Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Aditya Percaya

Semangat Mendukung Keragaman

Edisi 1107 | 19 Jun 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita adalah Aditya Percaya, yaitu salah satu pendiri dari komunitas Youth of Indonesia (YOI). Visi kita adalah mengedukasi dan memberdayakan pemuda-pemudi Indonesia melalui persatuan dalam keberagaman.

Menurut Aditya Percaya, kalau kita bisa melihat di masyarakat sedunia, populisme yang sedang hangat bukan populisme yang kita inginkan karena populisme yang hangat sekarang adalah populisme atas dasar suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Populisme bukanlah hal yang buruk, tetapi bisa menjadi hal yang baik juga. Saya juga turut perihatin dengan beberapa keadaan yang memang ada dan terjadi sekarang ini.

Sebetulnya ini juga ada sangkut pautnya dengan mengapa dia berkeinginan untuk membuat sebuah komunitas yang memiliki tiga pilar yaitu nasionalisme, pendidikan, dan pemberdayaan. Kurangnya akses pendidikan ataupun kualitas pendidikan adalah akar berbagai macam masalah dari berbagai sektor di Indonesia, dan termasuk pengakuan serta kesadaran mengenai dasar-dasar negara kita, yaitu Pancasila.

Berikut wawancara Perspektif Baru antara Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Aditya Percaya.

Saya ingin mendapat perspektif Anda secara pribadi mengenai kegiatan Anda di sini. Saya tahu latar belakang Anda banyak berkegiatan di luar negeri karena sekolah di luar negeri dan ayahanda juga berdinas di luar negeri. Apakah kegiatan Anda sekarang di Indonesia selain di YOI?

Saya berterima kasih banyak atas undangan Anda dan Yayasan Perspektif baru. Sebenarnya hari ini saya sangat grogi, bukan karena diwawancara, tetapi karena saya sangat nge-fans dengan Wimar Witoelar.

Kegiatan saya sebetulnya adalah seorang pengusaha. Saya baru saja masuk usaha perikanan dan sebetulnya ingin terjun ke bidang batubara. Selain itu saya juga bisa disebut sebagai aktivis kemanusian karena baru dilantik menjadi Dewan Penasihat Muda Yayasan Cinta Anak Bangsa pada 2016. Jadi saya sangat aktif juga di bidang kemanusiaan.

Bagaimana Anda sebagai seorang pengusaha dan berlatar belakang luar negeri bisa menarik orang dan tertarik dalam bidang kebangsaan?

Sebetulnya saya lama tinggal di luar negeri karena pekerjaan papa sebagai seorang diplomat. Itu membuat saya merasa semakin jauh dari Indonesia maka semakin saya kangen dengan Indonesia. Dari situlah saya memiliki keinginan untuk membalas budi pendiri-pendiri bangsa kita yang sudah susah payah memperjuangkan kemerdekaan kita, dan saya rasa kecintaan itu atau bisa disebut sebagai konsep nasionalisme itu adalah specifically why I love my country.

Iya betul karena you never know how good it is until itís gone. Kalau kita jauh dari Indonesia rata-rata memang lebih sadar. Sekarang yang kita takut kehilangan justru adalah dari segi nasionalisme kita, sebetulnya yang penting adalah pluralisme. Bagaimana sikap Anda mengenai intoleransi dan pluralisme?

Memang kalau kita bisa melihat di masyarakat sedunia, populisme yang sedang hangat bukan populisme yang kita inginkan karena populisme yang hangat sekarang adalah populisme atas dasar suku, agama, ras, dan antar golongan (SARA). Populisme bukanlah hal yang buruk, tetapi bisa menjadi hal yang baik juga. Saya juga turut perihatin dengan beberapa keadaan yang memang ada dan terjadi sekarang ini.

Saya khawatir pihak-pihak yang menggangu toleransi, yang menggangu pluralisme itu sangat teroganisir seperti kita lihat pada Pilkada, bahkan hal tersebut juga sampai ke anak muda dan anak-anak dari orang yang justru pluralis yang cinta keragaman. Bagaimana menurut Anda? Apakah anak mudanya masih bisa dihimpun?

Sebetulnya ini juga ada sangkut pautnya dengan mengapa saya berkeinginan untuk membuat sebuah komunitas yang memiliki tiga pilar yaitu nasionalisme, pendidikan, dan pemberdayaan. Kurangnya akses pendidikan ataupun kualitas pendidikan adalah akar berbagai macam masalah dari berbagai sektor di Indonesia, dan termasuk pengakuan serta kesadaran mengenai dasar-dasar negara kita, yaitu Pancasila.

Betul, Pancasila memang perlu ditekankan lagi karena ancamannya jelas, dan kalau sesuatu sudah terancam tentu kita lebih semangat untuk membelanya. Kita melihat setiap hari ada saja insiden atau kejadian yang membuat kita berpikir mengapa ada orang Indonesia yang tidak peduli dengan orang lain. Sebenarnya hal tersebut sebagian besar karena kebodohan juga. Sejak dulu Indonesia selalu menghargai keragaman dan perbedaan agama, tetapi sayangnya sekarang diarahkan ke arah yang lain. Apakah ada kegiatan yang Anda bisa lakukan untuk menghindari perpecahan lebih lanjut?

Mungkin kita bisa melihat dari salah satu acara di youtube Indonesia yaitu debat. Pertama, target audiensnya adalah anak-anak SMA yang berada di grass roots level dan berbagai macam sektor social classes.

Ketika ada anak yang konservatif diberikan pengertian secara liberal, dia harus mengeluarkan pendapatnya maka nilai-nilai liberalisme akan tertanam pada dirinya walaupun dia sangat konservatif. Mungkin melalui kegiatan-kegiatan positif seperti itulah yang bisa kita lakukan untuk meningkatkan kesadaran.

Jadi sudah jelas Indonesia sedang in trouble soal keragaman. Tadi Anda menggaris bawahi bahwa kita suka tergiur oleh populisme, padahal populisme itu bukan seperti yang terlaksana di Brexit atau Donald Thrump, tetapi kita bisa smart dan populis. Ada yang mengatakan di Indonesia memang orangnya suka berpikir sederhana dan pemikiran liberal itu mungkin terlalu asing. Bagaimana Anda menanggapi hal tersebut?

Menurut saya, itu adalah hal yang wajar karena kalau dipikir-pikir Indonesia masih sebuah demokrasi yang relatif muda dan mungkin konsep-konsep liberal belum bisa dipahami oleh seluruh masyrakat Indonesia. Hal tersebut jelas karena, yang pertama, demokrasi kita masih sangat muda. Kedua, secara geografis Indonesia sangat luas. Jadi penduduknya pun akan mempunyai pendapat yang berbeda.

Dimanakah negara yang sukses menurut Anda, bisa disebutkan salah satu saja?

Itu pertanyaan yang sulit tetapi saya rasa untuk sementara ini adalah Amerika Serikat (AS). Kalau dipikir-pikir demokrasi kita sangat mencontoh AS. Saya merasa nanti Indonesia akan menuju ke arah situ juga, dimana orang akan merasa benar-benar sebagai free person. Itu karena demokrasi di Indonesia masih relatif muda, dan hak asasi manusia juga baru hadir setelah era 98.

Di AS dan Indonesia akhir-akhir ini sering terjadi teror bom. Bagaimana menurut Anda? mengapa hal tersebut bisa terjadi di Indonesia dan kepada siapa kira-kira orang itu marah?

Menurut saya, ketika orang sudah melibatkan ideologi, maka itu akan menjadi susah. Maksudnya, ketika ada orang berdebat mengenai pekerjaan ataupun semacamnya mungkin akan ada ujungnya, tapi ketika orang berdebat mengenai agama ataupun ideologi maka itu akan susah. Jadi hal itu mungkin karena adanya silang pendapat.

Siapa yang ikut serta dalam debat yang Anda selenggarakan? Bagaimana mekanismenya dan apakah memang ada pengalaman menyelenggarakan debat?

Kita ada semacam satuan tugas yang mengerjakan debat itu dan kebetulan person in charge (PIC) nya itu memang background-nya hukum dan dulu juara debat di Mahkamah Konstitusi kalau tidak salah. Dia orang yang sangat berpengalaman dan dilain sisi juga saya dengan Chelsea mengawasi program tersebut.

Pada acara debat itu kita mengincar young voters karena kita harus menyadari bahwa dengan seiringnya waktu generasi millennial lah yang akan mengisi kursi-kursi pejabat atau orang yang berkewajiban sekarang. Kita juga ingin memberi kesempatan kepada semua sekolah dari setiap jenjang sosial dan tidak memandang bulu sama sekali. Jadi pada dasarnya kita lebih mengejar anak-anak SMA sebagai young vouters.

Apakah Anda pernah mendengar bahwa di Indonesia ada partai yang nanti akan ikut Pemilu bernama Partai Solidaritas Indonesia, which is millenials base.

Pernah.

Mereka konsentrasi pada orang muda atau generasi milenial tapi juga menurut info yang saya dapat pengurusnya tidak boleh di atas umur 45. Bagaimana menurut Anda?

I think itís about move untuk generasi milenial sekarang langsung terjun dalam dunia politik.

Apakah Anda tidak ada minat untuk bergabung sebagai pemuda dari partai politik yang sudah ada?

Untuk sementara ini belum.

Apakah ada yang bisa diandalkan dari partai-partai sekarang, dan apakah sistem pemilihan kita masih bisa dipercaya?

Mungkin saya munafik kalau mengatakan bisa dipercaya 100% karena Indonesia adalah demokrasi yang relatif muda dan dengan adanya demokrasi muda ini jelas ada isu-isu seperti money politics dan regulation. But we are on the right track. Jadi saya tidak pesimis dalam arti Indonesia dan sistem pemilihannya yang sekarang mungkin belum bekerja dengan baik tetapi semua itu perlu proses.

Apa visi dan misi dari Youth of Indonesia (YOI)?

Visi kita adalah mengedukasi dan memberdayakan pemuda-pemudi Indonesia melalui persatuan dalam keberagaman.

Misi kita ada tiga. Pertama, untuk mengajak pemuda pemudi Indonesia memahami pentingnya kualitas pendidikan demi kemajuan Indonesia. Kedua, untuk mengasah peran pemuda pemudi Indonesia sebagai agen perubahan, dan ketiga adalah untuk mengingatkan kembali pemuda pemudi Indonesia bahwa persatuan dalam keragaman adalah takdir bangsa Indonesia.

Berapa lama kira-kira Anda mempunyai rencana kerja? Kapan akan mulai action dan kapan diharapkan ada hasilnya?

Sebetulnya kalau saya memandang YOI mirip dengan bisnis karena kita perlu mengujinya sebelum kita benar-benar melaksanakan program-program kita. Sejauh ini kita ada empat program. Pertama, jalan-jalan anak muda jelajah kota tua. Kedua, ada suara anak muda. Ketiga, ada YOI COY.

Apa itu YOI COY?

YOI COY adalah Youth of Indonesia (YOI) Coffee talks to Optimize the Youth (COY). Jadi di sini kita sangat mengutamakan kualitas daripada kuantitas. Program yang pertama mengenai Women Entrepreneurship dan nanti pesertanya akan terbatas yaitu sekitar 15-25 orang sehingga esensinya akan lebih tersampaikan.

Dari mana prinsip-prinsip atau visi yang ada di Youth of Indonesia (YOI) datang dan berapa orang yang ikut menghasilkan itu?

Semuanya ikut serta dalam hal merancang misi kita, tetapi kalau visi lebih khusus kepada Billy (co-founder), Chelsea Islan (Founder), dan saya sendiri (co-founder).

Saya ingin lebih tahu proses kelahirnya genesis dari kelompok ini. Bagaimana prosesnya dari tiga orang bisa lahir sesuatu ide yang sebetulnya sangat penting dan sangat besar?

Cerita singkatnya Billy (co-founder) adalah senior saya sewaktu saya kuliah di Universitas Gadjah Mada (UGM) Fakultas Hukum, sedangkan Chelsea Islan (founder) memang teman saya. Yang mempertemukan kita adalah Billy yang sekarang kerja di Kantor Staf Presiden (KSP).

Pada saat itu Kantor Staf Presiden (KSP) ingin mendapatkan suara dan dana aspirasi anak muda terhadap isu-isu tertentu. Saya diundang dalam kapasitas sebagai angota Dewan Penasihat Muda Yayasan Cinta Anak Bangsa, dan Chelsea juga diundang sebagai seniman muda. Lalu kita bertiga berdiskusi dan memikirkan hal yang sama, kenapa kita tidak membuat hal ini menjadi hal yang berkelanjutan. Kita bertiga memang mempunyai satu visi dan misi ingin membuat komunitas.

Perlu diketahui KSP berada langsung di bawah presiden. Apakah Anda masih percaya bahwa Presiden Indonesia saat ini berada di balik nilai-nilai pluralisme dan nasionalisme karena banyak sekali kalangan yang ingin membelokkan ke arah yang lain?

Masih, karena kalau presiden tidak mempunyai kepercayaan itu jelas kita akan langsung melihatnya terjadi.

Betul, dia tidak bisa bersembunyi lagi. Saya rasa transparasi itu yang kita perlukan. Apakah Youth of Indonesia (YOI) hanya ada di Jakarta saja atau sudah ada juga di tempat lain?

Untuk sementara ini baru di Jakarta.

Dimana kira-kira kota berikutnya yang menjadi sasaran?

Mungkin kota yang banyak pelajarnya seperti Yogyakarta dan Bandung, tetapi untuk sementara ini kita masih try out base beberapa kegiatan positif di Jakarta.

Apakah ada regristrasi anggota atau terbuka saja?

Kita sebetulnya cukup terbuka cuma untuk sekarang ini kita belum merekrut angota-angota baru. Anggota kita sekarang ada sekitar 15 orang.

Bagaimana caranya bila ada orang yang ingin bergabung?

Kita sangat terbuka jika ada orang yang ingin bergabung, tetapi mohon bersabar dulu karena kita ada langkah-langkahnya. Kita tidak mau terburu-buru sehingga hasilnya kurang. Estimasi kita adalah pertengahan tahun atau selambat-lambatnya akhir tahun ini kita sudah siap merekrut angota-angota baru.