Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

PM Susbandono

Faktor Sukses Itu Kerja Keras

Edisi 1101 | 05 Mei 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu kita kali ini Susbandono. Saya sangat hargai kedatangannya karena kami dulu sama-sama di Institut Teknologi Bandung (ITB). Waktu itu dia sebagai mahasiswa dan saya sebagai pengajar. Namun kesuksesannya dalam karir jauh melebihi saya. Dia sukses dalam bidang yang sangat spesifik yaitu Human Resource Development. Jadi dia ingin berbagi catatan mengenai Human Resource tersebut.

Susbandono mengatakan faktor sukses hari ini adalah kerja keras. Itu yang menjadi nomor satu, kemudian nomor dua adalah kerja keras, dan nomor tiga adalah kerja keras.

Susbandono mempunyai seorang teman yang hanya lulus SMA, tapi hari ini dia menjadi salah satu founding dan pernah menjadi CEO di sebuah perusahaan engineering besar di Indonesia. Dia lulusan SMA. Dia selalu konsisten satu tahun naik kelas dan satu tahun lagi tidak naik kelas, begitu terus secara bergantian. Dia kebetulan berasal dari keluarga miskin, tetapi setelah lulus SMA yaitu terjadi 40 tahun lalu, dengan kerja keras sangat tinggi dan mungkin faktor-faktor keluarga yang mendukungnya maka dia sekarang menjadi orang yang sukses besar.

Kalau seorang lulusan SMA yang kerja keras pun bisa sukses, tukang becak sekalipun bisa sukses, maka Anda yang mempunyai degree atau sertifikat, atau ijazah S1 ITB, S2 ITB, atau S3 apapun dan dari manapun, Anda tentunya harus bisa lebih sukses bila Anda menyertainya dengan kerja keras.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber PM Subandono.

Susbandono adalah insinyur teknik industri yang setelah beberapa tahun meningkat dari keinsinyuran teknik menjadi seorang Human Resources Development (HRD) Manager. Saya senang melihat HRD Manager yang sukses karena kami juga ada perusahaan kecil di sini. Kami mengandalkan perkembangan kami pada Human Resource.

Apakah ada penyesuain yang diperlukan dengan adanya resource pool baru yaitu adanya millenial generation sekarang, dan adanya manager yang senior seperti Anda, serta saya yang bukan millenial generation?

Senang sekali saya bisa bertemu dengan Wimar Witoelar karena mungkin sudah 30 tahun kami bersama-sama pada waktu itu, dan sekarang pada posisi yang berbeda. Namun kami mempunyai satu tujuan yang sama untuk kejayaan bangsa Indonesia.

Kembali ke masalah Human Resources Development, sebetulnya saya memulai karir tidak di bidang Human Resources, saya seorang engineer, saya seorang yang berkerja di bidang technical selama 15 tahun dari karir saya. Cukup lama, sebelum kemudian saya pura-pura kuliah di UI Fakultas Psikologi dan saya mendapat Master Degree dalam bidang Psikologi Industri dan Organisasi.

Saya tidak pernah tahu bahwa Anda, selain sarjana teknik industri, juga mempunyai Master Degree dalam bidang Psikologi.

Ya, itu memang saya sembunyikan karena memang tidak banyak artinya untuk karir saya kemudian. Apalagi sekarang, menurut saya, karir ataupun gelar itu menjadi tidak berarti bila saya atau kami atau Anda semua tidak bisa menggunakannya dengan sepenuhnya.

Apakah berarti Anda tidak merekomendasikan orang untuk mencari gelar S2?

Itu yang bisa menjadi jebakan karena beberapa kali saya memberikan contoh kepada anak-anak saya, atau anak buah saya, atau teman-teman muda saya bahwa sekolah zaman sekarang tidak menjadi faktor pokok lagi untuk menjadi sukses. Kalau 30 sampai 40 tahun lalu seseorang muda yang lulus ITB seolah mendapatkan tiket menuju ke surga. Hari ini tiket atau lulus dari ITB, atau Universitas Indonesia (UI) atau universitas terkenal manapun bahkan di dunia tidak ada jaminan mendapatkan tiket untuk sukses.

Apa faktor untuk sukses sekarang kalau ijazah atau pendidikan bukan prioritasnya?

Faktor sukses hari ini adalah kerja keras. Itu yang menjadi nomor satu, kemudian nomor dua adalah kerja keras, dan nomor tiga adalah kerja keras.

Ya, dulu Bob Hasan mengatakan juga seperti itu. Namun kalau saya melihat tukang becak juga kerja keras, tapi mengapa dia tidak kaya kaya?

Tukang becak memang tidak kaya, tapi belum tentu tidak sukses. Tadi saya bicara bahwa kunci sukses adalah kerja keras.

Saya mempunyai seorang teman yang hanya lulus SMA, tapi hari ini dia menjadi salah satu founding dan pernah menjadi CEO di sebuah perusahaan engineering besar di Indonesia. Dia lulusan SMA dan kami suka menjulukinya dengan sebutan Mbilung. Mbilung adalah tokoh punakawan di wayang yang bodoh dan jelek, seperti itulah dia ketika SMA.

Dia selalu konsisten satu tahun naik kelas dan satu tahun lagi tidak naik kelas, begitu terus secara bergantian. Dia kebetulan berasal dari keluarga miskin, tetapi setelah lulus SMA yaitu terjadi 40 tahun lalu, dengan kerja keras yang sangat tinggi dan mungkin faktor-faktor keluarga yang mendukungnya maka dia sekarang menjadi orang yang sukses besar.

Saya ingin juga menceritakan bahwa pada suatu hari dan pada satu malam teman saya tersebut menginap di sebuah hotel di Semarang, yaitu di kamar Junior Suite Room. Dia tidak bisa tidur karena ada masalah dengan perusahaannya di Jakarta. Saya tidak tahu persis apa masalahnya. Kemudian untuk mengisi waktu dia turun dari kamar hotel dan sesampainya di depan hotel dia melihat ada 2 - 3 becak yang parkir.

Malam itu sudah jam 12-an malam dimana di dalam becak tersebut ada tukang becak yang meringkuk tidur dengan berselimutkan sarung dan dikerubuti oleh belasan nyamuk. Saat itu dia mendengar suara dengkur tukang becak yang tertidur nyenyak. Saya mengatakan tadi tukang becak belum tentu tidak sukses. Dalam hal ini teman saya yang sangat sukses itu merasa tidak sukses dibandingkan dengan tukang becak dalam hal tidur nyenyak.

Apakah tidak sukses yang dimaksud dalam hal ini adalah happiness atau kebahagiaan?

Ya, dalam hal happiness. Dia kemudian bertanya kepada saya melalui email karena kami sering chatting pada waktu itu. Dia mengatakan, "Bro, apa sih yang tidak bisa saya beli?" Junior Suite Room yang dingin karena ber-AC dan kasur yang empuk dia bisa beli, tapi dia tidak bisa beli tidur nyenyak. Tukang becak yang tidak bisa beli kamar hotel tapi dia bisa tidur nyenyak. Pada saat titik itu tukang becak lebih sukses dari pada dia.

Apakah bisa dipraktekan dalam kehidupan modern? Karena tadi yang Anda ceritakan kedengarannya seperti cerita rakyat atau suatu legenda. Apakah di situ juga berlaku bahwa orang tidak perlu pendidikan?

Bukan dibaca seperti itu, tapi dibacanya adalah kalau seorang lulusan SMA yang kerja keras pun bisa sukses, tukang becak sekalipun bisa sukses, maka Anda yang mempunyai degree atau sertifikat, atau ijazah S1 ITB, S2 ITB, atau S3 apapun dan dari manapun, Anda tentunya harus bisa lebih sukses bila Anda menyertainya dengan kerja keras.

Saya mengerti. Jadi sekarang pasaran tenaga kerja sudah kompetitif dan banyak orang yang memiliki kualifikasi yang kira-kira sama sehingga pembedanya adalah kerja keras. Apakah ada gejala bahwa orang itu menurun kecenderungannya untuk kerja keras?

Saya melihatnya seperti itu. Sebagai contoh adalah waktu saya masih muda dan saya sebagai engineer, saya tidak enggan untuk turun menangani sebuah kompresor yang sedang rusak, saya harus membuka kembali sekat skrupnya, saya harus mengencangkan, mengganti oli dan sebagainya, bahasa inggrisnya mungkin disebut hands on meskipun itu sebetulnya bukan tuntutan pekerjaan saya.

Hari ini jarang sekali ada anak muda terutama yang berpredikat engineer untuk hands on dengan pekerjaannya. Dia selalu disibukkan dengan laptopnya, dengan komputernya dan dalihnya adalah sedang mengerjakan sesuatu yang pekerjaannya sangat strategis, suatu maintenance program yang sangat canggih, suatu maintenance program yang bisa mengefisienkan kerja dari mesin itu daripada saya harus melakukan hands on sendiri terhadap mesin itu.

Apakah dengan bersikap hands on itu dianggap kurang menarik sekarang?

Kurang menarik dan memang pada umumnya orang lebih tertarik pada hal-hal bersih yang white colour dan tidak menyukai hal-hal yang sifatnya turun langsung.

Ada beberapa perusahaan yang sangat menekankan hands on ini, kebetulan perusahaan yang saya amati itu bukan perusahaan Indonesia melainkan perusahan asing. Saya mengamati ada beberapa orang atau anak muda sangat hands on, ternyata culture atau budaya dari perusahaan itulah yang melahirkan orang-orang yang hands on. Sayangnya perusahaan-perusahaan Indonesia tidak mendidik anak-anak atau pegawai-pegawai mudanya untuk hands on.

Apakah ada caranya, atau training, atau rumusnya untuk mengembangkan budaya hands on?

Saya setuju itu disebut sebagai budaya. Beberapa perusahaan yang saya sebutkan tadi mewajibkan kepada engineering training-nya agar pada awal tahun yaitu tahun pertama, kedua dan mungkin sampai tahun ke tiga untuk tidak mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya ke-engineering-an. Dia harus mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sifatnya sangat hands on, bahkan lebih rendah dari engineering karena godaan untuk keluar dari hands on sangat besar. Di masyarakat orang akan dianggap tidak elit dan tidak gengsi bila dia bekerja memakai pakaian kerja yang tidak bersih.

Dimana sekarang Anda aktif bekerja dan sebagai apa? Setahu saya sekarang Anda sudah bekerja half time atau half speed, tetapi saya kurang tahu Anda aktif bekerja dimana.

Sebetulnya saya lama di Medco sebagai Certified Professional Human Resource (CPHR), kemudian saya menjadi secretary dari Board of Director di Medco Energy. Kemudian saya pensiun dari Medco dan saya pindah ke Star Energy. Saya ambil pensiun dini di Medco kemudian saya pindah.

Apakah ada perbedaaan budaya kerja di Medco, Star Energy, dan di perusahaan asing yang Anda amati?

Sebelum di Medco saya bekerja di perusahaan asing yang disebut Stanvac yang hari ini sudah tidak ada karena dibeli oleh Medco, kemudian saya pindah ke Medco. Kebetulan Medco dan Star Energy itu mirip. Owner-nya beda tapi keduanya perusahaan swasta nasional yang bergerak di bidang energi terutama pada waktu itu adalah minyak dan gas. Kedua perusahaan ini mirip sehingga ketika saya pidah, meskipun dengan posisi yang sama, saya tidak kesulitan untuk menyesuaikan diri dalam bekerja, bahkan terkadang saya lupa bahwa pada waktu itu saya sudah pindah kerja di perusahaan lain.

Apakah karena cara Anda me-manage kharisma yang Anda miliki atau karena memang perusahaannya mirip, sehingga Anda merasakan ketika di Medco dan Star Energy tidak banyak yang berbeda atau berubah?

Saya agak sulit untuk menilainya karena sebelum saya masuk pun saya sudah menduga dengan keras bahwa saya akan mengalami hal yang sama di perusahaan yang baru. Itu adalah stand point saya, dan ketika saya masuk hanya dalam waktu satu sampai tiga hari saya sudah me-run pekerjaan saya hampir tanpa hambatan.

Apakah Anda bisa mencapai karir sebagus ini bila Anda tidak lulus dari ITB pada waktu itu?

Itu bedanya zaman sekarang dan lalu. Itu yang tadi saya katakan bahwa 30 sampai 40 tahun yang lalu ketika saya mendapat ijazah ITB, maka saya merasa seperti mendapatkan tiket untuk ke surga dan itu benar. Teman-teman saya pun sebagian besar juga seperti itu.

Apakah ini bukan berarti Anda menjadi completion atau mengambil jalan tengah?

Yang pasti tantangannya sangat berbeda dengan hari ini. Kalau hari ini Anda mendapat ijazah ITB dan keluar dari ITB dengan toga warna biru, it doesn’t mean anything kalau kemudian ijazah itu Anda bawa kemana-mana dan Anda hanya membawa ijazah saja.

Sebaliknya jika Anda berasal dari lulusan universitas antah berantah sekalipun, hari ini Anda tidak perlu berkecil hati karena berasal dari lulusan universitas tersebut asalkan Anda mau bekerja keras. Saya mengatakan kepada teman-teman muda saya bahwa apapun Anda hari ini kalau Anda bekerja keras, Anda akan merebut posisi yang dimiliki oleh anak ITB sekalipun.

Apakah ada hubungannya dengan akses informasi atau ilmu sekarang yang orang bisa dengan lebih mudah mengambil ilmu secara online, dan tidak terikat oleh buku diktat seperti dulu?

Saya setuju sekali, bahkan kita bisa melihat sisi lain ketika sekarang pasien-pasien dari dokter yang jago sekalipun begitu mudah berbeda pendapat dengan dokter ahli yang merawat keluarganya. Katakanlah ketika keluarga saya menderita demam berdarah, dalam waktu 15-30 menit saya bisa mengetahui apa itu demam berdarah, dan apa yang harus dan yang tidak harus saya lakukan bila terkena sakit demam berdarah. Karena itu dokter tidak berani seenaknya dibanding ketika saya kecil, dimana apa yang dikatakan oleh dokter adalah kitab suci yang harus diikuti.

Apakah selain kerja keras orang itu harus mengikuti ilmu-ilmu di bidangnya dengan cara bekerja keras mencari ilmu tersebut?

Ya, termasuk kerja keras untuk mendapatkan ilmu.

Apakah Anda akan menempuh jalur yang sama atau mencari yang lain seandainya Anda bisa mengulang lagi karir sejak lulus di ITB pada 1979?

Kalau saya diharuskan mengulangi hidup saya untuk kembali ke ITB dan sekolah lagi hingga saya lulus, yang pertama saya minta kepada Tuhan adalah agar keadaannya dikembalikan lagi ke tahun 1974-1979. Hal itu supaya ketika saya mendapat ijazah ITB, maka saya seolah mendapat tiket menuju ke surga dan supaya saya bisa menikmati kenyamanan sama pada saat itu.

Namun itu adalah suatu hal yang tidak mungkin karena saya juga tidak mungkin untuk kuliah lagi di ITB sekarang. Ketika saya harus belajar sendiri, maksudnya dengan cara yang tidak formal atau tidak melawan pendidikan formal untuk mengetahui suatu pengetahuan baru, saya akan belajar sesuai dengan apa yang disebut sebagai generasi milenial. Saya harus belajar dengan cara mereka.

Apakah ini berarti Anda bisa belajar sesuatu dari generasi milenial?

Sangat banyak, terutama dalam hal keingintahuan yang besar dan kemudahan mengakses informasi yang begitu luas bahkan hampir tidak terhingga. Karena itu saya sering mempertanyakan apakah perlu pendidikan dokter misalnya begitu lama. Pada zaman saya kuliah, dokter adalah mahasiswa yang pendidikannya paling lama dan paling susah untuk main-main. Apakah perlu pendidikan bagi seorang dokter masih seperti dulu yaitu selama tujuh tahun? Kalau dulu saya kuliah empat tahun, sedangkan pendidikan dokter selama 7 tahun. Apakah masih perlu pendidikan selama itu ketika saya yang tidak pernah mengalami pendidikan dokter tapi bisa berdebat hangat dengan seorang dokter ahli?

Apalagi kalau penyakit tersebut menyangkut diri Anda pribadi. Misalnya, almarhum istri saya adalah seorang dokter, dia mengatakan dokter adalah seorang konsultan. Jadi bila kita rajin belajar maka belum tentu dokter lebih pintar dari kita.

Saya setuju.

Apa kesibukan Anda sekarang?

Saya memberikan seminar, memberikan konferensi, dan training-training dalam bidang motivasi, leadership, teamwork, dan sebagainya.

Dimanakah Anda menyalurkan cara untuk menikmati hidup saat ini? Apakah dengan mengamati politik atau bagaimana?

Saya hanya mengamati politik saja. Buku saya yang pertama berjudul, "Anjing Hachiko dan Hilangnya Kemanusiaan Kita." Itu berupa artikel-artikel pendek, mungkin sekitar 500-600 kata, kemudian dikumpulkan oleh penerbit Mizan yaitu teman saya Haidar Bagir. Kemudian itu dibuat sebuah buku dan yang memberi judul adalah dia karena salah satu artikel di buku itu menceritakan mengenai kesetiaan seekor anjing Hachiko yang menurut Haidar adalah seekor anjing yang memiliki nilai-nilai kemanusiaan yang sangat tinggi. Sementara kita manusia hari ini justru mempertanyakan nilai-nilai kemanusiaan kita sendiri. Karena itu dia mengkonflikkan antara kemanusiaan seekor anjing dan ketidakmanusiaan seorang manusia.