Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Tsamara Amany

We Must Do Something

Edisi 1103 | 22 Mei 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Isu paling penting kita hadapi sekarang adalah mundurnya pluralisme atau mundurnya dukungan negara terhadap pluralisme, dan terancamnya Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Narasumber yang kami undang adalah orang yang menurut kami paling tepat, dia adalah seorang dari generasi muda tetapi sudah menjadi ketua partai yaitu Tsamara Amany Alatas. Dia belum lama masuk menjadi pengurus Partai Solidaritas Indonesia (PSI) yang temanya adalah partai anak muda, millennials.

Tsamara Amany mengatakan Indonesia adalah rumah kita bersama. Indonesia rumah bagi keberagaman kita, dan itu tidak boleh dikoyak-koyak. Kita harus jaga bersama, kita harus tetap bersatu, dan anggap saja kita ada dalam satu kapal untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tetap menjadi NKRI dan tidak terpecah belah.

Kondisi saat ini mungkin semacam wake up call agar kita harus berani menunjukkan diri dan keluar untuk berbicara lantang bahwa ini negara kita yang beragam. We Must Do Something. Kita tidak bisa terus diam saja dengan situasi seperti ini.

Menurut Tsamara, kesalahan berpikir banyak orang yang menganggap negara itu pemerintah dan selalu hanya pemerintah, dan tanggung jawab sesuatu itu hanya pada pemerintah. Jadi kalau kita merasa pemerintah melakukan sesuatu yang tidak baik maka kita menyalahkan negara dan kita membebankan semuanya ke pemerintah. Padahal dalam bernegara itu kita tidak harus mengandalkan pemerintah saja, kita harus mengandalkan diri kita juga untuk berbuat sesuatu.

Berikut wawancara Perspektif Baru antara Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Tsamara Amany Alatas.

Sekarang Tsamara sudah mulai terkenal sebagai orang yang diharapkan dalam generasi Indonesia sekarang. Dia memiliki keturunan dari Hadhramaut (Yaman) dekat Saudi Arabia. Bagi kita dia adalah native, nationalism, yang keturunannya dari Hadhramaut. Tidak ada yang lebih bagus antara satu dan yang lain karena semuanya sama. Negara kita itu dari semua latar belakang, semua keturunan, semua agama, tidak mau membedakan-bedakan karena didasari oleh UUD 1945 dan Pancasila.

Apa yang Anda lihat sebagai tantangan terbesar kira-kira seminggu setelah Basuki Tjahaja Purnama masuk penjara untuk dua tahun?

Tantangan terbesar menurut saya yang harus dilakukan adalah kita semakin bersatu. Kita juga jangan terus-terusan mengungkapkan kemarahan dan kesedihan serta kekecewaan. Sebenarnya itu wajar tetapi kita harus tetap bersatu. Mungkin ini adalah momentum bagi kita untuk bersatu dan sadar bahwa Indonesia adalah rumah kita bersama. Indonesia rumah bagi keberagaman kita, dan itu tidak boleh dikoyak-koyak. Kita harus jaga bersama, kita harus tetap bersatu, dan anggap saja kita ada dalam satu kapal untuk menjaga Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) agar tetap menjadi NKRI dan tidak terpecah belah.

Betul, kita sebetulnya harus bersyukur bahwa dibalik kegelapan ada terang, bahwa ternyata orang yang peduli terhadap NKRI masih banyak dan bersemangat. Salah satun contohnya adalah aksi yang dilakukan untuk Ahok, yaitu aksi bunga dan aksi lilin. Apakah itu sebetulnya adalah satu hal yang mengejutkan atau Tsamara sudah menduga reaksinya akan seperti itu?

Yang mereka rasakan sebenarnya rasa cinta terhadap negerinya, mereka cinta dengan Indonesia. Ini sama seperti di Amerika Serikat (AS) ketika Donald Trump terpilih, banyak orang yang tumpah ruah ke jalan. Alasannya sederhana yaitu karena mereka cinta dengan negerinya, mereka tidak mau negerinya kenapa-kenapa, mereka mau agar negerinya tetap bersatu.

Sama halnya dengan di sini ketika semua orang pergi ke jalan-jalan dan berdoa. Aksinya sebenarnya cukup damai yaitu berdoa. Alasan dibalik semua itu adalah sama, yaitu mereka semua ingin menjaga NKRI, ingin NKRI tetap damai dan tidak terjadi apa-apa. Jangan sampai perjuangan yang telah ada untuk mencapai kemerdekaan dan menyatukan kita sebagai NKRI menjadi sia-sia, misalnya oleh urusan-urusan yang tidak perlu diperdebatkan lagi pada era saat ini. Kita memang sudah di anugerahkan oleh Allah menjadi bangsa yang plural dan memang harus kita terima keberkahan itu.

Mungkin di AS ada rasa penyesalan juga mengapa Trump bisa terpilih. Di sini juga mengapa orang-orang yang disanksikan loyalitasnya bisa menang di pemilihan kepala daerah (Pilkada). Di AS, Trump menang di electoral college. Di sini Anies-Sandy menang di pemilunya, tetapi secara moral menurut saya belum tentu mereka menang. Jadi sebenarnya kita itu sangat kompak dan bersatu. Apakah itu bisa menjadi satu tema yang bisa kita pakai untuk menggalang persatuan lebih lanjut?

Ini mungkin semacam wake up call. Jadi orang sadar bahwa mungkin kita selama ini merasa tidak ada apa-apa dengan NKRI, tetapi kita menjadi sadar dan merasa bahwa jangan-jangan akan ada apa-apa di negara kita ini. Mungkin kita harus berani menunjukkan diri dan keluar untuk berbicara lantang bahwa ini negara kita yang beragam.

Kita apresiasi Nahdlatul Ulama (NU). Misalnya, kemarin saya melihat salah satu pidato dari Gus Yaqut (Ketua Umum GP Ansor) di Bandung yang mengatakan bahwa NKRI harga mati, dan kita akan menjaga NKRI.

Jadi mungkin ini sudah momennya semua orang sadar. Momennya semua orang bersatu. NU dan Muhammadiyah serta seluruh bagian masyarakat dengan berbagai komponen agama bersatu. Kita juga harus sadar bahwa ini adalah tugas kita bersama untuk menjaga NKRI. Ini bukan hanya tugas pemerintah, apalagi tugasnya Presiden Joko Widodo (Jokowi), tetapi ini adalah tugas kita semua.

Pemerintah sebenarnya harus dibantu. Banyak orang yang tidak membela Jokowi dan pemerintahannya karena banyak orang yang bingung bersikap. Dia berpikir dan merasa bahwa NKRI akan selalu ada selamanya. Namun sebenarnya tidak seperti itu jika tidak dibela.

Tsamara adalah ketua partai dan saya pendukung partai itu walau tidak mau dibilang anggotanya. Saya pun juga sangat menganjurkan orang untuk mendukung partai karena pada akhirnya perjuangan itu harus ada wadahnya. Apakah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) sudah siap untuk memperjuangkan NKRI dengan cara sekarang?

Iya, saya rasa itu sama seperti kata-kata Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama (Banser NU) yaitu NU itu harga mati. NU juga harga mati untuk PSI.

PSI mempunyai komitmen yang jelas melawan intoleransi, menjaga NKRI, dan mempunyai komitmen yang jelas bahwa keberagaman adalah anugerah bagi kita, dan harus terus kita jaga. PSI juga komitmen memberantas korupsi karena sama-sama intoleransi yaitu intoleransi ekonomi. Itu jelas tidak pelu diragukan lagi.

Kader-kader kita adalah anak-anak muda yang tidak mempunyai kepentingan masa lalu, track record yang buruk atau terikat oleh kepentingan-kepentingan masa lalu, dan semangatnya adalah semangat perubahan. Itu karena yang kita bawa adalah semangat perubahan. Kita pasti juga akan all out untuk mempertahankan apa yang menurut kita benar dan yang menurut prinsip kita benar.

Saya kagum terhadap Tsamara karena kata-kata yang sangat matang itu bisa lahir dari orang yang sangat muda seperti dia. Kapan Anda menjadi sensitif bahaya-bahaya terhadap NKRI dan bahaya dari intoleransi?

Saya rasa ini sudah dari sejak 2014. Sebenarnya saya justru lebih prihatin melihat Jokowi karena menurut saya Jokowi adalah seorang muslim Jawa yang cukup agamais. Beberapa kali saya melihat dan mengobrol dengan beberapa orang di sekitarnya, menurut mereka, Jokowi adalah orang yang sholat lima waktu dan ibunya suka datang ke pengajian-pengajian. Artinya, apalagi yang mau diragukan dari keislaman Jokowi.

Kita juga tidak bisa menilai keIslaman Jokowi karena hanya Allah yang tahu. Tapi kenapa masih diserang dengan isu-isu yang menurut saya kadang-kadang tidak bisa kita terima dengan akal sehat kita. Misalnya, dengan isu Chinese, kemudian isu bahwa dia itu komunis, tidak beragama, kadang-kadang juga dibilang nama hajinya adalah Herbertus dan sebagainya.

Bagi saya, ini tidak masuk akal. Akal sehat saya tidak bisa menerima dan menurut saya dari situlah kita mungkin berada di area yang sama dengan Trump yaitu era post-truth. Ketika orang justru mempercayai apa yang ingin dia percayai, bukan yang harus dia percayai. Di situlah saya mulai khawatir karena bagaimana kalau seorang yang sudah bekerja sekeras Jokowi dan juga seorang yang mayoritas, tapi masih juga diserang dengan isu-isu yang sama. Saya mulai sensitif dan mulai merasa sebenarnya ini bukanlah masalah agama, mungkin ini lebih ke urusan kekuasaan karena kalau misalnya ini urusannya mengenai agama mengapa Jokowi menjadi sasarannya.

Ada beberapa orang yang berpesta pora merayakan Ahok masuk penjara dan itu bukan orang dari golongan Islam. Mereka berasal dari berbagai golongan yang merasa senang dengan peristiwa itu karena mereka dari paket kekuasaan. Saya kira yang berkerja sama adalah dari kelompok ekstrim, intoleran, tapi juga kepentingan dan uang. Namun perjuangan PSI dan Tsamara adalah perjuangan saya juga.

Saya ingin itu menjadi perjuangan kita semua karena memang kita perlu semua orang sadar. Mungkin juga bisa dikatakan bahwa beban terberatnya adalah membuat orang sadar bahwa ini urusan semua orang bukan hanya urusan ketua partai atau urusan orang publik, tapi urusan kita semua.

Apakah tingkat ketidaktahuan atau ketidakacuhan Anda yang dari kalangan millennial masih bisa dibangkitkan? Bagaimana menurut Anda?

Bisa. Saya pernah bertemu dengan beberapa anak muda yang masih di bawah umur saya yaitu masih 18 tahun. Mereka bertanya kepada saya, "Apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga Indonesia?" Ini tandanya di kalangan anak muda sudah mulai ada kesadaran bahwa We Must Do Something. Kita tidak bisa terus diam saja dengan situasi seperti ini. Momentum kesadaran ini harus dimanfaatkan dan harus ada wadah.

PSI sebenarnya sebagai wadah anak muda. Mungkin bagi mereka yang belum siap untuk terjun langsung ke politik dan menjadi kader bisa bersama-sama dalam perjuangan dengan kita, setidaknya ada kita yang membantu kalian. Saya percaya kalau anak muda sudah berpikiran seperti itu dan sudah merasa bahwa ini adalah perjuangan kita bersama, maka akan sulit untuk mengkoyak-koyak NKRI ini. Apalagi ormas Islam terbesar yaitu NU yang anggotanya sampai 130 juta percaya bahwa Islam kita yang moderat ini justru menjadi kekuatan untuk menjaga NKRI dan tidak akan mengacaukan NKRI.

Mungkin kata-kata yang diucapkan Tsamara sangat cocok untuk menjadi judul wawancara ini "We Must Do Something". Jadi kita harus berbuat sesuatu. Jangan hanya berhenti pada orang dan jangan berkeluh kesah karena mayoritas masih di tangan orang baik.

Saya rasa kita juga tidak perlu sampai merasa mau pindah negara, itu sudah terlalu jauh. Kita juga harus sadar bahwa negara ini tidak akan baik dengan kita tinggalkan, negara ini akan baik kalau kita mau berkontribusi. Negara ini butuh kita. Apa jadinya kalau kita tinggalkan? Jadi Pancasila dan NKRI harus dijaga. Orang-orang yang pesimis seperti itu jangan pesimis lagi, suara-suara optimis dari silent majority sudah mulai datang dan bangun. Mereka yang tadinya diam sudah tidak diam lagi karena mereka merasa ini negara mereka.

Orang harus ingat Presiden John F. Kennedy, Presiden AS pada 1961-63 berpidato yang kata-katanya sangat terkenal walaupun dia ambil dari orang lain juga yaitu, "Ask not what your country can do for you, ask what you can do for your country." Jadi kalau kita tidak berbuat untuk negara, mengapa juga negara kita harus harapkan.

Inilah kesalahan berpikir banyak orang yang menganggap negara itu pemerintah dan selalu hanya pemerintah, dan tanggung jawab sesuatu itu hanya pada pemerintah. Jadi kalau kita merasa pemerintah melakukan sesuatu yang tidak baik maka kita menyalahkan negara dan kita membebankan semuanya ke pemerintah. Padahal dalam bernegara itu kita tidak harus mengandalkan pemerintah saja, kita harus mengandalkan diri kita juga untuk berbuat sesuatu.

Misalnya pada zaman Soeharto, pemerintahnya diktaktor dan sewenang-wenang. Lalu, apakah kita kemudian merasa negara tidak adil dan kemudian harus pindah? Tentu tidak seperti itu. Kita harus perjuangkan negara kita seperti aktivis 1998 yang juga melakukan itu. Mereka memperjuangkan negara mereka dan menjatuhkan rezim diktaktor Soeharto, kemudian kita mendapatkan rezim yang demokratis sampai saat ini. Jadi yang kita perjuangkan adalah negara kita, jangan kita bebankan dan merasa bahwa semua adalah tanggung jawab pemerintah kita.

Sekarang ini memang saya senang sekali PSI ada di situ. Melalui kesempatan ini saya dan kawan-kawan berjanji akan menyumbangkan tenaga semampu kami dan sesuai yang diizinkan karena setiap orang punya konstituen. Kalau kita tidak mengurus negara, mengapa kita harus mengharapakan negara mengurus kita. Mengurus negara itu kalau dalam bentuk formalnya adalah mendukung partai. Apakah PSI akan ikut Pemilu atau tidak?

Kita sudah lolos verifikasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemnenkum HAM). Jadi kita sudah menjadi partai politik yang lolos dan kita adalah satu-satunya partai politik yang lolos verifikasi Kemenkum HAM. Kita sudah terbentuk sampai ke provinsi, bahkan sudah ada beberapa daerah yang mau membuat ranting seperti di Kalimantan.

Saat ini kita sedang menunggu verifikasi Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan itu bukan hanya akan diikuti oleh kita tapi diikuti oleh semua partai politik. Kita cukup optimis akan lolos dari verifikasi itu dan ikut Pemilu, apalagi sekarang sudah tujuh fraksi di DPR yang setuju bahwa Presidential Threshold atau ambang batas perolehan suara minimal Parpol dalam Pemilu bisa mengajukan calon presiden menjadi 0%.

Apakah berarti itu semua mayoritas?

Iya, hampir mayoritas. Kita berharap itu betul karena kalau sudah tidak ada ambang batas presiden, koalisi yang terbentuk menjadi lebih ideologis. Kita mungkin bisa berkoalisi dengan partai-partai yang jelas mempunyai sikap nasionalisme, Islam moderat, dan sebagainya yang mempunyai komitmen terhadap pluralisme juga. Misalnya saja mengusung salah satu presiden. Kalau PSI sudah mendeklarasikan suara ke Jokowi, tapi tetap penting untuk membangun koalisi ideologis.

Itu bagus sekali supaya orang tahu sedang diperkuat sebab kalau ada kelompok nyata yang mendukung maka seorang calon itu kuat.

Iya, kami sudah menyampaikan dukungan ke Jokowi. Koalisi itu dibentuk atas dasar ideologi. Menurut saya, kurang tepat kalau ambang batas presiden selesai dengan Pemilihan Legislatif (Pileg), apalagi sekarang Pileg dan Pemilihan Presiden (Pilpres) sudah serempak. Kalau itu berbeda, nanti terjadi prasangka-prasangka bahwa ini karena presentasi besar terjadi seperti politik dagang sapi dan sebagainya. Tapi dengan dimulainya koalisi sebelum Pileg dan Pilpres tentunya yang dijadikan dasar adalah kesamaan ideologi antar partai politik tersebut.

Saya baru dengar bahwa PSI yang memelopori atau salah satu pelopor Presidential Threshold 0%. Apakah itu sudah di setujui juga oleh ketujuh fraksi, dan berapa jumlah fraksi di DPR?

Ada 10 fraksi, tapi yang sudah setuju dengan 0% ada 7 fraksi. Saya rasa itu penting karena dengan seperti ini maka PSI menjadi lebih bersemangat karena kita juga melihat negara-negara lain yang sangat menginspirasi. Misalnya, partai di Hongkong yang 38 anak mudanya terpilih masuk parlemen dan yang lebih menyemangati kita di PSI adalah terpilihnya Emmanuel Macron dengan partai En Marche! En Marche! adalah partai baru dan Macron adalah presiden termuda di Perancis dengan usia 39 tahun.

Jadi kita melihat mungkin dunia butuh kebaruan. Indonesia pun butuh kebaruan. Mungkin Indonesia juga sudah lelah dengan cerita-cerita lama. Jadi kita dari PSI menawarkan cerita baru dimana anak-anak muda yang maju dan memperjuangkan nilai-nilai dan prisnsip-prisnsip yang tegas seperti toleransi, anti korupsi, dan sebagainya.

Jadi mungkin orang-orang juga melihat kita sebagai harapan baru dan kita ingin menjaga momentum harapan ini. Kita tentuanya tidak mau sendiri, kita ingin berjuang bersama anak-anak muda lainnya karena membangun satu negara tidak bisa hanya PSI sendiri, tapi harus banyak dukungan dari masyarakat luas supaya negara menjadi semakin baik.

Negaranya adalah negara semua orang juga. Mungkin yang membuat suasana sumpek adalah orang lama di Indonesia yang kebanyakan adalah orang dari Orde Baru dan itu adalah penyakit yang belum diberantas.

PSI adalah anak sah reformasi.

Betul, tidak peduli kalau secara biologis orang tua kita adalah jenderal Orde Baru maka itu tidak apa-apa, kita adalah orang yang mandiri. Namun orang yang berambisi terlihat banyak yang sudah tidak layak. Ada yang mengatakan Donald Trump berumur 70 dan Duterte juga berumur 70. Apakah kita mau presiden yang seperti itu juga?

Tidak, dan kenapa kita tidak mengambil Perancis sebagai contoh.

Itu yang memberikan saya optimisme. Jadi sebagai Ketua PSI bidang hubungan eksternal maka suara Anda juga perlu dikenal oleh luar negeri karena mereka banyak yang kecewa. Kalau kita melihat liputan kantor berita internasional terhadap peristiwa Ahok sangat negatif sekali untuk Indonesia. Sebenarnya itu boleh saja, tapi mereka belum melihat positifnya mengenai alternatif yang akan muncul.

Saya rasa dunia internasional kalau mau melihat lebih jeli lagi adalah ini momentum bahwa kita semua bersatu, anak-anak muda bersatu, sehingga membangkitkan semangat anak-anak muda. Terakhir kali kita melihat anak-anak muda seperti ini mungkin pada 1998. Ketika banyak mahasiswa dan anak muda khususnya generasi milenial lebih banyak yang diributkan dengan prasangka-prasangka seperti mereka apatis politik, jangan-jangan situasi seperti ini membangkitkan mereka untuk semakin tertarik ke politik karena mereka merasa ini negara saya, saya merasa terganggu kalau seperti ini. Jadi jangan khawatir karena mungkin ini adalah kebangkitan anak muda Indoneisa.

Ya mudah-mudahan begitu. Dari ingatan saya memang anak muda juga yang menjadi pelopor semangat pada perjuangan 1966. Mereka adalah anak buah orang tua, anak buah partai, dan anak buah tentara. Jadi yang independen hanya sedikit dan akhirnya tersingkir. Mudah-mudahan kita akan terhindar dari hal itu. Apakah verifikasi KPU di daerah perlu banyak nama orang?

Sampai sekarang kita terus optimis lolos verifikasi KPU karena sudah cukup semua persyaratannya. Misalnya di Kalimantan tengah, kader kita sudah mencapai 1.000 orang, jadi total pengurus PSI di seluruh daerah sudah hampir 25.000. Kalau tidak salah, anggota kader sudah mencapai sekitar 200.000-an, jadi kita sudah cukup optimis.