Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Danny Syah Aryaputra

Awas Hoax di Media Sosial

Edisi 1115 | 14 Aug 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Hari ini kita membicarakan mengenai media sosial dan bagaimana pemanfaatannya secara tepat. Kita akan berbicara dengan seorang yang mendalami dan mengelola media sosial, yaitu Danny Syah Aryaputra, Chief Marketing Officer (CMO) PT Infia Media Pratama, yaitu perusahaan yang mengelola akun di Instagram bernama "Dagelan".

Menurut Danny Syah, sekarang orang mudah sekali mendapatkan satu info dan langsung disebarkan, padahal info tersebut belum tentu kebenarannya atau bahkan salah. Ketika kita mendapatkan informasi, cari faktanya terlebih dahulu, kemudian baru disebarkan. Sementara ada urutan caranya bagaimana gathering information and reshare information lagi. Tetapi, kebanyakan orang adalah mereka gathering information, tidak cek kebenaran informasinya, dan langsung share lagi. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan banyak sekali berita-berita hoax yang tersebar di social media.

Danny Syah mengatakan pola yang terjadi selama ini adalah banyak berita-berita hoax yang disebarkan lewat broadcast message. Yang harus kita lakukan adalah mencari tahu ke sumber media yang terpercaya. Kemudian kita mencari tahu dari apakah pemerintah sudah mengeluarkan statement atau belum. Jadi dia tidak percaya dengan satu sumber saja, dia pasti mencari referensi yang lain. Kalau ada beberapa sumber menyatakan hal yang sama, barulah dia berasumsi bahwa ternyata benar beritanya.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Hayat Mansur sebagai pewawancara dengan nara sumber Danny Syah Aryaputra.

Berbicara mengenai media sosial, Indonesia tercatat sebagai salah satu negara terbesar pengguna media sosial. Bahkan laporan terakhir adalah Indonesia merupakan negara yang masuk empat besar di dunia sebagai pengguna aktif untuk Instagram. Mengapa masyarakat Indonesia sangat aktif di media sosial?

Menurut data yang saya lihat, terakhir di Indonesia ada 45 juta orang bermain Instagram. Kenapa orang Indonesia suka sekali bermain Instagram? Kita tarik lurus ke belakang dari zamannya Friendster, MySpace, miRC, dan LifeConnector. Saya melihat habbit-nya adalah orang Indonesia memang suka sekali share sesuatu, bertemu hal baru, dan menemukan lingkungan baru.

Orang-orang merasa bahwa sebelum mengenal social media seperti instagram, mereka merasa hidupnya terbatasi oleh lingkungan di sekitarnya. Namun setelah mereka mengenal social media, influence mereka akan bertambah dan banyak perspektif-perspektif lain yang bisa mereka lihat di luar. Tetapi hal ini juga kembali lagi ke passion mereka masing-masing. Ada yang suka fotografi, masak, akting, dan mereka semua akan mencari informasi lagi yang lainnya di social media.

Berbicara mengenai passion, mengapa Anda aktif di Dagelan bahkan mengelolanya dan menjadikan hal ini sebagai salah satu sumber pendapatan Anda?

Saya baru menemukan passion saya saat awal kuliah, yaitu saya ingin di dunia komunikasi, dunia kreatif, dan saya ingin menjadi orang yang bukan hanya melakukan sesuatu tetapi melakukan perubahan. Saya ingin melakukan perubahan dari hal-hal yang berhubungan dengan komunikasi, media, dan digital agency. Tetapi Kuliah saya salah jurusan, saya tidak belajar di bidang tersebut.

Mengapa pilihan Anda untuk itu adalah media sosial?

Mungkin karena media sosial adalah media yang saat ini pesebarannya mudah. Sekarang orang mudah sekali mendapatkan satu info dan langsung disebarkan, padahal info tersebut belum tentu kebenarannya atau bahkan salah. Ketika kita mendapatkan informasi, cari faktanya terlebih dahulu, kemudian baru disebarkan. Sementara ada urutan caranya bagaimana gathering information and reshare information lagi. Tetapi, kebanyakan orang adalah mereka gathering information, tidak cek kebenaran informasinya, dan langsung share lagi. Hal-hal seperti inilah yang menyebabkan banyak sekali berita-berita hoax yang tersebar di social media.

Saat ini di Indonesia hampir semua orang menggunakan media sosial, baik tua maupun muda, baik untuk kepentingan hanya menjalin persahabatan ataupun menjadikannya sebagai bisnis. Fenomena yang kami tangkap adalah bahwa media sosial di Indonesia ini sekarang menjadi alat untuk provokasi dan untuk menyebarkan kebencian. Mengapa hal ini bisa sampai terjadi?

Saya tidak berani mengatakan ini benar atau tidak. Menurut saya, mungkin ini karena orang ingin menyampaikan pendapat, tetapi tidak bisa disampaikan secara publik. Mereka menutup diri di balik akun social media-nya, dan berusaha mengatakan ke publik hal yang ingin mereka katakan, entah itu benar atau tidak, tetapi mereka tidak ingin diketahui identitasnya.

Bukankah ketika mereka pasang itu di media sosial berarti mereka sudah memberitahukan kepada publik dan itu bisa mempunyai risiko-risiko dan segala macamnya?

Iya, betul. Namun ada beberapa akun anonymous yang kita tidak tahu itu siapa, mereka menyebarkan itu via social media. Sekarang kita banyak bertemu konten-konten yang memang provokatif di Instagram, dan itu juga didukung oleh algoritma yang diberikan oleh Instagram dan Facebook. Ada namanya algoritma filter bubble, dimana orang akan dikelilingi oleh sesuatu yang ingin mereka lihat, bukan yang seharusnya dia lihat.

Contohnya, ada dua orang yang mempunyai human interest berbeda. Satu orang sedikit menyukai ke arah kekerasan, dan satu orang lagi lebih menyukai hal-hal yang cheerful. Mereka Googling hal yang sama yaitu tentang Mesir. Orang yang suka kekerasan akan mendapat informasi tentang perang di Mesir atau gejolak konflik. Sedangkan orang yang cheerful tidak mendapatkan berita itu. Yang dia dapatkan adalah destinasi wisata di Mesir.

Jadi algoritma itu memang dipakai oleh Facebook dan Instagram untuk membatasi orang-orang mendapatkan informasi sesuai dengan kemauannya. Google dan Facebook mendapatkan informasi tersebut dari keseharian setiap orang-orang, yaitu dari apa yang kita klik, search, dan kita follow di Facebook atau Instagram.

Apa yang kita klik dan sebarkan ke publik akan menjadi informasi publik juga. Ketika itu menjadi informasi publik, tentu ada hal-hal yang harus kita perhatikan, salah satunya dari sisi hukum. Bagaimana cara untuk mencegah diri kita agar tidak terjerat kasus-kasus penyebaran fitnah dan sebagainya?

Mungkin ini lebih ke arah Undang-Undang (UU) Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Kalau yang kita lakukan di dagelan, kita mempunyai yang namanya Infia (Informasi Indonesia), yaitu ada Infia Fact, Infia Health, dan Infia Tech. Itu lebih ke akun social media dimana kita memberikan berita.

Awalnya Dagelan dibuat karena ada Infia. Jadi, Infia adalah mother company dari Dagelan. Kalau Dagelan mungkin di akun Instagram dan di Web-nya lebih ke arah jokes. Sedangkan Infia lebih ke arah sumber informasi, yaitu ada Infia Fact, Infia Health, Infia Tech, Otomotif, dan Enterpreneur. Jadi kita berusaha memberikan informasi dan berita sesuai dengan human interest masing-masing.

Di sini kita berusaha memberikan berita sesuai dengan cara anak muda. Anak muda zaman sekarang mungkin malas membaca berita yang panjang. Jadi kita sederhanakan dengan foto, ada ilustrasi, lead news, dan caption-nya. Jadi orang mendapatkan informasi yang cuma sekilas saja.

Cara kita mempertanggungjawabkan berita tersebut adalah dengan melansir dari berita di media yang sudah jauh lebih besar dari kita, dan banyak juga reporter kita turun ke jalan. Jadi cara kita mempertanggungjawabkan itu adalah saat kita mengeluarkan satu fakta, kemudian kita kembalikan lagi ke orang-orang di sekitarnya.

Kita juga mempunyai Infia Citizen Journalist, yaitu kita meminta kepada orang-orang untuk melaporkan keadaan yang ada di sekitar mereka seperti apa. Kemudian kita cek benar atau tidak keberadaannya.

Mengenai rambu-rambu dalam kita menyebarkan informasi di Indonesia, tadi sudah disebutkan ada Undang-undang mengenai Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Apa konsekuensinya kalau kita menyebarkan mengenai berita-berita yang menyebar kebencian atau istilahnya membuat suatu tindak pidana dari penyebaran informasi yang kita lakukan?

Setahu saya kalau ada delik aduan maka masalah penyebaran hal ini baru bisa diproses. Saya tidak terlalu hafal mengenai pasal berapa dan bunyinya seperti apa, tetapi yang selama ini kita lakukan, kita tidak pernah mau memberikan informasi yang memprovokasi di social media. Dalam Dagelan irisan kita adalah menghibur dan Infia lebih ke arah berita.

Kita sebagai media hanya memberikan informasi, tetapi kita tidak mau mendapatkan feedback dari orang-orang. Kita selalu membuka jalur komunikasi dengan mereka dengan cara banyak orang yang Direct Message (DM) ke kita dan banyak orang yang e-mail ke kita untuk memberikan informasi.

Seandainya berita yang kita sebarkan kurang tepat, maka kita memberikan hak jawab juga. Misalnya, kita menyinggung suatu instansi atau perusahaan tentang isu mereka, ternyata isunya terbukti tidak benar dan mereka memberikan bukti atau berita yang sebenarnya seperti apa, maka kita akan bantu lagi untuk klarifikasi.

Bagaimana cara kita mengetahui bahwa informasi yang kita dapat adalah informasi yang benar atau bukan informasi yang salah?

Pola yang terjadi selama ini adalah banyak berita-berita hoax yang disebarkan lewat broadcast message. Saya tidak bisa mengatakan platformnya apa, tetapi saya juga banyak sekali mendapatkan broadcast message yang beritanya tidak benar. Jadi yang harus kita lakukan adalah mencari tahu ke sumber media yang terpercaya. Kemudian kita mencari tahu dari apakah pemerintah sudah mengeluarkan statement atau belum.

Kalau saya bukan dari Infia atau Dagelan, saya akan lebih berpikir lagi akibat dari kalau saya mendapat berita tapi tidak saya filter lagi berita tersebut. Saya tidak percaya dengan satu sumber saja, saya pasti mencari referensi yang lain. Tetapi kalau ada beberapa sumber menyatakan hal yang sama, barulah saya berasumsi bahwa ternyata benar beritanya.

Mengapa Anda memilih bentuk media sosial humor dan guyonan?

Kalau saya ditanya mengapa kita memilih akun sosial media ke arah guyonan dan humor padahal masih banyak human interest yang lain karena kita berpikir humor adalah komoditi yang tidak akan habis. Semua orang membutuhkan humor dan hiburan. Setiap hari orang kerja, sekolah, dan kuliah, pasti mereka membutuhkan hiburan.

Kita berusaha untuk mensuplai itu ke semua orang, tapi kita tidak melupakan tanggung jawab kita sebagai warga negara yang baik. Jadi kita tidak hanya sekadar menghibur, tetapi kalau ada pesan-pesan yang wajib disampaikan ke masyarakat Indonesia dari pemerintah atau dari Indonesia untuk Indonesia lagi, kita selalu berusaha menyampaikan ke mereka.

Apa contohnya?

Kemarin saat Hari Pancasila, presiden mengeluarkan video untuk mengajak kita semua merayakannya, itu kita appreciate dan kita ajak orang-orang untuk ikut semangat Pancasila dan bagaimana agar kita bisa memaknai Pancasila. Ada campaign juga tentang Saya Indonesia Saya Pancasila, dimana orang-orang pasang foto mereka di situ dan mengajak yang lainnya untuk ikut juga. Tapi bukan berarti kalau tidak bisa ikutan campaign ini tidak cinta Pancasila, ini hanya untuk meramaikan saja. Kita berusaha tetap menghibur tapi di sisi lain tetap memberikan pesan-pesan yang positif.

Kita pernah juga mengeluarkan campaign yang bernama "Awas itu Hoax" dan itu saat ramai-ramainya berita hoax dimana-mana. Jadi bagaimana kita educate orang-orang tentang masalah hoax tapi dengan cara Dagelan. Akhirnya kita membuat campaign seperti "Kalau cewek diajak makan tapi jawabannya jelas mau kemana, Awas itu Hoax". "Kalau cewek mandinya sebentar, padahal sebenarnya lama, Awas itu Hoax". Jadi kita berusaha educate orang karena masih ada beberapa yang bertanya apa sih hoax itu? Kita juga terus berusaha bagaimana caranya agar orang tidak tertipu oleh hoax.

Anda menyampaikan pesan itu secara humor atau Dagelan, tapi masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang multi etnis dan multi ragam yang tidak semuanya mempunyai sudut pandang humor sama. Bagaimana Anda dan tim mengatasinya?

Mungkin itulah yang membuat kita mempunyai dua channel utama, yaitu Dagelan sebagai media humor dan Infia sebagai media informasi. Seperti yang sudah saya jelaskan sebelumnya bahwa Infia ada beberapa bagian seperti Infia Fact, Infia Health, Infia Tech, Infia Showbiz, dan sebagainya, itu sesuai human interest masing-masing. Kita tidak berusaha untuk menjadi suatu platform atau suatu akun yang berusaha memberikan semua informasi di situ. Jadi kita meminta orang menentukan interest mereka masing-masing. Orang-orang yang suka otomotif, mereka follow Infia Otomotif, orang-orang yang suka berita tentang health, mereka follow Infia Health. Di Infia kita berusaha memberikan informasi dengan cara anak muda dari segi bahasa, illustrasi, dan desainnya.

Anda menggeluti media sosial ini dengan menyebarkan pesan positif lewat metode humor, apakah ini juga bisa menghasilkan pendapatan untuk kita bisa eksis di kehidupan ini?

Alhamdulillah kita sudah lumayan bisa bertahan hidup. Kita mulai usaha ini dari sekitar tujuh orang dan sekarang sudah sekitar 86 orang.

Apakah semua mendapat gaji?

Betul, bukan freelance tapi full time di kantor.

Media sosial bisa juga kita manfaatkan sebagai sumber mata pencaharian penghidupan. Kalau dari sisi lain, apakah memang orang Indonesia itu sangat menyukai humor?

Yang saya lihat dan temui di sosial media, kemudian bertemu dengan banyak orang, rata-rata mereka mencairkan suasana dengan humor. Sejauh ini humor memang tetap bisa diterima dimana saja.

Apakah di akun Dagelan lebih banyak humor yang bersifat politik, kriktik sosial atau hal lainnya?

Humor kita lebih ke kehidupan sehari-hari, daily activity manusia seperti apa, misalnya, bagaimana hubungan antara pria dan wanita (pacaran), dan itu kita buat jokes-nya.

Selain humor-humor mengenai keseharian, Anda dan tim juga mempunyai perhatian kepada hal-hal yang berhubungan dengan kehidupan kita bernegara. Mengapa itu juga menjadi concern Anda?

Mungkin itu kembali lagi ke nilai dasar manusia. Sejak lahir saya tinggal di Indonesia, lalu mengapa saya harus mempertanyakan dukungan saya kepada negara saya sendiri. Jadi kalau ada yang bertanya "Mengapa memilih untuk menyampaikan pesan-pesan yang positif?", maka saya akan balik bertanya, "Apakah ada satu alasan mengapa saya tidak mesti mendukung negara saya tetap berdiri dan tetap berjalan sebagaimana mestinya dan bagaimana persatuan ini tetap bisa dijaga?"

 

Youtube:

https://www.youtube.com/watch?v=4QgueyhVrLk&feature=youtu.be