Perspektif Baru didukung oleh Yayasan Konrad Adenauer
Selengkapnya ›

Sindikasi:

eXTReMe Tracker

Prof. DR. Dede Rosyada

Islam Memberi Rahmat untuk Seluruh Umat

Edisi 1096 | 04 Apr 2017 | Cetak Artikel Ini

Salam Perspektif Baru,

Tamu hari ini adalah Prof. Dr. Dede Rosyada, Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah (UIN) Jakarta. Dia menempuh pendidikan sarjana hingga magister di UIN, kemudian menempuh Post Doctoral di McGill University dan Ohio State University.

Dede Rosyada mengatakan UIN mengajarkan Islam yang pluralis, yang toleran, Islam yang openness, yang bisa menerima keragaman bersama dengan perbedaan. UIN menampilkan Islam yang betul-betul Rahmatan lil Alamin yaitu Islam itu bisa nyaman untuk semua orang. Jadi ketika orang Kristen mendengar Islam merasa nyaman, ketika Kristen melihat Islam juga nyaman, dan ketika Kristen berdampingan dengan Islam juga nyaman. Jadi mendengar Islam tidak traumatik, tidak phobia. Jangan sampai ketika kita melihat orang dengan simbol-simbol keislaman lalu minggir dan merasa takut. Itu menjadi salahsatu phobia atau ketakutan yang mungkin disebarkan oleh Masyarakat Amerika atau Eropa tempo dulu.

Kami melihat Islam yang ramah itu dengan Islam yang menghadirkan rahma dengan menyayangi semua orang. Nabi Muhammad itu, jangankan orang Kristen, anjing saja yang sedang kehausan harus dikasih minum, apalagi dengan sesama manusia. Bahkan, dulu saya pernah belajar hukum Islam yang menjelaskan tentang zakat bahwa distribusi zakat harus diberikan kepada semua orang yang membutuhkan. Jadi Islam datang untuk bisa menyayangi semua orang di dunia karena semua manusia juga berasal dari Tuhan. Karena itu ketika kita memiliki kemampuan untuk bisa melindungi, mengasihi mereka maka kita harus bisa menjadi wakil Tuhan untuk mendampingi mereka semua.

Berikut wawancara Perspektif Baru dengan Wimar Witoelar sebagai pewawancara dan narasumber Prof. Dr. Dede Rosyada.

Kami beruntung bisa bertemu dengan orang yang bisa mewakili bagian besar dari ilmu, pengetahuan, dan kesadaran umat Islam dan membawakannya secara jernih. Saya mengatakan demikian karena dialog mengenai Islam sangat ramai di seluruh dunia, seperti di Amerika Serikat dan Eropa. Namun di Indonesia, dalam konteks politik sekarang, orang kadang-kadang sulit membedakan mana yang agama, mana yang politik.

Anda memiliki spesialisasi dalam pendidikan agama Islam. Jadi yang pertama saya ingin minta diberi penjalasan adalah dalam hal apa pendidikan agama Islam bisa diperkuat?

Pendidikan agama Islam di Indonesia secara regulatif diatur oleh Undang-Undang (UU) Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. Di situ dinyatakan bahwa tujuan pendidikan Islam, dalam pasal 4, untuk mendirikan bangsa Indonesia yang beriman, bertakwa, berakhlak dan demokratik, serta patriotik.

Kemudian hal itu diterjemahkan dengan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 55 Tahun 2007 tentang Pendidikan Agama dan Pendidikan Keagamaan. Pendidikan agama Islam bertujuan untuk melahirkan bangsa Indonesia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia yang toleran. Dengan misi dari pendidikan agama itu, maka agama apa saja baik Islam, Kristen, Hindu, Buddha, Katholik, Konghucu saat ini mempunyai misi dan tugas untuk membangun toleransi.

Dibuat demikian karena kita menyadari betul bahwa Indonesia sejak awal dibangun dalam keragaman, dalam pluralisme. Dulu di dalam Tim Perumus Akhir di Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) ada Wahid Hasyim, Ki Bagus, Muhammad Yamin, ditambah Bung Karno dan Bung Hatta. Mereka orang-orang nasionalis yang dari awal melakukan pergerakan-pergerakan tapi representatif oleh orang–orang Islam santri.

Sebenarnya kalau memang sejak awal mereka ingin eksklusif dengan membentuk negara Islam, mereka bisa tetapi mereka melihat secara objektif bahwa tidak bisa eksklusif. Kita harus bersama-sama dalam keragaman ini, maka muncullah konsep "Bhinneka Tungal Ika" waktu itu, sehingga disadari betul bahwa Indonesia dibangun dari keberagaman. Jadi jika sekarang kita berpikir exclusivisme maka kita berpikir mundur.

Walaupun orang Islam mayoritas di Indonesia dan dalam PPKI tapi tidak ada yang tergoda untuk menyimpang dari plurarisme. Mengapa?

Dari awal mereka tidak ingin mendirikan Islamic State. Ada sebuah pernyataan yang menarik dari Mahfud MD, "Bung Karno mengatakan silakan umat Islam mempengaruhilah undang-undang dalam DPR dengan membawa aspirasi-aspirasi Islam di situ, tetapi jangan secara formal proclaim as Islamic state karena itu akan menafikan masyarakat-masyarakat di luar Islam."

Itu kira-kira semangat dari awal yang dibangun oleh para pendiri bangsa ini. Karena itu kalau kemudian kita umat Islam sebagai mayoritas di Indonesia membangun pluralisme, menghargai keragaman, dan bekerja dalam keragaman, dan berkembang dalam keragaman, maka berarti kita melanjutkan perjuangan sejarah dari awal Indonesia berdiri secara konsisten.

Pernyataan bahwa Indonesia yang mayoritas Islam dan juga para tokoh pendiri negara tidak pernah merasa bahwa negara ini harus menjadi Islamic State. Jadi, bagaimana melaksanakan pendidikan Islam supaya kita tetap pluralis?

Misi pendidikan agama Islam adalah bagaimana membangun bangsa Indonesia yang tetap bisa melaksanakan keimanan dan ketakwaannya dalam kapasitas masing-masing karena untuk menjadi orang bertakwa dan beriman itu tidak terlalu banyak ibadahnya. Paket ubudiyah bagi Islam sedikit sekali hanya sholat, zakat, puasa, Haji. Hanya itu ibadah mahdhah-nya, dan kalau dari versi ulama-ulama fiqih ada sekitar dua atau tiga tambahannya.

Kemudian kalau kita lihat juga dari segi konstruksi hukum di Indonesia, untuk keluarga sudah diatur dalam UU Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan, UU No.7/1989 tentang Peradilan Agama, yang kemudian diubah menjadi UU No.3/2006. Itu sudah sangat maju sekali sampai UU sudah meregulasi bagaimana membangun keluarga secara Islami, bagaimana kemudian mendistribusikan harta secara Islami, terakhir sekarang bagaimana berbisnis secara Islami. Itu sudah sangat baik kalau menurut saya.

Jadi kalau orang kemudian berpikir lagi untuk menjadi exclusive atau moslem state, saya kira terlalu banyak energi yang harus terbuang. Karena itu pendidikan Islam mengajarkan anak-anak bagaimana menjadi being a good moslem todays, lalu bagaimana membangun toleransi yang bisa hidup bersama dalam keragaman. Itu karena kalau kita ingin berbisnis dengan harus menggunakan identitas keagamaan untuk koneksi bisnisnya, saya kira akan sangat sulit. Misalnya kita bekerja sebagai seorang supplier, kemudian retail dan produsen kita nantinya harus seorang muslim, maka akan susah untuk menjalankan usaha tersebut.

Dalam hukum bisnis kita harus bisa berhubungan dengan semua orang termasuk yang beragama lain, di sini berhubungan dengan orang Yahudi, Kristen, Konghucu, dan lain-lain. Hal ini juga dilakukan oleh Nabi Muhammad ketika di Madinah. Jadi Nabi Muhammad tidak exclusive dengan sesama muslim saja, dia pun berbisnis dengan Yahudi. Ketika di Syiria pun Beliau berbisnis dengan Yahudi, yang menunggu stand atau lapaknya Nabi Muhammad adalah Yahudi. Orang Yahudi pun juga suka berbisnis dengan Nabi Muhammad karena beliau adalah orang yang sangat jujur.

Nabi Muhammad waktu itu menggunakan satu model berbisnis yaitu fix price, jadi tidak tergantung supply and demand. Jadi Yahudi tertarik dengan teori itu karena seberapa pun demand-nya harga tetap fix atau stabil. Jadi lapak Nabi Muhammad betul-betul ditunggu oleh orang Yahudi yang ada di Syiria waktu itu. Artinya adalah Nabi Muhammad berbisnis lintas agama atau lintas kepercayaan, dan berarti beliau sudah menjadi masyarakat yang pluralis.

Ketika membuat konstitusi Madinah, Nabi Muhammad bersama-sama orang Yahudi dan masyarakat Madinah untuk mempertahankan Madinah dari serangan orang luar. Bukan hanya masyarakat Islam yang harus menjadi tentara dan melawan itu, tapi bersama-sama seluruh masyarakat Madinah. Madinah kala itu terdiri dari tiga komponen masyarakat yaitu Muslim, Paganisme, dan Yahudi.

Apa itu paganisme?

Paganisme adalah penyembah berhala yang sampai saat ini masih ada. Ketiga komponen masyarakat Madinah itu bersama-sama pasukan Nabi Muhammad. Tentaranya saja ada paganisme, Muslim dan juga Yahudi. Artinya contoh dimana lagi kalau kita ingin exclusive? Kalau untuk saya Nabi Muhammad sudah melakukan sejarah yang sangat baik dan cerdas untuk kita semua.

Hal inilah yang harus diwariskan kepada anak-anak kita melalui proses pendidikan agama Islam. Konten-konten dari sejarah itu, menurut saya, harus memberikan informasi-informasi sejarah ini kepada anak-anak sehingga dia siap untuk hidup berdampingan dengan siapa pun di dunia ini karena kalau ingin exclusive dia tidak akan bisa berdiaspora.

Tentunya orang belajar Islam juga bukan hanya di Universitas Islam Negeri (UIN), tapi juga di masyarakat dan dimana-mana. Apa outreach UIN kepada kelompok-kelompok di luar untuk memberikan masukan kepada pendidikan Islam?

Sebenarnya ada dua strategi yang bisa kita lakukan. Ini not by design tapi memang by nature saja. Pertama adalah alumni. Mereka banyak diserap oleh pesantren dan madrasah. Saya setuju untuk hari ini mari madrasah dan pesantren terima saja alumni UIN dari prodi apa saja yang penting dia bisa bicara mengenai agama kepada masyarakat dengan baik.

Bila nantinya membutuhkan skill sebagai guru, baru dilatih selama satu tahun untuk menjadi guru yang profesional. Pemikiran keagamaan dari UIN itu saya kira akan sangat baik karena dia lebih terbuka dan dari awal memang sudah sangat terbuka dan sangat bisa menghargai orang lain, toleransi, dan sebagainya.

Kemudian yang kedua, kami juga mempunyai Institutional Programs yaitu community outreach (program yang bersentuhan langsung dengan suatu lingkungan masyarakat-red). Prioritas dari community outreach saat ini yaitu untuk membangun masyarakat yang demokratis. Jadi bagaimana masyarakat memahami demokrasi dengan baik, mengimplementasikan demokrasi dengan baik, dan kemudian demokrasi itu not only the political work tetapi sebagai culture.

Jadi demokrasi bukan hanya sebagai sebuah mekanisme politik memilih kepala daerah dan sebagainya tetapi demokrasi juga adalah culture. Contohnya, demokrasi dalam keluarga, demokrasi dalam mendidik anak dan sebagainya sehingga anak bisa berkembang. Anak jangan sering dimarahi karena akan membuat makin bodoh, biarkan dia terus berkembang dengan dihargai apapun yang terjadi dalam rumah. Itu adalah cara demokratis yang kita ingin kembangkan.

Pada sisi lain, saat ini Indonesia telah memilih the ways of political adalah democratic country. Dengan demikian ketika Pemilu pasti semua diajak berpartisipasi dan silakan memilih sesuai hati nurani kita masing-masing, tidak kena rayuan apapun, tidak kena rayuan uang, tidak kena rayuan ketua RT, tidak kena rayuan Pak Lurah, dan sebagainya. Namun memilih karena memang hati nurani, kita memilih siapa yang terbaik menurut kita.

Itu yang sering kita lakukan kepada masyarakat melalui program community outreach. Community outreach ada dua yang melakukan yaitu dosen dan mahasiswa. Untuk dosen sekarang ini compulsory.

Apa maksudnya, apakah ada jatah atau kewajibannya?

Ada kewajiban dosen untuk ke masyarakat, dan bila tidak ada laporan per semester dia terjun ke masyarakat maka akan ada bagian-bagian dia (dosen) yang kemudian dikurangi dari pemerintah. Jadi mereka harus masuk ke masyarakat melalui media mereka. Kalau dari UIN sangat gampang yaitu bisa masuk Majelis Taklim, bisa masuk media-media khotbah, dan sebagainya. Tapi memang banyak media yang bisa dilakukan. Intinya dia membawa suara dari kampus masuk ke masyarakat.

Banyak yang menyatakan bahwa UIN Syarif Hidayatulah termasuk top di dunia dalam studi Islam terutama barangkali dari sisi epistemologi. Hal itu dikatakan oleh banyak profesor agama Islam, sedangkan setahu saya banyak institusi pendidikan di Kairo, Baghdad, dan sebagainya. Mengapa malah yang di Indonesia bisa leading?

Karena kita mengajarkan Islam yang pluralis, yang toleran, Islam yang openness, yang bisa menerima keragaman bersama dengan perbedaan. Itu mungkin salah satu yang membuat mereka tertarik. Tidak hanya itu, ketika saya di Parlemen Eropa di Brussel waktu itu ada konferensi di sana, teman-teman Eropa juga merasa dan mengatakan, "Apakah Islam di Indonesia seperti yang Anda ajarkan di UIN?" Saya jawab iya, dan setelah itu mereka tertarik untuk mempelajarinya.

Itu karena kita (UIN) menampilkan Islam yang betul-betul Rahmatan lil Alamin yaitu Islam itu bisa nyaman untuk semua orang. Jadi ketika orang Kristen mendengar Islam merasa nyaman, ketika Kristen melihat Islam juga nyaman, dan ketika Kristen berdampingan dengan Islam juga nyaman. Jadi mendengar Islam tidak traumatik, tidak phobia. Jangan sampai ketika kita melihat orang dengan simbol-simbol keislaman lalu minggir dan merasa takut. Itu menjadi salahsatu phobia atau ketakutan yang mungkin disebarkan oleh Masyarakat Amerika atau Eropa tempo dulu.

Islam yang nyaman untuk semua orang yang dijalankan di UIN adalah Islam yang benar, atau adakah Islam yang lebih benar? Itu karena sekarang banyak orang yang membela Islam dengan membuat fron untuk membela Islam dengan membuat aliran yang lebih keras. Apakah Islam harus lebih keras daripada ini?

Pasti kami beranggapan kalau kami melakukan ini berarti hal ini yang paling benar. Kami melihat Islam yang ramah itu dengan Islam yang menghadirkan rahma dengan menyayangi semua orang. Nabi Muhammad itu, jangankan orang Kristen, anjing saja yang sedang kehausan harus dikasih minum, apalagi dengan sesama manusia. Apakah hanya karena lain agama maka harus kita boikot, tentu tidak boleh. Semua orang harus kita sayangi, kasihi.

Bahkan, dulu saya pernah belajar hukum Islam yang menjelaskan tentang zakat bahwa distribusi zakat harus diberikan kepada semua orang yang membutuhkan. Jadi Islam datang untuk bisa menyayangi semua orang di dunia karena semua manusia juga berasal dari Tuhan. Karena itu ketika kita memiliki kemampuan untuk bisa melindungi, mengasihi mereka maka kita harus bisa menjadi wakil Tuhan untuk mendampingi mereka semua.

Menurut saya, Islam yang kita kembangkan di UIN adalah Islam yang seperti itu dan itu menurut saya yang paling benar. Karena itu dari salah satu yang kita kembangkan, UIN menjadi salah satu destinasi studi Islam di dunia.

Tempo hari, Paul Grigson Dubes Australia untuk Indonesia datang ke tempat saya dan mengatakan ia akan menyekolahkan orang-orangnya yang beragama Islam di tempat saya kalau mendapat pelajaran yang seperti ini. Saya kira dia seperti itu karena dia khawatir jika ia menyekolahkan anak-anaknya di Afghanistan, pulang-pulang nanti jadi pemberontak.

UIN memiliki student abroad terbilang besar. Berapa kira-kira jumlah?

Kurang lebih untuk master studiesnya ada 22.000

Nah tentunya ini juga akan membawa ajaran Islam akan sampai ke tempat-tempat yang lebih luas. Apakah Anda merasa bahwa mahasiswa student abroad mengikuti filosofi tadi?

Semua mahasiswa saya, S1 pada semester 1 belajar studi Islam dengan kurikulum yang sama, dengan content of learning yang sama. Hanya saja, jika ada 5.000 orang kita butuh 400 kelas yang artinya kita butuh sekitar 200 dosen yang bisa mengajar ini kalau masing-masing mengajar dua kelas. Dari dosen-dosen itu apakah mereka bisa berpikir sama dengan rektornya? Itu bisa jadi mungkin salah satunya bisa saja dissent (berbeda pendapat) ke kanan atau kiri. Namun paling tidak mainstreamnya sama, konten of learningnya sama, kemudian juga outlinenya sama, dan masih bisa kita kontrol.

 

       ---oo000oo---