Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Arief A. Soedjono

Satu Indonesia

Edisi 1116 | 21 Aug 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Narasumber kita hari ini Arief A. Soedjono, yang merupakan inisiator Satu Indonesia. Satu Indonesia adalah perkumpulan relawan kebangsaan yang bekerja untuk merawat keragaman Indonesia.

Arief A. Soedjono mengatakan negara kita memiliki 17.000 pulau, beratus-ratus bahasa, suku bangsa, dan ras. Itu bagus sekali dan luar biasa. Kita memiliki bentangan daratan yang luar biasa luas dan dihuni oleh populasi orang yang berbagai macam tapi bisa diikat dalam satu kesatuan. Ternyata setelah proklamasi, para pahlawan telah memperlihatkan begitu luar biasanya kebersamaan dalam keragaman ini yang dibangun sejak sebelum kemerdekaan dan itu terlihat sekali.

Akhirnya kita bisa melihat bahwa kelahiran negeri Indonesia atau NKRI memang fitrahnya harus beragam, tidak bisa seperti di negara lain. Itu sudah fitrahnya karena kebersamaan ini sudah berlangsung sejak lama, maka tentunya kita sudah memiliki kenyamanan yang sama tentang ketatanan hidup bersama. Yang tentunya kita juga akhirnya harus memperhatikan dan melihat masa depan anak dan cucu kita ke depan.

Kalau ini tidak kita pertahankan, kita sudah melihat contoh yang paling jelas bila keragaman itu dijadikan sesuatu yang dipaksakan untuk menjadi sesuatu yang seragam di Suriah. Negara itu merupakan korban dari suatu paham untuk menguasai Suriah dan apa yang terjadi sampai saat ini adalah perangnya pun tidak selesai-selesai. 

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan nara sumber Arief A. Soedjono.

Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Jakarta pada awal tahun ini menjadikan wake up call atau alarm yang membangunkan kita bahwa kebangsaan dan kebhinnekaan kita dalam bahaya. Jadi inilah waktunya untuk kita memberikan perhatian lebih dan perhatian khusus kepada keberagaman kita. Salah satu komunitas ataupun masyarakat yang memberikan perhatian khusus kepada kebangsaan kita adalah Satu Indonesia. Mengapa Anda aktif di Satu Indonesia dan melihat kebangsaaan Indonesia dalam keadaan bahaya?

Kita berangkat dari masalah sosial terlebih dahulu, misalnya masyarakat di sekitar kita, tidak perlu jauh-jauh sampai ke Indonesia Timur. Di Jawa Barat saja kita masih melihat bahwa beberapa kelompok masyarakat terutama yang menengah ke bawah mempunyai beberapa macam argumen dan dasar yang sangat berbeda. Jadi keragaman ini sebetulnya dasar dari negara kita yang sudah lahir dalam kondisi keragaman. Hanya saja yang menjadi permasalahan untuk kita adalah mengenai suatu aktifitas yang mengarah ke arah intoleran. Itu yang sebenarnya kita khawatirkan.

Mengapa Anda khawatir intoleran saat ini di Indonesia akan tumbuh subur?

Sebetulnya hal itu sudah mulai terasa dari beberapa tahun terakhir, terutama pada 20 tahun terakhir. Sejak 1998 sampai saat ini kita sudah bisa merasakan adanya dan kembali hidupnya intoleran. Meskipun dulu bibit-bibit itu ada, hanya saja tidak terlalu terasa karena sel-selnya masih kecil.

Pada 1998 hingga kini kita mulai merasakan bibit itu muncul kembali. Karena itulah pada 30 Oktober 2016 teman-teman di Bandung membuat yang namanya Deklarasi Bandung untuk Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Kita kumpulkan masyarakat Bandung, kurang lebih 50.000 orang, di Stadion Siliwangi di daerah Jalan Aceh. Kita membuat semacam perjanjian atau kesepakatan yaitu masyarakat Bandung bersepakat untuk setia pada NKRI, membela Pancasila, dan itu adalah bagian-bagian yang kita lakukan di Bandung untuk NKRI.

Pada saat itu titik krusialnya sudah sangat berat, sehingga kita harus melakukan itu meskipun banyak orang atau masyarakat yang berpikir "rasanya kita aman-aman saja deh". Aman dalam posisi yang seperti sekarang mungkin belum begitu terasa. Namun kalau kita sudah bisa melihat sesuatu yang lebih menyentuh, terutama agama, jelas lebih terlihat.

Tidak usah kita berbicara antar agama yang berbeda, sesama Islam dan sesama Kristen juga terjadi yang seperti itu. Hanya karena kebetulan mayoritas masyarakat kita 90% beragama Islam sehingga itu yang lebih terlihat.

Tadi dikatakan bahwa masyarakat merasa aman-aman saja, padahal bibit-bibit intoleran terus tumbuh. Apa yang menyebabkan bibit intoleran bisa terus tumbuh hingga saat ini?

Bibit intoleran muncul tidak mungkin karena tidak dipengaruhi dari luar, pasti ada kemungkinan unsur dari luar, tetapi bisa juga dipengaruhi oleh faktor dari dalam. Yang jelas dasarnya adalah kepentingan. Kalau tidak ada kepentingan, maka tidak mungkin terjadi hal seperti itu. Kalau memang sudah bicara mengenai kepentingan, maka kita tinggal melihat saja kendaraan apa yang digunakan oleh kepentingan tersebut. Begitu kepentingan itu menggunakan kendaraan agama, maka intoleran lah yang akan terjadi.

Apakah hal itu seperti yang terjadi di Pilkada Jakarta?

Betul, salah satu yang bisa kita lihat jelas adalah dalam Pilkada Jakarta.

Apa yang Anda lihat dari kasus Pilkada Jakarta yang menggunakan sentimen Suku, Agama, Ras dan Antar Golongan (SARA), sehingga membahayakan keragaman kita?

Kalau kita melihat pada sejarah, sudah jelas fitrah negara kita ini terlahir dengan keragaman. Karena itulah di bawah burung garuda terdapat pita yang bertuliskan dengan sangat jelas Bhinneka Tunggal Ika yang tidak boleh kita lupakan. Kadang-kadang manusiawi juga bila setiap kelompok mempunyai sifat yang eksklusivitas. Sepanjang eksklusivitas itu tidak membesar, mungkin itu tidak akan berdampak besar pada negara. Namun begitu dia sudah membesar dan menjadi sesuatu yang sifatnya fanatik dalam kelompok, maka itu yang akan menjadi berbahaya. Itu yang saat ini prosesnya sudah terlihat, mulai berkembang dan terjadi.

Hal ini jugalah yang menyebabkan pemerintah mengeluarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) No.2 Tahun 2017 yang melarang suatu organisasi kemasyarakatan (Ormas). Itu karena mungkin di sana sudah mulai terlihat hal-hal yang sudah mulai mengarah ke eksklusivitas yang membahayakan negeri kita yang beragam ini.

Itu juga yang menjadi dasar bahwa kita memakai nama "Satu Indonesia". Sebetulnya itu dasarnya adalah dari isi Sumpah Pemuda yaitu Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa. Jadi Satu Indonesia adalah pengikat dari itu semua. Kebetulan memang kita dalam berkumpul ternyata banyak sekali kawan-kawan yang beragam ikut bersama-sama kita, yaitu beragam dari sisi usia. Sahabat-sahabat di Satu Indonesia yang berkumpul usianya mulai dari 25 75 tahun.

Apa saja aktivitas dari Satu Indonesia ini?

Awalnya kita tidak menjadikan suatu kewajiban untuk kita melakukan sesuatu, kita hanya ingin berintegrasi saja. Setiap kelompok mempunyai gerakan masing-masing, seperti gerakan untuk kemasyarakatan dan sosial, tetapi sifatnya sporadis dan masing-masing, tidak terintegrasi. Inilah yang sebetulnya kita inginkan. Kekuatan kita akan menjadi sangat bagus seandainya semua ikut bergerak karena niatnya pun sama.

Ketika kita bicara mengenai sosial, kebangsaan, dan budaya, kita ingin menyadarkan masyarakat tentang pentingnya Pancasila, NKRI, Bhinneka Tunggal Ika, dan Undang-Undang Dasar 1945. Kalau kita bergeraknya bersama-sama, tentu hasilnya akan lebih memuaskan dibandingkan masing-masing dengan biaya yang juga pasti akan jauh lebih besar, tapi kemungkinan hasilnya akan diakui lebih sedikit dibandingkan dilakukan bersama-sama. Itu kurang lebih yang bisa kita gambarkan.

Jadi awalnya kita ingin menyatukan hal tersebut dan berintegrasi bersama-sama, silakan dengan organisasinya masing-masing, tapi di Satu Indonesia inilah tempatnya berkumpul.

Dimana saja Satu Indonesia ini sudah ada?

Kebetulan sahabat-sahabat kita yang sudah berkumpul ada dari beberapa daerah yaitu Jawa Barat, Banten, DKI Jakarta, Lampung, Riau, Sumatera Barat, Sumatera Utara, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Jawa Timur, kemudian di Bali, NTB, NTT, lalu di Ambon dan Sorong. Ada juga diaspora kita yang di luar negeri.

Satu Indonesia adalah perkumpulan relawan kebangsaan untuk tetap mempertahankan Indonesia atau Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Apa pentingnya untuk kita tetap berada di dalam NKRI?

Negara kita memiliki 17.000 pulau, beratus-ratus bahasa, suku bangsa, dan ras. Itu bagus sekali dan luar biasa. Kita memiliki bentangan daratan yang luar biasa luas dan dihuni oleh populasi orang yang berbagai macam tapi bisa diikat dalam satu kesatuan. Ternyata setelah proklamasi, para pahlawan telah memperlihatkan begitu luar biasanya kebersamaan dalam keragaman ini yang dibangun sejak sebelum kemerdekaan dan itu terlihat sekali.

Akhirnya kita bisa melihat bahwa kelahiran negeri Indonesia atau NKRI memang fitrahnya harus beragam, tidak bisa seperti di negara lain. Itu sudah fitrahnya karena kebersamaan ini sudah berlangsung sejak lama, maka tentunya kita sudah memiliki kenyamanan yang sama tentang ketatanan hidup bersama. Yang tentunya kita juga akhirnya harus memperhatikan dan melihat masa depan anak dan cucu kita ke depan.

Tentu kita juga ingin anak dan cucu kita senyaman seperti hidup kita saat ini atau senyaman orang tua kita dulu. Teknologi mungkin agak berbeda, tapi yang kita bicarakan di sini adalah dari segi ketatanannya, azas, dan ideologi bangsanya yang harus kita perhatikan dan perlu kita pertimbangkan.

Kalau ini tidak kita pertahankan, apa yang akan terjadi dengan anak dan cucu kita ke depannya nanti? Kita sudah melihat contoh yang paling jelas bila keragaman itu dijadikan sesuatu yang dipaksakan untuk menjadi sesuatu yang seragam di Suriah. Negara itu merupakan korban dari suatu paham untuk menguasai Suriah dan apa yang terjadi sampai saat ini adalah perangnya pun tidak selesai-selesai.

Itulah bahayanya kalau Indonesia yang beragam hendak dijadikan homogen, mungkin akan terjadi seperti di Suriah ataupun Irak. Kita melihat lagi pada Pilkada Jakarta, kemarin dimana keragaman kita terkoyak dengan adanya isu SARA. Mengapa masyarakat di Jakarta sampai terpengaruh dengan hal-hal yang melukai keragaman kita?

Kebetulan mayoritas agamanya adalah Islam dan saya sendiri juga Muslim, di sini yang terjadi adalah kepentingan yang menggunakan kendaraan agama.

Masyarakat kita pada umumnya adalah masyarakat sangat agamis dan patuh, seperti yang kita bisa lihat umat Kristiani di Indonesia sangat patuh dengan agamanya, pemeluk agama Hindu dan Budha sangat patuh sekali dengan agamanya, demikian pula tentunya dengan yang muslim. Bila setiap orang sudah bicara dengan atas nama agama, maka orang-orang di Indonesia akan dengan sangat mudah untuk mematuhinya.

Sekarang kembali kepada siapa yang membawa atau mengatakan itu. Kalau yang mengatakan itu kebetulan mempunyai kepentingan, maka beloklah orang-orang sesuai dengan yang dibicarakan oleh pemilik kepentingan itu. Tentunya akan berbeda dengan orang yang memang membicarakan agama tidak untuk kepentingan dirinya tapi memang betul-betul untuk kepentingan umatnya, pasti akan berbeda.

Apa yang bisa kita lakukan sebagai masyarakat biasa untuk mencegah isu SARA ini muncul lagi di Pilkada karena tahun depan, 2018, ada Pilkada serentak?

Sepertinya kalau mencegah secara bersih pasti tidak mungkin, tergantung siapa yang bermain. Sepanjang yang bermain itu masih menggunakan juga agama sebagai medianya, maka akan tetap sulit untuk dicegah secara total.

Ini yang sedang kita coba upayakan ke depan dengan berbagai upaya, di antaranya kita berbaur dengan masyarakat untuk bersama-sama mensosialisasikan kembali yang namanya kehidupan berpancasila dan kehidupan berbhineka. Ada suatu tatanan lokal yang sebetulnya sudah mulai kita lupakan, itulah yang harus kembali kita ingatkan lagi yaitu mengenai gotong royong.

Kalau kita ingat dulu itu yang namanya gotong royong, siapa pun akan melakukan bersama-sama misalnya untuk membersihkan parit, sampai pada masalah pembangunan rumah - rumah ibadah. Sedangkan sekarang ini kalau kita lihat gotong royong bisa dibilang sudah hilang.

Mari kita ingatkan kembali masyarakat untuk melakukan itu dan bersama-sama terjun di situ. Pemuka agama bergabung bersama-sama dengan tokoh masyarakat, tidak lagi melihat bahwa agama saya yang paling benar atau apa yang saya lakukan adalah yang paling benar, paling baik dan paling soleh. Sepanjang ego itu bisa kita kendurkan dengan bergotong royong, maka dalam beberapa waktu ke depan kita bisa lebih turunkan tensinya. Mungkin kalau mengatakan bersih sekali agak sulit, tetapi tensinya bisa sedikit kita turunkan.

Kita mungkin bisa menurunkan tensinya sebagai masyarakat. Tetapi persoalannya adalah ada elit-elit politik yang berusaha ingin menaikkan tensinya. Apa yang harus kita lakukan untuk menghadapi elit-elit politik yang mencoba menaikan tensi isu SARA ini di dalam Pilkada mendatang?

Setiap kelompok pasti mempunyai kepentingan dan itu akan tetap muncul. Maka dari itu saya lebih menitik beratkan pada bukan untuk menghilangkan, tetapi paling tidak kita mencoba mengurangi. Untuk itulah beberapa teman kami di daerah, baik di Jawa Barat maupun di kota kabupaten, mencoba menghidupkan kembali kearifan lokal dan mengingatkan kembali kepada masyarakat karena memangg diakui atau tidak, sekarang ini nilai-nilai Pancasila sudah berkurang di masyarakat sekitar.

Kalau dulu kita masih ada pelajaran Pedoman, Penghayatan, dan Pengalaman Pancasila (P4), sehingga kita masih mengingat sila-sila yang tertanam di Pancasila. Tetapi sekarang kita mulai turun lagi, sehingga kita harus mengingatkan kembali dengan cara-cara yang sesuai dengan lokasi yang ada di daerah tersebut. Hal ini mudah-mudahan bisa lebih merangkul dan memang tujuan kita adalah bagaimana mengingatkan kembali rasa kebangsaan dari masyarakat kita.

Apa bentuk aksi nyatanya untuk mengingatkan mengenai kebangsaan ini dan apa yang dilakukan oleh Satu Indonesia?

Ke depan kami akan menjajaki bekerja sama dengan kawan-kawan kita dari Gerakan Pemuda (GP) Ansor. Jadi sahabat-sahabat kita yang di Satu Indonesia bekerja sama dengan kawan-kawan dari GP Ansor untuk masuk ke masyarakat, baik melalui masjid, pengajian, dan cara-cara lainnya. Selain itu kita juga bekerja sama dengan Nahdlatul Ulama (NU) untuk mensosialisasikan Pancasila, dan mengenai isi-isi ceramahnya kita sudah perbaiki lagi untuk lebih mengingatkan kembali kepada masyarakat akan luhurnya bangsa Indonesia ini.

Di sisi masyarakat mungkin dengan upaya Anda dan rekan-rekan di Satu Indonesia bisa tumbuh kembali kebangsaan dan keragaman kita. Namun, kami ingin melihat dari sisi pemimpinnya juga. Apakah Anda dan rekan-rekan melihat ada banyak pemimpin-pemimpin di Indonesia yang bisa menjadi pemimpin yang benar-benar pluralis, baik untuk memimpin daerah maupun nasional?

Harusnya seperti itu. Kalau kita di Satu Indonesia memang mempunyai beberapa kriteria untuk pemimpin, baik pemimpin daerah maupun nasional. Kita mengambil beberapa contoh yang bisa kita pakai yaitu dari tokoh-tokoh pahlawan nasional yang bisa dijadikan refleksi. Paling tidak kita bisa melihat bahwa kita membutuhkan pemimpin negara atau pemimpin daerah yang jujur, rendah hati, tegas, bekerja untuk rakyatnya. Itulah yang tentunya menjadi dasar.

Saat ini kita juga mencoba untuk mencari dan mengkader. Mungkin dalam proses waktu yang pendek ini tidak semudah itu. Paling tidak, yang ingin kita lakukan sampai pada 2018 nanti adalah kita sudah bisa memberikan gambaran tentang apa yang kita butuhkan.

Tadi disebutkan pemimpin yang diharapkan adalah yang jujur, tegas, bersih, dan sederhana. Apa yang menjamin seorang pemimpin itu nanti ketika memimpin akan tetap begitu dan terutama adalah tetap pluralis?

Kalau untuk menjamin saya rasa agak sulit, tetapi paling tidak ini bisa kita jadikan bahan referensi. Apalagi kalau kita perhatikan ke sifat manusia kadang-kadang lucu, misalnya sebelumnya dia pegang organisasi yang tidak ada uangnya, sehingga tidak ramai dan idealis. Begitu ada uangnya mulai kembali terlihat tidak baiknya. Kita harapkan tidak seperti itu dan inilah moral yang harus kita bangun.

Kembali lagi ke masalah kepemimpinan, mungkin kami dari Satu Indonesia bisa memberikan contoh yang ada di depan mata adalah seperti Presiden Joko Widodo (Jokowi). Itu contoh saja. Bagaimana perjalanan hidup Jokowi dan saat ini memimpin serta apa yang dia lakukan, mungkin itu bisa dijadikan salah satu contoh dan referensi untuk pimpinan daerah. Alat kontrolnya banyak, masyarakat juga ikut mengontrol melalui anggota dewannya yang di wilayah atau kita juga ikut membantu mengontrol melalui media.

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=0jU-kdbaC2g&feature=youtu.be