Mineral (ESDM), ada 92% rakyat Indonesia yang berlistrik. Jadi sekarang kira-kira yang belum berlistrik ada sekitar lima ®C enam juta rumah tangga dari yang sebelumnya kira-kira 10 ®C 15 tahun lalu adalah 12 juta rumah tangga.

Anda telah menyampaikan kepada kita bahwa ketersediaan energi, dalam hal ini listrik, masih belum mencukupi dan ada kendala dari sektor infrastruktur pembangkit, transmisi, dan sebagainya. Bagaimana dari sisi ketersediaan sumber energinya karena dari informasi yang kami dapat menyebutkan Indonesia memiliki banyak sumber energi, ada batubara bahkan kita ekspor, ada gas yang kita ekspor juga, dan ada minyak?

Dari sisi ketersediaan sumber energi, Indonesia sebenarnya cukup kaya. Kita mempunyai sumber energi fosil yang relatif lengkap. Kita mempunyai minyak, gas, dan batubara. Kita juga mempunyai sumber energi terbarukan yang belum dikelola, belum diutilisasi, dan belum dioptimalkan pemanfaatannya.

Kalau kita lihat dari sektor sumber energi, sekarang sebenarnya hampir 90% kebutuhan energi kita dipasok oleh energi berbasis dari bahan bakar fosil, seperti batubara, minyak, dan gas. Kalau kita melihat sektor transportasi, hampir 95% lebih sumber energinya dari bahan bakar fosil. Dari sektor listrik, mungkin sekarang sekitar 85% pasokan listrik kita berasal dari bahan bakar fosil. Jadi fosil masih dominan di dalam sistem penyediaan energi kita.

Di sisi lain sebenarnya sumber daya energi terbarukan Indonesia juga cukup lengkap. Kita mempunyai sinar matahari yang dari sisi intensitas mungkin kalah dibandingkan dengan Uni Emirat Arab, tetapi kita dua kali lebih tinggi dari pada Jerman karena kita ada di negara tropis.

Kemudian kita mempunyai angin, yang dulu seringkali Indonesia dikatakan sebagai negara angin-anginan, tetapi dengan data potensi yang terbaru itu ternyata kita mempunyai potensi angin yang bisa dikembangkan sampai 100 gigawatt. Dulu kita tidak mengetahui bahwa jumlahnya besar karena negara Indonesia berada di khatulistiwa dan anginnya tidak banyak. Namun, ternyata beberapa tempat di Indonesia memiliki sumber angin cukup besar dan bisa dikembangkan sampai 100 gigawatt.

Kita juga mempunyai panas bumi yang merupakan salah satu cadangan terbesar di dunia, dengan yang baru dimanfaatkan kira-kira 5%. Kita mempunyai potensi panas bumi yang bisa ditingkatkan sampai dengan 27 gigawatt, yang baru terpakai sekarang kira-kira 1.600 megawatt. Selain itu kita mempunyai biomas dan energi laut yang sebagian besar belum dikembangkan.

Kita mempunyai dua sumber energi yaitu sumber energi fosil dan sumber energi non-fosil atau terbarukan. Dimana perbedaannya antara kita menggunakan energi fosil dan energi non fosil ini?

Energi fosil sesuai dengan namanya berasal dari jasad renik fosil yang terbentuk jutaan tahun. Ada yang dari sisa-sisa tumbuh-tumbuhan yaitu batubara, atau sisa-sisa dari hewan-hewan purba yang kemudian memfosil menjadi minyak dan gas bumi.

Jadi energi fosil itu dibentuk dari material yang sifatnya renik dan ada di dalam bumi, yang terbentuk jutaan tahun. Kalau kita menggunakan energi fosil tentunya sumber energi itu bisa habis. Yang harus diingat juga kalau setiap kita membakar bahan bakar fosil seperti batubara, minyak, dan gas akan mengeluarkan yang namanya gas rumah kaca dan CO2.

Sumber energi fosil ini harus dikonversi untuk kita mendapatkan energi. Misalnya, Kalau kita ingin menjadikan listrik, maka sumber energi fosil misalnya batubara harus dibakar di dalam suatu tungku kemudian akan menghasilkan panas dan bisa diubah menjadi listrik.

Di sisi lain, kita tahu ada energi yang terbarukan. Sesuai dengan namanya, energi terbarukan itu sebenarnya energi yang tersedia di alam yang untuk mendapatkan energinya juga perlu dikonversi dengan teknologi tertentu. Sifat dari energi terbarukan ini selalu tersedia dan relatif selalu ada. Jadi, tidak akan habis walaupun sering dipakai.

Ini berbeda sifat dengan energi fosil. Jika energi terbarukan itu dimanfaatkan, maka biasanya carbon footprint®Cnya rendah. Kita tidak perlu membakar sesuatu untuk mendapatkan energi itu kecuali untuk biomassa. Energi terbarukan seperti air, angin, matahari, biomassa, dan panas bumi, semuanya relatif tidak menghasilkan emisi gas rumah kaca, dan sumber-sumber energi ini jumlahnya melimpah. Memang dibutuhkan alat konversi untuk mengkonversi energinya menjadi energi yang praktis, yang bisa kita pakai baik untuk listrik maupun panas yang kita pakai untuk memasak.

Tadi Anda mengatakan salah satu nilai negatif dari energi fosil adalah bisa mengakibatkan efek gas rumah kaca atau perubahan iklim. Bagaimana energi fosil seperti gas, batubara, bensin bisa menyebabkan perubahan iklim, sedangkan energi terbarukan atau non-fosil malah tidak menyebabkan perubahan iklim?

Tadi saya sampaikan bahwa asal usul energi fosil dari tumbuh-tumbuhan dan hewan yang telah berjuta-juta tahun berada di bawah bumi dengan proses ada tekanan, suhu, dan lain-lain, sehingga menjadi batubara, minyak, dan gas. Mereka pada dasarnya menyimpan karbon.

Sejak abad ke-18 kita masuk ke era karbon dengan memanfaatkan batubara yang jumlahnya cukup besar karena mereka pada dasarnya menyimpan karbon. Ketika material itu dibakar atau dikonversi maka dia akan mengeluarkan karbon yang tersimpan karena karbonnya itu tidak dipakai. Yang kita ambil itu sebenarnya konten energinya atau isi energi yang tersimpan dalam material itu. Jadi, gas-gas yang tidak terpakai seperti karbon, metana, dan gas-gas yang lainnya termasuk partikel-partikel lain yang tidak diperlukan dalam proses itu akan terpapar ke luar.

Bagaimana dampak gas rumah kaca itu pada kehidupan kita sehari-hari?

Jika kemudian gas-gas rumah kaca ini sampai di atmosfer bumi, maka gas-gas rumah kaca tersebut akan mengikat panas matahari. Seharusnya ketika panas matahari masuk sampai ke permukaan bumi maka itu dipantulkan. Saat dipantulkan seharusnya dia bisa keluar dari atmosfer, tetapi dengan jumlah konsentrasi gas-gas rumah kaca yang makin meningkat di atmosfer, gas-gas tersebut akan mengikat panas. Jadi menyerap panas yang ada.

Efeknya adalah atmosfer kita akan makin panas. Karena atmosfer kita semakin panas muncul fenomena yang dinamakan global warming, rata-rata temperatur permukaan bumi juga meningkat, dan efek dari itu adalah perubahan iklim (climate change).

Tentu saja climate change pasti mengganggu praktek-praktek atau siklus-siklus yang sudah ada. Misalnya, siklus musim yaitu musim hujan dan musim panas yang kemudian bisa bergeser. Kalau musim bergeser, bagi orang yang pekerjaannya tidak bergantung pada musim maka itu mungkin tidak terlalu berpengaruh. Tetapi, bayangkan bagi petani yang menanam tumbuhan atau tanaman yang sangat dipengaruhi oleh panas dan curah hujan, pergeseran musim itu tentunya akan sangat mengganggu.

Efeknya adalah kalau petani gagal tanam atau gagal panen karena perubahan musim maka kita berhadapan dengan ancaman kekurangan pangan. Belum lagi kalau kita bicara dampak kenaikan temperatur air laut yang akan mempengaruhi produksi ikan, kita bisa kekurangan ikan. Jadi semangat yang mau didorong oleh Menteri Susi untuk kita makan ikan, malah kita bisa kekurangan ikan akibat perubahan iklim.

Mengapa di Indonesia energi terbarukan atau energi non-fosil belum dimanfaatkan secara maksimal?

Sebenarnya tidak hanya di Indonesia, tapi juga di banyak negara. Sampai dengan kira-kira 10 tahun lalu penggunaan energi terbarukan masih sangat sedikit. Namun memang dalam 10 tahun terakhir, penggunaan energi terbarukan makin menanjak. Salah satu penyebabnya adalah seperti tadi saya katakan bahwa untuk mengembangkan energi membutuhkan biaya. Sampai kira-kira 10-15 tahun lalu biaya untuk mengembangkan atau biaya teknologi energi terbarukan sangat mahal karena jumlahnya masih sedikit, tingkat efisiensi teknologinya juga belum tinggi, dan sebagainya. Itu membuat energi terbarukan mahal, misalnya, biaya listrik yang dihasilkan dari pemakaian energi terbarukan itu mahal.

Bagaimana perbandingan harganya?

Kalau zaman kita dulu, misal untuk 1 kwh pembangkit listrik dari tenaga surya mungkin harganya antara Rp 5.000 per kwh. Sekarang dengan pengembangan energi terbarukan makin matang dan tingkat efesiensinya makin tinggi, di beberapa tempat biaya listrik dari pembangkit energi terbarukan jauh lebih murah daripada bahan bakar fosil. Misalnya, di beberapa tempat harga listrik energi terbarukan kira-kira Rp 700 - 800 per kwh dibandingkan energi dari listrik dan energi fosil yang jauh lebih mahal.

Jadi dulu kita lambat mengembangkan energi terbarukan karena keekonomian energi terbarukan yang masih lebih tinggi dibandingkan dengan fosil. Itu selalu menjadi alasan termasuk oleh pemerintah yang juga selalu beralasan bahwa kita masih dalam taraf membangun dan membutuhkan listrik yang murah, sehingga dikembangkan energi yang murah.

Energi yang murah dalam perspektif pembuat kebijakan adalah energi fosil khususnya batubara. Tetapi sekarang dengan kita mempunyai concern perubahan iklim, sudah ada pergeseran pandangan bahwa batubara sudah tidak lagi murah. Kalau kita hitung biaya ekonomi, biaya lingkungan, dan biaya sosial yang diakibatkan karena pemanfataan bahan bakar fosil, maka energi itu tidak jadi murah karena ada eksternalitas.

Misalnya, biaya yang ditimbulkan dari penggunaan batubara terhadap dampak kesehatan kualitas udara. Jadi kita membayar energi yang seakan-akan murah tetapi menambah biaya-biaya lain yang tidak berkolerasi dengan energi, seperti biaya kesehatan. Jadi sebenarnya jauh lebih mahal.

Adanya pendekatan baru dan pemahaman baru terhadap pengembangan energi terbarukan membuat energi terbarukan menjadi lebih diutamakan sekarang. Kita bisa melihat dalam lima tahun terakhir banyak negara-negara lain yang investasi energi terbarukannya jauh lebih tinggi daripada investasi bahan bakar fosil. Itu artinya orang°° memang sudah mulai melihat pengembangan energi terbarukan sebagai sesuatu yang penting, sehingga mereka berinvestasi ke sana.

Dengan investasi yang semakin besar, energi terbarukan semakin murah dan itu sudah mulai terasa di Indonesia. Pemerintah memang menargetkan dalam kebijakan energi nasional untuk menambah bauran energi kita dari energi terbarukan menjadi 23% pada 2025. Ini memang suatu lompatan yang jauh dari yang sekarang, yaitu kira-kira hanya 5% menjadi 23% dalam waktu kira-kira 8-10 tahun yang akan datang.

Memang sangat ambisius kalau menurut banyak orang, tetapi menurut saya ini sesuatu yang tepat yang perlu dilakukan karena memang itu menjadi kebutuhan kita. Jadi ke depannya dimana energi fosil makin berkurang jumlahnya dan kemungkinan harganya makin mahal karena kita memasukan eksternalitas dan lain-lain, maka energi terbarukan akan sangat kompetitif dengan energi fosil yang makin berkurang dan pengembangan energi terbarukan itu memastikan agar pasokan energi jangka panjang kita tetap terjamin.

Lalu, bagaimana ketesediaan pasokan energi Indonesia untuk 10, 20, sampai 30 tahun ke depan karena dari sisi sumber energi fosil kita juga belum bisa mencukupi kebutuhan energi, misalnya listrik, untuk seluruh masyarakat Indonesia?

Kalau kita melihat ketersediaan energi fosil kita setiap hari semakin menipis. Ada yang mengatakan, atau data dari pemerintah menyatakan minyak kira-kira akan habis dalam 10 tahun lagi, gas kira-kira akan habis dalam 25-30 tahun lagi, dan batubara walaupun kelihatannya masih agak panjang yaitu 50 tahun lagi. Namun itu tidak bisa dimanfaatkan semuanya kalau kita ingin menyelamatkan iklim juga.

Yang menjadi tantangan sekarang adalah bagaimana kita bisa mengembangkan energi terbarukan secara lebih cepat dengan skala yang lebih besar untuk mengantisipasi dua hal. Pertama, penurunan ketersediaan energi fosil. Kedua, kita berkejar-kejaran dengan mengatasi perubahan iklim.

Kalau kita melihat di dalam kesepakatan Paris, dunia sepakat untuk mempertahankan kenaikan temperature di bawah 2°„. Implikasi dari target ini adalah kira-kira 2/3 dari sumberdaya energi fosil yang ada di dunia yang masih ada di dalam tanah sekarang tidak boleh lagi dipakai. Artinya untuk memenuhi kebutuhan energi kita, sebagian besar harus kita penuhi dari energi terbarukan dan kita hanya punya waktu kira-kira 20-25 tahun untuk memastikan itu terjadi.

Jadi kita harus melakukan tranformasi dari yang tadinya berbasis pada bahan bakar fosil menjadi berbasis energi yang terbarukan. Ini bukanlah hal yang mudah tetapi saya melihat dunia sudah mulai bergerak ke sana dan yang menjadi tantangan adalah seberapa cepat Indonesia juga mengikuti tren itu.

Kalau kita bicara di Indonesia, tentunya ada aspek masalah keadilan daya beli atau kemampuan untuk membeli akses pada teknologi dan kebijakan. Apalagi yang namanya kebijakan sekarang tidak hanya dilakukan oleh pemerintah pusat saja, tetapi ada di daerah bahkan sampai ke desa. Ini memang membuat kompleksitas sendiri, tetapi memang sebagai bangsa kita harus berpikir bagaimana memanfaatkan sumber energi terbarukan yang banyak ini untuk memastikan ketersediaan energi kita di masa depan.

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=Toe0cgJek1o&feature=youtu.be