Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Chelsea Islan

Inspirasi Chelsea Islan

Edisi 1105 | 05 Jun 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita hari ini adalah Chelsea Islan, seorang seniman, artis film, yang kini menjadi Presiden dari komunitas bernama Youth of Indonesia (YOI).

Chelsea mengatakan bahwa sejak awal dia sangat ingin membuat gerakan untuk anak muda. Dia ingin membuat sebuah wadah atau ruang dimana anak-anak muda bisa menyampaikan dan menyuarakan aspirasi mereka. Dari situlah akhirnya dia dan sahabat-sahabatnya membuat komunitas bernama Youth of Indonesia yang didirikan pada hari Sumpah Pemuda 2016.

YOI berkomitmen untuk mengatasi isu-isu mengenai intoleransi melalui kegiatan-kegiatan positif. Ada beberapa kegiatan yang sudah dirancang seperti jalan-jalan ke Kota Tua bersama anak-anak muda, dan memperkenalkan lagi sejarah Indonesia. Dari Kota Tua banyak sekali sejarah yang mungkin anak muda belum tahu. Dari situ YOI mengingatkan anak-anak muda untuk mencintai dan menghargai budaya Indonesia karena banyak sekali yang sudah melupakan budaya itu sendiri.

Menurut Chelsea, untuk mempertahankan keragaman dan kebhinekaan pastinya anak muda harus terus berpegang teguh kepada Pancasila. Sebagai anak muda dan juga sebagai generasi penerus bangsa, mungkin bisa promote Pancasila, lebih bersatu lagi, dan sangat penting sekali untuk mempertahankan kerukunan dan persaudaraan.

Berikut wawancara Perspektif Baru antara Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Chelsea Islan.

Semua orang sudah tahu Chelsea Islan, dia adalah bintang film yang sangat produktif dalam beberapa tahun ini. Berapa banyak film yang sudah Anda bintangi sejak 2014?

Pertama-tama saya mengucapkan terima kasih kepada Anda dan juga Yayasan Perspektif Baru yang sudah mengundang saya kemari. Kalau mengenai film, saya mulai menggeluti dunia perfilman pada 2013, dan sampai sekarang syukur puji Tuhan sudah ada 10 film.

Apakah Anda suka menonton film Anda sendiri?

Biasanya saya menonton film yang saya bintangi pas premier. Sebenarnya lebih sebagai sebuah kejutan. Jadi kalau filmnya belum tayang, saya tidak bisa menontonnya. Kalau untuk film yang baru-baru ini, saya bisa menontonnya dari YouTube atau DVD.

Apakah ada rekomendasi dua film Anda untuk saya tonton?

Mungkin Anda bisa menonton film "Di Balik 98" dan "3 Srikandi" yang kedua film ini dibuat berdasarkan kisah nyata.

Saya mengikuti review kedua film tersebut dan sangat tertarik karena dalam cerita "3 Srikandi" itu saya mengikuti peristiwanya, apalagi Peristiwa 98 saya sangat mengikuti dan mengalaminya. Apakah Anda sadar sebetulnya peristiwa dari kedua film itu seperti apa? Kita ambil contoh saja film "Di Balik 98".

Jadi sebelum saya ditawari untuk main film "Di Balik 98", jujur saya tidak mengetahui apa-apa mengenai peristiwa itu karena pada waktu 1998 saya masih berumur tiga tahun. Tetapi setelah ditawari film itu akhirnya saya baca-baca buku mengenai Orde Lama, Orde Baru, dan juga Reformasi, serta mengenai rezim Soeharto.

Saya juga bertemu dengan beberapa ex demonstran yang dulu dari Universitas Trisakti. Mereka bercerita mengenai apa yang sebenarnya terjadi pada saat itu dan juga bagaimana perasaan mereka sebagai mahasiswa saat Soeharto masih menjadi presiden. Jadi memang mereka cukup tidak ingin mengenang itu karena itu adalah sebuat "tragedi" menurut mereka, dan di sini mereka juga bercerita banyak mengenai perjuangan mereka sendiri.

Apakah mereka yang Anda temui memang mengalami Peristiwa 1998?

Ya, mereka mengalami dan masih ada di kampus sampai saat ini. Saya bertemu mereka di Kampus Trisakti. Mereka mempunyai Museum Reformasi sampai sekarang yang di dalamnya masih ada tangkai bunga yang mereka dulu pernah berikan kepada para Tentara Nasional Indonesia (TNI), dan juga masih ada jaket almamater yang dulu pernah mereka kenakan. Banyak sekali barang-barang mahasiswa yang tertinggal dan mereka menyimpannya di dalam box.

Bagaimana kesan Anda terhadap Peristiwa 98 tersebut? Who are the bad guys, and who are the good guys? Siapa sebetulnya pelaku jahatnya di Peristiwa 98? Apakah ada sense bahwa hal itu adalah kezaliman, kejahatan, atau hanya orang ribut saja? Bagaimana menurut Anda?

Kalau menurut saya memang itu adalah hal yang besar dan mahasiswanya juga menggebu-gebu, berapi-api, dan berkobar-kobar. Itu karena semangatnya adalah semangat mahasiswa, jadi egonya masih tinggi. Saya di sini membahas dari perspektif mahasiswa saja karena waktu itu saya memerankan mahasiswa, jadi bertemu dengan banyak ex demonstran. Mereka benar-benar ingin sekali presiden turun dari jabatannya karena mungkin mereka melihat bahwa sudah banyak ketidakadilan, korupsi, dan sebagainya.

Kalau menurut saya mungkin ini sebenarnya bukan ada antagonis atau protagonisnya, tetapi lebih dari itu karena saat itu ricuh sekali. Jadi mereka tidak bisa mencari titik tengahnya dan mereka tidak tahu arti damai pada saat itu.

Mengenai bad guys dan good guys, menurut saya, tidak ada karena semuanya satu. Semua mempunyai alasan untuk melakukan itu, bukan hanya dari mahasiswa tetapi pemerintahan dan TNI. Jadi memang ada beberapa angle. Kalau ingin dicari tahu, mungkin setiap sudutnya mereka mempunyai alasan sendiri di balik itu dan mengapa mereka melakukan itu. Tapi pada akhirnya di tengah mereka menjadi bentrok.

Christiane Amanpour, koresponden televisi paling senior dan paling terkenal di dunia, mengatakan bahwa dalam news kita tidak bisa netral. "We can be objective but neutrality is immoral between right and wrong."

Jadi bagus kalau tadi ada sepercik pandangan dari Chelsea sebab dengan cara yang sangat singkat Anda sudah menangkap sense kebenaran dan ketidakbenaran yang ada di Peristiwa 98 karena itu mungkin akan terulang lagi. Saya bukan mau menakut-nakuti tapi peritiwa sebelum May Riots adalah persis sama dengan sekarang.

Saya pernah menjadi Juru Bicara Presiden semasa pemerintahan Gus Dur, dan dia dijatuhkan secara unfair seperti Ahok. Unfairness itu ada dan bisa bangkit lagi karena barangkali orang lupa dengan orang seperti Chelsea dan rekannya, serta dari film bisa membuat orang sadar.

Apa yang membuat Anda memiliki kesadaran politik sampai mendirikan organisasi Youth of Indonesia? Apa motivasinya?

Memang dari awal saya sangat ingin membuat gerakan untuk anak muda. Saya ingin membuat sebuah wadah atau ruang di mana anak-anak muda bisa menyampaikan dan menyuarakan aspirasi mereka. Dari situlah akhirnya saya dan sahabat-sahabat saya membuat komunitas bernama Youth of Indonesia yang kita dirikan pada hari Sumpah Pemuda pada 2016.

Awalnya memang kita ingin berkomitmen untuk mengatasi isu-isu mengenai intoleransi melalui kegiatan-kegiatan positif. Jadi memang ada beberapa kegiatan yang sudah kita rancang seperti kita jalan-jalan ke Kota Tua bersama anak-anak muda, dan kita memperkenalkan lagi sejarah Indonesia. Dari Kota Tua banyak sekali sejarah yang mungkin anak muda belum tahu. Dari situ juga kita mengangkat bahwa kita harus mencintai dan menghargai budaya kita karena banyak sekali yang sudah melupakan budaya itu sendiri.

Apakah Youth of Indonesia ini berkerja sama dengan media? Apakah kegiatannya diliput oleh media?

Untuk saat ini belum karena memang kita independen dan saya pikir bahwa sebagai komunitas memang awalnya harus kita-kita dulu saja. Saya tidak ingin dibilang terlalu menggebu-gebu. Jadi ingin kerja nyata dulu, ada hal yang kita lakukan secara positif dan secara nyata, sehingga orang bisa melihat secara sendirinya.

Apa status Chelsea di dalam Youth of Indonesia (YOI)?

Saya salah satu Co-founder dan juga Presiden YOI.

Apa yang direncanakan dalam waktu dekat dan jangka menengah dalam komunitas ini?

Dalam komunitas kita ada beberapa program seperti yang kemarin sudah kita lakukan yaitu jalan-jalan di Kota Tua. Selanjutnya kita akan mengadakan debat. Debat akan diadakan di Universitas Indonesia (UI), dan kita ingin mengangkat hal-hal yang berkaitan dengan isu-isu yang sedang terjadi sekarang.

Apakah termasuk intoleransi?

Betul, jadi memang kita ingin lebih menjunjung tinggi kerukunan dan persaudaraan. Sebagai anak muda, kita harus bersatu dan menyuarakan kedamaian. Jadi dari debat itu mudah-mudahan kita bisa empower the youth. Dari situ kita bisa bertukar pikiran dengan satu sama lain, dan dari debat itu kita juga bisa melihat aspirasi mereka dalam berdebat, pikiran mereka mengenai bangsa ini seperti apa. Dari situ kita ingin membuat banyak program yang bisa memperdayakan pemuda-pemudi Indonesia.

Apa visi dan misi dari Youth of Indonesia?

Visi dari Youth of Indonesia adalah mengedukasi dan memberdayakan pemuda-pemudi Indonesia melalui persatuan dalam keragaman. Sedangkan misi dari Youth of Indonesia adalah mengajak pemuda-pemudi Indonesia untuk memahami pentingnya kualitas pendidikan demi kemajuan Indonesia, dan juga untuk mengasah peran pemuda-pemudi Indonesia sebagai agen perubahan. Lalu, untuk mengingatkan kembali kepada pemuda-pemudi Indonesia bahwa persatuan dalam keragaman adalah takdir bangsa Indonesia.

Saya khawatir sekali dengan keadaan kita sekarang karena saya berpengalaman sekian kali melihat negara ini mau hancur. Sekarang kehancurannya bisa lebih parah karena bukan hanya orangnya yang diganti tetapi ganti ideologi dan bisa menimbulkan benteng-benteng permusuhan. Saya sangat salut dan mendukung bahwa ada perhatian khusus pada isu keragaman.

Menurut Anda, di kalangan anak muda khususnya kalangan artis, kalau di Hollywood mereka itu liberal dan keren, apakah di sini ada atau tidak kesadaran di kalangan dunia seni peran terhadap masalah kenegaraan yang kita hadapi?

Sebenarnya banyak sekali yang memiliki pemikiran sama seperti kami yang ada di sini. Banyak sekali aktor dan aktris senior yang sangat peduli dengan yang terjadi sekarang di Indonesia. Itu bisa dilihat dari media sosial meraka bahwa mereka menyuarakan aspirasi mereka dan sangat concern terhadap hal tersebut. Begitu juga dengan crew film dan pekerja film lainnya seperti seniman. Menurut saya, seniman itu dalam membicarakan politik justru lebih sering karena mereka lebih concern dan lebih peduli.

Tapi yang mereka bicarakan adalah mengenai dasar-dasarnya dan bukan mengenai partai-partai.

Betul.

Itu karena kalau keragaman hilang maka yang akan lebih cepat dimatikan lebih dulu adalah dunia kreatif, dan kalau ada dominasi etnis, maka agama akan hilang. Afganistan dulu terbuka, tetapi saat Taliban berkuasa menjadi mati dan orang-orangnya kabur semua.

Bagaimana menurut Anda untuk jalan ke depannya? Apakah kita masih bisa mengharapkan ada kesadaran dan dukungan lebih tinggi? Darimana dukungan itu kira-kira ada untuk mempertahankan keragaman ini?

Menurut saya, untuk mempertahankan keragaman dan kebhinekaan pastinya kita harus terus berpegang teguh kepada Pancasila. Sebagai anak muda mungkin kita bisa promote Pancasila, kita bisa lebih bersatu lagi, dan sangat penting sekali untuk mempertahankan kerukunan dan persaudaraan sebagai anak muda dan juga sebagai generasi penerus bangsa.

Apakah sekarang orang tidak skeptis terhadap orang yang aktif politik, atau orang mau juga semangat untuk mempertahankan keadaan yang selama ini?

Sebenarnya saya percaya bahwa dari berbagai bidang walaupun mereka tidak termasuk di politik, tidak menjalankan sehari-hari mereka di bidang politik, tapi mereka juga memiliki pandangan yang sama seperti kita yang khawatir dan peduli. Saya yakin bahwa banyak sekali orang di luar sana yang juga ingin memajukan Indonesia, ingin membangun Indonesia, dan ingin memperbaharui serta ingin memperbaiki lagi ke depannya. Saya yakin di luar sana banyak sekali yang ingin menyuarakan suara mereka, opini mereka, atau aspirasi mereka tetapi tidak mempunyai forum, tidak mempunyai tempat untuk mereka bisa mengekspos freedom of speech atau freedom of expression mereka.