Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Devi Anggraini

Perjuangan Hak Kolektif PEREMPUAN AMAN

Edisi 1099 | 25 Apr 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Narasumber kita adalah Devi Anggraini, Ketua Umum Persekutuan Perempuan Adat Nusantara Alinasi Masyarakat Adat Nusantara (PEREMPUAN AMAN). Organisasi ini didirikan berdasarkan pengalaman bahwa perempuan adat juga membutuhkan wadah selain AMAN sebagai tempat belajar dan mengonsolidasikan diri untuk ikut menyuarakan kepentingannya kepada masyarakat.

Devi Anggraini mengatakan perempuan adat masih di dalam posisi yang jauh dari kemajuan yang sudah didapatkan dari gerakan masyarakat adat sendiri. Proses pemiskinan pada perempuan terjadi secara struktural. Ketika pembangunan masuk ke wilayah-wilayah adat, yang paling pertama tersingkir sebenarnya adalah perempuan, padahal mereka adalah orang-orang yang menjadi penopang ketahanan hidup dari komunitas adat tersebut.

Perempuanlah yang memastikan pangan tersedia, sandang tersedia, obat-obatan tersedia. Namun ketika pembangunan masuk telah mengubah bentang alam, mengubah wilayah kelola perempuan, wilayah produktif menjadi perkebunan kelapa sawit, tambang, dan sebagainya, termasuk juga taman nasional dan proyek-proyek pemerintah lainnya. Hal itulah yang menyingkirkan perempuan dari seluruh prosesnya.

PEREMPUAN AMAN ingin memberikan ruang kepada perempuan-perempuan adat dimanapun mereka agar mempunyai ruang untuk menyuarakan secara sendiri-sendiri dan kemudian dikonsolidasikan dalam organisasi ini untuk disampaikan sebagai satu sikap bersama.

Yang membedakan perjuangan perempuan adat adalah kami berbicara tentang hak kolektif perempuan adat. Ketika berbicara soal kesetaraan dan keadilan sebenarnya perjuangannya sama, tetapi perjuangannya lebih spesifik pada perempuan adat yaitu soal hak kolektif perempuan adat.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dengan nara sumber Devi Anggraini.

Dalam pidato terakhir di Indonesia sebagai direktur Bank Dunia, Sri Mulyani Indrawati memberikan ceramah khusus mengenai perempuan. Dia mengatakan sebagai orang yang selalu berjuang mengentaskan kemiskinan, dia mempunyai keprihatinan khusus sebab dalam keadaan dimana ada kemiskinan, maka perempuanlah yang paling mengalami dampaknya. Apakah betul premis kita mengenai kemiskinan, perempuan, dan kebutuhan AMAN akan adanya organisasi sayap ini berhubungan dengan penderitaan perempuan?

Saya melihat banyak hal dari perjalanan mengikuti AMAN mulai dari dideklarasikan pada 1999 sampai saat ini. Hal ini menjadi catatan penting untuk PEREMPUAN AMAN bahwa perempuan adat masih di dalam posisi yang jauh dari kemajuan yang sudah didapatkan dari gerakan masyarakat adat sendiri.

Proses pemiskinan pada perempuan terjadi secara struktural seperti yang telah disebutkan oleh Sri Mulyani. Ketika pembangunan masuk ke wilayah-wilayah adat, yang paling pertama tersingkir sebenarnya adalah perempuan, padahal mereka adalah orang-orang yang menjadi penopang ketahanan hidup dari komunitas adat tersebut.

Perempuanlah yang memastikan pangan tersedia, sandang tersedia, obat-obatan tersedia. Namun ketika pembangunan masuk telah mengubah bentang alam, mengubah wilayah kelola perempuan, wilayah produktif menjadi perkebunan kelapa sawit, tambang, dan sebagainya, termasuk juga taman nasional dan proyek-proyek pemerintah lainnya. Hal itulah yang menyingkirkan perempuan dari seluruh prosesnya.

Apakah pembangunan di Indonesia tidak menguntungkan bagi masyarakat adat, tetapi justru menjadi tantangan atau menyiksa lebih lanjut posisi mereka. Jadi pembangunan ini untuk siapa sebenarnya?

Pada perayaan Hari Internasional Masyarakat Adat Sedunia (HIMAS) Agustus 2015, PEREMPUAN AMAN membawa sebuah spanduk dengan tulisan sangat besar yang mengatakan bahwa, "Merdeka itu masih hanya di lagu saja, belum terasa oleh perempuan adat." Hal itu terjadi karena perampasan justru sedang dilakukan oleh negara. Kemerdekaan mereka untuk bisa menggunakan pengetahuannya sendiri, dan mengelola sumber daya alamnya dirampas melalui pembangunan tersebut.

Bagaimana menurut Anda untuk keadaan saat ini?

Dalam gerakan masyarakat adat kita secara terus-menerus mendorong organisasi dan gerakan masyarakat adat untuk menaruh kepentingan perempuan menjadi bagian yang selalu dibicarakan. Kalau pada Kongres Masyarakat Adat Nusantara (KMAN) sebelumnya perempuan adat masih bicara atas nama individu-individu, maka pada KMAN kelima di Tanjung Gusta menjadi momentum bersejarah bagi PEREMPUAN AMAN karena untuk pertama kalinya PEREMPUAN AMAN tampil sebagai sebuah organisasi.

Kami berharap di dalam kongres ini suara-suara menjadi lebih kuat, kepentingan perempuan adat mendapatkan tempat, dan menjadi prioritas dalam kerja-kerja AMAN sebagai organisasi induk dari gerakan masyarakat adat selama lima tahun ke depan.

Apakah posisi perempuan itu sudah aman atau harus diperjuangkan di dalam lingkungan organisasi AMAN dan sayap-sayapnya, mengingat kita melihat di masyarakat Indonesia PEREMPUAN AMAN masih terdesak dan AMAN juga baru bangkit lagi?

Ini pertanyaan yang sebenarnya sulit untuk dijawab. Bagi saya, ini adalah sebuah perjuangan dan dinamika. Di dalam pidato ketika membuka Rapat Kerja Nasional (RAKERNAS) pertama PEREMPUAN AMAN, Sekjen AMAN mengatakan bahwa organisasi ini bukanlah hadiah, organisasi PEREMPUAN AMAN hadir dengan perjuangan dan perdebatan yang sangat sengit dalam setiap pertemuan-pertemuannya, baik dalam pengambilan keputusan di AMAN maupun di kongres. Ini selalu diperjuangkan dengan sangat keras.

Kita mengetahui bahwa perempuan menjadi korban pembangunan dan menjadi korban struktural dari masyarakatnya sendiri. Apa senjata perjuangan perempuan saat ini?

Itulah mengapa PEREMPUAN AMAN hadir. Kami ingin memberikan ruang kepada perempuan-perempuan adat dimanapun mereka agar mempunyai ruang untuk menyuarakan secara sendiri-sendiri dan kemudian dikonsolidasikan dalam organisasi ini untuk disampaikan sebagai satu sikap bersama.

Kalau dulu hanya dibicarakan oleh satu orang mungkin didengar tetapi kemudian akan hilang. Sedangkan sekarang ketika organisasi akan bertindak dan akan menyuarakan itu seharusnya menjadi jauh lebih kuat dan harus mendapatkan tempat karena mewakili organisasi. Anggota PEREMPUAN AMAN saat ini hampir 1.000 orang. Jadi ini satu kekuatan yang harus digunakan oleh perempuan adat dan PEREMPUAN AMAN adalah wadah yang tepat.

Apakah bisa dikatakan PEREMPUAN AMAN juga bagian dari perjuangan kesetaraan gender di Indonesia atau beda jenis perjuangannya?

Yang membedakan perjuangan perempuan adat adalah ketika negara tidak memberikan perlindungan terhadap hak-hak kolektif perempuan yang ada saat ini. Negara masih menjaminkan hak-hak individu perempuan, meskipun pada kenyataannya tetap saja masih sangat lemah implementasinya. Apalagi ketika berbicara tentang hak kolektif perempuan adat, menurut saya ini yang membedakannya dari gerakan perempuan yang lain. Ketika berbicara soal kesetaraan dan keadilan sebenarnya perjuangannya sama, tetapi perjuangannya lebih spesifik pada perempuan adat yaitu soal hak kolektif perempuan adat.

Apakah kriminalisasi yang sering kita lihat dan terjadi pada semua masyarakat adat secara khusus juga terjadi pada PEREMPUAN AMAN?

Sebenarnya sangat banyak kasus yang terjadi terhadap perempuan adat tetapi memang pendokumentasiannya lemah. Pertama, ketika masyarakat adat tidak diakui, perempuan jauh lebih tenggelam sehingga sebenarnya kasus-kasus ini tidak tercatat. Kalau kita mau melakukan diskusi yang agak panjang, misalnya dengan Mama Aleta yang sudah muncul sekarang, akan kelihatan sekali bagaimana label-label negatif dari dalam komunitas yang diberikan kepada Mama Aleta. Bagaimana preman dibayar untuk melukai, bahkan Mama Aleta sangat takut ketika akan diperkosa. Hal ini bukan hanya tejadi kepada Mama Aleta tetapi terjadi kepada banyak perempuan adat lainnya.

Apa kasus yang terjadi di masa lalu sehingga Olvi Oktavianita (PEREMPUAN AMAN Kalimantan) menulis surat terbuka kepada Jokowi?

Olvi menuliskan protesnya mengenai pengetahuan perempuan untuk mengelola ladang dengan melakukan pembakaran yang dianggap sebagai satu tindakan kriminal. Kami menyampaikan suara dengan keras karena itu adalah ruang dan pengetahuan perempuan yang kemudian akan dihancurkan. Padahal kalau perempuan tidak boleh membakar untuk ladang artinya keluarganya bisa tidak mendapat makan selama satu tahun.

Jadi perempuan mempunyai peran khusus dalam menyelenggarakan perekonomian keluarga dalam berladang seperti tehnik-tehnik untuk merawat hutan. Apakah betul semua itu adalah tugas perempuan, dan apakah kurangnya pengakuan atau kebebasan yang diberikan itu mempersulit peran perempuan?

Menurut saya, dengan situasi sekarang negara memang sedang merampas peran perempuan adat didalam komunitasnya menjadi penjaga dan penopang ketahanan hidup yang sangat subsistem. Mereka selalu menggunakan ladang secara mandiri untuk memproduksi kebutuhan-kebutuhan hidupnya dan obat-obatan.

Apakah yang mengurus hal-hal tersebut adalah kaum perempuan saja dan bukan kaum laki-laki?

Lebih banyak kaum perempuan. Pengetahuan-pengetahuan tadi lebih banyak pada perempuan adat dan justru bukan pada laki-lakinya. Biasanya laki-laki mempunyai perannya sendiri, tetapi untuk penjaga ketahanan hidup yang terkait dengan sandang dan pangan lebih banyak dipegang oleh perempuan.

Apakah hal tersebut untuk memelihara kelangsungan dan sustainability dari hutan itu?

Ya, perempuan adalah orang yang paling terkait dengan hutan karena hutan adalah sumber makanan, sayuran, obat-obatan yang didapat dari hutan. Bahan untuk tenunan dan anyaman didapat juga dari hutan, dan sebagainya. Jadi hampir seluruh peran-peran yang dilakukan oleh perempuan langsung terkait dengan sumber daya alam dan mata air. Misal, bagaimana mereka mendapatkan air bersih akan sangat bergantung pada keberadaan hutan, sehingga sangat tidak mungkin perempuan menghancurkan hutannya.

Apakah pihak-pihak yang dibantu oleh negara dalam merampas hak perempuan tidak mengadakan pendekatan pada perempuan untuk mengembangkan ilmu-ilmu kearifan tradisional tersebut?

Persoalan mendasar adalah pengetahuan perempuan adat tidak pernah mendapatkan tempat, selalu dianggap tidak ilmiah dan tidak akademik, padahal ekstraksi atas pengetahuan-pengetahuan perempuan itu sangat besar. Misalnya, bagaimana orang menggunakan pewarna alami, pengetahuan hal itu sebenarnya ada pada perempuan adat. Namun ketika diekstraksi dan kemudian diproduksi secara masif, mereka tidak pernah mau mengakui hal itu dan bahkan negara pun tidak mengakuinya.

Apakah ilmu pengetahuan tersebut menyangkut tentang obat-obatan yang memang diambil dari bahan-bahan yang ada di hutan terutama yang menyangkut keselematan perempuan pada waktu melahirkan dan sebagainya? Apakah ilmu pengetahuan tersebut juga tidak diakui?

Sangat tidak diakui. Misalnya, pemberlakuan negara yang sekarang menyatakan bahwa persalinan harus didampingi oleh bidan atau perawat. Kalau tidak dilakukan maka dukun yang mendampinginya bisa dikriminalisasi. Ini merupakan bentuk tidak adanya pengakuan negara terhadap pengetahuan-pengetahuan yang dimiliki oleh perempuan adat, padahal ini sebenarnya adalah pengetahuan yang sudah mereka praktekan selama ratusan tahun, dan dari generasi ke generasi.

Bagaimana pendapat Anda mengenai negara yang begitu kejam terhadap perempuan. Sedangkan pada waktu negara didirikan dalam Undang-Undang Dasar 1945, selain pengakuan masyarakat adat, peri kemanusiaan juga menjadi bagian penting dari konstitusi? Kapan negara mulai menjauhkan diri dari fungsinya sebagai pelindung penduduk dan perempuan?

Saya melihat ini berkaitan erat dengan bagaimana mengakumulasi seluruh nilai-nilai ekonomis yang dimiliki oleh masyarakat adat, dan itu kemudian memang berdampak besar pada penyingkiran peran perempuan didalam komunitas masyarakat adat. Kalau berkerja dengan perempuan yang perannya ketika memastikan ketahanan hidup sangat subsistem, pasti tidak akan bicara mengenai akumulasi uang. Menurut saya, dalam hal ini negara atau lebih tepatnya adalah pemerintah lebih banyak melihat uang menjadi hal yang paling utama. Sedangkan masyarakat adat sebenarnya tidak menganggap uang atau materi adalah seluruh hal yang bisa membiayai kehidupan mereka.

Apakah hal ini tidak berubah dari zaman ke zaman, dari rezim ke rezim, dari aliran politik ke aliran politik dan tetap saja mereka tidak ramah terhadap perempuan?

Sangat, kita bisa melihat sampai saat ini dimana perempuan bisa menaruh kepentingannya di proses-proses ketika pembangunan akan masuk ke wilayah-wilayah adat. Mereka tidak pernah terlibat di dalam konsultasi, mereka tidak pernah ditanyakan apakah mereka setuju atau tidak. Hal ini bisa dilihat dari seluruh praktek yang terjadi selama ini karena hampir seluruh wilayah-wilayah yang berubah menjadi konsesi-konsesi itu adalah wilayah produktif perempuan.

Apakah perjuangan PEREMPUAN AMAN akan diperluas juga ke dalam bidang hukum, politik, dan sebagainya, sebagai satu gerakan atau tetap menjadi gerakan moral seperti sekarang?

Tentunya sebagai organisasi yang masih berumur empat tahun kami sedang membangun tahap demi tahap. Saat ini memang yang paling utama adalah membangun identitas diri sebagai perempuan adat. Mereka harus tahu bahwa mereka memang memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan hidup komunitasnya, dengan begitu mereka akan bangga dan akan mampu menyuarakan kepentingan dan hak-haknya. Kami akan melangkah pada tahap itu. Namun saat ini sebagai organisasi yang baru kami masih mempercayakan advokasinya dilakukan oleh AMAN, dan kami sedang membangun data yang cukup kuat untuk bisa memberikan gambaran.

Saya ingin ingatkan juga bahwa AMAN dan PEREMPUAN AMAN sekarang sudah menjadi partisipan dalam gerakan internasional. Hal tersebut terbukti dari orang-orang yang hadir dalam kongres yaitu dari Mesoamerica, Brazil, dan sebagainya. Apakah kehadiran PEREMPUAN AMAN di beberapa konferensi di luar negeri lebih maju dari pada gerakan perempuan adat di negara-negara lain atau kira-kiranya sama?

Saya rasa gerakan ini yang walaupun tumbuh secara sporadik tapi kemudian menjadi satu gerakan bersama karena kami merasa senasib dan sepenanggungan. Persoalan yang dihadapi oleh perempuan adat di Indonesia sama dengan perempuan adat di Brazil, Honduras, Mesoamerika dan sebagainya, sehingga kita merasa penting untuk menggalang solidaritas.

Pertemuan-pertemuan di internasional itu sebenarnya untuk saling mendekatkan dan membangun advokasi bersama tentang yang ingin kita dorong supaya ada perubahan di negara masing-masing.

Apakah Anda juga menaruh kepercayaan pada PBB sebagai suatu forum untuk melegitimasikan beberapa isu ini?

Saya rasa menyikapi PBB menjadi penting sebagai gerakan moral tetapi tidak ada sanksi di dalamnya, sehingga sebenarnya negara hanya dipermalukan dalam pergaulan internasional. Menurut saya, memang masih belum terlalu kuat rekomendasi-rekomedasi yang diberikan. Misalnya, Komite Convention on Elimination of All Forms of Discrimination Againts Women (CEDAW) kepada Indonesia, sampai saat ini pemerintah Indonesia hanya mengirimkan laporan CEDAW delapan tahun sekali sehingga implementasinya sulit sekali dilihat. Menurut saya, itu terlalu lama sehingga masyarakat sipil tidak bisa memberikan pandangannya terhadap implementasi.

Tadi disebutkan bahwa ada rekan-rekan yang memperjuangkan hal-hal serupa di Mesoamerica, Brazil, dan Honduras. Apakah itu berarti bahwa energi untuk perjuangan ini sama? Bagaimana bisa antara Mesoamerica dan Indonesia keprihatinannya bisa sama padahal tidak terlalu banyak kontak langsung?

Ketika penaklukan terhadap masyarakat adat dilakukan, modus operasinya sama baik di Indonesia, Brazil, maupun tempat lain. Pelakunya pun sama yaitu korporasi, kemudian proyek-proyek pemerintah yang cukup besar tanpa pernah melakukan konsultasi dengan masyarakat adat. Jadi bentuk-bentuk perampasannya tetap sama, sehingga hal itulah yang sebenarnya mendekatkan kita.

Apakah kekejaman policy pemerintah bisa menjadi senjata makan tuan sebab itu menyorot perhatian orang pada ketidakadilan yang terjadi di negara-negara ini.

Bentuk-bentuk ketidakadilan ini sebenarnya sangat terasa, tetapi pemerintah dan negara selalu menghindari itu untuk membicarakanya secara terbuka. Harapan kita sangat besar sebenarnya yaitu pemerintah mulai membuka diri, mulai melihat bahwa ketidakadilan ini harus diatasi, kalau tidak ini akan benar-benar menjadi senjata makan tuan. Saya hanya ingin bertanya, apa sebenarnya yang ingin dibangun oleh pemerintah? Ketika mereka ingin menyatakan kesejahteraan untuk masyarakat, kemandirian itu harus ada di masyarakat tetapi justru ruang-ruang untuk masyarakat bisa membangun hidup secara mandiri dirampas oleh negara. Menurut saya ini adalah sesuatu yang sangat ironis.

Apakah sikap pemerintah mundur terhadap perempuan dan masyarakat adat, melihat orang-orang yang ada di sana ucapannya terdengar jelas berbeda dengan sepuluh tahun yang lalu apalagi dengan tiga puluh tahun lalu yang kelihatanya ada perhatiannya?

Saya melihat untuk pemerintah yang sekarang mulai membuka diri. Ini terlihat dari perbaikan-perbaikan kebijakan yang terjadi, misalnya akhir tahun lalu ada penetapan hutan adat. Ini adalah langkah maju sesungguhnya, tetapi persoalan mendasar ini baru terjadi di tingkat nasional. Sedangkan di tingkat daerah dan wilayah, propinsi dan kabupaten, masih banyak orang-orang yang tidak mau mengubah cara-cara seperti yang dilakukan sebelumnya. Jadi pemerintah sebenarnya masih sama seperti yang sebelumnya untuk di wilayah dan daerah.

Itu barangkali bukan hanya keserakahan ekonomi tetapi memang sistemnya yang tidak adil terhadap perempuan, dimana dominasi kaum laki-laki dianggap sebagai satu hal yang wajar. Apakah hal itu juga menjadi pengamatan dari PEREMPUAN AMAN?

Sebenarnya perlu dilihat lebih jauh di dalam satu komunitas adat seperti apa pembagian peran perempuan dan laki-laki dan harus dimaknai lebih jauh bukan hanya sekadar melihat dari segi gender. Perubahan-perubahan ini terjadi memang ketika individualisasi, kemudian masuknya pembangunan ke wilayah-wilayah adat. Ketika individualisasi terjadi biasanya patriarki akan berkembang di sana.