Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Benny Handoko

Pluralisme Harus Dikampanyekan

Edisi 1118 | 08 Sep 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita kali ini adalah Benny Handoko atau sangat terkenal melalui nama twitter-nya yaitu Benhan. Dia adalah seorang insinyur sipil yang bekerja di bidang konstruksi dan contracting, tetapi sangat peka terhadap keadaan di sekitar kita.

Benny Handoko mengatakan saat ini di Indonesia dan dunia pluralisme terancam karena identitas suku, ras, agama menjadi suatu benih-benih untuk konflik. Jadi sebagai minoritas warga keturunan Tionghoa di Indonesia, dia mempunyai pengalaman yang dia share dengan teman-teman lain dan mungkin juga dengan teman-teman yang berasal dari etnis mayoritas untuk mengerti apa sih penderitaan dari kaum minoritas dimana pun di dunia ini.

Orang tidak bisa memilih agama dan tidak bisa memilih sukunya ketika lahir di Indonesia. Hanya saja saya bisa memilih untuk menjadi orang Indonesia. Walaupun saya tampangnya seperti orang Tiongkok dengan mata sipit dan kulit putih, tetapi saya sama sekali tidak merasa saya sama dengan orang Tionghoa yang dari Tiongkok. Jadi saya tetap merasa saya orang Indonesia. Orang memperlakukan saya berbeda karena status fisik saya menjadi tantangan buat saya untuk meyakinkan mereka kalau kita semua sama. Pluralisme perlu dikampanyekan. Tidak bisa hanya diwacanakan, tapi perlu dikampanyekan.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dan narasumber Benny Handoko.

Benny Handoko adalah kawan pribadi saya, kami bertemu karena kami sama-sama orang yang engineer, tetapi sangat peka terhadap keadaan di sekitar kita. Apalagi keadaan politik di saat-saat itu membuka kemungkinan akan ada perubahan. Pertama kali kami bertemu pada saat terjadi persekusi, terjadi penistaan kepada Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan karena ada unsur-unsur yang korup di negeri ini sehingga akhirnya kalah dan harus pergi ke Bank Dunia dan sekarang sudah kembali.

Perbedaan Benhan dengan saya adalah Benhan lebih dulu mengalami kejahatan orang di internet yang secara keji menyalahgunakan kekuatan social media untuk menjerumuskannya. Sampai waktu itu ditahan, dinyatakan bersalah walaupun tidak bersalah, sehingga tidak bisa lagi dengan bebas menjalankan perannya di twitter. Saya bisa sangat merasakan berbagai tekanan yang Benhan rasakan.

Bagaimana Benhan bisa keluar dari tekanan itu, bisa berkarya dan bagaimana hubungan Anda dengan komunitas?

Jadi setelah kasus pencemaran nama baik yang menimpa saya dan kemudian melewati persidangan dan segala macam, keluarga saya terutama istri memberi nasehat untuk tidak terlibat terlalu aktif lagi dalam politik karena mungkin ada semacam trauma dengan konsekuensinya. Jadi untuk menghormati keluarga, karena keluarga yang paling menderita di saat kita mengalami kesulitan seperti itu, saya memutuskan untuk berhenti twitter.

Kalau tidak salah itu berlangsung selama 1 atau 2 tahun dan saya hanya menulis 1-2 artikel. Seperti yang terakhir tentang Ahok pada saat menjelang pemilihan kepala daerah (Pilkada) DKI Jakarta. Jadi kontribusi saya bisa dibilang tidak seaktif dulu lagi. Tetapi saya masih mengamati berita dan mengikuti berita, hanya saja bagian komentarnya sedikit saya tahan.

Perlu diketahui, pencemaran nama baik dan Undang-Undang (UU) tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) sampai sekarang masih ada dan masih dengan ancaman empat tahun untuk siapapun yang melakukan pencemaran nama baik. Itu yang ingatkan oleh istri saya. Jadi kita lebih hati-hati.

Saya sangat setuju sikap Anda yang mendahulukan kepentingan istri dan keluarga karena kegiatan kita dalam politik sering diwarnai ego juga dan kita harus bisa mengendalikan, ditaruh di bawah kepentingan keluarga. Apa Anda bisa betah di dunia profesional tanpa ada bumbu politik itu?

Hal itu tergantung. Dalam dua tahun terakhir saya sangat intens di pekerjaan karena saya menjadi project manager sebuah proyek besar sehingga fokus saya memang di profesi itu. Tidak bisa dibagi dengan kegiatan sosial lainnya. Jadi ok saja.

Menjelang Pilkada saya punya banyak waktu kosong, sehingga saya menyempatkan diri untuk menulis. Namun benar kata Anda, di twitter kadang-kadang kita merasa besar kepala. Jadi tweet kita kadang-kadang tanpa kita sadari melukai orang lain, melukai hati pendukung pihak yang berseberangan dengan kita. Jadi saya lebih memilih untuk menulis di blog karena kalau menulis blog lebih panjang. Jadi untuk membaca blog paling tidak dia harus meluangkan waktu 5-10 menit. Kalau twitter hanya 140 karakter dan kita bisa menjawab dalam 1-2 detik sehingga cepat. Jadi saya rasa itu cukup buat saya untuk saat ini.

Benhan punya kemampuan mengamati politik tetapi jelas mempunyai bakat di bidang teknik untuk mencari kehidupan bagi keluarganya. Bagaimana mempertemukan dua peran itu? Apakah sekarang hidup Anda juga terasa sama lengkapnya?

Ya, saya rasa lebih damai karena jarang ada konflik di twitter. Tetapi juga seperti kata Anda tadi, ada rasa kegatalan untuk terus menanggapi karena kondisi belakangan ini. Tidak cuma di Indonesia, di dunia juga pluralisme dan perbedaan terancam karena identitas suku, ras, agama menjadi suatu benih-benih untuk konflik. Jadi sebagai minoritas warga keturunan Tionghoa di Indonesia, saya mempunyai pengalaman yang perlu saya share dengan teman-teman lain dan mungkin juga dengan teman-teman yang berasal dari etnis mayoritas untuk mengerti apa sih penderitaan dari kaum minoritas di mana pun di dunia ini.

Saya sangat bersimpati pada kelompok Tionghoa dalam kehidupan publik tetapi saya tetap bukan orang Tionghoa. Saya suka berpikir, apakah saya mengerti betul penderitaan orang Tionghoa di Indonesia. Apakah Anda merasa puas menjadi orang Indonesia?

Kalau ditanyakan itu pada waktu sebelum 1998, mungkin saya dan kami warga etnis Tionghoa di kampung saya, Sumatera, dulu pada umumnya merasa di sini hanya menumpang tinggal. Tidak ada rasa belonging, tidak merasa memiliki negara ini karena di mana pun kami berada kami didiskriminasi.

Kalau ingin masuk sekolah negeri sulit. Dulu ketika ingin masuk Institut Teknologi Bandung (ITB), saya seharusnya bisa kalau dari hasil tes, tetapi ditolak karena waktu itu ada kuota 10%. Jadi, dimana-mana kita didiskriminasi. Menjadi pejabat publik juga tidak bisa dan celakanya pemerintahan Orde Baru waktu itu menggunakan image orang Tionghoa diidentikkan dengan Liem Sioe Liong dan keluarga Salim yang super kaya raya maupun konglomerat lainnya.

Mayoritas orang Indonesia melihat dan mengidentifikasikan orang Tionghoa seperti itu. Mereka kaya, tidak peduli dengan bangsa, korup, maling harta bumi negara kita. Padahal saya dari keluarga biasa saja. Banyak teman saya dari keluarga biasa saja, bahkan kalau kita ke Bangka Belitung, kampungnya Ahok, atau Riau banyak orang Tionghoa yang miskin. Di Tangerang juga banyak orang Tionghoa yang miskin.

Jadi itu suatu image yang salah tetapi sengaja dibangun oleh pemerintah Orde Baru dan celakanya setiap terjadi sesuatu yang mengancam pemerintahan, seperti Malari dan kemudian Peristiwa 1997-1998, warga Tionghoa diumpankan sebagai korban untuk kemarahan masyarakat. Mereka diumpankan sehingga terjadilah pembantaian etnis Tionghoa pada 1974 kemudian 1997-1998 juga.

Apakah secara keseluruhan nasib minoritas orang Tionghoa di Indonesia ini mengalami peningkatan atau pemerosotan?

Setelah Peristiwa 1998 keadaan jelas jauh lebih baik. Pemerintahan Gus Dur dan Megawati membuka peluang selebar-lebarnya. Bahkan Gus Dur memberikan semacam affirmative action, walau tidak seperti itu namun mengarah ke sana. Ada selamat tahun baru raya Imlek dan segala macam, lalu diberi kebebasan bagi warga etnis Tionghoa untuk lebih berpatisipasi dalam politik. Kita lihat juga ada menteri-menteri keturunan Tionghoa seperti Kwik Kian Gie, Maria Elka Pangestu, dan sekarang banyak sekali. Jadi sejak Peristiwa 1998 ada perubahan yang gradual tetapi sangat terasa. Bahkan Ahok bisa menjadi gubernur.

Sekarang kalau kita sorot bulan-bulan lalu mengenai Pilkada Jakarta sampai Ahok dipenjarakan, apakah itu suatu anomali atau pengecualian dari masa perbaikan? Bagaimana menurut Anda?

Saya melihat bahwa namanya sentimen rasial tidak gampang untuk hilang. Jadi setelah 1998 Gus Dur melakukan suatu terobosan baru yang sedikit kita sebut memaksakan, yaitu memaksakan diskriminasi untuk dihapus dengan produk-produk hukum yang mendukung. Namun yang namanya prasangka itu tidak hilang.

Anak kecil tidak bisa menjadi rasis dengan serta merta, tetapi diajarkan orang tua dan oleh lingkungan. Kenyataannya di lapangan karena orang Tionghoa sangat sedikit, mungkin 5-10% dari penduduk Indonesia, sehingga frekuensi interaksi dengan kaum mayoritas jarang.

Saya sewaktu bekerja di Sulawesi pernah bertemu masyarakat yang belum pernah sama sekali berinteraksi sama orang Tionghoa, sehingga prasangka tentang orang Tionghoa adalah apa yang diajarkan oleh orang lain, apa yang diajarkan oleh media.

Jadi saya rasa prasangka itu tidak hilang. Begitu ada trigger maka muncul seperti ini. Orang-orang bebas mengutarakan pendapatnya, sehingga kebencian-kebencian atau sifat-sifat rasis dari manusia itu muncul. Sama seperti yang kita lihat di Amerika Serikat (AS) sekarang. Delapan tahun masa kepresidenan Obama tidak menghapuskan rasisme, tetapi malah muncul di saat ada momentum.

Anda termasuk orang lapisan atas dalam masyarakat Tionghoa dari segi karir, pengetahuan, mungkin juga kemapanan materi. Apa yang membuat Anda ingin tinggal di sini terus dan tidak mencari negara dimana kehidupan itu akan lebih ramah terhadap orang Tionghoa?

Saya tidak merasa saya orang Tiongkok. Saya merasa saya orang Indonesia. Kita semua yang lahir di negara ini tidak bisa memilih suku kita. Kebanyakan orang di Indonesia ini tidak bisa memilih agamanya karena ditentukan oleh keluarganya. Jadi itu umum. Orang tidak bisa memilih agama dan tidak bisa memilih sukunya ketika lahir di Indonesia. Hanya saja saya bisa memilih untuk menjadi orang Indonesia. Walaupun saya tampangnya seperti orang Tiongkok dengan mata sipit dan kulit putih, tetapi saya sama sekali tidak merasa saya sama dengan orang Tionghoa yang dari Tiongkok. Jadi saya tetap merasa saya orang Indonesia.

Orang memperlakukan saya berbeda karena status fisik saya menjadi tantangan buat saya untuk meyakinkan mereka kalau kita semua sama. Dengan saya kerja di project, ada suatu keberuntungan saya bekerja di project yang jauh seperti di Sulawesi dan Papua. Saya mungkin satu-satunya etnis Tionghoa di dalam suatu kelompok project itu. Saya tidak merasa saya orang Tionghoa. Jadi saya bisa bergaul dengan semuanya. Buat saya ialah saya lahir di sini, kerja di sini, dan saya memilih mati di sini juga. Jadi menurut saya, saya akan dikuburkan atau dikremasi mungkin di Indonesia. Itu pilihan saya.

Apa ada yang kita bisa raih secara positif dari pengalaman yang memalukan di Pilkada Jakarta kemarin yaitu pemenjaraan Ahok. Apakah ada hal positif yang kita bisa angkat dari peristiwa itu?

Jadi ini yang menarik, walaupun pihak politisi tertentu berhasil mengangkat sentimen rasial sewaktu mereka kampanye untuk melawan Ahok. Itu cukup berhasil dengan suara Ahok yang turun karena itu. Namun kita juga melihat ada counter action dari itu. Reaksi itu terutama dipimpin oleh kelas menengah di Jakarta dan seluruh kota di Indonesia. Banyak sekali orang merasa bahwa ini memalukan. Ini aib bahwa kita memilih seseorang berdasarkan identitasnya bukan berdasarkan hasil kerja kerasnya tapi berdasarkan label, suku, agama, dan ras.

Jadi saya harap ini menjadi gerakan ke depan dimana manusia Indonesia dipandang semua sama. Kita dilihat dari hasil kerja keras dan apa yang dilakukan. Penilaian bukan berdasarkan apa yang menjadi statusnya sewaktu dia lahir, tapi apa yang dilakukan setelah dia lahir. Itu yang menjadi penting. Mungkin ini menjadi transcendent baru dalam politik kita, dalam Pilkada dan Pilpres berikutnya dimana orang akan ditantang untuk mengevaluasi, apakah sikap politik kita sudah benar dengan hanya berdasarkan sentimen rasial dan sentimen agama.

Barangkali sekarang kita melihat setiap orang bisa turun, sehingga gerakan pluralisme itu memang perlu. Apakah ada harapan untuk bangkitnya kembali pluralisme di Indonesia?

Saya yakin ada karena situasi bangsa Indonesia termasuk yang masih muda. Kalau kita lihat kita merdeka pada 1945 dan sekarang baru 72 tahun. Terus dari peristiwa 1998 hingga sekarang baru 20 tahun. Kita lihat sejarah AS yang sudah 200 tahun lebih merdeka, dan dari perbudakan sampai sekarang masih mengalami hal yang sama.

Saya sangat suka dengan Mantan Presiden Obama. Mengutip kata-katanya, "We are responsible to make a more perfect union." Kita semua bertanggungjawab untuk membuat negara kesatuan yang lebih baik, lebih sempurna. Jadi itu perjuangan kita semua.

Jangan kita pesimis. Jangan kita skeptis. Bagi warga Indonesia, menjadi manusia politik itu perjuangan. Bagi saya, itu perjuangan saya. Dimanapun saya bekerja, tidak harus di bidang publik, saya memperjuangkan identitas politik saya dan saya meyakinkan teman-teman saya bahwa sentimen rasial tidak ada gunanya. Kita melihat orang harus sama, itulah pluralisme. Itu yang saya perjuangkan dalam dunia kerja saya, dunia sehari-hari saya, dan di sini dalam diskusi kita ini.

Bagaimana situasi dalam lingkungan kerja Anda? Apakah berwujud pluralisme atau diskriminasi?

Saya rasa orang menilai baik kalau kita bisa melakukan hal-hal yang baik. Contohnya di project saya bisa ada 700 pekerja. Kalau di Jakarta umumnya orang-orang Jawa. Tidak ada orang Tionghoa. Saya setiap satu minggu sekali pidato untuk safety briefing di depan mereka sebagai project manager. Di situ saya melihat tidak ada masalah, mereka menerima selama kita bisa membawa pekerjaan berjalan terus.

Lokasi project saya terakhir di BSD City, Tangerang. Namun saya pernah punya project di Sulawesi, di sana saya ketemu semua orang Sulawesi. Di Papua saya ketemu orang Papua dan Jawa. Jadi semua lancar saja selama kita bisa membawa diri kita dengan baik dan selama mereka mengenal kita. Tak kenal maka tak sayang.

Setelah mengenal kita, kita tidak dilihat lagi sebagai orang Tiongkok atau keturunan Tiongkok, tapi sebagai orang Indonesia. Jadi banyak juga warga etnis Tionghoa yang mengisolasikan diri, yang mengelompok, segregasi itu saya rasa juga ada dan sebaiknya mereka berubah. Jadi kita bisa bersosialisasi, membaur, sehingga kita tidak dilihat sebagai satu kelompok yang berbeda dengan yang lain. Itu menurut saya suatu perjuangan kelompok minoritas di manapun di dunia. Itu menjadi bumbu-bumbu dalam hidup kita yang menarik sebenarnya kalau kita bisa merespon dengan baik.

Dimana Benhan dulu kuliah?

Saya kuliah di Universitas Katolik Parahyangan.

Apakah mayoritasi di perguruan tinggi tersebut beretnis Tionghoa?

Iya di tingkat universitas, tapi kalau di jurusan saya komposisi etnisnya fifty-fifty karena saya di teknik sipil.

Bagaimana pengalaman Benhan dengan kampus-kampus sekarang atau memikirkan kembali zaman kampus dulu?

Kalau di Bandung okay. Di Unpar juga okay. Cuma saya rasa di beberapa kampus, yang mungkin orang semua tahu, berkembang gerakan Islam radikal mungkin yang disusupi partai politik. Menurut saya, pemerintah dan pemimpin kampus mungkin harus bertindak untuk pluralisme karena pluralisme perlu dikampanyekan. Tidak bisa hanya diwacanakan, tapi perlu dikampanyekan.

 

https://www.youtube.com/watch?v=D2lAlBOFJhY&feature=youtu.be